Penyesalan Dalam Cinta

Penyesalan Dalam Cinta
Chapter 24


__ADS_3

"Semua tak lagi sama ! Kau dan aku bukan lagi Kita. Hinga rasa benci ini tercipta. Hingga rasa itu tak lagi ada. Karena kau telah membunuhnya."


~Lara Smith~


.


.


.


.


3 Tahun kemudian


Wanita yang semakin terlihat cantik di usia yang semakin matang. Wajah yang dulu terlihat cantik kini terlihat begitu dingin. Mata bulat bercahaya itu hanya memamerkan amarah dan dendam yang membara.


Kini ia tau siapa ia sebenarnya. Keturunan Belanda Campuran yang masih memiliki orang tua lengkap. Namun tak lantas membuat ia bahagia oleh fakta itu. Ia tak peduli lagi dengan yang namanya keluarga. Toh dari dulu ia tak pernah merasakan apa itu kasih sayang sesungguhnya.


Mata tajamnya menatap lurus ke tengah titik fokus. Para lelaki berwajah bringas menatap bagaimana tangannya terlihat begitu ahli dalam memegang Pistol.


DOR !


DOR !


DOR !


Tiga bunyi tembakan mengalun di ruangan pengap itu. Ke tiga peluru yang di lepas dari sarangnya itu tepat mengenai titik incarannya.


Prok !


Prok !


Prok !


Tepukan tangan mengalun indah setelah tiga tembakan di lepaskan. Ke dua sudut bibirnya terangkat ke atas membentuk senyuman mematikan.


"Bos Smith memang hebat. Tak salah Bos Baron tergila-gila padanya." Bisik lelaki campuran Jepang-Cina itu pada rekan sebelahnya.


"Tentu saja. Dan kau tau paras cantiknya itu membuat musuh kita terkecoh dengan mudah." Balasnya dengan senyuman puas.


Bukan hanya satu orang saja yang membicarakannya. Namun semuanya berbisik-bisik tentang kehebatan Lara. Tiga tahun adalah waktu yang cukup untuk membuktikan bagaimana kehebatan seorang Lara Smith.


Setelah kejadian tiga tahun yang lalu. Dimana ia dengan jelas melihat lelaki yang ia cintai dan mengaku mencintai nya tengah memadu kasih dengan kembarannya sendiri. Mulai saat itu Lara Smith benar-benar mati. Hingga Lara Smith yang baru tercipta.


Lara meninggalkan ruangan markasnya guna melangkah menuju lapangan. Dimana di lapangan luas itu helikopter pribadi milik Dark tengah menanti ke datangannya. Lara naik dengan wajah dingin.


"Apa kau sudah siap kembali ke Belanda sayang?" Seru Louis yang duduk di sebelah Lara.


Dimana lelaki tampan itu sudah berada di sana menunggu gadisnya masuk.


"Tentu." Jawab Lara dingin.

__ADS_1


Louis memamerkan senyum evil nya melihat wajah cantik Lara. Wajah yang tak pernah berubah. Masih polos seperti berumur dua puluh tahunan. Ke dua mata Lara tertutup perlahan. Louis menggenggam tangan Lara dengan erat dan tersenyum.


Di lain negara Aiden Brown tengah bermain dengan balita lelaki berumur dua tahun. Jari telunjuk tangan Aiden di masukan ke dalam mulut dan digigit pelan oleh sang balita. Aiden hanya tertawa pelan merasakan gigi yang baru tumbuh meski tak sepenuhnya tumbuh.


"Kakak keluarkan tanganmu darinya. Sean bisa sakit jika memasukan tanganmu ke dalam mulutnya." Seru Laura yang baru masuk ke kamar.


"Baiklah sayang." Tutur Aiden menarik tangannya membuat sang Putra menatap kecewa.


Aiden terkekeh melihat ekspresi lucu sang Putra. Aiden sudah tau Identitas Laura. Laura sendiri yang berterus terang saat mengandung Putra mereka. Saat itu jujur saja Aiden tak menerima semuanya. Namun ia tak bisa kehilangan Laura yang mengantikan Posisi Lara.


Aiden merasa mungkin Laura adalah wanita yang di kirim Lara untuk menggantikannya. Dan Putranya saat ini adalah Putra yang mengantikan almarhum Putranya yang telah lama meninggal. Aiden memutuskan untuk menerima Laura dan mencintai kembaran almarhum Istrinya itu.


Dan memberikan nama Almarhum Putranya pada Putranya saat ini. Mereka hidup tenang bersama dengan penuh Cinta. Aiden dan Laura percaya Lara mengawasi mereka dari atas sana. Meski nyatanya Lara mengawasi mereka dari Jepang. Ia mengirimkan mata-mata guna mengawasi Aiden dan Lara.


