
BAB l
Namaku Natasya aku adalah anak pertama dari dua bersaudara,aku mempunyai adik laki-laki bernama Gilang. Ayahku bernama Surya dan ibuku bernama Nina. Awal hidupku terasa sangat sempurna aku memiliki orang tua yang sangat menyayangi ku dan selalu memanjakan ku. Tetapi kebahagiaanku hanya sementara saja karna di saat usiaku menginjak 13 tahun saat aku menginjak bangku SMP aku harus menerima kenyataan yang sangat pahit dengan perceraian orang tuaku yang sangat aku sayangi. Aku tidak pernah tahu bahwa di balik keharmonisan dan kehangan yang di tunjukan orang tuaku di depan aku dan adikku hanyalah sandiwara saja. Karena ternyata mereka selalu menutupi pertengkarannya dari anak-anaknya.
Saat aku pulang sekolah ibuku sudah tidak ada di rumah. Hanya ada adikku yang berna Gilang.
" Lang ibu kemana? tanyaku pada Gilang. aku tidak tahu kak karna saat aku pulang sekolah ibu sudah tidak ada dirumah,mungkin ibu sedang kerumah nenek. jawab Gilang "
" mungkin saja tapi biasanya ibu kalo mau kerumah nenek selalu memberi tahu sebelumnya. jawabku lagi pada adikku."
" kamu sudah makan Lang? tanyaku lagi. belum kak,ibu tidak masak! ucap Gilang "
" Ya sudah kakak mau bikin mie,kamu mau? tanyaku lagi pada Gilang ". Mau kak aku laper daritd.jawab Gilang "
Lalu akupun membuatkan mie untukku dan adikku.
" Ini Lang mie nya sudah jd,ayo cepat makan! ucapku pada Gilang."
setelah menghabiskan mie kemudian dia pamit untuk bermain di lapang depan rumah ku.
" kak aku main dulu ya di lapang depan rumah."
" baiklah tapi jangan sore-sore y dek pulangnya! ucapku pada Gilang."
Lalu Gilang pun berlalu pergi, tak beberapa lama ayahku datang.
" assalammualaikum... "
" wa'alaikumsalam, ayah baru pulang? ayah ibu ko dari aku pulang sekolah sampe sekarang gak ada ya? apa ibu ke rumah nenek? tp biasanya ibu kalo mau kerumah nenek pasti beritahu aku. tanyaku pada ayah."
" Tasya ayah mau bicara, tapi ayah harap kamu tetap kuat dan jangan sedih ya nak! "
" Memangnya Ayah mau bicara apa? ko rasanya aku jadi gk enak hati gini ya? seketika jantungku langsung berdetup kencang perasaanku mulai tidak enak. "
" Ayah harap kamu bisa menerima dan tetap kuat setelah ayah mengatakan ini sama kamu, begini nak ibumu sudah pergi dari rumah ini,ibumu ingin berpisah dengan ayah."
seketika air mataku jatuh dan badanku langsung terasa lemas.
" jadi ayah dan ibu akan berpisah? tapi kenapa yah bukankah selama ini yg aku lihat kalian baik-baik saja.bahkan aku jarang sekali melihat kalian bertengkar. tanyaku pada ayah."
" tidak selamanya yang terlihat itu selalu indah dan baik-baik aja sayang.. ibumu yang menginginkan perpisahan ini ayah sudah menolaknya tapi ibu mu tetap ingin pisah dengan ayah."
" Apa kalian tidak memikirkan nasibku dan Gilang yah? bagaimana nasib kami kalo harus terpisah dari orangtua yang sangat kami sayangi."
" Baiklah ayah akan coba untuk berbicara pada ibumu untuk memperbaiki dan mempertahankan rumah tangga kami demi kalian. "
" Dimana adikmu Gilang? tanya ayah.
Gilang sedang main yah di lapang depan.jawabku."
" panggilkan Gilang, suruh pulang dulu ayah mau ajak kalian kerumah nenek untuk menjemput ibumu."
" Baik ayah..jawabku "
kemudian aku bergegas memanggil adikku.
" mau kamana kak? sapa Budi teman Gilang."
" eh Bud kamu liat gilang tidak? tanya ku. "
" Gilang ada di lapangan kak sedang main bola." jawab Budi.
aku pun bergegas menghampiri adikku.
ternyata benar adikku ada dissna sedang main bola.
" Gilang..Gilang... ayo pulang dek ditunggu ayah di rumah,sekarang ya dek jangan lama-lama!!" seruku pada Gilang.
" iya kak q akan pulang sekarang."
akhirnya aku dan adikku tiba di rumah ayah sudah menunggu kami.
" ayo kita barangkat sekarang nak! " seru ayah
" memang kita mau kemana yah? aku kn belum mandi!" ucap Gilang.
" kita mau nenek dek jemput ibu." jawabku datar.
" loh ko kita harus ikut segala biasanya kan ayah jemput ibu sendiri."
" udah lah dek kita nurut ayah saja jangan banyak bertanya." kemudian akupun berlalu menyusul ayah yang sudah menunggu di depan.
" ayo yah kita berangkat kita udah siap."
lalu kami pun pergi ke rumah nenek. setelah menempuh perjalanan 30 menit akhirnya kami pun tiba dirumah nenek.
" assalammualaikum....."
" wa'alaikumsalam...." nenek jawab nenek sambil membukakan pintu.
" owalah...ada cucu-cucu nenek datang sini masuk ndo." kamipun masuk sambil mencium tangan nenek.
" ibu kalian mana ko Ndak ikut to? istrimu mana Sur? " tanya nenek.
" memang Nina tidak ada disini Bu? apa Nina juga Ndak cerita kalo kami sedang ada masalah? ucap ayah kepada nenek.
" loh ko malah nanya ibu Nina Ndak ada disini dan dia juga Ndak kalo kalian sedang ada masalah. terakhir Nina kesini kan Minggu lalu di antar olehmu toh Sur."
lalu ayah pun terdiam sambil menarik nafas panjang.
" ini ada apa toh Sur? ko perasaan ibu jadi Ndak enak gini?sebenarnya kalian ini ada masalah apa sampai Nina pergi dari rumah?apa tidak bisa di selesaikan secara baik-baik?kasian anak-anak mu iki.ibu Ndak rela kalo sampe kalian pisah." ucap nenek dengan lirih
ayah hanya tertunduk..
" begini Bu akhir-akhir ini kami sering bertengkar. saya pun tidak mengerti kenapa Nina jadi berubah.semenjak dia akrab dengan tetangga kami yang bernama sering d sebut mami dia jd jarang ada dirumah.setiap saya pulang kerja dia tidak ada.sampai anak-anak pun makannya tidak teratur karna nina jarang masak.setiap saya menegurnya dia pasti tidak terima dan akhirnya pasti akan berujung ribut.
" ko bisa Nina seperti itu..trus dia pergi kemana Sur? "tanya nenek pada ayah.
" tadi pagi saat kami ribut dan kemudian Nina bilang akan pergi dari rumah dan meminta cerai. tapi aku anggap itu hanya omongan sedang emosi. tapi ternyata Nina melakukan itu dia benar-benar pergi dari rumah."
" niatku kesini aku akan menjemput Nina dan ingin mempertahankan rumah tangga kami demi anak-anak." tapi ternyata Nina tidak ada disini,lalu dia kemana Bu?"
nenekpun menangis mendengar cerita ayah.
" ya Allah Nina kenapa kamu jadi seperti ini,padahal ibu sangat senang melihat kalian selalu rukun."ucap nenek dengan lirih sambil menangis.
" lalu saya haru cari Nina kemana Bu? saya benar-benar bingung apalagi anak-anak terus menanyakan ibunya dan tidak ingin kami berpisah." ucap ayah dengan lirih
" coba kamu tanyakan pada Wanto siapa tau dia pergi kerumah Wanto."
Wanto adalah adik Nina, Nina dan Anto sangat dekat Karno Wanto sering berkunjung kerumah kami.
***
Bab ll
" Baik Bu kalo begitu saya akan kerumah Wanto sekarang saya titip anak-anak dulu di sini ya Bu." ucap ayah pada nenek
" iya Sur kamu hati- hati ya selesaikan masalahmu, ibu hanya berharap rumah tangga kalian bisa di perbaiki kasihan anak-anak mereka masih sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayang dari orang tua yang utuh."
nenek bernama nenek ardah dia adalah ibu dari ibuku.
" akupun berharap seperti itu Bu tapi kalo Nina tetap bersih keras ingin berpisah saya bisa apa Bu?bukannya rumah tangga itu harus di perjuangkan oleh keduanya." ucap ayah pada nenek.
" iya Sur tapi ibu berhara semoga kalian tidak bercerai. ibu akan selalu doakan kalian ibu sayang sama kalian dan cucu-cucu ibu." ucap nenek dengan lirih
" saya pamit Bu, doakan semuanya baik-baik saja dan Nina mau ikut pulang dengan saya, assalammualaikum.."
" ibu akan selalu doakan yang terbaik untuk kalian, wa'alaikumsalam. "
ayah pun langsung bergegas pergi kerumah om Wanto untuk menjemput ibu tanpa berpamitan pada kami karena ayah buru-buru.
" nek ayah mana?" tanyaku pada nenek
" ayah tadi sudah pergi kerumah om Wanto ndo."
" loh ko ayah gak ajak aku dan Gilang nek, kenapa Ayah juga gak bilang sama kita kalo mau jemput ibu. kan aku pengen ikut nek,aku ingin sekali bertemu ibu dan bilang ibu jangan tinggalkan kami." ucapku pada nenek dengan suara lirih dan air mata yang tak henti membasahi pipiku.
" sisi ndo peluk nenek." ucap nenek sambil berlinang air mata. akupun mendekat pada nenek dan langsung memeluknya dengan erat sambil menangis sejadi-jadinya.
nenek langsung memelukku sambil mengelus-elus rambutku.
" kamu jangan nangis ndo,ibu dan ayahmu sangat menyayangi kalian.nenek yakin mereka pun sebenarnya tidak ingin seperti ini,tapi nenek selalu berdoa semoga ayah dan ibumu tidak pernah berpisah." ucap nenek menenagkan ku.
" iya nek aku sangat berharap mereka tidak akan pernah berpisah,karena aku tidak akan pernah bisa membayangkan akan seperti apa hidupku tanpa Meraka. apalagi aku sering melihat teman-temanku yang orangtua nya berpisah Meraka tidak mendapatkan kasih sayang nek." ucapku dengan suara yang parau karena terus-terusan menangis.
" sudah ndo jangan berpikir seperti itu,hidupmu pasti akan lebih baik. ayo kita solat magrib bersama sambil kita doakan semoga ibu dan ayahmu tidak jadi bercerai." ucap nenek
aku pun melepaskan pelukanku dari nenek dan bergegas mengambil air wudhu untuk solat magrib.
setelah menempuh perjalanan 20 menit akhirnya Surya tiba di rumah Wanto. karena jarak rumah nenek ardah kerumah om Wanto tidak terlalu jauh.
" assalammualaikum.... assalammualaikum.."
" wa'alaikumsalam.." jawab Tante Dea sambil membukakn pintu
Tante Dea istrinya om Wanto.
" ada apa mas Surya ko tumben kesini sendiri? mana mbak Nina ?" tanya Dea sambil mempersilahkan Surya masuk.
" Wanto ada Dea?" tanya Surya
" oh ada mas,sebentar ya saya panggilkan dulu. mau minum apa mas?"
" baik, apa saja Dea." jawab Surya
" baiklah tunggu sebentar ya mas,saya panggilkan dlu mas Wanto."
sudah 15 menit aku menunggu tapi Wanto masih belum keluar juga. akhirnya setelah menunggu setengah jam Wanto pun keluar.
" ada apa mas? ko tumben kesini sendiri? "
tanya Wanto padaku
" saya mau cari Nina wan apa dia ada kesini? saya sudah cari kerumah ibu tapi dia tidak ada makanya saya kesini."
" loh ko malah nanya ke saya mas mana saya tahu mbak Nina kemana. orang mbak Nina jarang kesini. "
tiba-tiba Dea istri Wanto datang membawakan minuman sambil berkata
" makanya mas kalo punya istri itu dijaga selagi ada jangan sampe dia merasa tidak nyaman lalu pergi dari rumah,kan kalo udh pergi seperti ini mas sendiri yang repot cari kesana kesini." seru Dea padaku.
aku pun bengong tak menyangka Dea akan berkata begitu seperti sudah tau kalo kami ada masalah.
***
BAB lll
" maksud kamu apa Dea ko tiba-tiba bicara seperti itu?seperti sudah tau permasalahan kami,apa jangan-jangan benar kata ibu Nina ada disini?karna kalian sangat dekat."
Dea pun tercekak karna ucapannya sendiri.
" gak ko mas mbak Nina gak ada kesini aku hanya pernah dengar dari cerita mbak Nina saja,iya kan mas?" ucap Dea sambil menengok pada suaminya.
wanto pun menengok pada Dea seperti memberi kode.
" apa yang Dea ucapkan itu benar mas,mbak Nina tidak ada kesini, dan kami hanya tau dari cerita mbak Nina lewat telepon saja."
tapi Surya tidak percaya dengan ucapan mereka sangat jelas mereka seperti tau dimana Nina sekarang,apa jangan-jangan Meraka yang menyembunyikan Nina atas permintaan Nina, ucapku dalam hati.
" kalian itu tidak seharusnya menutup-nutupi keberadaan Nina, karna bagaimapun itu urusan rumah tangga kami tidak seharusnya kalian itu campur! biar kami menyelesaikan masalah kami sendiri. saya berniat baik datang kesini untuk menjemput Nina istri saya untuk memperbaiki rumah tangga kami demi anak-anak. saya tidak tega melihat mereka di usia yang masih sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayang penuh mereka harus perpisah dari ibu nya."
