Penyesalan Dalam Cinta

Penyesalan Dalam Cinta
Chapter 16


__ADS_3

"Bisakah kau datang padaku memelukku dengan erat. Menghapus air mataku dan menutup lubang kosong di dalam hatiku? . Lubang yang terbentuk karena kehilanganmu."


~Aiden Brown~


.


.


.


.


.


.


1 Tahun kemudian


Lelaki tampan bak yunani kuno itu melangkah angkuh di ikuti oleh beberapa lelaki bertubuh kekar. Satu tahun sudah ia kehilangan Wanita yang ia Cintai. Wajah dinginnya terlihat semakin dingin. Mata tajamnya terasa begitu kelam dan mampun menenggelamkan apa saja yang ia tatap.


Rahang tegasnya tak pernah tersentuh oleh satu tangan pun. Terkecuali tangan sang Putri, anak berumur enam tahun. Anak yang terus ia tipu bahwa Ibunya akan pulang pada mereka. Setiap Venus menanyakan kemana Lara. Maka lelaki bernama lengkap Aiden Brown itu akan mengatakan bahwa Lara tengah berada di luar negeri bersama adiknya.


Ia juga berbohong adiknya lahir dengan selamat. Sungguh! Ia tengah membohongi dirinya sendiri saat ini. Ia telah memutuskan tengelam di dalam ilusinya sendiri. Jimi sang tangan kanan Aiden merasa begitu kasihan dengan lelaki yang sudah dia anggap seperti adik kandungnya sendiri.


Jimi tau jika Venus Brown sangat tau dengan apa yang terjadi. Namun ia tak ingin mematahkan hati sang Ayah. Saat itu pula ia memutuskan tidak lagi membicarakan Lara mau pun sang adik. Terkadang diam-diam Venus mengunjungi abu dari adiknya. Yang di namakan Sean Brown, saat tes DNA keluar Aiden menolak mentah-mentah.


Bukankah tak satu orang pun yang bisa melawan kehendak sang kuasa. Hinga ia menjadi lelaki yang semakin dingin tak tersentuh. Tujuannya saat ini adalah membesarkan daerah ke kuasanya dan juga ke kayaannya.


Aiden ingin membuat dirinya memiliki kekuatan mengontrol dunia. Bahkan mengontrol perekonomian dunia. Ia akan mengalahkan Pembunuh berdarah dingin yang di kenal dengan nama Dark.


Dengan begitu ia akan menghabisi Gea Miller dengan cara yang sama. Wanita itu kini di lindungi oleh serikat Pembunuh bayaran itu. Aiden tak pernah takut dengan siapa pun. Berani menyentuh milik seorang Aiden Brown maka sudah siap untuk mati. Tak terhitung jumlah Golongan Dark mati di tangan Aiden dengan cara yang kejam.


Ia melampiaskan semuanya pada semua anggota Pembunuh berdarah dingin Negara Sakura itu. Bahkan ia tak segan-segan mengincar keluarga mereka. Satu tahun membuat Aiden berubah begitu banyak. Ia tak lagi punya hati dan rasa kasihan.


Tak ada tanda kasih sayang di mata kelamnya. Yang adalah hanyalah kibaran api dendam yang sedang membara begitu besar.


"Bagaimana dengan pembentukan anggota kita di Paris ini?" tanya Aiden dengan wajah angkuh memandang Menara Eiffel dari Hotel yang ia beli satu bulan yang lalu.


"Semuanya berjalan dengan sesuai rencana Bos. Dan musuh kita yang berada di sini sudah di habisi tampa sisa," jawab Mark dengan seringai iblis nya.


Aiden tertawa penuh kepuasan. Tidak sia-sia meletakan Mark yang di kenal dengan julukan sang Iblis dalam golongan Mafia ke Negara Paris. Ia begitu bisa di andalkan dalam berburu musuh. Perlu di ketahui Mark si Remaja imut itu adalah lelaki gila yang ia selamatkan saat kecil.


Dia begitu setia pada Aiden bahkan ia akan melakukan apa saja untuk Aiden. Membuat Aiden selalu mengandalkannya dalam membunuh. Semua orang yang melihat wajah kecil dan senyuman malaikat nya akan terpikat padanya. Namun jangan salah! Mark adalah remaja psikopat.

