
Dooor
Bruk!
"Kakak." Teriak Juna melihat gadis beranjak remaja itu terjatuh di rerumputan taman.
"Sial." Desis lelaki di balik pohon besar.
"Juna! Kakak baik-baik saja." Tutur Venus mencoba bangkit dari posisi jatuhnya.
Liliana menatap ke duanya dengan heran. Namun tak menampik wajah putihnya memerah karena ketakutan. Lelaki itu mendekati ketiganya.
"Kakak." Seru Juna membantu Venus berdiri. Darah segar mengalir dari bahu sebelah kanan Venus.
"Wah! Kenapa kau menyelamatkan adik tiri mu, ya. Kakak yang baik." Tuturnya dengan suara menyeramkan.
Mata tajam kelam itu tersenyum dengan aura pembunuh yang kuat. Taman di sekitar perumahan elit itu memang selalu sepi karena di jam siang tak ada orang yang berkeliaran. Di karenakan orang dewasa tengah sibuk berkerja.
Juna menarik Liliana ke belakang tubuhnya dan Venus. Venus berdiri di menghalangi penglihatan sang adik dari hadapan Revo. Lelaki yang nyaris mati karena pengkhianatan Louis. Namun nasib baik berpihak ke padanya. Hingga ia selamat dari maut.
Butuh waktu lama untuknya kembali membaik. Dan beraktifitas normal, dendam kematian gadis yang ia cintai dan pengkhianatan dari Louis membuat Revo merasa tak tentram. Saat kondisinya pulih sepenuhnya siapa sangka. Dia malah menemukan makam Louis.
Itu bukan membuat amarahnya surut namun semakin membara. Karena ia merasa itu tidaklah adil. Dimana seharusnya Louis Baron mati di tangannya. Hanya di tangan seorang Revo William. Di hadapan Lara Smith. Ia akan membuka semuanya agar Louis tersiksa dengan kepergian Lara dari dirinya.
Namun semuanya hanya tinggal rencana saja. Louis mati demi melindungi Lara Smith. Awalnya ia mencoba melupakannya sejenak. Sambil mencari tau di mana keberadaan Lara. Namun siapa sangka Revo malah menemukan sebuah temuan yang mengejutkan.
Lara Smith dan Louis Baron memiliki seorang anak perempuan. Dendam yang sempat padam kini membara lagi. Hingga ia mampu melumpuhkan beberapa anak buah Louis yang berjaga untuk Liliana.
"Jangan sakiti adikku, Paman!" Seru Venus dengan pandangan lemah.
Darah segar dan rasa panas akibat pergeseran timah yang menembus kulitnya membuat ia merasa lemah.
"Aku tak akan menyakiti adikmu nona manis. Kau Venus Brown bukan? Anak dari Aiden Brown. Dan lelaki tampan itu adalah Juna Brown adikmu. Tapi di belakang adikmu itu ada Liliana Baron anak dari Louis Baron." Tutur Revo dengan suara menyeramkan.
Di belakang tubuh Juna tangan mungil Liliana mengenggam erat ujung baju Juna. Juna menoleh kebelakang melihat betapa ketakutan nya sang adik.
"Aku hanya ingin membunuh Liliana saja. Jadi kau boleh bawa adikmu pergi dari sini. Obati lukamu anak manis agar kau tak mati kehabisan darah." Tutur Revo sambil mendekati ke tiganya.
Venus mundur di ikuti oleh ke tiganya. Juna menatap sekeliling, berharap ada anak buah Ibunya atau Yuki di sana. Namun tak ia temukan siapa-siapa di dekat sana.
"Kenapa mundur? Bukankah Paman telah berbaik hati membiarkan kau dan adikmu pergi." Tutur Revo berhenti di saat jarak ia dan ketiga anak itu hanya empat langkah saja.
"Juna! Ayo kita pergi saja, Kakak merasa sudah tidak kuat." Tutur Venus menoleh kebelakang.
Juna mengeleng kan kepalanya. Venus memang tak tega jika adiknya harus merasakan rasa sakit dari timah panas itu. Ia baru dua tahun bisa bersama sang adik. Dimana ia diam-diam menemui Juna saat anak itu sedang sekolah.
Ia sangat ingat dimana Lara menemuinya ketika ia sakit parah. Venus tak mampu menahan rasa rindu pada Lara. Entah apa yang di katakan oleh sang Kakek pada Aiden. Hingga Lara datang menemui Venus. Bahkan ia membawa Juna dan Liliana.
Tentu saja karena kehadiran Lara membuat Venus pulih dengan cepat. Setelah satu minggu Lara dan Juna berserta Liliana kembali lagi ke Jepang. Dan berjanji akan pulang ke Belanda setelah Liliana berumur tujuh tahun.