" kalian itu hanya mendengar cerita dari Nina saja. tapi tidak tau apa yang sebenarnya terjadi. " ucap Surya pada wanto dan Dea .
Surya pun melanjutkan pembicaraannya
" apa kalian tau kalo Nina sedang dekat dengan laki-laki lain yang bernama Hendro?"
semenjak dia sering akrab bergaul dengan mami dan Bu Ina, sikap Nina berubah drastis. dia jarang ada dirumah, jarang masak untuk anak-anak sampai anak-anak tidak keurus.kerjaan nya hanya mengobrol di rumah Bu Ina dan mami. sampai setiap saya pulang kerjapun dia masih belum pulang. setiap saya tegur dia selalu marah dan menantang untuk bercerai.
itu berjalan sudah lumayan lama. dan ada tetangga yang bilang sama saya kalo dia sering dijemput mobil sedan putih di perempatan komplek. setiap malam.
bahkan saya saat dia sedang tidak ada dirumah ada telepon berkali-kali setiap saya angkat selalu di matikan.sampe akhirnya saya mengangkat telepon tanpa bersuara baru dia mau bersuara dan itu suara laki-laki.
***
BAB lV
" setalah mendengar suara saya kemudian laki-laki itu langsung menutup teleponnya. bukan hanya itu saya juga mendapat tagihan telepon sampai 1,5jt dalam 1bulan,sebelumnya tagihan telepon tidak pernah sampai segitu. setelah saya cek ke Telkom sambil saya membayar tagihan ternyata banyak panggilan ke satu hp. saat saya tulis no itu lalu saya telepon ternyata yang menganggat telepon itu suaranya percis dengan suara laki-laki yang tempo hari menelpon. "
kemudian Surya pun melanjutkan ceritanya
" saya langsung menanyakan pada Nina, tapi baru saja saya bertanya Nina langsung menjawab dengan suara yang lantang hingga terjadi pertengkaran." dan akhirnya dia pun memutuskan untuk pergi dan meminta dicerai kan."
aku tidak menjawab dan akupun berlalu untuk pergi kerja karna sudah siang hampir saja saya kesiangan.
" saya tidak tau masalah yang sebenarnya mas saya hanya mendengar dari mbak Nina saya kalo dia sudah tidak tahan dengan mas Surya yang selalu kasar sama mbak Nina ." ucap Wanto dan Dea .
" awalnya saya tidak pernah kasar tapi saya menjadi seperti itu karna saya mendengar dan mengetahui bahwa Nina telah berselingkuh dengan laki-laki yang bernama Hendro."
" bahkan saya sudah mencari tahu laki-laki itu dan memang ada buktinya."
" ya sudah wa'n kalo kalo memang Nina tidak ada disini saya pamit karna kasihan anak-anak sudah menunggu lama dirumah ibu. saya sudah tidak akan mencari Nina lagi kalo memang mau berpisah saya akan menyetujuinya. masalah anak biar saya yang urus. wanita seperti Nina memang tidak pantas untuk mengurus anak-anak." ucap Surya pada Wanto dan Dea.
akhirnya Surya pun berpamitan dan berlalu dari rumah mereka.wanto dan Dea hanya saling menatap tanpa berkata apapun.
***
BAB V
PROV ( Nina )
Namaku Nina, suamiku bernama Surya dan aku mempunyai 2 orang anak yang bernama Natasya dan Gilang. awalnya rumah tanggaku baik- baik saja kami nyaris tidak pernah bertengkar. aku pun menjalankan tugasku sebagai ibu rumah tangga mengurus anak-anak ku. hingga akhirnya aku memutuskan untuk melakukan bisnis kredit barang. aku meminta modal pada mas Surya dan dia pun langsung memberikan modal yang cukup besar untuk ku.akhirnya aku pun melakukan kredit barang,semuanya berjalan dengan lancar setiap hari aku menagih setoran pada orang-orang yang mengedit barang padaku.hingga akhirnya aku sering bergaul dengan ibu-ibu di komplek perumahanku.karena mereka banyak yang mengambil barang dariku.
sampai suatu saat aku akrab dengan mami stela dan Bu Ina. mami stela adalah tetanggaku yang di kenal sering berpacaran dengan anak muda karna suaminya jarang pulang. dia juga suka merokok.akhirnya akupun sering main kerumahnya hanya untuk mengobrol.tapi lama-lama aku mulai mengikuti gaya nya aku menjadi suka merokok dan akrab dengan pemuda-pemuda di komplek ku yang sering datang kerumah mami stela.tentunya tanpa sepengetahuan mas Surya.
semuanya berjalan cukup lama mas Surya tidak pernah menegurku. tapi tiba suatu hari mas Surya menegurku dengan nada curiga dan kasar.
" kamu kemana saja Nina seharian kamu tidak ada dirumah,tidak masak rumah berantakan,sampai anak-anak gak keurus dan kelaparan,kamu ngapain saja seharian dirumah? sampai suami pulang kamu masih belum pulang!" ucap mas Surya padaku.
" kenapa sih mas? aku kan habis menggambil setoran dari orang-orang yang mengambil barang dariku." jawabku dengan emosi karna seperti di pojokan oleh suamiku.
" memang kalo ambil setoran harus sampai meninggalkan tugasmu sebagai istri dan ibu dari anak anak-anakmu? memang harus seharian kamu di luar sampai rumah tidak keurus dan anak-anak tidak keurus.mas sudah cukup diam ya Nina selama ini kamu bersikap seperti itu!tapi kali ini mas benar-benar dibuat emosi oleh kelakuanmu." seru mas Surya dengan suara yang meninggi.
akupun tak terima dan menjawab dengan suara tinggi juga.
" sudah cukup ya mas,saya sudah tidak mau berdebat lagi,kalo mau makan kan bisa beli masakan yang sudah jadi,lagi pula anak-anak tadi sudah makan mie." ucapku sambil meninggalkan mas Surya.
" kamu sekarang berani menjawab seperti itu pada suami mu Nina? kamu bisa seperti sekarang itu karena ku. kamu tidak menghargai aku sebagai suami mu. kamu berubah drastis semenjak kamu akrab dengan mami stela yang terkenal sering main dengan laki-laki muda!!! apa jangan-jangan kamu sekarang sudah tertular kelakuan mami stela itu?" ucap Surya pada Nina dengan suara lantang.
Nina pun tidak terima lalu terbawa emosi dan kembali menjawab dengan suara lantang pula.
" apa katamu mas? kamu menuduhku seburuk itu? aku memang akrab dan sering ngobrol di rumah dia tapi bukan berarti aku pun mengikuti kelakuannya! kalo bicara itu di jaga ya mas jangan asal bicara lama-lama aku muak dengan mulutmu itu yang selalu menuduhku yang tidak-tidak!"
" apa katamu Nina?" belum selesai Surya berkata Nina sudah langsung memotongnya.
" sudah cukup mas tidak usah bicara lagi aku muak mendengarnya!baru saja aku datang kamu sudah marah-marah seperti ini." ucap Nina sambil berlalu meninggalkan Surya.
" mau kemana lagi kamu Nina?" seruku sambil berteriak.
nanum Nina tidak menjawabnya dan pergi meninggalkan Surya.
***
BAB Vl
Surya benar-benar di buat emosi oleh Nina. tapi meskipun dia sangat marah dan emosi dia tidak berani sampai main tangan terhadap istrinya itu. karna sesungguhnya Surya sangat menyayangi istrinya itu. hanya saja dia kesal karna perubaha sikap Nina yang sangat berubah drastis itu.
Nina pun pergi kerumah mami stela untuk curhat apa yang baru saja terjadi karena mereka akrab jadi Nina selalu curhat tentang Masalah rumah tangganya terhadap mami stela.
" eh Bu Surya sudah datang lagi?" ucap mami stela dengan senyumannya. " kamu kamu betah sperti nya dirumah saya sampe tidak ingit anak dan suami." ucap mami stela sambil terkekeh.
" aku kesal dengan mas Surya baru saja aku datang dia langsung menanyaiku macam-macam sperti menuduhku aku pun tidak terima dan akhirnya kita ribut. untung saja anak-anak sedang tidak ada dirumah." ucap Nina pada mami stela dengan nada kesalnya.
Natasya dan Gilang sedang menginap dirumah neneknya karna hampir setiap hari Sabtu sepulang sekolah mereka selalu di jemput oleh adik Nina dan menginap di rumah neneknya.
" ya ampun pa Surya itu ya ada-ada saja. sama istri ko keras banget kalo aku sih punya suami seperti itu mending minta di ceraiin aja. untuk suami ku tidak sperti itu nin bahkan dia tidak pernah percaya dengan omongan tetangga kalo aku sering main dengan brondong. enak sekali kan jadi aku ini nin." seru mami stela pada Nina sambil terkekeh.
mami stela memang selalu menggompori Nina sampai akhirnya Nina terhasut dan mengikuti kelakuannya.
" iya sih bener juga kata mami suami ku itu memang benar-benar menyebalkan. dia selalu saja menuntut ku untuk jadi ibu rumah tangga yang kuper. awalnya aku menurut saja tapi akhirnya aku jenuh juga. sepertinya enak juga y jadi mami bebas melakukan apapun mau ini mau itu suami tidak melarang mana suami datang tiap malam cuma buat ngasih uang saja dan paginya sudah berangkat kerja lagi. anak-anak mami pun tidak manja sperti anak-anak ku mami juga punya pembantu.' ucap Nina dengan perasaan kesal pada suaminya.
" iya pastinya dong suamiku kan menurut banget padaku nin. makanya dia tidak pernah neko-neko. udahlah dari pada pusing-pusing mikirin suami mu yang cerewet itu mending kita ngopi sambil merokok." seru mami stela
" iya juga sih,ya sudah saya mau kopi dan minta rokoknya ya mih."
"oke,rokok banyak kopipun banyak." jawab mami.
" nur..nur.." panggil mami pada pembantunya itu.
" iya Bu ada apa?" sahut nur sambil menghampiri majikannya itu.
" buatkan kopi dua ya nur dan ambilkan rokok saya d laci ruang tamu." ucap mami stela pada pembantunya itu.
" baik,mih." nur pun bergegas pergi ke dapur.
beberapa saat nur pun datang sambil membawa kopi dan rokok.
" ini mih rokok dan kopinya." ucap nur pada mami.
" terimakasih nur, ayo nin di minum kopinya kita nikmati tidak usah di pikirkan masalah mu itu." seru mami sambil menyalakan rokok dan meminum kopinya.
***
BAB Vll
PROV ( Mami Stela )
Namaku Ratna tapi aku sering dipanggil oleh ibu-ibu komplek ini dengan mami stela. stela adalah nama anakku yang bungsu aku mempunyai 4 orang anak tiga perempuan dan satu laki2. anak pertamaku yang pertama perempuan dan anak yang kedua laki-laki dari suami ku yang pertama karna aku menikah dua kali. saat aku bercerai dengan suamiku yang pertama aku menjadi janda dengan 2 anak hidupku sangat susah karna mantan suamiku tidak pernah memberi biaya untuk anak-anakku sehingga aku terpaksa membiayai anak-anakku sendri karna keluargaku memang bukan orang berada. akhirnya aku pun memutuskan bekerja sebagai penghibur malam di tempat karoke ikut dengan temanku. awalnya aku takut bekerja di tempat karoke karna aku harus melayani para tamu hidung belang. dan kalo aku ingin mendapatkan tips yang besar aku harus mau melayani nafsu para lelaki hidung belang itu. kebanyakan mereka yang datang dari kalangan pengusaha yang mempunyai harta berlimpah sehingga mereka berani memberikan ku uang tips yang cukup besar. awalnya aku merasa risih karna hampir setiap malam aku harus melayani Meraka. terkadang rasa takut dan gelisah menerpa hatiku tapi aku tidak pernah menghiraukannya karna aku benar-benar butuh untuk menghidupi anak-anak ku. sampai akhirnya aku terbiasa dan menikmatinya. pekerjaan ku berlangsung sangat lama. sampai aku bertemu dengan laki-laki yang kini menjadi suami ke dua ku. saat dia pertama kali bermain bersama ku dia langsung mengajakku serius. tapi aku tidak percaya begitu saja karna aku pikir aku ini hanya wanita yang kotor. tapi dia tidak menghiraukan ku tentang hal itu karna dia pun bukan lelaki yang bersih dia adalah pelanggan setia di karoke tempatku bekerja.
sampai suatu hari
" maaf om ada yang bisa saya bantu?" tanya ku pada laki-laki yang memesanku lewat mami sara pemilik karoke tempatku bekerja.
" aku ingin berkencan denganmu malam ini,aku sudah memboking mu pada mami sara.dan aku juga akan memberikan uang tips yang besar padamu. apa kamu mau?" tanyanya pada ku
" baik ok saya mau, mau di luar apa disini?" tanyaku pada laki-laki itu.
" namaku Robi panggil saja saya mas Robi ." ucap dia padaku
" baik mas Robi." sahutku sambil aku memijat-mijat pundaknya. aku memang sering melakukan itu untuk menarik perhatian dan memuaskan pelanggan ku.meski sebenarnya aku pun sering merasa risi.
" baiklah kita bermain di luar saja." ucap mas Robi sambil mengajakku keluar.
" baik mas,ayo kita berangkat."
akhirnya kami pun berangkat dan berpamitan pada mami sara.
mas Robi adalah keturunan cina dia beragama Kristen. baru kali ini aku mendapatkan pelanggan yang sangat menghargai ku. dia memperlakukan ku selayaknya sebagai seorang kekasih bukan sebagai wanita bokingan. dan aku sangat terkesan saat pertama kali berkencan dengannya.
akhirnya kami pun sampai di sebuah hotel. akhirnya kami pun berkencan hingga pagi.
akhirnya kami pun bersiap untuk keluar dari hotel. tapi sebelum kami keluar mas Robi tiba-tiba menarik tanganku. akupun terkejut dan jatuh di pangkuannya.
" ada apa mas? bikin aku kaget saja." ucapku pada mas Robi.
