Penyesalan Dalam Cinta

Penyesalan Dalam Cinta
Chapter 22


__ADS_3

Dua bulan sudah ia di kurung di Kastil yang berada di tengah hutan. Lara tak tau bagaimana bisa Louis memiliki Kastil di Belanda. Dan letaknya bahkan berada di tengah hutan belantara. Ia tak tau dimana Posisinya saat ini.


Lara hanya memandang kosong ke arah hamparan hutan yang begitu hijau dan sejuk di pandang mata. Louis menyiapkan sarapan untuk sang kekasih. Yang tak lagi menganggap ia adalah seorang Pacar.


Louis tau saat ini Gea dan Revo menyiapkan ide untuk menyingkirkan Kembaran Lara. Ia tak ambil pusing dengan hal itu. Selama bukan gadisnya yang berada di posisi Lara ia akan tenang-tenang saja.


Kemarin Revo mengabarinya jika ia dan Gea telah tiba di Belanda. Dan Louis mengatakan ia tak bisa bertemu dengan Revo saat ini. Revo mengerti akan hal itu, lagi pula kekuasaan Dark di berikan pada Revo sebagai wakil.


Kunci kamar terbuka dan pintu kayu kuno itu terbuka perlahan. Louis membawa Lara makan. Tampa Lara membalikan tubuhnya ia tau siapa yang telah masuk ke dalam kamar yang ia tepati.


"Makanlah Lara. Aku akan keluar sebentar, jangan coba-coba kabur seperti dua minggu yang lalu. Karena jika kau kabur aku tak tau apa kau akan masih bernapas di luar sana," peringat Louis lalu melangkah keluar.


"Tak bisakah kau membebaskan ku?" tanya Lara dengan suara lirih.


Langkah kaki Louis terhenti ia tak membalikan tubuhnya. Ke dua tangan Louis terkepal di kedua sisi tubuhnya.


"Lalu kau akan kembali padanya huh? Perlu kau tau Lara, dia telah memiliki wanita lain dan mereka telah menikah tiga bulan yang lalu. Dan aku tak tau apakah dia sudah hamil atau tidak," jelas Louis dengan suara jelas. Wajahnya terlihat tak suka.


Lara membalikan tubuhnya dan melangkah mendekati Louis. Ia menarik lengan Louis membuat lelaki itu menghadap ke arahnya.


PLAK !


Satu tamparan melayang di pipi kiri Louis. Rasa panas di pipi kirinya membuat Louis tersenyum miring.


"Sekeras apa pun kau menampar dan memukulku aku tak akan pernah melepaskan mu atau balik memukulmu. Karena kau begitu berharga bagiku Lara," tutur Louis dengan suara tenang.


Lara menatap tak percaya pada Louis sebegitu berharganya kah dirinya untuk Louis. Ia keras kepala dan memberontak bahkan menampar Louis saat ini. Namun lelaki itu sama sekali tak pernah marah apa lagi memukulnya balik.


Ia hanya tersenyum miring dengan wajah menakutkan. Lara mundur beberapa langkah saat melihat bagaimana reaksi tak manusiawi dari wajah Louis. Louis semakin maju hingga Lara menabrak dinding. Ia memojokkan Lara di dinding dengan wajah meledek. Ke dua tangan Lara mencoba memberikan Louis jarak.


Namun tak ada hasil. Tubuh Louis menempel sangat dekat dengan tubuh Lara. Tangan kanannya membelai pipi kanan Lara dengan pelan.


"Kau dulu tak pernah memberontak, bahkan menamparku sayang. Lalu kenapa kau berubah, hem?" tanya Louis dengan suara berat.


"Itu karena kau berbohong padaku. Kau bahkan mencoba membuat Aiden terlihat jelek di mataku. Dia bukan lelaki yang akan mudah berpaling tuan Louis!" jawab Lara dengan wajah angkuh.


Louis menarik ke dua sudut bibirnya ke atas. Senyum Louis membuat bulu kuduk Lara meremang.


