
"Terkadang Mereka yang terlihat dingin di luar dan menakutkan. Bukanlah jati diri diri mereka sebenarnya. Karena di dalam lubuk hatinya ia menyimpan kehangatan dan juga ke setian yang tak bisa di ragukan. Bahkan berkorban bukanlah hal yang sulit hinga harus berpikir dua kali atau satu kali sekali pun !"
~Louis Baron~
.
.
.
.
.
Door !
Brak !
Bruk !
"Kakak!!"
Tubuh lelaki tampan itu terjatuh di lantai kayu Restoran mewah bergaya Eropa klasik itu. Lara memangku tubuh lemah dengan darah yang mengalir deras dari jantung Louis. Aiden menatap ke arah Laura yang berdiri tak terlalu jauh darinya.
Dimana wanita cantik itu terduduk di lantai setelah melepaskan peluru panas dari sarangnya. Wajah cantik itu terlihat tertunduk dengan tubuh gemetar. Aiden menatap nanar ke arah Lara. Lalu beralih pada beda mematikan yang tergeletak di depan tubuh Laura.
"Kakak!!!" Seru Lara panik.
Lara menekan darah yang keluar dari tubuh Louis. Gerakan reflek yang di miliki oleh Louis benar-benar tak di ragukan lagi. Sebagai Pembunuh berdarah dingin feeling-nya tak bisa di remehkan.
Saat ia selesai membalas tinju Aiden. Ia langsung memeluk Lara dengan reflek cepat. Hingga bunyi tembakan keras itu mengisi lorong ruangan menuju pintu keluar. Lara awalnya Syok ketika Louis memeluknya dengan erat. Hingga telinganya terasa berdengung mana kala timah panas itu menembus jantung Louis.
"Jangan me..nangis." Seru Louis dengan wajah meringis menahan rasa sakit di jantungnya.
"Bodoh! Seharusnya kau biarkan saja aku yang tertembak." Maki Lara dengan isakan tangis.
"Mana bisa aku melakukannya." Tutur Louis dengan napas yang tak normal namun sebisa mungkin terlihat bisa saja. Tangannya terulur menghapus air mata Lara.
"Karena kau adalah Wanita yang aku cintai dan Ibu dari anakku. " Ucap Louis dengan suara pelan.
"Kakak !" Panggil Lara ketika helaan napas Louis tak teratur lagi.
Louis begitu hebat hinga bisa berbicara tampa jeda. Karena bagi Louis terkena peluru adalah hal biasa. Karena itu sudah menjadi makanan sehari-hari dalam hidup seorang pembunuh bayaran.
"Ak ..u mencintai.. Mu !" Tutur Louis dengan senyum tulus sampai ke dua matanya tertutup.
Lara memekik hebat saat ke dua mata Louis tertutup rapat. Tanganya yang sedari tadi menekan dada Louis berpindah membelai wajah Louis hingga wajah tampan pucat itu menjadi kotor karena darah.
"Lara ak.."
"Pergi kau brengsek!" Maki Lara dengan menepis tangan Aiden yang berada di pundak Lara.
"Jantungnya tertembak!"
__ADS_1
"Sepertinya dia meninggal."
"Hubunggi Ambulan."
"Sebentar lagi Mobilnya akan sampai."
"Kasihan kekasihnya."
Itulah yang orang-orang ributkan melihat ke adaan Louis. Aiden hanya mematung melihat apa yang tejadi. Sedangkan Lara masih menangis memangku tubuh Louis.
Ia menyesal! Sungguh! Ia tak tau sedalam itu Louis mencintainya. Hingga menjadi perisai bagi dirinya sendiri. Tak butuh waktu lama tenaga medis mendatangi tempat kejadian. Bersamaan dengan polisi yang ikut serta hadir di sana.
Lara ikut masuk ke dalam mobil. Sedangkan Aiden masih mematung melihat kepergian Lara. Entah apa yang berada di benak Aiden saat ini. Hingga satu inci pun tubuhnya tak bergerak dari sana. Laura? Wanita cantik itu di amankan oleh anggota polisi guna di mintai keterangan.
Di lorong Rumah Sakit Lara masih setia menggenggamnya tangan dingin Louis. Hingga ia di minta menunggu di luar pintu masuk UGD. Lara merosot kebawah ke lantai dingin. Ia menangis sejadi-jadinya. Hati Lara tak kunjung berhenti berdoa agar Louis Selamat.
