
"Jangan menangis Mama!"
Lara membalikan tubuhnya tampa melepas pelukan tangan yang melingkar di perutnya. Wajah tampan itu menengadah melihat ke arah wajah Lara yang terlihat begitu kusut. Lara melepaskan pelukan anak berusia lima tahun itu.
Ia menekuk satu kakinya guna mensejajarkan wajahnya dan wajah tampan anak berkulit albino itu. Tangan kecil itu menangkup ke dua sisi wajah Lara. Ibu jari mungil kecil itu menyapu air mata yang tergenang di wajah cantik Lara.
"Mama!" Serunya dengan senyum imut.
Hati Lara terasa tercabik melihat bagaimana Putra yang telah lima tahun ini di anggap meninggal ternyata masih hidup. Oh sungguh! Louis Baron merawat sang putra dengan baik.
"Papa bilang Mama akan senang jika melihat Juna tapi kenapa Mama malah menangis?" Tanya sang Putra dengan wajah heran.
Tangan Lara ikut menangkup wajah tampan sang putra. Senyumnya begitu mirip dengan Aiden. Warna kulitnya pun terlihat sama. Cara ia melihat pun sama.
"Mama! Bahagia melihat Juna di sini." Tutur Lara dengan suara serak.
"Dimana Papa, Ma?" Tanya Juna menyapu sekeliling rumah Duka.
"Papa sedang tidak di sini sayang." Bohong Lara dengan senyum palsu.
"Tapi Bibi Yuki mengatakan jika Apa di sini bersama Mama. Dan Bibi Yuki juga berkata bahwa pertemuan aku dan Mama di percepat. Karena Papa berada di surga." Tutur Juna dengan suara lucu.
"Benarkah?" Tanya Lara mengelus pipi putih mulus milik Juna.
Juna mengangguk kan kepalanya. Lara kenal dengan Yuki wanita asli Jepang yang menjadi bawahan setia Louis. Ia beberapa kali bertemu dengan Yuki dan juga Juna Juna hanya beberapa saat saja.
Ia tak menyangka jika Juna adalah Putranya. Ia tak tau bagaimana Louis menyelamatkan putranya yang di angkat secara paksa. Hingga lahir di usia tujuh bulan.
"Tapi surga itu di mana Mama?" Tanya Juna dengan wajah penasaran.
"Surga itu.. Tempat paling indah sayang. Ah! Dimana Bibi Yuki sekarang?" Tanya Lara pada Juna.
"Di luar bersama Paman Vernon." Tutur Juna.
Lara berdiri sambil mengendong Juna. Bobot tubuh Juna lumayan berat. Ia tau Louis pasti merawat Juna dengan sangat baik.
"Yuki!" Seru Lara menghampiri Yuki dan Vernon.
Ke dua orang itu menoleh ke arah Lara yang melangkah ke arahnya. Sohyun memberikan Juna pada Vernon. Vernon yang mengerti apa yang Lara inginkan pun meninggalkan ke dua wanita sebaya itu. Agar lebih leluasa berbicara.
"Bagaimana ke adaan Nyonya Baron?" Tanya Yuki menatap wajah pucat Lara.
Ke dua tangan Lara menggenggam tangan kanan Yuki. Membuat wanita cantik itu tertegun dengan perbuatan Lara.
"Terimakasih telah membesarkan Juna dengan baik Yuki." Tutur Lara lirih.
Yuki tersenyum dan mengangguk.
__ADS_1
"Apa kau tak bertanya bagaimana Putramu bisa Selamat dan bagaimana ia bisa tau jika Nyonya Baron Ibunya?" Tanya Yuki penasaran.
"Tentu. Tapi aku tak tau dari mana aku harus memulai semua pertanyaannya." Tutur Lara dengan jujur.
Yuki tersenyum hangat. Ia membawa Lara ke salah satu ruangan di rumah duka mewah itu. Ke duanya duduk di Soffa saling berhadapan. Yuki tak ingin Lara terlalu letih atau pun tertekan. Menginggat kondisi Lara yang tengah hamil anak dari majikannya.
"Jika begitu, biarkan aku saja yang menjelaskan semuanya. Namun sebelum itu bisakah Nyonya tak terlalu memikirkannya. Karena semua yang berlalu biarkan menjadi masa lalu saja." Tutur Yuki.