" aku ingin berbicara serius padamu Ratna! semoga kamu mau menerima nya. "
" bicara saja mas? apa pelayananku semalam kurang bagus? " aku pun penasaran dengan yang akan di sampaikan olehnya .
" bukan itu rat, dari kencan pertama kita aku sangat terkesan dengan mu,dan aku sangat tertarik padamu, setelah aku pikir-pikir aku ingin menjadikan mu sebagai istriku. walaupun kita berbeda keyakinan kita masih bisa menikah dan saling menghargai. Masalah keluarga ku biar menjadi urusanku. yang terpenting sekarang apa kamu mau jadi istriku?" ucap mas Robi sambil menatapku sangat dalam.
" a..aku, aku mau mas tapi aku takut. aku hanya seorang perempuan malam yang hina dan kotor. apa mas yakin mau menerimaku dengan sepenuh hati mas? aku juga mempunyai dua orang anak yang masih kecil-kecil." ucapku dengan lirih.
" sudah ku katakan aku mau menikah dengan mu itu artinya aku mau menerima segala kekurangan dan kelebihanmu. Masalah keluargaku kamu tidak usah kwatir kalopun mereka tidak setuju aku akan tetap menikahi mu dan mengajakmu tinggal terpisah dari orangtua dan keluarga ku. sekarang tinggal kesiapanmu saja Ratna."
" baiklah mas aku mau..terimakasih telah menerimaku dengan segala kekurangan dan keburukan ku untuk menjadi istrimu."
" baiklah kita akan menikah besok lusa. aku akn mempersiapkan semuanya."
" baik mas."
akhirnya kami pun keluar hotel dan mas Robi pun langsung mengantarkan ku ke kontrakan Ku. sisanya anak-ku sudah menungguku.
singkat cerita akhirnya aku pun menikah dengan nya dan mempunyai dua orang anak perempuan bernama Kristina dan stela. kami membeli rumah di komplek perumahan.
***
BAB Vlll
" bagaimana nin sudah baikan? " tanya mami stela pada Nina.
" sudah mih, rokok dan kopi nya sedikit membuatku lebih rileks dan tenang."
" apa sekalian menginap disini saja?" ucap mami stela sambil terkekeh.
" tidak mih, bagaimana nanti mas Surya bisa-bisa dia semakin meradang amarahnya padaku." jawabku pada mami stela.
" ya sudah kalo mau pulang, besok kita ngopi bareng lagi ya disini." ucap mami stela.
akhirnya aku pamit untuk pulang dan berlalu.
saat aku tiba di rumah aku langsung masuk kamar tidak menyapa pada mas Surya yang mungkin sejak tadi duduk di ruang tv. aku berlalu begitu saja tanpa ingin menolehnya.
" dari mana saja kamu?" benar-benar istri tidak tau malu.keluyuran saat suami ada dirumah." seru mas Surya dengan tatapan sinis.
aku tidak menjawabnya dan hanya berlalu begitu saja seperti tidak menghiraukannya. dan mas Surya pun tidak berucap lagi. hingga akhirnya kami tertidur dalam keadaan sama-sama memendam rasa kesalnya hati.
" assalammualaikum... ayah ibu aku pulang." ucap Natasya dan Gilang.
Meraka pulang dia antar oleh Wanto adikku.
" loh ko tumben pagi-pagi kalian sudah pada pulang nak?" ucapku pada anak-anak.
" iya Bu om Wanto siang akan pergi dan mungkin akan pulang malam larut malam ada acara dirumah Tante Dea. jadi pagi-pagi om Wanto sudah menjemput kami."
" oh begitu, ya sudah sana kalian mandi dulu sepertinya kalian belum mandi." ucapku pada anak-anak.
aku pun berjalan keluar menghampiri Wanto adikku.
" kenapa tidak masuk dulu wan?" tanyaku. " tidak mbak aku buru-buru mau siap-siap soalnya siang ini aku ada acara dengan orangtua Dea, mas Surya kemana mbak ko tidak keliatan?"
" oh baiklah kalo begitu,salam untuk Dea dan orangtuanya ya wan. mas Surya ada sedang membersihkan aquarium." jawabku.
" ya sudah aku pamit dulu ya mbak salam untuk mas Surya aku buru-buru." seru Wanto sambil berlalu.
" iya,kamu hati-hati wa'n terimakasih sudah mengantarkan anak-anak." aku pun langsung masuk lagi ke dalam.
" ayah...ko tumben pagi-pagi sudah membersihkan aquarium?" seru Gilang.
" eh anak-anak ayah sudah pada pulang?di anter om Wanto?sekarang mana om wantonya ko gak masuk?"
" om Wanto langsung pulang ayah karna mau ada acara dengan Tante Dea makannya kami pagi-pagi sudah di jemput dan langsung di antar pulang. padahal aku masih betah dirumah nenek." ucap Gilang sambil memanyunkan bibirnya karna belum ingin pulang.
" ya kenapa tidak telpon ayah saja biar nanti ayah yang jemput."
" tadi tidak kepikiran ayah." seru Gilang sambil tertawa.
" ya sudah nanti siang kita main kerumah kakekmu saja ya bersama kakakmu. kita berangkat bertiga."
" loh ko cuma bertiga kenapa ibu gak ikut yah?" tanya Gilang dengan bingung.
" ibu mu sedang sibuk nak, jadi pasti tidak akan bisa ikut dengan kita." ucap ayah
Gilang pun berlalu pergi untuk mandi. tiba-tiba Natasya yang baru selesai mandi mencari ibunya.
" ayah ibu mana? aku lapar kayanya ibu gk masak lagi deh. tadi aku gak sempat sarapan karna om Wanto buru-buru." ucap Natasya.
" bukannya ibu mu tadi ada di depan? kalo gak ada paling sedang di rumah mami stela.kalo kamu laper nanti biar ayah beli nasi bungkus saja sekalian ayah juga belum makan."
" ya sudah ayah, aku mau susul ibu kerumah mami stela. ko pagi-pagi gini ibu sudah berkunjung kerumah org sih. mana gak masak lagi." sahutku dengan kesal.
" akhir-akhir ini ibumu memang sangat sibuk. sampai tidak ada waktu untuk memasak dan beres-beres rumah." sahut ayahku.
akupun berlalu bergegas menuju rumah mami stela. jarak rumah kami tidak sangat dekat sehingga tidak butuh waktu lama aku sampai dirumah mami stela. saat aku sampai aku melihat ada sandal ibu ku. akupun langsung masuk begitu saja tanpa mengucapkan salam karna pintu rumahnya sudah terbuka. dan alangkah terkejutnya saat aku melihat mami stela dan ibuku sedang merokok bareng sambil tertawa keras. jujur aku sangat syok melihat ibuku sperti itu karna sebelumnya ibu tidak seperti itu. ibu adalah wanita yang lugu dan tidak neko-neko tapi kenapa setelah akrab dengan mami stela ibu jadi berubah sperti ini. kalo melihat mami stela merokok aku tidak heran karna mami stela sudah terkenal kalo dia suka merokok dan suka pacaran dengan pemuda di komplek ini. akupun memberanikan diri untuk menghampiri ibuku.
" Bu sedang apa di sini? pagi- pagi ibu sudah berkunjung kerumah orang dan merokok lagi. apa pantas wanita merokok Bu? " tanyaku dengan nada kesal.
" apa sih Natasya apa kamu. tidak bisa bersikap sopan di depan orang? kenapa kamu langsung masuk masuk aja bukannya mengucapkan salam.seperti yang tidak pernah di ajarkan saja." ucap ibuku dengan Nada kesal sambil menyimpan rokoknya karna kaget melihatku ada di sini.
" udah sana pulang ibu juga sudah mau pulang ko. lagian apa sih kamun nyusul- nyusul ibu kesini?"
" aku lapar Bu di rumah tidak ada apa-apa bahkan nasipun ibu belum masak. ibu kenapa sih bukannya memasak dirumah malah asik-asikan merokok di rumah orang." seruku dengan nada tinggi.
" stop ya Natasya kamu ini benar-benar tidak sopan! kamu kalo mau makan kan bisa menyuruh ayahmu untuk beli nasi bungkus lagian kan ayah sedang libur. kamu ini ko makin kesini mulutnya udah seperti ayahmu saja cerewet bisanya merintah saja! kamu itu udah besar apa tidak bisa gitu untuk tidak manja? coba kamu contoh stela dia meskipun usia nya jauh lebih muda darimu tapi dia tidak manja seperti mu yang apa-apa harus mengandalkan ibumu ini." ucap ibu memarahiku di depan mami stela dan stela.
aku benar-benar kesel dengan ibuku.
" benar kata ayah ibu sekarang sudah berubah udah sibuk smape gak ada waktu untuk anaknya." ucapku sambil berlalu pulang sambil menangis.
" anak itu memang benar-benar bikin kesal sekali pagi-pagi sudah cari keributan persis seperti ayahnya." ucap ibuku.
" sudah Nina tidak usah di hiraukan nanti juga berhenti sendiri. udah kamu santai saja di sini biarkan suami dan anakmu mikir gimana rasanya kalo gak ada kamu. biar mereka bisa lebih menghargaimu." ucap mami stela pada ibuku. lagi-lagi dia mengompori Nina.
" benar juga daripada sya pulang cuma dibikin pusing saja sama mereka lebih baik aku santai-santai disini.biar tetap awet muda." ucap Nina sambil tertawa lepas.
akhirnya natasyapun pulang sambil menangis. karna dimarahi oleh ibunya.
" kamu kenapa kak?ko pulang-pulang sudah menangis sperti itu? aku di marahi ibu ayah di depan mami stela dan stela ibu bilang aku ini anak yang tidak sopan dan manja. kenapa ibu jadi berubah sperti itu ayah?" ucapku pada ayah.
" benar ibu mu bicara sperti itu? benar-benar ibumu itu sudah termakan hasutan mami stela. sudah sayang jangan menangis nanti kita main dengan ayah kita kerumah kakek setalah ayah beres ini. kita kerumah kakekmu bertiga dengan adikmu." ucap ayah.
" baik ayah." akupun berlalu pergi ke kamarku.
aku tidak pernah menyangka ibu berubah drastis apalagi ibu sampai berani memarahi dan mengataiku di depan orang lain dan yang paling bikin aku syok ibu sedang merokok.
***
BAB lX
" Natasya.. Gilang... ayo kita siap-siap kita berangkat kerumah kakek. sambil kita makan diluar ayah sudah selesai." panggil ayah pada kami.
tak lama kami pun berangkat bertiga kerumah kakek.
setelah lama mengobrol dirumah mami stela akupun pamit untuk pulang. memang selalu tidak mengenal waktu kalo sudah mengobrol dirumah mami stela sangat mengasyikan sampai lupa waktu. setibanya dirumah aku tidak menemukan siapapun. pintu pun dalam keadaan terkunci kemudian aku lihat di tempat menyimpan kunci ternyata memang ada.
" loh ko sepi pada kemana Meraka,pintu pun di kunci." ucapku dalam hati.
kemudian aku pun masuk dan segera menuju kamar mandi karena dari pagi aku memang belum mandi.
__ADS_1
" kira-kira mereka kemana ya? tapi ya sudahlah biarkan saja. biar aku gak pusing denger ocehan mereka." aku berbicara sendiri.
akupun tertidur hingga terbangun saat isya. tidak lama kemudian merekapun pulang tapi mereka tidak menyapa.aku pun hanya diam tidak banyak bertanya.
ke esokan harinya seperti biasa aku menyiapkan keperluan anak-anak sekolah serta keperluan mas Surya tanpa banyak bicara dan mas Surya pun masih belum menyapaku. akupun tidak terlalu menghiraukan. setelah semuanya selesai anak-anak pun berangkat diantar mas Surya sekalian dia berangkat k kantor.
" Bu kami berangkat dulu, assalammualaikum." ucap Natasya dan Gilang.
" hati-hati nak, wa'alaikumsalam."
tapi tidak dengan mas Surya dia sama sekali tidak menyapa dan berbicara padaku.
cukup lama mas Surya mendiamkan ku setiap aku tanya dia tidak menjawab hanya diam.akhinya aku pun kesal. akhirnya aku pun sama mendiamkannya. hingga pada suatu hari. aku sedang mengambil uang setoran ke rumah Bu Ina. dia masih tetangga ku rumahnya tidak jauh dari rumahku bahkan anaknya pun berteman dengan Natasya anaku. saat aku datang kerumahnya ternyata sedang ada tamu laki-laki.
" assalammualaikum...Bu Ina!" panggilku di depan pagar rumahnya.
" wa'alaikumsalam...sini masuk Bu." jawab Bu Ina.
" ah di sini aja in sepertinya ada tamu ya saya jadi gk enak."
" ah gak apa-apa ku Nin dia tamu spesial ku." jawab Bu Ina sambil terkekeh.
aku pun diam tak bergeming karna kaget mendengar ucapan Bu ina."
" memang suami mu kemana in? ko sampe berani masukin tamu spesial."
" suamiku lagi tugas keluar kota nin selama 1 Minggu,anak-anak sedang sekolah. sini deh aku kenalin. dia tinggal di depan rumahku tapi jarang pulang karna dia juga kerja di luar kota dan sekarang dia lagi pulang kesini,yuk kita masuk."
" baiklah.."
" eh ada tamu,sini masuk Bu Nina" ucap laki-laki itu.
" eh iya pak." jawabku
" tidak usah manggil bapak nin,panggil saja mas hafis.seru Bu Ina."
" oh iya." jawabku.
lalu kami pun mengobrol bertiga. tiba-tiba ina berbicara padaku.
" Nina apa mau kamu kami kenalkan pada saudaranya mas hafiz?" ucap Ina sambil melihat pada hafiz.
" ah ngaco aja kamu in kan saya udah punya suami masa iya mau di kenalkan pada laki-laki.memang saya ini masih single apa." jawabku sambil terkekeh.