Jika Louis selamat apa pun akan Lara berikan pada Louis. Apa pun itu ! Bahkan jika Louis meminta nyawa Lara sekali pun. Lara akan memberikannya tampa berpikir dua kali.
"Lara!" Seru suara lembut di belakang tubuh Lara.
Gadis cantik dengan rambut sebahu itu membawa Lara duduk di kursi tunggu. Mata Lara membengkak wajahnya terlihat sangat pucat. Hani mendesah letih melihat ke adaan Lara.
Hani merongoh tas yang ia bawa mengeluarkan tisu basah. Dengan perlahan ia mengelap seluruh noda darah yang berada di tangan Lara. Juga di wajah cantik wanita yang pernah menyelamatkan nyawanya itu.
"Sudahlah Lara. Tuan Baron pasti selamat kau lupa dia adalah lelaki yang kuat." Tutur Hani dengan menggengam tangan Lara.
"Benarkah itu? Dia tidak akan mati bukan?" Tanya Lara dengan wajah pucat.
"Tentu. Ingat saat ini kau sedang hamil, kau tal ingin janinmu kenapa-napa bukan?" Tutur Hani memperingatkan kondisi Lara saat ini.
"Wali dari tuan Baron." Seru Seorang Dokter lelaki yang keluar dari pintu UGD.
Lara dan Hani berdiri dan menghampiri sang Dokter. Lelaki itu mendesah letih dengan wajah sedih.
"Maaf Tuan Baron tak bisa kami selamatkan. Karena peluru yang bersarang tepat di jantung Tuan Baron jadi kami mohon maaf." Tutur Dokter berusia empat puluhan itu.
"Tidak!" Seru Lara pelan hingga ke sadaranya menghilang.
Untung saja Hani segera menangkap tubuh Lada. Saat itu Hana berteriak agar Lara juga bisa di tangani.
Sedangkan di lain tempat Aiden memandang hampa ke arah rintik hujan yang turun. Jimi menatap Aiden dengan pandangan kasihan. Ia tak tau jika Laura bisa senekat itu. Bagaimana bisa ia menembak Kakak kandungnya sendiri.
Ia pikir Laura adalah wanita yang baik sama seperti Lara. Karena mereka satu darah maka ia yakin jika Laura juga baik. Aiden mau Pun Jimi lupa siapa seorang Laura Taylor.
Dia di besarkan dengan penuh kasih sayang. Apa pun yang ia inginkan selalu ia dapatkan. Laura tak pernah merasakan kepahitan dalam kehidupan. Semua yang ia butuhkan tercukupi. Dan ia tak pernah berbagi kasih sayang sebagai seorang Putri dan anak tunggal.
Hinga ia bisa berubah menjadi pribadi yang menakutkan dan juga nekat. Saat apa yang ia miliki harus berada di tangan orang lain. Apa lagi bagi Laura berbagi bukanlah sifatnya.
"Maaf." Seru Jimi di belakang tubuh Aiden.
"Untuk apa?"
"Karena jika aku tak membuat Laura berpura-pura menjadi Lara. Maka saat ini semua ini tak akan serumit ini." Aku Jimi jujur.
"Bukan. Ini bukanlah salah Abang. Karena aku sendiri yang bersalah. Karena aku tau dia bukan Lara namun aku menutup ke dua mataku. Karena takut ia akan pergi dariku. Dan bahkan aku memberikan hatiku untuknya. Hingga semuanya menjadi seperti ini Bang." Balas Aiden dengan suara lirih.
__ADS_1
Ke duanya terdiam setelah percakapan singkat. Sehun merasa kepalanya begitu berat saat ini. Ia melangkah menuju sofa yang berada di ruangan kerjanya. Aiden merebahkan dirinya lalu memejamkan ke dua matanya.
Aiden berharap apa yang telah terjadi hanyalah sebuah mimpi semata. Lara pasti sangat membencinya saat ini. Setelah apa yang di perbuat oleh Laura.
Jimi menatap Aiden dengan perasaan penuh bersalah. Lalu ia melangkah meninggalkan ruangan Aiden. Jimi tau Aiden butuh waktu sendiri.
🔮🔮🔮
Rumah duka terlihat penuh. Dimana di sana penuh dengan orang-orang berpakaian serba hitam. Dimana orang-orang yang berada di sana adalah anak buah Louis yang terbang dari Jepang ke Belanda dengan pesawat pribadi milik kelompok mereka.