Lara teridam beberapa saat. Lalu mengangguk menyetujui permintaan Yuki.
"Baiklah aku akan mulai dari saat Nyonya melahirkan Juna. Saat itu kondisi Juna sangat memprihatian. Napasnya tersengal dengan tubuh yang begitu mungil. Awalnya Revan ingin membunuh Juna namun Bos Seo menyelamatkan Juna menukarkannya dengan bayi lain. Itu semua agar Gea tak curiga." Tutur Yuki menerawang ke masa lalu.
"Aku yang lulusan Ke Dokteran di tugaskan merawat Juna sampai kondisinya stabil. Waktu berjalan sangat cepat hingga bayi yang kurawat tumbuh dengan sehat. Dia begitu cerdas. Saat aku mengatakan Nyonya adalah Ibunya dia sangat senang. Bos Louis melarang Juna bertemu denganmu. Egois memang! Karena takut kau akan kembali pada suamimu. Ia merawat Juna sangat baik di belakangmu. Bisa di bilang aku hanya pengasuh saja. Sedangkan Bos adalah Ibu sekaligus Ayah bagi Juna. Bos menyayanggi Juna seperti putranya sendiri. Dan saat Nyonya melahirkan nanti ia akan mengatakan yang sebenarnya." Tutur Yuki dengan desahan letih.
Kepala Lara tertunduk kian dalam saat mendengar cerita Yuki. Selama ini ia telah salah menilai Louis. Ia berpikir Louis hanya tergila-gila padanya. Tak peduli dengan yang lainnya. Dan Louis hanyalah pembunuh berdarah dingin.
"Nyonya berpikir jika anak yang Nyonya kandung bukan anak Bos bukan?" Tutur Yuki membuat wajah Lara langsung terangkat menatap Intens mata Yuki.
"Anda salah besar Nyonya! Dia adalah anak Bosku." Tutur Yuki menatap perut datar Lara.
Tangan Lara meraba perut ratanya. Ia tak mengerti apa maksud dari perkatan Yuki. Anak yang ia kandung jelas-jelas anak Aiden. Ia berhubungan intim dengan Louis selalu meminum obat. Agar tak satu pun yang bisa membuahi rahimnya. Dan Louis pun tau itu dengan sangat jelas.
"Apa.."
"Sebelum kembali ke Belanda. Bos menukar obat yang Nyonya minum dengan Pill penyubur rahim. Yang ia dapat dari diriku. Aku membuat Obat serupa dengan Obat pencegah ke hamilan." Potong Yuki dengan nada serius.
Lara mengelengkan kepalanya berulang-ulang kali. Ia menyangkal akan hal itu.
"Lalu masalah Nyonya tidur dengan Aiden. Bos tau dengan jelas akan hal itu. Nyonya lupa jika Hani juga anak buah Bos yang menjadi tangan kananmu. Lalu apa kau berpikir jika Hani benar-benar menuruti apa yang kau inginkan? Tidak! Semuanya telah di atur oleh Bos. Dimana seolah-olah kau menyelamatkan Nyawanya Hani. Dan kau percaya sepenuhnya pada Hani. Dan untuk malam itu, kau yang terjebak dalam ilusi bukan Bos." Jelas Yuki membuka semuanya.
Ke dua pupil mata Lara melebar mendengar penjelasan dari Yuki.
"Itu berati aku tidak tidur dengan Aiden. Namun tidur dengan Kak Louis? Dan dia tau penghianatan yang aku lakukan?" Tutur Lara dengan wajah Syok.
"Tentu saja dia tau."
"Lalu kenapa dia tak membunuhku saja. Setelah apa yang aku lakukan?" Tutur Lara tak percaya.
"Karena dia mencintaimu dengan tulus dan sangat dalam." Jawab Yuki lalu berdiri dari duduknya.
"Aku mengatakan semuanya agar kau bisa mempertimbangkan. Bagaimana pengorbanan yang Bosku lakukan. Saat ini darah pemimpin kami berada di dalam rahim Nyonya. Bertindaklah bijak sana Nyonya." Ucap Yuki sebelum melangkah pergi.