Dan memperoleh Venus bertemu dan berkomunikasi dengan Juna. Tapi dengan satu Syarat di mana Venus tak boleh mengatakan apa-apa pada Aiden.
Hari ini rencananya Venus akan membawa Juna pulang ke Belanda bersamanya meski hanya satu bulan dimana Juna libur musim panas. Dan itu sudah mendapatkan persetujuan dari Lara tentunya.
Namun hal yang ia lihat saat menyusul sang adik di taman adalah seorang lelaki mengarahkan pistol ke arah Liliana. Namun saat ia berlari, teryata Juna malah berdiri di depan Liliana. Jika saja Venus terlambat, maka timah panas itu akan bersarang di jantung adiknya.
"Kakak! Aku tak bisa meninggalkan Liliana sendiri." Jawab Juna pelan.
Venus menatap wajah Liliana anak kecil imut itu ternyata mengeluarkan air mata dalam diam. Kasihan! Satu kata yang terlintas di dalam hati Venus. Namun pilihan yang di berikan oleh Revo hanya dua saja. Mati bersama atau pergi meninggalkan Liliana sendiri.
"Juna kita harus pergi! Bukankah kau ingin bertemu dengan Papa kita hem? Kakak Mohon jangan seperti ini." Tutur Venus semakin lirih.
Biarkan ia egois. Venus tak punya pilihan lain untuk menyelamatkan sang adik.
Revo hanya tersenyum psikopat mendengar perkataan Venus. Ia tau betul bagi Venus tak ada yang lebih penting dari pada Lara dan Juna.
"Dengarlah perkataan Kakakmu." Seru Revo.
"Tidak !" Teriak Juna.
Bagaimana pun Liliana juga adalah adiknya. Meski beda Ayah dengannya, ia telah berjanji pada sang Ibu akan melindunggi adiknya apa pun yang terjadi. Juna melangkah dan berdiri di depan Venus.
"Jika Paman ingin menyakiti adikku maka Paman harus membunuh aku terlebih dahulu." Tutur Juna menatap nyalang ke arah Revo.
"Juna!" Teriak Venus tertahan.
"Kakak bawalah Liliana lari bersama mu. Aku tak ingin Mama kecewa dan sedih jika tau aku tak bisa melindungi Liliana." Tutur Juna tampa keraguan.
Revo terkekeh mendengar perkataan Juna. Revo menatap Juna dengan pandangan tabjuk.
"Keturunan Brown benar-benar hebat." Ucap Revo dengan senyum menyeringai. " Namun sayangnya,aku harus menghabisi kalian bertiga." Lanjut Revo dengan menyodorkan kepala pistol ke arah Juna.
Bruk!
__ADS_1
Venus ambruk di karenakan tak kuat lagi menahan rasa sakit. Juna berteriak pelan melihat kakaknya pingsan. Liliana menangis keras melihat Venus menutup mata dengan darah masih mengalir.
"Ucapkan selamat tinggal sayang." Tutur Revo.
Juna memejamkan matanya. Menerima apa saja yang akan terjadi padanya. Jika ia harus mati setidaknya ia sudah berusaha melindungi adiknya.
Door !!!!
Akh !!
Bruk !!
Tubuh Revo tumbang ke rerumputan. Dari kejauhan Lara berlari sekuat tenaga menghampiri anak-anak nya.
"Juna! Liliana!" Seru Lara berlari kencang.
"Mama!" Seru Juna dan Liliana serentak.
Lara terkejut saat mata bulatnya melihat tubuh anak yang sangat ia kenal.
"Venus! " Teriak Lara panik memangku kepala Venus.
Tampa banyak tanya Lara mengendong tubuh Venus. Sebelum itu ia memberikan Ponselnya pada Juna agar Juna menghubungi Yuki dan Vernon.
Juna berlari bersama Liliana lebih dulu sambil menekan tombol panggil. Lada menatap Revo yang tersenyum dengan napas tersengal-sengal menatap nya.
"Hai! Sara!" Seru Revo dengan suara pelan.
"Apa yang kau lakukan pada putriku, hah!" Teriak Lara dengan wajah murka.
"Aku tak sengaja adikku sayang. Aku hanya ingin membunuh anak Louis yang telah mengkhianati ku. Bukan anak Aiden." Tutur Devo sambil meringis merasakan timah panas yang tertancap di dadanya.
"Dasar gila." Pekik Lara.