__ADS_1


"Bagus! Kau benar-benar bisa di andalkan Mark," puji Aiden ketika tawanya reda.


Wajah yang menawan ketika tertawa itu berubah menjadi menakutkan. Rahangnya mengeras, senyum mematikan mulai ia tampakkan. Matanya beribu kali menajam.


"Aku tak akan membiarkan mereka lolos dariku Bos. Semuanya akan aku habiskan dengan kejam termasuk orang yang mereka kasihi. Seperti apa yang sudah mereka lakukan pada Nyonya Brown," tutur Mark dengan mata berkabut amarah.


Jimi hanya menatap ke duanya dengan tatapan tak terbaca. Ia hapal dengan sifat ke duanya. Terlebih Mark, ia lah yang mengasuh lelaki remaja itu menjadi seorang Mafia yang hebat. Namun ia tak menyangka saat ia melepaskan Mark, muridnya itu berubah menjadi sangat ganas.


"Cuaca sangat indah, apa kau tak ingin berjalan-jalan keluar Aiden?" tanya Jimi saat Mark sudah tak lagi berada di dalam kamar mewah Hotel Bintang Lima yang ke duanya tepati saat ini.


Aiden hanya menatap Jimi sesaat lalu menatap menara yang masih menarik perhatian nya itu.


"Siapa tau kau bisa mendapatkan mangsa di luar sana," tutur Jimi lagi.


Seketika senyum iblis terlihat di wajah tampan putih salju itu. Mangsa yang Jim maksud bukanlah Perempuan melainkan musuh mereka. Aiden hanya tertarik pada musuh bukan pada Perempuan. Ia tak peduli di katakan seorang lelaki tak normal. Karena kenyataannya memang begitu bukan? Karena kehilangan Lara ia tak mempunya hasrat atau pun Nafsu. Hanya nafsu dan hasrat membunuh saja yang ada pada dirinya.


Sedangkan di lain tempat gadis cantik dengan balutan gaun putih bermotif renda dengan bahu terbuka itu tengah menatap menara menjulang itu. Senyum indahnya tak bisa di hitung berapa kali terukir.


Kertas putih itu kini tak lagi Polos. Ujung pensil runcing gadis itu menodainya dengan bentuk yang Indah. Mata bulat jernih itu masih menatap lekat pada menara dan sesekali menekan ujung pensil itu agar membentuk pola-pola yang ia ingin kan.


"Apa masih belum selesai?" tanya suara lembut yang duduk di depannya.


"Belum, sedikit lagi akan selesai Jenni. Jika kau tak bisa menunggu sebaiknya pergilah lebih dulu." Jawabnya masih asik dengan menggambar.


"Aku akan berkeliling dulu. Jika kau masih mau melukis silahkan saja," ucap Jenni letih.


"Hem!" hanya itu kata yang keluar dari bibir nya.


"Dasar manik lukisan," cibir Jenni sebelum melangkah keluar dari Cafe di dekat Menara.


Gadis yang rambutnya di cepol ke atas itu tersenyum penuh kepuasan setelah melihat hasil karyanya.


"Aku memang terbaik dalam melukis," pujinya sendiri pada buku gambarnya.


Ia merenggangkan tubuhnya yang terasa agak pegal. Lalu membereskan barang-barangnya dan melangkah keluar dari Cafe. Namun baru ia sampai di pintu keluar Cafe. Ia tak sengaja menangkap seorang lelaki berwajah dingin dengan rahang tegas, mata tajam kelam, hidung mancung dengan bibir tipis namun penuh.


"Wah! Sempurna," pujinya pelan saat lelaki itu melangkah semakin menjauh darinya.


Senyum nakal terbit di wajah cantiknya. Gadis itu melangkah setengah berlari di jalan yang ramai. Ia mengikuti lelaki tampan itu diam-diam. Hingga tampa sadar ia telah melangkah sangat jauh dari daerah ramai.


"Kenapa lelaki itu masuk di gang sempit dan kumuh seperti ini sih!" Keluh gadis itu masih mengikuti lelaki itu.


"Oh! Dimana dia?" Tanyanya melihat ke segala arah.

__ADS_1


Lelaki yang ia ikuti menghilang begitu saja ketika ia sampai di salah satu tempat hutan lebat dengan banyak bunga. Gadis itu melangkah ke arah danau dengan pelan. Ia tersenyum saat melihat seulet lelaki itu duduk di tepi danau berwana biru jernih.