"Itu memang benar. Tapi itu dulu Lara Smith, sebelum kau pergi darinya. Ini sudah lebih satu tahun Lara, hati manusia sangat mudah berubah. Hanya aku yang tak pernah berubah, Lara." Balas Louis menatap Intens ke dua mata Lara.


"Tidak! Dia tak pernah berubah," bantah Lara dengan penuh keyakinan mempertahankan pendapatnya.


"Baiklah. Aku tak akan bersikeras jika itu yang kau tau. Tapi bagaimana jika dia memang berubah, mau bertaruh denganku Lara Smith," tanya Louis.


"Tentu," jawab Lara dengan sedikit agak ragu.


"Kau bahkan juga berubah. Apa kau tak ingat kau juga bercinta dengan ku empat bulan yang lalu sayang. Dan Aiden juga begitu," peringatan Louis dengan apa yang telah terjadi antara dia dan dirinya.


"I——itu karena aku lupa dengan siapa diriku dan termakan kebohongan mu yang picik itu," bantah Lara tak terima di kata seperti itu. Ia tak pernah berubah jika Louis tidak melakukan hal licik.

__ADS_1


"Oke! Anggap saja itu kesalahan yang tak sengaja. Tapi beda dengan Aiden ia bercinta dengan wanita lain dengan sadar," ucap Louis memanas-manasi Lara.


"Itu tidak mungkin," lantah Lara lantang bahwa wajah nya memerah karena kesal.


Louis tertawa mendengar bantahan Lara.


"Bagaimana jika kau salah kau harus menjadi milikku selamanya. Menjadi Nyonya Baron. Dan jika aku salah maka kau akan aku bebaskan dan bahkan aku akan membunuh Gea untukmu," ucap Louis memberikan penawaran yang menggiurkan.


"Baiklah," ucap Lara setuju.


Lara percaya pada Aiden. Suaminya tak mungkin berkhianat secara sadar. Meski saat itu Aiden tidur dengan banyak gadis. Namun Aiden tak pernah serius apa lagi menikahi wanita lain. Meski ia dinyatakan meninggal.


"Jangan pernah mengingkarinya  Lara Smith." Peringat Louis lalu menjauhkan wajahnya dari Lara.


Louis membalikan tubuhnya dengan perlahan.


"Ingat sekali lagi. Jika kau kalah maka kau hanya akan jatuh padaku dan tak akan bisa kembali lagi. Ah! Satu lagi, kau lupa mungkin! Aku yang menyelamatkan nyawamu saat itu," ucap Louis dengan suara angkuh. Memperingkatkan jasanya pada Lara di masa lalu.


"Ya aku tau. Tapi kau lupa jika putraku tak bisa kau selamatkan saat itu," tutur Lara pelan.


"Maaf Soal itu sayang. Kita masih bisa membuat nya bukan," goda Louis lalu melangkah meninggalkan kamar Lara tampa menguncinya.


Louis yakin Lara tak akan mencoba kabur lagi. Mengingat ia sudah pernah gagal saat kabur. Louis mengendarai mobilnya menuju Amsterdam.


Di lain tempat suami istri itu baru saja tiba di Bandara Internasional Belanda. Saat itu ke duanya menatap sendu gadis cantik yang kini tengah menanti ke datangan nya.


"Laura." Teriak Nyonya Taylor sebisa mungkin tampak ceria.


Laura berlari memeluk berganti ke dua orang tuanya. Ketiganya meninggalkan Bandara menuju rumah yang telah di beli oleh Joshep saat pertama kali di Belanda. Ketiga berbicara banyak hal. Meski Laura tak mengatakan jika ia sudah menikah.


Ia takut sang Ayah akan mencari tau siapa Aiden. Laura akan mengenalkan Aiden pada ke duanya setelah ia benar-benar yakin jika Aiden telah mencintainya.