🔮🔮🔮
Venus menatap Aiden dengan wajah merah. Bukan karena marah namun karna anak berusia sembilan tahun itu sedang sakit. Ia menunggu Lara sangat lama di luar. Tampa mengenakan baju hangat. Sampai tertidur di luar pintu Arpartemen Lara.
"Apa Venus mau makan sesuatu yang hangat?" Tanya Aiden dengan suara pelan membeai puncak kepala sang Putri.
__ADS_1
Aiden tak ingin memarahi Venus. Karena ia tau Venus terlalu merindukan Lara. Bagaimana bisa ia akan membuat hati anaknya sedih. Jika tau Lara mungkin tak mengenalnya.
"Tidak Papa. Aku merindukan Mama Lara." Tutur Venus lirih.
"Lara telah kembali ke Jepang," bohong Aiden.
"Papa berbohong. Mama masih berada di Belanda, kenapa Papa berbohong padaku?" Tanya Venus dengan wajah tak mengerti.
"Mama mu hanya Laura bukan Lara. Jadi berhenti bertanya atau meminta bertemu dengannya Venus Brown!" teriak Aiden Frustasi.
Oh Ayolah! Ini sudah cukup berat bagi Aiden. Dimana ia kehilangan Lara di tambah lagi Venus kini mendekam di penjara. Jika ia membebaskan Laura kemungkinan besar ia akan mati di tangan Dark. Jadi ada baiknya ia berada di sana. Sampai suasana tenang.
"Kenapa Papa begitu jahat padaku dan Mama? Bagiku aku hanya punya satu Mama saja saat ini. Yaitu Mama Lara bukan Laura!" Tutur Venus keras kepala.
Aiden mengeram marah melempar lampu tidur sang putri kelantai. Hinga lampu kaca mahal itu pecah berserakan di lantai.
Mendengar pecahan dari dalam kamar. Membuat Jimi dan Mark masuk ke dalam kamar. Jimi melihat bagaimana menakutkan nya jika Aiden marah. Ia menghepas semua barang di dalam kamar sang putri.
Venus hanya menatap apa yang di lakukan oleh Ayahnya itu dengan pandangan dingin. Mark melangkah ke arah ranjang. Sedangkan Jimi melangkah ke arah Aiden ia mencoba menghentikan Aiden.
"Sudah Aiden! Hentikan! Kau bisa melukai dirimu sendiri." Teriak Jimi lantang.
Aiden berhenti menyandarkan pungungnya di dinding. Venus tersenyum sinis melihat kamarnya yang berantakan. Lalu menatap Aiden dengan pandangan tak terbaca.
Mark hanya bisa berdiri di samping ranjang Venus. Menatap Venus lalu beralih menatap sang Bos.
"Jika menyakitkan dan terluka kenapa dulu harus pura-pura dan menutup ke dua matamu Papa." Tutur Venus dengan suara jelas.
Seketika Aiden dan Jimi menatap Venus yang kini menatap nyalang ke arah Aiden.
"Jika Papa bisa mempertahankan cinta Papa pada Mama. Apakah semua akan berakhir menyakitkan seperti ini?" Tutur Venus lagi.
"Venus hentikan !" Tutur Jimi melihat wajah Aiden yang terlihat sedih.
"Apa yang harus aku hentikan Paman! Dan jangan lupa ini semua karena ulah Paman juga." Balas Venus membuat Jimi tertohok.
"Sekarang pergilah jemput istrimu di penjara Papa. Aku merasa muak bersamamu. Dan satu lagi aku akan tinggal bersama Kakekku saja." Ucap Venus lalu turun dari rajang melangkah keluar dari kamarnya.
Mark mengejar Venus yang dalam keadaan sakit. Aiden merosot ke lantai. Ia menangis sangat keras. Ia bukannya cengeng! Namun ini sudah di luar batas kemampuannya.
"Aiden!" Seru Jimi pelan.
"Tinggalkan aku sendiri saat ini," pinta Aiden.
Terdengar helaan napas Jimi. Ia melangkah keluar dari kamar Venus.
"Maafkan aku Lara.Maafkan Papa Venus." Seru Aiden di sela isak tangisnya
__ADS_1
Yang bodoh disini adalah dirinya. Hingga semuanya kacau seperti saat ini.