" ya memang nya kena Bu Nina,Ina aja sudah punya suami masih mau dekat dengan saya asal pintar-pintar saja agar tidak ketahuan sama suaminya. buat hiburan Bu biar awet muda dan dapet perhatian lebih hidup pasti akan lebih berwarna. sahut mas hafiz padaku.
" memangnya ada laki-laki yang mau dengan wanita yang sudah bersuami seperti saya ini?"jawabku.
" ya sudah jelas ada Bu Nina, sodara saya mau sama Bu Nina dia sering lihat Bu Nina kalo mau kerumah saya. namanya mas Hendro orangnya baik dan lembut. memang dia punya istri tapi dia bahagia dengan istrinya karna istrinya tidak bisa memberi kenyamanan. dan dia bilang dia tertarik pada Bu Nina." ucap mas hafiz.
aku pun langsung kaget mendengarnya karna aku tidak pernah tau kalo ternyata diam-diam ada yang memperhatikan ku. apalagi aku tidak kenal dengan orang itu.
" tapi aku takut ah..gk berani." jawabku dengan lirih
" kenapa harus takut kan bisa sembunyi-sembunyi agar tidak ketahuan ini buktinya kita juga udah menjalin hubungan selama 2 tahun tidak ketahuan Sama suamiku."
deg aku pun kaget mendengar pengakuan dari Bu ina.karna selama ini yang aku lihat dia wanita bersahaja bahkan dengan suaminya pun selalu terlihat mesra bahkan bisa di bilang keluarga yang harmonis. tapi siapa sangka ternyata semuanya hanyalah topeng saja.
" setelah aku pikir-pikir baiklah aku mau di kenalkan sama mas Hendro. tapi ini rahasia y jangan sampai ketahuan suami ku." ucapku
" baiklah aku akan telpon mas Hendro pasti dia senang karna Bu Nina mau kenal dengannya" ucap mas hafiz sambil tersenyum lebar. mas hafiz pun langsung menelpon mas Hendro.
***
BAB X
Tak harus menunggu lama telpon pun langsung di angkat oleh mas Hendro.
" assalammualaikum,,,hallo fiz ada apa?"
" wa'alaikumsalam...mas Hendro ini ada yang mau saya kenalin. orang udah gk asing buat mas, ini ada orang nya disini." ucap hafiz.
" siapa fiz, ngomong langsung aja fiz tidak usah bertele-tele saya sedang ada kerjaan ini." sahut mas Hendro.
" ini saya sedang bareng Ina dan Bu nina, saya bilang sama Bu Nina kalo mas Hendro ingin berkenalan dengannya. dan Bu Nina pun menerima dengan terbuka. apa mau bicara langsung dengan orangnya mumpung ada disini." ucap mas hafiz
" boleh berikan telponnya saja biar saya ngobrol langsung." jawab mas Hendro
telpon pun diberikan padaku oleh mas hafiz.
aku pun sangat gugup karna sebelumnya aku tidak pernah sperti ini. selama pernikahanku aku tidak pernah mengkhianati suamiku,entah ada apa dengan diri ini tiba-tiba saja aku mau menerima laki-laki lain untuk berkenalan denganku.
" assalammualaikum...hallo ini dengan mbak Nina?" ucap mas Hendro.
" wa'alaikumsalam...iya betul mas. ini dengan mas Hendro?".tanyaku pada mas Hendro.
" iya mbak saya Hendro saudaranya hafiz..saya sudah lama ingin kenal dengan mbak Nina saya sering memperhatikan mbak saat lewat depan rumah Mbak." ucap mas Hendro.
jantungku mulai berdetup saat mendengar mas Hendro berbicara seperti itu. tidak pernah menyangka dia akan berbicara seperti itu padahal ini untuk yang pertama kalinya kami mengobrol bahkan aku tidak tau seperti apa wajah mas Hendro.
" hallo mbak..mbak?? masih adakah disitu?" tanya mas Hendro.
" ya hallo mas,masih ada ko. saya cuma sedang kaget aja koas Hendro bisa berbicara seperti ini padahal kita belum pernah bertemu." ucapku pada mas Hendro.
" memang mbak belum pernah ketemu langsung tapi kalo mbak liat saya pasti mbak tau karna saya sering lewat depan rumah Mbak kalo mau kerumah hafiz. kapan-kapan bisa kita ketemu langsung mbak? " tanya mas Hendro padaku.
" oh begitu ya...boleh tapi kalo mau ketemu nanti bareng sama Bu Ina ya. soalnya saya gak biasa bertemu berduaan dengan laki-laki mas." ucapku pada mas Hendro.
" baik mbak biar nanti saya bareng hafiz mbak Nina bareng SMA bu Bu Ina. " ucap mas Hendro.
akhirnya obrolan pun berlanjut begitu lama dan akhirnya kami pun selesai mengobrol. dan aku langsung berikan handphone nya kepada mas hafiz.
BAB Xl
keesokan harinya Bu Ina datang kerumah..
" assalammualaikum....nin..Nina..." panggil Bu Ina.
" wa'alaikumsalam...masuk Bu." jawabku pada bu Ina.
Bu Ina pun langsung masuk. kemudian dia menghampiriku yang sedang berjibaku di dapur.
" sibuk nin? tumben jam segini masih sibuk di dapur biasanya udah ngobrol-ngobrol di rumah di mami stela." seru Bu Ina padaku sambil terkekeh.
" iya saya mau masak untuk anak-anak dan mas surya.biar gak pada rewel.apalagi mas Surya makin sering mengomel gara-gara saya sering main kerumah mami stela." ucapku pada Bu Ina.
" eh tumben in jam segini udah kerumah saya,ada apa y?ada yang pentingkah?" tanyaku pada Bu Ina.
" ih gini nin kemarin mas hafiz bilang katanya mas Hendro mau minta no telponmu jadi kalo dia mau ngobrol sama kamu gak usah lewat aku ato mas hafiz jadi bisa langsung gitu." ucap Bu Ina padaku.
tiba-tiba jantungku berdetak kencang.aku gak nyangka mas Hendro akan seberani itu padahal dia tau kalo aku masih dengan suamiku.
" aduh gimana ya aku takut Bu Ina karna gak biasa seperti ini.bagaimana kalo mas Surya tau bisa-bisa mati aku. lagipula aku gak pegang handphone ada juga telpon rumah masa iya aku kasih telpon rumah pada mas hendro.bagaimana kalo tiba-tiba mas Hendro telpon yang angkat mas Surya bisa-bisa bahayakan?" ucapku pada Bu ina.
Bu Nina memang tidak memang handphone karna pada saat itu handphone masih sangat jarang karna pada saat itu lebih banyak menggunakan telepon rumah hanya orang-orang tertentu saja yang menggunakan handphone.
" ya sudahlah gampang nin kasih saja no telpon rumah nanti tinggal bilang saja keas Hendro kalo mau telpon pas jam kerja suamimu saja dan Sabtu Minggu jangan telpon karna ada suamimu." ucap Bu Ina memberi saran padaku.
" ya sudah kasih saja no telpon rumahku.tapi jangan sekali-kali telpon kalo pas ada mas Surya ya."ucapku pada Bu Ina.
sebenarnya aku sedikit takut memberi no telpon rumah ku pada mas Hendro tp nitah kenapa aku ingin memberi no telpon rumahku pada mas Hendro.padahal aku tau resikonya pasti besar kalo sampai ketahuan mas Surya.
" ya sudah aku pulang dulu ya nin...nanti aku kasih no kamu ke mas hafiz biar mas hafiz yang kasih ke mas Hendro." ucap Bu Ina sambil berpamitan dan berlalu pulang.
sungguh hati ini sangat tidak karuan antara takut dan juga senang karna mas Hendro ingin mengenalku lebih dekat. apa mungkin aku sudah mulai tertarik pada mas Hendro karna kelembutannya dan sosoknya yang sangat berwibawa. sangat jauh dengan mas Surya yang cerewet dan tidak pernah bersikap lembut atopun mesra kepadaku.
tidak lama kemudian telpon rumahku berdering. dan saat aku angkat ternyata telpon dari mas Hendro betapa berdebarnya hati ini.
" hallo... assalammualaikum..." ucapku saat mengangkat telpon.
" wa'alaikumsalam...benar ini dengan Bu Nina?" ucap mas Hendro
aku sudah tau pasti ini yang telpon mas Hendro.
" iya mbak...ko tau kalo yang telpon saya lagi nunggu telpon dari saya ya mbak?" tanya mas Hendro sambil terkekeh.
" ya cuma menebak saja mas karna tadi ada Bu Ina datang kesini minta no telpon saya. tapi saya minta mas Hendro kalo mau telpon saya pas jam kerja suami saya karna saya gak mau. kalo suami saya sampai tau karna ini baru pertama kalinya saya berhubungan dengan laki-laki seperti ini." ucapku pada mas Hendro.
" baik mbak saya juga mengerti". jawab mas Hendro.
tak terasa obrolanpun berlanjut begitu lama dari mulai mas Hendro menceritakan tentang anak dan istrinya sampai konflik keluarganya. begitupun denganku aku menceritakan tentang konflik yang terjadi antara aku dan suamiku. sampai akhirnya kami saling nyaman mas Hendro nyaman denganku begitupun aku nyaman dengannya.
singkat cerita hubungan kami pun semakin dekat. kami sering berkomunikasi bahkan kami pun sering bertemu hubungan kami semakin intens. mas Hendro sering memberi aku uang. dia juga sering membelanjakanku. selalu memberi apapun yang aku minta Hinga membuatku semakin nyaman dan bahagia bersama dia. sampai aku lupa bahwa aku ini adalah seorang istri dan seorang ibu. aku benar-benar terbuai dengan hubungan ku dan mas Hendro. karna apa yang tidak aku dapat dari suamiku aku mendapatkannya dari mas hendro.hubungan kami pun berjalan dengan lancar selama 2tahun tanpa diketahui mas Surya dan istri mas Hendro. hingga pada akhirnya mas Surya mulai curiga dan mengetahui hubunganku denganas Hendro entah siapa yang memberi tahunya. sampai tiba-tiba saat aku pulang mas Surya menanyaiku dengan pertanyaan penuh kecurigaan terhadapku.
" dari mana saja kamu? seharian kamu tidak di rumah suami pulang kerja kamu tidak ada bahkan kamu tidak tau anak-anak kemana!" ucap mas Surya pada ku.
" abis dari pasar mas, anak-anak sudah aku kasih tau kalo aku akan pergi dan mereka sudah aku titipin ke Bu meli mereka juga sudah aku bekali." jawabku pada mas Surya.
" apa cukup dengan memberi mereka bekal dan di titipin ke tetangga? memang tetangga akan memperhatikan anak kita? kamu ini seorang ibu dimana jiwa keibuanmu. hampir setiap hari kamu pergi dengan pakaian rapih tidak biasanya kamu seperti ini. setiap di tanya jawabmu selalu dari pasar. kalo memang dari pasar mana belanjaanmu kamu selalu pulang dengan tangan kosong! tidak biasanya kamu seperti ini. kalo memang hanya ke pasar dan tidak untuk bertemu dengan seseorang kenapa kamu tidak ajak anak-anak?" seru mas Surya dengan suara yang keras.
" ya memang kenyataannya aku ini dari pasar,memang mas pikir aku ini habis dariana dan bertemu dengan siapa??jelas-jelas aku ini pergi sendiri dan tidak bertemu dengan siapapu. anak-anak sudah besar aku akan kesulitan kalo mengajak mereka semua." jawabku dengan suara meninggi.
" jujur saja saya tidak percaya sama sekali dengan alasanmu itu! aku yakin kamu bukan pergi ke pasar tapi kamu sering menemui seseorang di belakangku!" ucap mas Surya.
deg jantungku langsung berdetak kencang!tau dari siapa mas Surya kalo aku ini sering janjian bertemu dengan mas Hendro.
" memang kamu pikir aku ini bertemu dengan siapa mas??? siapa yang sudah memfitnahku padamu jangan suka percaya dengan ucapan orang lain mas. aku tidak bertemu dengan siapapun." jawabku mencari alasan pada mas Surya.
sesungguhnya hati ini sangat takut kalo sampai mas Surya tahu kalo selama ini aku sudah menghianatinya dengan laki-laki lain.
***
BAB Xll
" jangan kamu pikir kamu pikir saya tidak tau Nina apa yang sedang terjadi. apa yang kamu lakukan dibelakang saya mungkin sekarang saya tidak punya bukti yang kuat untuk menuduhmu selingkuh tapi saya akan secepatnya melihat sendiri dengan mata kepala saya sendiri!" ucap mas Surya padaku dengan nada yang tinggi.
" maksud kamu apa bicara seperti itu mas kamu menuduhku selingkuh?? kamu selalu sperti ini selalu menuduhku buruk dulu saat aku dekat dan sering kerumah mami stela kamu mengataiku macam-macam menuduhku yang tidak-tidak sampai akhirnya aku mengalah dan tidak menjaga jarak dengan mami stela. sekarang aku pergi kepasar kamu menuduhku selingkuh dari kamu. mau kamu apa sih mas? kamu ini memang laki-laki yang kasar tidak pernah bisa mengerti perasaan wanita selalu saja sperti ini aku benar-benar lelah hidup denganmu mas!" ucapku dengan suara yang tinggi
" jangan kamu pikir saya ini bodoh Nina. saya sudah dengan kamu sering di jemput mobil putih di ujung gang komplek. kamu juga sering telpon-telponan dengan laki-laki lain! dan yang lebih parah lagi kamu sering menerima pemberian dari laki-laki itu banyak barang-barang baru yang kamu miliki! kamu ini seorang istri dan seorang ibu Nina apa kamu tidak memikirkan nasib anak-anak kalo kamu sperti ini???? Dimana hati nuranimu Nina?" ucap mas Surya dengan suara yang lantang.
aku tidak bergeming sama sekali karna sebenarnya semua yang mas Surya katakan semuanya benar aku memang telah berselingkuh dengan mas Hendro selama 2tahun. tapi akan sangat sulit bagiku untuk mengakhiri hubunganku dengan mas Hendro karna aku terlanjur nyaman dengan mas Hendro dia bisa memberikan kebahagian dan kenyamanan yang tidak pernah aku dapatkan dari mas Surya mas Surya terlalu kaku dia tidak pernah bersikap lembut dan manis padaku. aku sempat berpikir ingin bercerai saja dengan mas Surya dan menikah dengan mas Hendro karna mas Hendro pun ingin mengakhiri hubungan gelap ini dan ingin menikahi ku tentunya setelah menceraikan istrinya. mungkin aku memang sangat egois kalo aku memilih untuk bercerai dan tidak memikirkan nasib anak-anakku nanti tapi saat ini pikiranku benar-benar gelap.