Ingin rasanya Lara membunuh Aiden dan Laura dengan tangannya sendiri. Namun ia sadar Laura adalah kembaranya sendiri. Dan Aiden adalah lelaki yang masih memiliki hatinya.


Ia akan bermain-main dengan ke duanya. Akan dia buat ke duanya merasakan sakit yang sama seperti yang pernah ia rasakan dan yang masih ia rasakan.


🔮🔮🔮


Lara mengoyangkan gelas kaca yang berisi wisky dengan wajah tak terbaca. Ia menatap ke indahan kota Amsterdam dari gedung Hotel tempat ia menginap. Sepasang tangan melingkar di perut datarnya. Ia tau dengan pasti siapa pemilik tangan itu.


"Kau tak lelah hem?" Tanya Louis dengan suara manja.


"Kau lupa siapa aku tuan Baron? Aku adalah Lara Smith. Aku adalah gadis kuat dan juga .."


"Racunku." Lanjut Louis dengan senyum.


"Kau tak ingin memiliki anak bersamaku hem? Aiden memiliki Putra yang tampan bersama adikmu." Ucap Louis sambil meletakan dagunya ke atas bahu Lara.


Lara tersenyum masam mendengar perkataan Louis. Lelaki itu tau jika dirinya meminum pil pencegah kehamilan. Louis marah sungguh ! Namun ia tak berdaya untuk marah pada gadis yang ia peluk saat ini.


Louis menunggu kapan Lara akan siap mengandung benihnya. Ia tak akan memaksa Lara untuk itu. Karena ia tau Lara pasti akan meminta memiliki anak dengannya meski tidak saat ini tapi nanti pasti. Melihat bagaimana bencinya Lara pada Aiden.


"Aku akan berhenti meminum Pil itu. Jika itu yang Tuan mau." Tutur Lara meneguk habis minumanya.


Louis tertawa pelan. Lara benar-benar tau apa yang ia ingin kan. Lara melepaskan pelukannya dari Louis dan melangkah meletakan gelas kaca kosong ke atas meja yang berada di tengah ruangan.


Lain Lara lain pula Aden. Ia menatap dengan pandangan hampa ke arah abu sang Putra. Di sampingnya Venus meletakan mobil kecil yang baru ia beli. Hari ini adalah hari kematian sang Putra. Karena itu Aiden dan Venus mengunjungi makam Sean.


"Sean. Kakak dan Papa datang. Apa kau dan Mama baik-baik saja di sana, eoh?" Tanya Venus dengan suara lirih.


Wajah imut Venus berubah semakin cantik saja. Kini ia telah berumur sembilan tahun. Ia sudah dangat cukup mengerti apa yang terjadi. Mata kecilnya melirik wajah sang Ayah yang masih menatap foto Lara yang berada di dalam sana.


Venus mengeluarkan setangkai bunga Lily yang berada di ransel yang ia bawa dan meletakan di depan foto Lara.


"Mama! Venus selalu mendapatkan Peringgat pertama di sekolah. Bukankah itu bagus? Venus mengabulkan apa yang Mama katakan dulu." Tutur Venus lagi.


Aiden mendesah pelan. Ia melangkah pergi tampa sepatah kata pun baik pada Sean mau pun Lara. Venus hanya menatap pungung Papanya dengan pandangan sedih.


"Jangan terlalu kecewa Mama. Papa hanya tak bisa berbicara jika ada aku. Ia begitu mencintai Mama dan Sean. Hanya saja saat ini Papa masih menata hatinya agar tak terlalu membenci ke adaan." Tutur Venus lagi dengan linangan air mata.

__ADS_1


Di samping dinding pembatas. Lara meneteskan air mata mendengar perkataan sang Putri. Ia datang saat Venus mulai berbicara. Ia juga merindukan Venus dan juga bangga pada Venus. Karena Venus tumbuh dengan begitu baik.


"Mama baik-baik saja Venus. Hanya hati  Mama saja yang tak baik-baik saja." Tutur Lara pelan.


Venus beranjak dari makam Sean dan dirinya saat itulah Lara keluar dari persembunyian nya. Lara meletakan sebuah gelang terbuat dari emas murni di sana.


"Sean! Mama datang. Maaf jika selama ini Mama tak bisa datang. Dan mulai hari ini dan seterusnya Mama akan selalu ada di sini. Sean! Mama sunguh minta maaf karna tak bisa melindungimu." Tutur Lara pelan.