Wajah yang biasanya terlihat dingin dan menakutkan itu. Kini tak terlihat lagi, yang ada saat ini adalah wajah sedih dari seluruhnya. Mereka mendengar cerita dari Hani salah satu tangan kanan Lara. Wanita sang Bos di mana Hani menceritakan jika Louis terbunuh karena menyelamatkan Lara.
Mereka semuanya marah pada pembunuhan Louis. Dimana Istri dari Mafia terbesar di Belanda itu. Saat ini jika tak mengingat hari duka maka mereka akan bersama-sama membunuh wanita itu. Tak peduli jika mereka akan mati di tangan Mafia.
Yang terpenting dendam mereka terbalaskan. Lara terduduk di sudut peti Louis. Ia menatap kosong ke arah Foto Louis Baron yang tersenyum.
"Nyonya Baron." Seru Vernon menghampiri Lara.
Lara mendongkak melihat wakil dari Pemimpin Dark. Dimana Vernon mengantikan Revo Williem. Vernon melipat satu kakinya agar menyamai tinggi tubuhnya dan Lara.
"Ini." Ucap Vernon menyodorkan sebuah kontak hitam yang di ketahui adalah milik Louis.
Lara menerimanya tampa suara. Ia hanya menatap kotak hitam itu lalu menatap ke arah Vernon.
"Bukalah. Sebenarnya itu adalah kado dari Boss untuk Nyonya di saat Nyonya melahirkan anak Bos." Ucap Vernon yang tau tatapan mata Lara.
Dengan tangan bergetar Lara membuka kotak hitam itu. Ia meraih surat yang tertera di sana. Lara membuka suara yang di lipat rapi itu dengan perlahan.
Ke dua mata bulat memerah karena terlalu lama menaggis itu membaca kata demi kata yang tertera di dalam surat. Hati Lara tertohok bahkan tercabik membaca isi dari surat tangan yang Louis buat.
Suara teriakan ke hancuran dan juga rasa bersalah mengalun di ruangan mewah itu. Anak buah Louis hanya bisa menatap Lara dengan pandangan kasihan. Mereka tau Lara pasti terpukul atas kehilanggan Louis.
"Boss sangat mencintaimu Nyonya Baron. Kau tau bagaimana ia berkorban dan terus berkorban untukmu dengan harapan suatu saat kau akan mencintainya. Tapi sepertinya suatu saat itu tak datang padanya. Namun jujur saja setidaknya ia memiliki penerus marga Baron karena Nyonya hamil anaknya." Tutur Vernon pelan.
Bukan berhenti isakan Lara malah semakin menjadi-jadi. Hatinya di tampar oleh kata-kata yang Vernon Ucapkan. Bagaimana tidak? Anak yang ia kandung jelas anak Aiden Brown bukanlah anak dari Louis Baron.
"Nyonya Baron harus bertahan agar kami bisa melihat penerus dari Bos Baron." Tutur Vernon lalu berdiri.
Dengan gemetar Lara melihat foto demi foto yang benar-benar membuat Lara merasa sesak. Betapa tulusnya Louis padanya. Ia bahkan tak pernah memukul Lara. Satu senti pun tak pernah menyakiti Lara. Dan apa yang telah Louis persiapkan untuk kejutan benar-benar membuat Lara tak mampu berkata-kata.
"Satu lagi. Aku berharap Nyonya Baron akan ikut pulang bersama kami ke Jepang. Agar kami bisa menjaga Nyonya Barpn dan membuat Bos Baron tenang di sana." Tutur Vernon saat ia baru melangkah dua langkah.
Tampa mendengarkan jawaban Lara, Vernon meninggal Lara. Lara memeluk foto dan surat yang Louis tuliskan untuk nya.
"Kakak maafkan aku." Tutur Lara lirih. "Dan terimakasih untuk semuanya." Tutur Lara dengan suara pelan.
Lara berdiri dan melangkah ke tengah guna memberikan hormat pada Louis untuk terakhir kalinya.
"Aku akan membesarkannya sebagai anak Louis Baron bukan sebagai anak Aiden Brown." Tutur Lara setelah memberikan penghormatan terakhir.
Hap!
Tangan munggil memeluk pinggang Lara dari belakang. Tubuh Lara membatu merasakan pelukan yang terasa begitu hangat itu.
"Jangan menanggis Mama." Tutur suara menyejukan itu.
__ADS_1
Lara hanya bisa terdiam. Tanpa membalikan tubuhnya karna terlalu syok.