" lalu kami mau apa mas??? kamu mau kita berpisah?? apa kita bercerai saja mas?" jawabku pada mas Surya.
" jadi benar kamu mengakui semuanya dan sekarang kamu meminta cerai?kamu lebih memilih laki-laki itu daripada suami dan anak-anakmu Nina?" tanya mas Surya.
" aku sudah lelah mas hidup dengan mu kamu tidak pernah mengerti aku, kamu terlalu kaku kamu juga terlalu kasar!" ucapku pada mas Surya.
" apa kurangku selama ini padamu Nina? apapun yang kamu minta selalu aku turuti kamu ingin ini kamu ingin itu selalu saya beri." jawab mas Surya.
" tapi tidak selalu dengan uang mas, aku ini punya perasaan mas aku ingin di mengerti mas. kamu pikir dengan hanya kamu selalu memberiku uang itu adalah bentuk kasih sayang?tidak mas tidak selamanya uang itu menjadi bentuk kasih sayang. tapi sudahlah percuma membahas soal perasaan denganmu mas karna perasaanmu itu terlalu kaku jadi kamu tidak bisa meraba hatiku." ucapku pada mas Surya.
mas Surya diam tidak bergeming. berkali-kali dia membuang nafas kasar. seperti sedang menahan amarahnya. akupun tidak berbicara lagi dan langsung masuk kamar.
ke esokan harinya anak-anak sudah pergi sekolah. hanya tinggal aku dan mas Surya di rumah. tiba-tiba mas Surya menanyaiku kembali.
" kamu yakin ingin kita berpisah? sudah berapa lama kamu berhubungan dengan laki-laki itu?" tanya mas Surya.
" apalagi sih mas apa belum cukup jawabanku semalam kalo aku tidak selingkuh dan laki-laki yang mana aku tidak mengerti." jawabku pada mas Surya.
" kamu tidak usah mengelak Nina. banyak orang yang bilang kamu sering di jemput dengan mobil putih kamu juga sering telpon-telponan dengan laki- laki. ucap mas Surya padaku.
" jadi kamu lebih percaya ucapan orang lain di banding istrimu sendiri mas?" sahutku pada mas Surya.
" awalnya saya tidak ingin percaya pada ucapan orang-orang yang sering melihatmu di antar jemput mobil putih saat saya kerja. tapi saya udah punya bukti sendri kamu sering melakukan panggilan di telpon dengan laki-laki itu." ucap mas Surya.
deg aku langsung terdiam tidak menjawab karna apa yang di katakan mas Surya memang benar adanya. aku bingung harus menjawab apa tapi aku sudah tidak bisa mengelak lagi.
" maksudnya apa mas tau darimana aku sering telpon-telponan dengan laki-laki?" ucapku dengan nada melemah.
" asal kamu tau Nina ada surat tagihan telpon saat aku lihat ternyata tagihannya sangat besar dan saya coba datang ke kantor untuk membayar dan menanyai kenapa biasa tagihan bisa membludak seperti ini setiap bulannya ternyata pegawainya memberi tahu saya bahwa ada satu no handphone yang sering dihubungi dan sayapun minta untuk dituliskan. saat aku cek ternyata suara laki-laki dan dia langsung menyebut namamu Nina!!! bukan hanya itu sering sekali saat kamu sedang diluar ada yang telpon sampai berkali-kali tapi setiap saya yang angkat slalu saja dimatikan." ucap mas Surya dengan nada marah.
aku hanya diam tertunduk dan tidak bergeming sama sekali. dan mas Surya terus menerus memakiku mengataiku.
" katakan Nina siapa laki-laki itu?? sudah berapa lama hubungan kalian?" ucap mas Surya sambil mengangkat tangannya hendak ingin menamparku.
pertengakaran besarpun terjadi sampai akhirnya aku memutuskan untuk pergi dari rumah dan meminta cerai.
" ya saya memang sudah menjalin hubungan dengan laki-laki lain di belakangmu mas.sudah 2tahun aku menjalin hubungan dengan laki-laki itu. selama 2tahun juga aku mendapatkan kenyamanan kasih sayang perhatian dari dia yang tidak pernah aku dapatkan darimu mas. kamu ingin aku jujurkan mas? sekarang aku sudah jujur jadi terserah padamu sekarang mas." jawabku pada mas Surya.
plak...mas Surya menampar pipi kananku ku dengan sangat keras hingga aku tersungkur dan kepalaku terpental hingga meninggalkan bekas biru di kening atasku.
" benar-benar wanita tidak tau diri, kurang ajar kamu Nina kurang apa aku selama ini? benar- benar wanita mura**n kamu Nina! " ucap mas Surya dengan penuh amarah.
" ya aku memang wanita tidak tau diri, aku memang wanita mura**n terus sekarang kamu mau apa mas kamu mau kita bercerai?kamu akan menceraikan ku? silahkan mas aku sudah tidak peduli. aku akan pergi dari rumah ini. ucapku pada mas Surya.
" benar- benar wanita gi** egois tidak memikirkan nasib anak-anakmu. terserah kalo memang itu mau mu! " ucap mas Surya padaku.
kemudian dia pun berlalu untuk pergi bekerja.
***
kemudian aku pun menelpon mas Hendro. menceritakan semua yang sudah terjadi.
" assalammualaikum....hallo mas?" ucapku pada mas Hendro dalam sambungan telpon.
" wa'alaikumsalam...iya ada apa nin?" tanya mas Hendro.
" mas aku bertengkar hebat dengan suamiku ternyata dia sudah mengetahui hubungan kita dia sangat marah padaku mas, apa yang harus aku lakukan apa aku harus pergi dari rumah saja? karna aku tidak mungkin untuk tetap bertahan disini karna aku tau mungkin setelah ini rumah tanggaku tidak akan baik-baik saja. pasti akan banyak pertengkaran-pertengkaran lain lagi yang lebih hebat dari ini dan aku sudah lelah mas. apa yang harus aku lakukan mas? seandainya aku berpisah dengan suamiku apa kamu bersedia berpisah dengan istrimu mas dan menikahiku?" tanyaku pada mas Hendro dengan lirih.
mas Hendro tidak langsung menjawab sepertinya dia sedang berpikir.kemudian aku kembali bertanya dengan nada yang sedikit meninggi.
" hallo...hallo..mas kenapa diam saja? kamu keberatan meninggalkan istrimu dan menikahiku mas?" ucapku pada mas Hendro.
" ya hallo nin..maaf nin mas bukannya keberatan meninggalkan istri mas dan menikahimu tapi mas hanya kaget mendengar suamimu mengetahui hubungan kita. mas mau tanya memang kamu sudah yakin untuk berpisah dengan suamimu apa kamu sudah memikirkan dengan sungguh-sungguh? dan kamu sudah siap berpisah juga dengan anak-anakmu karna saya yakin suamimu tidak akan pernah mengizinkan anak-anakmu untuk itu denganmu apalagi suami mu tau kalo kamu telah menghianatinya. coba kamu pikirkan dengan matang. sungguh saya sangat tidak keberatan untuk menikahimu karna memang saya sangat ingin menikahimu dan mengakhiri rumah tanggaku dengan istriku karna memang saya dan istri Sudak tidak ada kecocokan lagi." ucap mas Hendro padaku.
" ya aku tau mas Surya pasti tidak akan membiarkan anak-anak ikut denganku tapi aku sudah memikirkan konsekuensinya biarlah apapun yang akan terjadi aku akan menerima dan menghadapinya karna memang ini salahku dan pilihanku.asal kamu tetap di sampingku mas dan menikahiku seperti janjimu apapun yang terjadi kamu akan tetap bersamaku. dan akan meninggalkan istrimu." ucapku dengan lirih.
" baik mas kalo begitu saya tutup dulu telpon nya saya akan bersiap untuk pergi dari sini.mungkin aku akan pergi kerumah Wanto adik ku nanti biar kita bertemu di sana saja. ucapku pada mas Hendro.
" baiklah jangan takut karena aku akan selalu bersama mu Nina. jawab mas hendro.
akhirnya obrolan di telpon pun berakhir dan aku segera bersiap-siap untuk berpergi kerumah Wanto adikku.
***
BAB XIII
( PROV Nina )
Setelah aku beres-beres dan bersiap aku segera pergi ke rumah adikku Wanto tanpa memberi tahu mas Surya dan anak-anakku. aku tau keputusan yang aku ambil ini sangat beresiko untuk ku karna mungkin setelah ini aku akan kehilangan semuanya aku akan kehilangan anak-anakku dan akupun akan kehilangan apa yang sudah aku miliki saat ini karna aku sangat mengenal mas Surya dia tidak akan membiarkan ku membawa sepeserpun harta atau apapun yang di beli dengan uangnya. semata-mata agar aku merasakan bagaimana susahnya hidupku tanpa dia. dan mungkin dia juga tidak akan pernah membiarkanku membawa atau bertemu dengan anak-anakku. ya seperti itulah mas Surya. mungkin saat aku menjadi istrinya dia akan sangat royal denganku apapun yang aku inginkan dia selalu berusaha untuk memberi. tetapi dia selalu mewanti-wanti agar aku tidak berbuat macam-macam karna kalo sampai aku mengkhianatinya dia tidak segan-segan mengambil semua yang dia berikan untukku. itulah yang selalu dia ucapkan padaku. jadi aku sudah sangat paham mungkin setelah ini aku akan kehilangan semuanya tapi aku sudah siap dengan segala konsekuensinya karna aku sudah melangkah terlalu jauh. aku sangat sadar ini kesalahan terbesarku tapi aku harus bisa menerima segala konsekuensinya. mungkin Tuhan pun akan menghukum ku atas kesalahan ku yang fatal ini.
tak butuh waktu lama aku pun sampai di rumah Wanto. aku pergi dengan menggunakan angkutan umum karna aku tidak bisa mengendarai kendaraan sendiri.
" assalamualaikum....Wanto..Dea...?" seruku.
" wa'alaikumsalam... eh ada mba Nina masuk mba dengan siapa mba kesini?" ucap Dea padaku..Dea adalah istri Wanto adik ipar ku.
" iya Dea aku kesini sendiri." jawabku dengan lirih dan sambil berurai air mata.
" ada apa mba ko mba menangis apa sedang ada masalah besar? mba bertengkar dengan mas Surya? cerita mba . ucap Dea padaku.
aku hanya menangis belum bisa berkata-kata karena aku sangat bingung harus memulainya dari mana.
" Wanto kemana Dea? tanya pada Dea dengan suara lirih.
" mas Wanto belum pulang mba masih d kantor, mungkin sebentar lagi dia akan pulang untuk makan siang. apa mau tunggu mas Wanto saja mba? kalo begitu biar saya buatkan cofee ya mba. biar mba lebih tenang." ucap Dea padaku.
" iya Dea tunggu mas Wanto pulang saja baru aku akan cerita. sekarang aku ingin menenangkan hati dulu. ucapku pada Dea.
" baik mba kalo gitu sekarang kita minum cofee dulu mba." ajak Dea padaku.
tak lama menunggu akhirnya wanto pun datang. dia heran melihatku ada dirumahnya karna memang aku jarang datang kerumahnya tanpa mengajak anak-anak ku.
" loh ko ada mba Nina? anak-anak mana mba gak di ajak?" tanya Wanto dengan heran.
" anak-anak sedang sekolah wan." jawabku pada Wanto.
" oh..ada apa mba sepertinya mba habis menangis? apa mba bertengkar lagi dengan mas Surya? sudahlah mba hal spele tidak usah di besar-besarkan biarkan saja kalo mas Surya banyak bertanya ya tinggal mba jawab saja seadanya. kasihan anak-anak mba kalo sampai tau orangtuanya bertengkar terus.' ucap Wanto padaku.
" aku akan berpisah dengan mas Surya wan. dan mungkin anak-anak akan ikut dengan mas Surya." ucapku pada Wanto adikku.
Wanto dan Dea sangat terkejut mendengar aku akan berpisah dengan mas Surya.
" apa mba? mba akan berpisah dengan mas Surya?" seru mereka secara bersamaa.
" iya wan aku sudah bulat akan berpisah dengan mas Surya dan aku juga akan menerima semua konsekuensinya setelah berpisah dengan mas Wanto apapun yang akan terjadi setelahnya aku sudah siap menerimanya." ucapku dengan lirih.
" tapi mba,mba yakin sudah siap dengan semuanya? mba akan kehilangan semuanya mba juga akan berpisah dengan anak-anak mba dan yang terpenting apa mba tidak kasihan dengan anak-anak mba di usia yang terbilang masih kecil dan masih sangat membutuhkan kasih sayang perhatian dari orang tua yang utuh. aku tidak bisa membayangkan bagaimana nasib mereka mba. alasan kuat apa yang membuat mba ingin berpisah dengan mas Surya? apa ada orang ketiga yang hadir di dalam rumah tangga kalian?" tanya Wanto sedikit menelisik.
akupun terdiam karna bingung harus menjawab apa.karna memang sejujurnya aku memang sudah menghianati mas Surya dengan laki-laki lain. walaupun aku selalu bercerita tentang rumah tanggaku terhadap Wanto tapi sampai saat ini Wanto tidak pernah tau kalo aku menjalin hubungan dengan mas Hendro dibelakang mas surya.tidak semua rahasiaku aku ceritakan kepada Wanto.aku sangat pandai menutupi perselingkuhan ku dengan mas Hendro selama 2tahun tapi mungkin ini sudah saatnya semua nya harus terbongkar.