"Bos !" Suara yang Lara kenal membuat ia membalikan tubuhnya guna menatap sang bawahan.


"Bagaimana?" Tanya Lara.


"Semuanya sudah beres." Jawabnya dengan pelan.


"Bagus." Jawab Lara dengan wajah menakutkan.


Wanita cantik itu menyerahkan baju yang akan Lara pakai. Setelah berganti pakaian dan dandanan Lara dan sang wanita itu melaju menuju rumah Aiden.


Senyum licik terpapar jelas dari wajah Aiden. Rumah yang lama tidak ia tepati kini kembali ia pijak setelah dimana ia melihat adegan yang menyakiti kan itu.


"Pantau ke adaan Louis dan juga Laura. Kerjakan semuanya serapi mungkin." Tutur Lara dengan pelan.


"Siap Bos." Tutur sang wanita lalu berlalu.


Lara naik ke lantai atas dan masuk ke dalam kamar. Ia membuka lemari baju dan masuk ke kamar madi setelah memilih baju tidur yang sesuai dengan seleranya.


Sepuluh menit Lara selesai melakukan ritual mandi. Ia menatap bekas operasi yang mulai tersamarkan oleh kulit putihnya. Meski masih terlihat garis putih memanjang. Bagi Lara melihat bekas Operasi itu seakan membuat ia kembali tegar. Terkadang pahitnya kehidupan membuat kita membuka mata lebar-lebar.


Setelah selesai Lara keluar dari kamar mandi dengan rambut masih sedikit basah. Tubuh Lara di tarik oleh sebuah tangan dan dengan gerakan cepat bibir Lara di bungkam dengan ciuman panas.


Lara dapat mencium dengan jelas aroma minuman keras dari tubuh Aiden. Lara hanya mengikuti kemana arah pemainan Aiden. Lama kelamaan ciumana Aiden mulai memanas. Ke duanya tak sadar kapan tepatnya Aiden dan Lara telah berada di tempat tidur.


Hingga rencana Lara berjalan dengan sangat mulus. Ia pikir akan ketahuan namun keberuntungan berpihak padanya hari ini. Terbukti ia dan Aiden tidur bersama.


Lara membuka ke dua matanya saat ia merasa haus. Ke dua mata tajam itu melirik jam yang berada di atas nakas. Di sana terdapat pukul empat pagi. Lara bergegas menghubungi suruhannya.


Hanya butuh waktu dua puluh menit. Wanita cantik itu membawa tubuh Laura masuk ke dalam kamar. Di bantu oleh Lara. Mereka merebahkan Laur di samping tubuh Aiden. Wanita itu keluar lebih dahulu setelah membantu Lara membuka seluruh pakaian Laura.


"Well ! Kita akan memulai permainan dua arahnya. Setelah semuanya siap aku akan kembali memperlihatkan diriku padamu. Dan saat itu terjadi aku pastikan kau akan menyesal karena melupakanku Aiden Brown." Bisik Lara di telinga Aiden.


Ia mengecup pelan pipi Aiden lalu keluar dari kamar. Di bawa ia melihat anak buahnya tersenyum. Lara membalasnya dengan senyum licik. Saat ia keluar dari rumah Aiden. Dapat ia lihat dengan jelas penjaga Aiden terlihat linglung.


Entah obat apa yang di berikan oleh anak buah Lara hingga mereka terlihat menatap kosong pada lantai. Lara menepuk pelan dahinya. Ketika dia ingat Hani punya kemampuan menghipnotis orang dalam jumlah banyak.


Ia keluar dan menaiki taksi menuju Hotel. Lara masuk ke dalam ruangan kamar Hotel mewahnya dengan senyum tak henti-hentinya. Ia menatap wajah tampan Louis dengan wajah tak dapat di gambarkan.


"Maafkan aku. Aku begini karena kau tetap tak ingin melepaskan ku. Dan soal anak aku memang harus memilikinya jika ingin bertahan denganmu bukan? Namun bukan anakmu biarkan ini akan menjadi anak Aiden. " Tutur Lara melepas semua bajunya dan menaiki tempat tidur dan masuk ke dalam pelukan Louis yang memang sudah tak memakai apa pun.


Lara yakin Louis hanya akan mengingat semalaman tercinta dengan Lara. Tentu atas bantuan Hani pula.


"Terimakasih Hani." Tutur Lara lalu memejamkan ke dua matanya

__ADS_1


Tubuhnya terasa letih dan remuk. Ia lupa berapa kali pelepasan yang ia dan Aiden dapatkan. Lara berharap itu akan segera membuahkan hasil agar Louis tak mendesaknya memiliki bayi lagi.


__ADS_2