Semakin ia mendekat ia semakin merasa gejolak aneh di dalam hatinya. Entah kenapa lelaki itu bagaimana magnet untuk dirinya.


"Kenapa kau mengikuti ku, kucing manis?" tutur sang Lelaki ketika gadis itu berjarak tiga langkah dari belakang tubuh nya.


Tubuh gadis itu membeku saat mendengar suara berat lelaki itu. Lelaki itu berdiri dari duduknya dan membalikan tubuhnya guna melihat siapa gadis yang dari tadi mengikuti. Jujur saja ia tau jika ia di ikuti. Dan saat tau jika mengikutinya adalah seorang wanita ia tak terlalu mengambil pusing.


Karena ia sudah banyak di goda oleh wanita dengan berbagai macam jenis. Namun seorang Aiden Brown tak akan pernah terpikat sama sekali.


"Kau!!!!!" seru Aiden syok melihat siapa yang berdiri di depannya dengan tubuh membeku.


♨♨♨♨


Miranda menatap sang suami dengan pandangan lelah. Ia hanya bisa berpura-pura tersenyum seperti biasanya.


"Kenapa kau menunggu aku di luar, hem?" tanya Joshep Taylor pada sang Istri.


"Aku hanya kesepian karena tak ada orang di rumah kecuali pembantu," tutur Wanita paruh baya itu pelan.


Miranda mengambil alih Jas kerja sang suami dan melangkah bersama sang suami ke dalam kamar. Miranda meletakkannya di pakaian kotor. Joshep menggenggam tangan Miranda dengan lembut.


"Maafkan aku Miranda, bagaimana jika kita kembali saja ke Belanda. Putri kita tak ada di sini," tutur Joshep dengan wajah letih.


"Ya. Kau benar, kita sudah cukup lama berada di Roma hanya menunggu dan mencari anak kita. Kita pikir dia akan kembali pada kita. Tapi nyatanya tak ada! Dia tak akan pernah kembali," tutur Miranda dengan suara seraknya.


"Maafkan aku." Tutur Joshep dengan kerutan di wajah tuanya.


"Tidak, ini kesalahan penculik brengsek itu. Namun setidaknya kita masih punya Laura di samping kita meski tampa Lara," jawabnya pelan.


"Melihat wajah Laura membuat aku selalu di rundung oleh rasa bersalah dan rindu yang berat. Andaikan anak pertama kita bisa bersama kembarannya maka Laura tak akan sendiri." Ucap Joshep dengan mata berair.


"Kita yang terlalu lala." Jawab Miranda dengan isak kan pelan.


Joshep memeluk tubuh Istrinya dengan erat. Ia merasa perasan terluka setiap kali menatap wajah putrinya. Dimana Laura lahir sepuluh menit setelah Lara. Putri pertama nya itu lahir dengan selamat namun saat Laura lahir terjadi pendarahan hebat pada Miranda


Hingga ia harus langsung di larikan ke ruangan Operasi. Di karenakan tiba-tiba saja kaki Laura lebih dulu terlihat bukan kepala. Karena kepanikan itu, perawat yang menjadi salah satu suster di sana menculik Lara yang sudah di berikan nama dengan kalung emas yang langsung di pasang di leher Lara.


Kalung emas itu di gunakan sebagai pembeda Lara Taylor dan Laura Taylor yang akan lahir. Namun kenyataan pahit yang keluarga itu peroleh dengan kehilangan Lara.


Meski Joshep telah menutut rumah Sakit besar itu. Dan mengerahkan team Polisi Roma namun hasilnya tetap nihil. Tampa mereka sadari Lara di selundupkan dengan kapal pesiar yang berlayar ke Paris dan bayi itu langsung jatuh pada lelaki bejat itu.


Hingga hasil pencarian Lara di hentikan. Hanya para detektif saja yang mencarinya. Meski Lara artis terkenal di Belanda namun karena dia bukan seorang penyanyi hingga wajahnya tak mampu menembus Internasional.

__ADS_1


Hasil Positif mulai di raih saat mereka melihat Wajah Lara berkampanye untuk sang Ayah. Saat itu para Detektif mendapatkan nya hanya saja saat itu hanya video lama yang mereka dapatkan. Ayah angkat Lara sudah masuk dalam penjara.


__ADS_2