" jujur Wanto saat ini aku sedang menjalin hubungan dengan laki-laki lain bernama mas Hendro hubunganku berjalan sudah 2tahun tapi sekaranga mas Surya sudah mengetahuinya jadi kami bertengkar hebat dan aku memutuskan untuk berpisah dengan mas Surya. aku tidak tau dari mana mas Surya mengetahui hubungan gelapku dengan mas Hendro tapi aku sudah tidak peduli dari mana dia tau aku selingkuh karna Serapat apapun aku menutupi perselingkuhanku semuanya akan tetap terbongkar. sekarang aku hanya ingin minta tolong padamu untuk sementara waktu boleh aku tinggal di rumahmu dulu wan? dan aku juga minta kalo mas Surya mencariku kesini tolong jangan beri tahu dia kalo aku tinggal disini." ucapku pada Wanto dengan lirih
Wanto pun hanya diam tidak bergeming mungkin dia sangat terkejut mendengarkan ceritaku ini. tapi ini sudah saatnya aku menceritakan semuanya karna memang rumah tanggaku akan berakhir.
" jadi mba Nina sudah menghianati mas Surya? apa mba tidak memikirkan perasaan anak-anak mba dengan keputusan yang sudah mba ambil? apa mba tidak memikirkan perasaan anak-anak mba saat mba memutuskan untuk berselingkuh? apa mba tidak sayang melepaskan rumah tangga yang sudah mba bina selama 15 tahun hanya untuk memilih laki-laki yang baru mba kenal 2tahun dan belum ada kejelasan seperti apa kedepannya???" tanya Wanto padaku.
begitu banyak pertanyaan-pertanyaan wanto yang aku bimbang kembali dengan keputusanku untuk berpisah dengan mas Surya. tapi semuanya sudah terlambat aku sudah terlalu jauh melangkah kalopun sekaranga aku memutuskan untuk tetap bertahan dan memohon padaas Surya untuk memaafkan ku semuanya tidak akan kembali baik-baik saja seperti dulu.karna gelas yang sudah pecah tidak akan bisa utuh kembali.
" aku sudah bulat untuk berpisah dengan mas Surya wan, apapun resikonya aku sudah siap untuk menerimanya. ini memang salahku dan aku harus bisa menerima konsekuensinya dari apa yang sudah aku lakukan." jawabku pada Wanto dengan lirih.
" ya sudah kalo emang mba sudah bulat ingin berpisah dengan mas Surya dan mba juga sudah memikirkan hal terburuk yang akan terjadi setelah perpisahan saya sudah tidak akan banyak bertanya dan tidak akan menghalang-halangi mba karna mba sudah bukan anak kecil lagi jd saya yakin mungkin itu keputusan terbaik untuk mba. dan aku tidak akan memberi tahu Surya kalo dia mencari mba kesini. mba boleh tinggal disini untuk sementara tapi saya minta jangan mba bawa laki-laki yang bernama Hendro kesini karna saya tidak ingin terlibat dalam permasalahan rumah tangga mba apalagi Disini mba yang sudah berselingkuh."
BAB XlV
aku hanya terdiam tak bergeming dengan ucapan adikku Wanto memang semua ini salahku. mungkin aku memang egois memutuskan untuk berselingkuh di saat rumah tanggaku sedang tidak baik-baik saja. sejujurnya aku menyesal dengan perbuatanku ini tapi semua sudah terlanjur aku harus tetap melangkah karna semua sudah terjadi. aku tidak bisa membayangkan bagaimana nasibku harus jauh dari anak-anakku. tapi aku berusaha untuk tegar dan kuat dengan keputusan yang sudah aku ambil.
" iya wan aku sudah menyadari kesalahanku dan akan menerima segala konsekuensinya." ucapku pada Wanto.
" ya sudah mba istirahat dulu..kalo mau makan mba makan saja jangan sungkan." seru Wanto dan Dea.
" iya terimakasih." balasku.
aku pun langsung menelpon mas Hendro dan memberi tahu dia kalo aku udah keluar dari rumah dan untuk sementara waktu akan tinggal dengan adikku sampai semuanya baik-baik saja dan sampai mas Hendro menyelesaikan urusan dengan istrinya dan membawaku pergi dari sini.
( PROV. HENDRO )
namaku Hendro aku sudah menikah dengan istriku yang bernama Ika. Ika adalah seorang guru dan aku bekerja sebagai kontraktor. kami mempunyai 1 orang anak perempuan bernama gia. usia pernikahanku dengan istriku sudah menginjak 20tahun. gia baru lulus SMA dan akan melanjutkan ke perguruan tinggi. pernikahanku dengan istriku tidak baik-baik saja sering terjadi percekcokan dengannya dia istri yang tidak pernah bisa menghargai ku dia selalu merasa dirinya mandiri dan mempunyai penghasilan sendiri. bahkan dia tidak pernah melayaniku malah selalu aku yang melayaninya. dari mulai mengurus rumah tangga sampai mengurus keperluan anakku. awalnya aku tidak masalah tapi semakin lama aku semakin muak dengan semua perlakuannya. sehingga akhirnya mulai memperhatikan wanita lain. wanita itu bernama Nina dia seorang ibu rumah tangga aku sering melihat dia saat aku hendak berkunjung kerumah hafiz sepupuku. saat pertama aku melihatnya aku langsung tertarik padanya hingga aku berusaha untuk mendekatinya melalui sepupuku. aku tidak pernah menyangka dia akan meresponku karna dia sudah bersuami. akan tetapi awal perkenalan kami dia langsung welcome dan sepertinya dia pun tertarik padaku hingga akhirnya kami pun semakin dekat dan kami mulai saling nyaman. awalnya aku takut dan ragu dengan hubungan gelap yang kami jalin akan tetapi rasa nyaman mengalahkan segalanya selama 2tahun aku menjalin kasih dengan sembunyi-sembunyi dan akhirnya saat ini semuanya harus terbongkar suami Nina sudah mengetahui hubungan kami dan Nina pun memutuskan untuk bercerai dengan suaminya. dia memintaku untuk berpisah dengan istriku dan menikahinya. aku pun tidak keberatan karna memang aku tidak ada niat untuk mempermainkannya aku akan menikahinya setelah urusanku dengan istriku selesai. aku akan menceraikan dulu istriku dan keluar dari rumah karna memang rumah yang kami tempati ini rumah dari orangtua Ika. mungkin akupun akan meninggalkan mobilku untuk biaya anakku sekolah. aku akan pergi tanpa membawa apapun.
tring....tring...tring...handphone ku berdering. saat ku lihat ternyata Nina yang menelpon.
" assalamualaikum...hallo Nina?" ucapku pada Nina.
" wa'alaikumsalam salam mas, mas aku sudah keluar dari rumah dan sekarang aku tinggal dirumah adikku Wanto. aku sudah bulat akan berpisah dengan mas Surya mungkin untuk sementara aku akan tinggal di rumah adikku Wanto. aku sudah menceritakan hubungan kita hanya saja dia tidak mengizinkan kamu datang kesini mungkin kalo kita ingin bertemu kita ingin bertemu kita bisa bertemu di luar mas." ucapku pada mas Hendro.
" jadi kamu sudah keluar dari rumah? suami mu tau kamu kamu sudah keluar dari rumah? terus anak-anakmu bagaimana?" tanya mas Hendro padaku.
" suamiku tidak tahu kalo aku sudah keluar rumah, tapi saat sedang bertengkar dengannya aku sudah bilang kalo aku akan keluar dari rumah dan aku juga sudah meminta cerai padanya. kalo anak-anakku tidak tau aku berpergi dari rumah bahkan mereka juga tidak tahu kalo aku sering bertengkar dengan papa nya. aku tidak bisa membayangkan bagaimana Meraka saat tau aku pergi dari rumah. tapi semuanya sudah terjadi aku sudah melangkah terlalu jauh mas. aku akan menerima konsekuensinya kalo anak-anakku membenciku tapi suatu saat aku yakin mereka pasti akan datang kepadaku." ucapku dengan lirih.
" ya sudah kamu yang tenang y nin, kamu tidak usah khawatir aku akan tetap bersamamu dan tidak akan pernah meninggalkan mu apapun yang terjadi. kita sudah sama-sama melangkah aku sangat mencintai dan menyayangimu Nina. terus bagaimana dengan orangtua dan keluargamu Nina?" tanya mas Hendro.
" keluargaku tidak ada yang tahu mas termasuk orang tuaku hanya adikku Wanto yang aku beri tahu. mungkin mas Surya dan anak-anak akan mencariku kerumah ibuku dan saat itu ibuku akan tau kalo semua yang terjadi dalam rumah tanggaku." jawabku pada mas Hendro.
" ya sudah nin, kamu tenang saja semua akan baik-baik saja. aku akan menyelesaikan urusanku dengan istriku setelah itu aku akan menjemputmu dan kita akan pergi bersama keluar kota dan kita akan menikah disana dan hidup di sana. bagaimana kamu setuju nin?" tanya mas Hendro padaku.
" baiklah mas aku setuju dengan rencanamu. aku akan menunggumu disini. semoga kamu tidak lama ya mas mengurus urusanmu dengan istrimu." ucapku pada mas Hendro.
" iya nin, ya sudah kalo gitu saya tutup dulu telponnya ya saya sedang ada kerjaan."ucap mas Hendro.
" baik mas... assalammualaikum." ucapku pada mas Hendro.
" wa'alaikumsalam..." jawabas Hendro.
tak terasa waktu sudah menjelang magrib..dan tiba-tiba ada tamu yang datang kerumah Wanto. dan ternyata mas Surya yang datang benar saja dia mencariku kerumah Wanto untung saja wanto sudah aku beritahu untuk tidak memberi tahu mas Surya kalo sementara aku akan tinggal di rumah Wanto. aku mendengarkan obrolan mas Surya dengan Wanto mas Surya menanyakan keberadaanku dan menceritakan semua yang telah terjadi dalam rumah tangga kami. dan mas Surya juga menceritakan bahwa aku telah berselingkuh kemudian mas Wanto juga bercerita tentang anak-anak terus menanyakan keberadaanku dan mencariku. mas surya bilang sekarang anak-anak sedang menunggu di rumah ibu. mas Surya juga bilang kalo dia akan mempertahankan rumah tangga kami mencoba menerima dan memaafkan ku kembali demi anak-anak.
aku sangat sedih mendengar ucapan mas Surya tapi aku tidak bisa meneruskan rumah tanggaku aku terlanjur nyaman dengan mas Hendro dan aku juga takut kalo diteruskan mas Surya tidak akan sepenuhnya memaafkan ku. jadi aku bulat untuk berpisah walaupun sejujurnya hatiku sangat hancur harus berpisah dengan anak-anakku. akhirnya mas Surya pun berpamitan pulang karna Wanto tidak memberitahunya kalo aku ada disini.
" mba mas Surya sudah pulang, dia mencarimu karna anak-anak sedang menunggumi mba. dia bilang kalo dia akan mempertahankan rumah tangga kalian demi anak-anak dan akan mencoba untuk menerima dan memaafkanmu kembali mba. coba mba pikirkan lagi apa tidak sebaiknya mba kembali saja pada suami dan anak-anak mba.mereka masih sangat membutuhkanmu mba. Jangan egois dalam mengambil keputusan karna sekarang mba tidak hidup sendiri ada anak-anak mba yang akan menerima dampak dari keputusan mba ini. cobalah lembutkan hati mba, perpisahan yang di dasari karna perselingkuhan itu hanya akan menyisakan kesakitan dan kesengsaraan mba. meskipun mas Hendro siap akan menikahi mba dan mba saat ini merasa yakin dengan mas Hendro bahwa dia bisa membuat mba bahagia semua tidak akan menjamin setelah mba menikah nanti karna setiap perbuatan buruk itu pasti akan ada balasannya mba." ucap Wanto menasehati ku.
" aku tau wan aku salah dan mungkin Tuhan akan menghukumku atas perbuatanku tapi nasi sudah menjadi bubur wan semua sudah terjadi dan kalopun sekarang aku kembali pada mas Surya dan memulai dari awal semuanya tidak akan sebaik dulu karna aku telah mengores luka dihatinya wan aku telah menghianatinya jadi lebih baik selesai sekarang saja daripada nanti akan lebih sakit dan rumit dari sekarang." jawabku pada Wanto.
" ya sudah kalo memang mba keukeuh ingin tetap bercerai dengan mas Surya. aku sudah tidak bisa berkata-kata lagi karna itu keputusan mba. aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk mba.semoga mba selalu bahagia." jawab Wanto.
" iya terimakasih wan..maaf kalo aku merepotkan mu dan Dea karna tinggal disini." ucapku pada Wanto.
" iya tidak apa-apa mba aku dan Dea tidak keberatan kalo mba akan tinggal disini untuk sementara waktu. karna aku juga berhutang jasa pada mba dan mas Surya kalo bukan karna kalian mungkin aku tidak akan menjadi seperti sekarang ini." ucap Wanto.
aku hanya terdiam..dan aku pun berpamitan untuk istirahat. dan Surya pun pulang kerumah ibu mertuanya untuk menjemput anak-anaknya.
tok..tok...tok..
" assalamualaikum...Bu?" seru Surya.