Lalu ia melangkah pergi meninggalkan Revo yang terkapar tak berdaya. Lara yakin dua puluh menit lagi Revo akan mati. Lara yang merasakan perasaan tak enak. Memutuskan menyusul ke dua buah hatinya yang bermain di taman komplek.
Hati Lara semakin kacau saat melihat anak buahnya terkabar di beberapa tempat di samping taman. Hinga ia menemukan Revo yang bersiap-siap membidik sang putra. Kecekatan Lara mampu mengalahkan kecepatan Revo dan kepekaan Revo.
Dari ke jauhan Revo menatap Lara dengan sinis.
"Jika bukan putrinya maka kau saja yang mengantikannya Lara!" Tutur Revo mencoba berdiri.
Ia akan membidik Lara. Tembakan terakhir sebelum ia menyusul Gea dan Louis. Setidaknya ia akan mengolok-olok Louis di atas sana nanti. Dimana gadisnya mati di tangannya.
"Selamat tinggal Lara." Tutur Revo oleng.
Door !
Bruk !
* * *
1 Tahun kemudian
Devan menatap makam yang di tumbuhi rumput hijau dengan pandangan tak terbaca. Ia meletakan bunga di depan makam itu dan duduk di depannya.
Devan menatap langit biru dengan gugusan awan putih yang berarak. Senyum tipis terbit di bibir Devan. Ia memilih duduk di samping makam dengan di temani sebotol Bir dan satu buah gelas kecil.
"Terimakasih." Tutur Devan pelan sambil menuangkan Bir ke gelas kaca.
Ia meneguknya perlahan lalu mengisi lagi gelas kecil itu. Lalu menyiramkannya ke atas makam.
"Jika bukan karena kau melindungginya mungkin dia tak akan di dunia ini lagi." Tutur Devan pelan.
"Auden. Aku berpikir dia akan menikah denganku. Namun kau tau dia malah memutuskan pernikahan kami. Dan memilih menjadi Ibu tunggal untuk ke dua anakmu dan anak Louis." Tutur Devan lagi.
"Dia terlihat begitu menyesal karena kematianmu. Kau tau dia mencintaimu lebih dari kau mencintai. Bakan aku mau pun Louis tak ada bandingannya denganmu." Lanjut Devan.
Devan menatap makam Aiden. Ia membalikan menginggat masa lalu. Diaman Aiden mengorbankan hidupnya demi Lara.
Flashback on
"Laa.."
"Aiden !" Teriak suara berbeda.
Lara terkejut dengan bunyi tempakan dan juga bunyi tubuh yang terjerembam ke tanah. Dari arah lain Yuki dan Vernon berlari ke arah Lara. Dari arah berlawanan Jimk dan Mark ikut berlari mendekati Lara dan Aiden.
Aiden memeluk Lara dari belakang. Tampa menoleh Lara tau dengan jelas siapa yang melindunggi nya dari tembakan.
Mark mengambil alih tubuh Venus berlari ke arah mobil di ikuti oleh Vernon.
"Aiden." Seru Lara untuk ke dua kalinya.
__ADS_1
Aiden tersenyum lebar mendengar suara wanita yang ia rindukan. Wanita yang selalu dan selalu ia rindukan. Saat Lara akan membalikan tubuhnya Aiden mencegahnya.
Yuki berserta Jimi hanya terpaku melihat ke duanya. Air mata Lara mulai mengalir deras. Punggung belakang tubuhnya basah. Ia tau apa yang tengah membasahi punggung belakang nya.
"Jangan berbalik cukup seperti ini. Hanya sep..erti ini." Pinta Aiden putus di akhir kata.
Lara menangis dengan isakan pelan. Aiden semakin kencang memeluk pinggang Lara. Rasa sakitnya semakin terasa. Namun pada dasarnya rasa sakit yang kini ia rasakan tak sesakit saat ia kehilangan Lara Smith. Belahan jiwanya! Cinta pertama Seorang Aiden Brown.
"Aku Mencintai Lara Brown." Seru Aiden sebisa mungkin tak terbata. Memasangkan nama belakang keluarga nya pada Lara. Pada wanita yang sangat ia cintai.
Ia ingin terlihat kuat di depan wanita yang ia cintai.
"Aiden, aku mohon lepaskan aku. Kita keluarkan dulu peluru yang ada di dalam tubuhmu, hem." Pinta Lara di sela tangisnya.
Aiden menggelengkan kepalanya. Ia tak ingin kehilangan tubuh Lara. Ia meraup aroma dari tubuh Lara. Aroma yang selalu membuat ia menggila selama bertahun-tahun lamanya.
"Papa!" Seru Juna menghampiri ke duanya.