"Mommy! Aku ingin bertanya sesuatu," tutur Laura saat sang Ibu tengah menata baju ke dalam lemari.


"Tanya apa?" tanya Nyonya Taylor tampa menghentikan kegitannya.


Laura hanya duduk di pinggir ranjang dengan wajah sedikit ragu.


"Apa aku punya kembaran?" tanya Laura hati-hati.


DEG !


Pergerakan tangan Nyonya Taylor terhenti ia mengalihkan tubuhnya menghadap sang Putri.


"Apa maksudmu?" Tanya Nyonya Taylor, Ia merasa sesuatu yang ganjal.


Ia berpikir apa jangan-jangan sang Putri bertemu dengan kakaknya yang hilang. Jika iya maka itu adalah berita bagus. Nyonya Taylor dengan langkah lebar mendekati ranjang dan duduk di samping Laura.


"Itu.."

__ADS_1


"Cepat katakan apa kau bertemu dengan gadis yang mirip denganmu, hem?" potong Nyonya Taylor dengan wajah penuh harap.


"Tidak bertemu. Hanya saja aku menemukan seseorang yang memanggilku dengan nama Lara," aku  Laura jujur.


"Apa???! Benarkah itu?" Tanya Nyonya Taylor dengan menggenggam tangan Laura dengan erat.


"Iya, Mommy!" balas Laura.


"Tolong antarakan Mommy padanya sayang." Ucap Nyonya Taylor langsung berdiri dari duduknya.


"Jadi benar aku punya kembaran?" tanya Laura lagi dengan wajah Syok.


Dari reaksi sang Ibu Laura tau jika itu adalah benar.


"Ya, sayang. Dia adalah kakakmu Laura Taylor yang menghilang." Jawab Nyonya Taylor dengan senyum mengembang.


Sudah begitu lama ia menyembunyikan fakta itu. Karena tak ingin sang putri ikut sedih. Awalnya ia akan menyembunyikannya sampai mati. Karena ia tak ingin tampak buruk di hadapan sang Putri. Bagaimana orang tua bisa kehilangan putrinya di saat ia melahirkan.


"Dia sudah meninggal Mommy," seru Laura membuat tubuh Nyonya Taylor ambruk ke lantai.


💊💊💊


Aiden terlihat begitu serius mengajarkan sang Putri mengerjakan tugas Biologinya. Ke duanya selesai beberapa menit lebih cepat dari biasanya.


"Terimakasih Papa." Seru Venus mengecup pipi kanan Aiden.


"Sama-sama sayang." Balas Aiden juga ikut mengecup dahi sang Putri.


"Papa !" Seru Venus pelan saat ia membereskan peralatan belajarnya di atas meja.


"Ya," jawab Aiden pelan.


"Apa, Papa! saat ini merasa bahagia bersama Mama?" tanya Venus hati-hati.


"Tentu saja sayang. Karena Papa mencintai, Mamamu." Tutur Aiden dengan membelai rambut belakang Venus.


"Apa rasanya masih sama saat satu tahun yang lalu?" Kembali lagi Venus bertanya.


Elusan di kepala Venus berhenti. Aiden terdiam mendengar pertanyaan dari Venus. Rasanya memang beda, namun lama kelamaan ia mulai nyaman dengan rasa yang berbeda itu.


"Tentu," jawab Aiden setelah lama terdiam.


"Papa! Venus ke kamar dulu ya." Tutur Venus langsung berdiri dan melangkah menuju kamarnya.


Aiden masih duduk di Sofa ruangan keluarga. Jika di pikir lagi Lara memang berubah. Sebisa mungkin Aiden memakluminya. Namun lama ke lamaan rasanya pun ikut berubah.


Ia mulai menyukai Lara yang sekarang. Ia tak peduli lagi dengan semua ke anehan yang ia rasa. Karena yang penting adalah Lara berada di sisinya saat ini.


"Aku mencintaimu, Lara!" tutur Aiden pelan entah pada siapa.

__ADS_1


__ADS_2