" wa'alaikumsalam.." jawab ibu mertuaku sambil membukakan pintu.
aku pun masuk dengan langkah gontai..aku benar-benar lelah perasaanku saat ini sangat bercampur aduk, antara kesal, marah, benci, tapi sejujurnya aku pun masih sangat mencintai dan menyayangi istriku. tapi aku tidak pernah menyangka dia akan tega mengkhianatiku dengan laki-laki lain. aku sadar aku memang bukan laki-laki yang peka yang bisa selalu bisa mengerti ingin dia tanpa dia bicara. aku bukan laki-laki yang lembut aku juga bukan laki-laki yang selalu berkata-kata manis pada istriku. tapi jauh di dalam lubuk hatiku aku sangat mencintai dan menyayangi istriku. aku selalu berusaha untuk selalu menuruti dan memberi apa yang dia mau. mungkin karna kekuranganku ini dia tega mengkhianatiku. aku benar-benar kecewa pada Nina. ntah apa aku masih bisa menerima dan memaafkan dia aku tidak tau tapi saat ini yang aku pikirkan hanyalah nasib dan perasaan anak-anakku. aku akan berusaha mempertahankan rumah tanggaku menghilangkan segala ego ku demi anak-anakku.
" bagaimana Sur ada Nina dirumah Wanto?" tanya mertuaku.
" tidak ada Bu, tadi Wanto bilang Nina tidak ada ke rumahnya bahkan wanto pun tidak tau kalo Nina pergi dari rumah karna Nina tidak memberi tahunya. aku bingung Bu harus mencari kemana lagi. apa mungkin dia sudah pergi dengan laki-laki baji***n itu!" seruku pada ibu.
" maksud kamu laki-laki baji***n siapa?? Nina Nina berselingkuh?" tanya ibu dengan nada syok.
" maafkan aku Bu aku harus jujur, sebenarnya Nina pergi dari rumah karna dia telah berselingkuh dengan laki-laki yang bernama Hendro. kami sempat bertengkar hebat dan akhirnya Nina meminta cerai dan mengatakan akan pergi dari rumah. aku tidak menanggapinya karna aku pikir itu hanya omongan dia saat emosi lalu aku tinggalkan dia ke kantor. tapi setalah aku pulang kerja Nina sudah tidak ada dirumah Bu bahkan anak-anak pun kebingungan mencarinya. tadi nya aku tidak ingin menceritakan semua ini pada ibu tapi aku bingung harus bilang apa sama ibu. aku sekarang harus bagaimana Bu? aku benar-benar bingung. apa aku harus mengiyakan permintaan Nina untuk bercerai? tapi aku kasihan sama anak-anak Bu mereka masih sangat membutuhkan Nina." ucap Surya pada ibu mertuanya dengan nada lirih.
ibu mertua hanya diam tidak bergeming air matanya mengalir deras mungkin dia sedih dengan masalah rumah tangga anaknya.
BAB XV
ibu hanya menangis saja mungkin ibu sangat terpukul dengan kejadian ini. ibu sangat syok mendengar anaknya sudah berselingkuh.
" maafkan anak ibu Sur, ibu tidak pernah menyangka dia berani melakukan ini. apa kamu sudah tau laki-lakinya? ibu benar-benar kecewa dengan Nina. dia juga tidak pernah cerita apa-apa. terus bagaimana nasib anak-anak kalian kalo sampai kalian bercerai? ibu mohon sama kamu Surya tolong maafkan anak ibu. tolong beri dia kesempatan 1kali lagi untuk memperbaiki nya. ibu yakin jauh di dalam lubuk hatinya Nina sangat menyesal telah menghianatimu dan dia juga tidak pernah menginginkan perceraian. dia meminta cerai karna dia takut kalo kamu tidak mau menerimanya lagi. mungkin Nina sedang khilaf Sur ibu mohon tolong maafkan Nina. bukan ibu membela anak ibu tapi ibu tidak mau kalian berpisah coba kamu liat anak-anakmu bagaimana perasaannya kalo sampai kalian berpisah? ibu yakin kalo sampai kalian berpisah anak-anak kalianlah yang akan menjadi korban dan yang akan paling terluka. karna kalo sampai kalian berpisah ibu yakin kalian pasti akan menikah lagi dengan yang lain baik itu kamu atopun Nina karna kalian masih muda jelas masih sangat membutuhkan pendamping. dan kalo sampai itu terjadi ibu sangat yakin kedua anak kalian akan terabaikan karna kalian pasti akan sibuk dengan kehidupan baru kalian.apa kalian tidak kasihan denga mereka? cobalah tolong dipikirkan lagi." ucap ibu dengan tangisan.
aku terdiam memikirkan ucapan ibu. dan aku membenarkan semua ucapan ibu. kalo sampai aku berpisah dengan Nina tidak akan ada yang menyayangi anak-anak ku setulus kasih sayang ibu kandungnya. aku benar-benar dilema dengan semua ini.
" iya Bu ucapan ibu memang benar. aku sudah berusaha untuk mempertahan rumah tangga ku tapi bagaimana kalo Nina sudah bulat ingin bercerai denganku? aku tidak bisa apa-apa Bu. sekarang keputusan ada di Nina kalo Nina mau kembali denganku dan memperbaiki semuanya aku akan menerimanya. tapi kalo Nina sudah bulat dengan keputusannya untuk berpisah denganku aku tidak akan memaksa." ucapku pada ibu.
" iya Sur ibu yang akan berbicara pada Nina. ibu harap kamu benar-benar tulus mau menerima kembali Nina." ucap ibu padaku.
" iya Bu insya Allah saya akan menerima dan memaafkan Nina kembali dan saya akan mempertahankan rumah tangga kami demi anak-anak. maafkan saya ya Bu belum bisa jadi suami dan menantu yang baik." ucapku dengan lirih.
" kamu sudah berusaha Sur, hanya saja anak ibu yang tidak tau diri. ibu benar-benar kecewa pada Nina." ucap ibu dengan lirih.
" ya sudah Bu aku akan berpamitan pulang dan membawa anak-anak pulang.besok anak- anak harus sekolah. doakan yang terbaik untuk kami ya Bu." ucapku pada ibu.
" ya sudah kalo mau pulang, ibu bangunkan dulu anak-anak tadi mereka tidur cepat. iya Sur ibu pasti akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian." ucap ibu.
kemudian ibu pun berlalu untuk memanggil anak-anak.
" ndo..ndo...bangun papa mu sudah datang untuk menjemput."
" bareng dengan ibu nek?" tanya Natasya.
" ibu mu belum ketemu ndo..mungkin besok ibu kalian akan pulang. kalian yang sabar ya nenek yakin kalian anak-anak yang kuat. ucap nenek sambil mengelus-elus rambut Natasya.
Natasya pun menangis di pangkuan neneknya.
" tapi aku hanya ingin ibu pulang nek dan berkumpul lagi bersama kami. aku gak mau ayah dan ibu berpisah nek.tolong kami nek tolong sampai kan pada mereka untuk tidak bercerai." ucap Natasya pada neneknya.
" iya sayang, nanti nenek akan bicara pada ibu mu agar mereka tidak jadi berpisah. ya sudah bangunkan adikmu kasihan ayahmu sudah lelah akan istirahat. kalian juga besok sekolahkan ndo?" ucap nenek pada Natasya.
" Lang..Lang..ayo bangun ayah sudah menunggu kita ayo kita pulan besok kita harus sekolah." seruku pada Gilang.
" aku mengantuk kak, Ayah pulang dengan ibu kak? " tanya Gilang.
" tidak Gilang, ayah tidak menemukan ibu..mungkin besok ibu akan pulang kesini.dan nenek akan bicara pada ibu agar tidak berpisah dengan ayah. semoga nenek berhasil dan ibu tidak jadi bercerai dengan ayah." jawabku pada Gilang.
" ya sudah kak ayo kita pulang."
kami pun berlalu menemui ayah.
" ayah...ayo kita pulang..." seru kami pada ayah.
" ayo nak,,," jawab ayah.
akhirnya kami pun berpamitan pada nenek untuk pulang.
" kalian sudah makan?" tanya Aya pada kami.
" sudah ayah, ayah sudah makan?"
" ayah tidak lapar, ayah hanya lelah dan ingin beristirahat." ucap ayah
akhirnya kami pun sampai dirumah. kami tidak banyak mengobrol. aku dan Gilang pun tidak banyak bertanya pada ayah karna aku kasihan melihat Aya seperti sangat kelelahan. kamu langsung menuju kamar masing-masing akhirnya kami pun istirahat.
" Natasya, Gilang, bangun udah siang nak..kalian harus sekolah." panggil Surya pada anak-anaknya.
" iya ayah aku udah bangun dan sedang bersiap, Gilang juga udah bangun ko yah." jawab Natasya.
" ya sudah sebentar lagi kita akan berangkat, nanti sarapannya beli saja di sekolah ya nak..ayah tidak sempat bikin sarapan karna ayah harus apel pagi." ucap ayah pada Natasya.
" iya ayah,,," jawab Natasya.
kami pun Selesai bersiap dan kami pun berangkat di antar oleh ayah. sedangkan Gilang berangkat ke sekolah jalan kaki karna memang jarak sekolahan Gilang sangat dekat dengan rumah sekolah Gilang masih di komplek perumahan kami.
aku pun tiba di sekolah kemudian aku berpamitan dan mencium punggung tangan ayahku.
" aku masuk dulu ya ayah... assalammualaikum." ucapku pada ayah.
" iya nak, belajar yang bener ya." jawab ayah pada Natasya.
aku pun masuk ke dalam kelas disana sudah banyak teman-temanku berkumpul. tiba-tiba Nia sahabatku membuatku kaget.
" hei Nat,,pagi-pagi sudah bengong saja. ayo gabung hari ini kita akan dibagi kelompok menari. ucap Nia pada Natasya.
" ih kamu Nia ngagetin aja deh..oh iya ya hari ini pelajaran seni tari. waduh mana aku lupa gak bawa selendang. gimana dong ini. pasti aku di tegur Bu Ida nih dia kan agak judes." ucapku pada Nia.
" emang kamu gak liat jadwal? pake lupa segala. makanya pagi-pagi itu jangan bengong terus jadi ada yang ketinggalan kan!" seru Nia pada Natasya.
" ya nama nya juga orang lupa, ya udah antar aku pinjam ke kelas lain yu. kayanya si mika hari ini juga ada jadwal seni tari deh setelah jam kita selesai. jadi bisa aku pinjam dulu selendangnya." ajakku pada Nia.
" ya sudah ayo sebelum masuk kelas." jawab Nia.
kami pun bergegas menuju kelas mika yang berada di ujung kelasku. dan akhirnya aku pun di kasih pinjam oleh mika.
" eh Nat, kamu kenapa sih ko kayanya bengong terus kaya lagi gk fokus. kamu lagi ada masalah ya?? atau gak dikasih bekal gede sama ibumu." tanya Nia sambil terkekeh.
" bukan itu Nia...aku memang lagi ada masalah tapi bukan masalah bekal tapi masalah orangtuaku." jawabku dengan lirih.
" maksudnya kamu lagi punya masalah dengan orang tua mu gitu? emang kamu bikin salah apa sih Nat? makanya jadi anak itu jangan badel!!" ucap Nia.
" enak saja..aku gak bandel ko bukan aku yang lagi ada masalah dengan orang tua ku tapi ayah dan ibu ku yang sedang ada masalah. aku akan cerita sama kamu Nia tapi kamu janji ya jangan cerita ke temen-temen aku malu dan pasti akan sangat sedih." ucapku pada Nia dengan lirih.
" iya Nat aku janjingak bakalan cerita sama siapa-siapa..kita kan sahabat ayo kamu ceritain sama aku, aku gak akan kasih tau siapa-siapa." ucap Nia meyakinkanku.
" aku percaya Nia sama kamu,, aku sedih Nia orang tuaku akan bercerai..ibuku pergi dari rumah dari kemarin..sudah di cari kerumah nenek dan kerumah om tapi ibu gak ada. aku bingung Nia harus mencari ibuku kemana lagi. aku juga takut kalo sampe ayah dan ibuku benar-benar akan bercerai. aku gak bisa bayangin gimana jadinya nasibku dan adikku kalo sampai ibu dan ayah bercerai. aku bingung harus ikut siapa karna aku gak bisa memilih salah satu dari mereka. apalagi kalo sampai mereka benar bercerai kemudian mereka menikah lagi gimana nasibku dan adikku Nia, kalo mereka sudah mempunyai keluarga baru pasti mereka tidak akan sepenuhnya lagi menyayangi kami, mereka pasti akan fokus dengan keluarga barunya." ucap Natasya dengan berurai air mata.
Nia pun sangat syok mendengar cerita Natasya karna dia sangat tau kalo orangtua Natasya hampir tidak pernah bertengkar karna nia sering bermain dirumah natasya bahkan tidak jarang saat libur sekolah Nia sering menginap dirumah natasya. air mata Nia pun tidak terasa membasahi pipinya karna merasa sedih mendengar cerita sahabatnya itu,dia membayangkan seandainya semua itu terjadi pada dirinya mungkin dia tidak akan pernah sanggup untuk hidup lagi.
__ADS_1
" ya ampun Nat, aku benar-benar syok mendengar ceritamu. aku juga sangat sedih Nat, kamu yang sabar ya Nat semuanya pasti akan baik-baik saja, semoga Allah melembutkan hati ibu mu membuka hati ibu mu agar ibumu mau kembali lagi berkempul dengan mu Nat." ucap Nia pada Natasya.
" terimakasih Nia, doa kan yang terbaik untuk rumah tangga orang tuaku ya Nia biar mereka gak jadi bercerai." ucap Natasya dengan lirih.
akhirnya bel masuk kelas pun berbunyi Natasya dan Nia bergegas masuk ke dalam kelas untuk mengambil selendang kemudian langsung bergegas ke ruang seni tari karna hari ini jadwal praktek seni tari.
akhirnya pelajaran pun selesai hari ini mereka pulang cepat karna para guru akan ada rapat jadi anak-anak di pulangkan.
" Nat kamu mau langsung pulang? apa mau kerumahku dulu?" tanya Nia.