Mata sayu Aiden menangkap wajah anak yang begitu mirip dengannya saat kecil. Aiden baru mendapatkan informasi jika Venus berada di Jepang. Venus mengiriminya sebuah pesan dimana pesan itu mengatakan bahwa ia akan membawa adiknya kembali.
Awalnya Aiden tak mengerti apa yang di maksud oleh Venus. Tapi Ayah mertua sekaligus Ayah angkatnya mengatakan sebuah rahasia yang di simpan oleh putrinya. Karena itu ia langsung terbang ke jepang. Langsung menuju rumah Lara. Ia berlari menyusul Lara ketika wanita yang ia rindukan terlihat berjalan setengah berlari ke arah taman.
Aiden ambruk dengan gerakan cepat Lara menyambut tubuh Aiden. Lelaki tampan itu berada di rangkulan Sohyun.
"Papa!" Seru Juna lagi.
Aiden tersenyum senang. Ia meraih tangan Juna membawa Juna masuk dalam pelukannya. Hingga baju biru laut Juna harus berlumur noda darah.
"Putraku." Seru Aiden.
Juna melepaskan pelukan Aiden, ia menekan darah segar yang mengalir. Lara menangis melihat Juna berusaha menghentikan aliran darah Aiden.
"Maafkan Papa say..ang. Ma.afkan.. Aku La..ra ..ah.. Aku..mencintai.. Mu." Ucap Aiden terbata-bata.
Pertahan Sok kuat Aiden akhir nya hancur. Dimana ia merasa sudah di ambang batas.
"Aku mohon bertahanlah Aiden. Aku juga mencintaimu. Aku sangat mencintai." Tutur Lara dengan isakan kencang.
Aiden mengelengkan kepalanya. Ke dua tangan Sehun terangkat tangan kanannya menyentuh wajah Juna dan tangan kirinya menyentuh wajah Lara.
Untuk terakhir kalinya. Ia ingin bisa menyentuh orang-orang yang ia cintai.
"Aiden !!!" Teriak Lara kencang.
Di saat tangan Aiden jatuh. Napasnya terhenti Lara meraung memeluk tubuh tak bernyawa lagi. Juna menangis melihat Ayah yang ia rindukan telah pergi untuk selamanya.
Jimi meneteskan air matanya melihat kepergian Aiden.
Flashback off
Lara Pov On
Aku meletakan bunga di atas makam lelaki yang aku cintai. Aku duduk di samping makam nya dengan pandangan sendu. Aku merasakan penyesalan yang teramat besar. Setelah kepergiannya dari dunia.
Jimi menceritakan semuanya yang terjadi. Mulai dari aku yang di culik sampai kepergianku. Dia mencintai dengan tulus. Aiden hanya menatap Laura sebagai penganti diriku. Ia hanya mencintai aku bukan Laura Taylor kembaranku.
Bodoh! Aku begitu bodoh. Hingga harus kehilanggan orang yang mencintai tuk ke dua kalinya. Setelah aku pikir ulang apa yang telah aku berikan pada Aiden? Tidak ada.
Dan apa yang telah Aiden berikan padaku? Dan jawabannya begitu banyak. Ia memberikan pengorbanan dan hati berserta hidupnya untuk aku. Hanya karena rasa cemburuku membuat ia harus menderita hinga akhir hidupnya.
Sunguh! Maafkan aku, Aiden. Aku menyesal hingga rasanya hatiku ikut mati bersamamu. Aku akan menjalani sisa hidupku hanya untuk sebuah penyesalan.
Lara Pov off
Lara merasakan hujan turun dengan deras. Ia masih duduk di sana tak beranjak satu senti pun. Meresapi sebuah penyesalan dalam kisah Cintanya.
Ia hidup bersama Venus,Juna dan Liliana. Hidup dengan kebahagian palsu. Hanya untuk putra dan putrinya. Beruntung Venus addalah anak yang kuat hingga mampu menerima semuanya. Lara menjalani Kehidupan sebagai Ibu tunggal dengan tiga anak.
.
.
.
.
.
.
END
"Terkadang kita bertanya siapa yang salah dalam sebuah kisah Cinta yang rumit. Menyudutkan banyak pihak hingga kita buta dengan kesalahan kita sendiri. Hingga saat dia pergi, saat itulah ke dua mata kita terbuka. Di saat itu kita sadari satu hal! Kisah cinta tak pernah membutuhkan siapa yang berhak di salahkan. Namun bagaimana cara kita memperbaiki kesalahan itu sendiri. Agar kata penyesalan tak pernah lagi mewarnai kisah percintaan."
__ADS_1
~Author*~
-------------------+-++------------