" bagusnya aku langsung pulang apa main dulu kerumahmu ya Nia?" ucap Natasya bertanya balik pada Nia.
" ya sudah mending kamu kerumahku saja. kita ngobrol-ngobrol biar kamu gk sedih lagi. lagian kalo kamu pulang pasti nanti kamu akan sedih lagi. jam segini kan ayahmu belum pulang Nat." ucap Nia.
" benar juga sih..aku pasti sendiri dirumah tapi adikku gimana ya kasihan dia sendirian dirumah. mana dia masih SD. kayanya aku balik aja deh Nia." sahut Natasya lagi.
" ya sudah gimana kalo aku temenin kamu di rumahmu saja sampai ayahmu pulang. biar kamu gak kesepian dan gk sedih lagi. tapi kita izin dulu pada ibuku ya biar dia gak kebingungan mencariku." ucap Nia ada Natasya.
" ya sudah deh ayo kita pamitan dulu ke ibumu." jawab Natasya.
mereka pun bergegas menuju ke koprasi sekolah untuk berpamitan pada ibu Nia. karna ibu Nia bekerja di koprasi sekolah.
" Bu hari ini aku mau kerumah Natasya ya Bu..mau nemenin dia..boleh Bu?" tanya Nia pada ibunya.
" boleh nak, tapi jangan nakal dan macem-macem ya dirumah saja jangan keluyuran kemana-mana. memang ayah dan ibu Natasya kemana?" ibu Nia balik bertanya pada kami.
" ayah dan ibu ku mungkin akan pulang malem Bu..jadi aku minta ditemenin sama Nia." jawabku pada ibu Nia.
" oh begitu...ya sudah kalian hati-hati ya jangan nakal." seru ibu Nia.
" ya sudah kami pamit ya Bu." ucap aku dan Nia berpamitan pada ibu Nia.
" iya hati-hati nak, salam sama ibumu ya Nat." seru ibu Nia.
kami pun berpamitan dan berlalu. kami pulang naik becak. karna jarah sekolah Ku dengan rumah cukup jauh. akhirnya kami pun sampai di rumahku. rumahku sangat sepi aku sangat sedih saat akan masuk kerumah karna aku teringat dengan ibuku. lalu aku pun membuka pintu ternyata sudah ada adikku dengan teman-temannya sedang bermain PS. aku pun langsung mengajak Nia masuk ke kamarku.
" ayo Nia masuk,,kamu langsung masuk ke kamarku saja." ucapku pada Nia.
" iya Nat, aku masuk ya." jawab Nia.
" kamu sudah pulang dari tadi Lang? udah makan belum?" tanyaku pada adikku.
" lumayan belum lama kak, aku ajak teman-temanku untuk main PS biar gak sepi dirumah. aku tadi sudah beli mie kak di warung Bu Anwar." jawab Gilang adikku.
" ya udah gak apa-apa ajak teman saja kerumah, tapi awas jangan pada nakal ya. ya syukur deh kalo kamu sudah makan. Kakak lapar mana gak ada nasi, ya udah deh kakak juga mw beli lontong pecel ke Bu Anwar." ucapku pada Gilang .
" Nia..kamu laper gak? aku laper nih...kita beli lontong pecel yu. nanti biar aku yang traktir..hehe." ajakku pada Nia.
" ya sudah ayo, aku juga laper banget." jawab Nia.
kami pun pergi ke warung Bu Anwar untuk membeli pecel.
" ah ada neng Natasya...mau beli apa neng?" tanya nu Anwar.
" Bu lontong pecelnya masih ada? bikin dua ya Bu tapi gak pedes." seruku pada Bu Anwar.
" oh iyaa neng tunggu sebentar ya ibu buatkan dulu. oh iya neng katanya ibumu pergi dari rumah ya dari kemarin?" tiba-tiba Bu Anwar menanyakan tentang ibuku membuatku teringat lagi akan kepergian ibu.
" iya Bu...tapi ayah sedang mencari doakan saja semoga ibuku cepat pulang lagi kerumah." jawabku dengan lirih.
" iya neng ibu doakan semoga ibumu cepat kembali lagi kerumah ya..neng jangan sedih yang sabar ya ..neng yang kuat...kalo neng butuh apa-apa neng jangan sungkan ya kalo mau minta tolong sama ibu." ucap Bu Anwar padaku.
" baik Bu terimakasih." jawabku dengan lirih.
ucapan Anwar membuatku sedih aku bener sedih hatiku hancur karna ibu tega meninggalkan ku tanpa pesan tanpa memberi tahu dia akan pergi kemana. apa salahku ya Allah kenapa orang tuaku harus berpisah disaat aku benar-benar membutuhkan mereka.
" hey Nat jangan melamun." sahut Nia.
" ah enggak ko aku cuma sedang ingat dengan ibuku." jawabku pada Nia.
" iya aku mengerti Nat, tapi kamu jangan melamun terus dong kamu harus kuat. ibu mu juga pasti saat ini sedang memikirkan mu ingat sama kamu." seru Nia padaku.
" kalo memang ibuku sayang padaku dan juga adikku kenapa dia harus pergi rumah, kalo memang ibu memikirkan ku ingat sama aku kenapa dia meninggalkan ku tanpa pesan dan tanpa memberi tahuku. aku benar- benar sangat sedih dan kecewa dengan ibuku." ucapku pada Nia.
" hei gak boleh kamu membenci ibu mu karna bagaimanapun dia adalah orang yang telah melahirkan mu. kamu tetap harus menghormatinya dan menyayanginya." ucap Nia padaku .
aku hanya terdiam dengan menahan tangis karna aku malu oleh Nia dan Bu Anwar. akhirnya lontong pecel pun sudah jadi dibungkus.
" neng ini sudah selesai. jangan melamun aja atuh neng jangan murung begitu jangan terlalu di pikirin nanti neng sakit coba." sahut Bu Anwar padaku.
" iya Bu...cuma lagi inget aja sama ibuku. ya sudah Bu kami permisi ya." ucapku pada Bu Anwar.
" iya mangga neng, awas ya jangan melamu kalo sepi dirumah main kesini ada Fuji." ucap Bu Anwar padaku, Fuji adalah anak Bu Anwar dia usianya masih dibawah usiaku.
" iya Bu terimkasih." jawabku pada Bu Anwar. aku pun bergegas untuk pulang karna perutku sudah terasa sangat lapar. saat tiba dirumah aku dan Nia langsung melahapnya karna sudah sangat lapar.
" Nia kalo kamu nginep di rumahku di izinin gak sama ibumu? aku gak ada temen Nia." ucapku pada Nia.
" ya sudah nanti aku izin dulu sama ibuku, tapi kayanya di izinin deh." jawab Nia.
" ya sudah nanti tunggu ayahku pulang, biar ayahku yang izin sama ibumu dan kalo baju ganti biar pake bajuku saja." ucapku pada Nia.
" ya oke deh,demi sahabatku tersayang.tspi janji ya jangan sedih-sedihan lagi jangan melamun terus. ada aku yang bakal selalu ada untukmu...hehehe..." ucap Nia padaku.
" hmmmm....aku sangat terharu Nia kamu emang sahabatku yang paling baik.makasih ya Nia." ucapku pada Nia.
" iya sama-sama sahabatku sayang."jawab Nia lalu kami pun berpelukan.
tak terasa air mataku jatuh membasahi pipiku dan mengenai bahu Nia.
" hei kamu nangis lagi Nat? kan aku sudah bilang jangan sedih jangan nangis nanti aku ikutan sedih loh.." ucap Nia padaku.
" aku sedih Nia, aku kangen sama ibu. apa aku masih bisa bertemu dengan ibuku?apa aku akan bener- benar berpisah dengan ibuku?" ucapku pada Nia.
" iya aku ngerti Nat, tapi harus gimana lagi dong kita hanya bisa bersabar dan menerima yakin rencana Tuhan pasti jauh lebih indah dan lebih baik daripada rencana kita. aku yakin kamu kuat kamu pasti bisa melewati ini semua. kalo jangan putus berdoa agar ibumu kembali lagi aku pun akan bantu dengan doa Nat, tapi kalo seandainya ayah dan ibumu berpisah kamu harus kuat Nat." ucap Nia padaku.
" iya Nia makasih ya..aku akan berusaha untuk menjadi kuat. dan gak akan cengeng terus." ucapku pada Nia.
setelah banyak bercerita akhinya aku dan Nia pun tertidur.
BAB XVI
tak terasa aku dan Nia tertidur cukup lama. kami bangun hampir waktu magrib.
aku pun keluar kamar ternyata ayah sudah pulang dan Gilang sedang bersiap akan mengaji di tempat ustadzah Ghozali.
" kamu baru bangun Nat?" tanya ayah padaku.
" iya ayah tadi ketiduran gak kerasa udah sore lagi. ada Nia juga yah main disini aku minta dia untuk nemenin aku disini.rencana nya dia akan menginap disini nemenin aku kan besok hari libur yah. tolong ayah telponin ke ibu nya Nia ya yah tolong mintain izin sama ibunya." seruku pada ayah.
" ya sudah nanti Aya mintain izin ke ibunya Nia. mana ayah minta no telponnya." seru ayah padaku.
" baik ayah nanti aku mintain k Nia y...oh iya Aya apa sudah ada kabar lagi soal ibu? apa ayah sudah mencari lagi dimana ibu. aku kangen yah, seperti nya aku gak bisa deh kalo harus berpisah dengan ibu. aku mohon ayah cari ibu sampai ketemu ya ayah. aku gak mau ayah bercerai dengan ibu.aku gak mau berpisah dengan kalian,aku juga gak mau memilih diantara kalian. jangan buat aku hancur ayah,janga buat aku bingung untuk memilih ayah." ucapku dengan tangisan yang tidak bisa aku sembunyikan lagi.
ayah pun hanya diam tak bergeming, tapi aku bisa melihat bahwa ayah pun sangat terpukul dengan ucapanku, mata ayah pun mulai berembun tetapi sperti di tahan mungkin ayah tidak mau memperlihatkan bahwa dia pun sangat rapuh.
" sini nak ayah ingin bicara, kamu harus tau ayah pun sama tidak dengan mu tidak mau terjadi perpisahan, ayah tidak mau bercerai dengan ibu mu. ayah sudah mencari ibu mu tapi sampai saat ini ayah belum menemukan ibumu. ayah harap kamu sabar ya nak sampai ayah menemukan ibumu. semoga ibu masih ada di kota ini. tidak pergi jauh dari kota ini." ucap ayah padaku.
" tapi Ayah aku tetap tidak bisa kalo harus jauh dari ibu aku juga tidak mau kalo sampai kalian berpisah. aku takut ayah, untuk membayangkannya saja aku sudah takut Aya apalagi kalo sampai benar-benar terjadi. aku takut kalo sampai ayah dan ibu bercerai kemudian kalian menikah lagi nanti bagaimana nasibku dan Gilang ayah. kalian pasti sibuk dengan keluarga baru kalian,dan mungkin nanti punya anak pasti seluruh perhatian kalian hanya akan terfokus pada anak baru kalian sedangkan kami bagaimana ayah?kami pasti akan jadi terabai. aku takut Ayah." ucap Natasya pada ayah nya dengan tangisan dan air mata yang deras.
" sudah nak tidak usah berpikir terlalu jauh, yang pasti apapun yang terjadi nanti ayah akan tetap menyayangi kamu dan Gilang tidak akan ada yang bisa merubah rasa sayang di hati ayah pada kalian." ucap ayah pada nastasya.
" iya ayah, tapi aku mohon ayah jangan pernah berpisah dengan ibu. ucapku pada ayah.
ayah hanya diam tak menjawab, akupun berlalu masuk ke kamarku lagi untuk meminta no telpon ibunya Nia. setelah itu aku menyuruh ayah untuk memintakan izin pada ibu Nia untuk menginap menemaniku. dan ibu Nia pun mengizinkan Nia menginap di rumahku.
tak terasa ibu sudah pergi dari rumah dan meninggalkan kami selama 2 bulan ayah sudah menyerah untuk mencari ibu. karna sudah mencari kesana kemari tetap tidak ketemu hingga ayah berpikir ibu sudah pergi dengan laki-laki selingkuhannya ke luar kota. ayah pun menyerah untuk mempertahankan rumah tangganya Ayah sudah memutuskan untuk bercerai. walaupun sebenarnya aku sangat sedih, terpukul, marah, dan kecewa. tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa karna keputusan ada di tangan mereka. aku hanya bisa berharap suatu hari nanti ayah dan ibu akan bersatu kembali dan kami bisa berkumpul lagi seperti dlu.
PROV ( NINA )
tak terasa aku sudah pergi dari rumah selama 2 bulan. kata ibu mas Surya sudah sering datang kerumah ibu untuk mencariku. tapi sekarang dia sudah jarang datang lagi mungkin mas Surya sudah putus asa dan mengikhlaskan kepergian ku. akhirnya ibu pun mengetahui perselingkuhan ku dengan mas Hendro mungkin mas Surya yang memberi tahu ibu. ibu sangat marah dan kecewa padaku karna aku telah melakukan kesalahan ibu. yang sangat ibu sesalkan karna pernikahanku sudah 15 tahun harus berpisah karna ke egoanku yang tidak bisa menahan nafsuku. aku meninggalkan anak-anakku dan segalanya hanya demi mas Hendro. akan tetapi semarah apapun ibu padaku sekecewa apapun ibu padaku ibu tetap memberikan perhatiannya padaku ibu tetap peduli padaku. aku masih tinggal dirumah Wanto karna mas Hendro masih belum bisa menyelesaikan urusannya dengan istrinya dan urusan pekerjaannya. jadi kami masih belum bisa pergi bersama. aku pun sabar menunggu mas Hendro karna aku yakin mas Hendro tidak akan mengingkari janjinya. hari ini aku memutuskan untuk pulang kerumah ibu mungkin disana aku akan lebih nyaman karna aku merasa tidak enak dengan Dea kalo terlalu lama menumpang dirumahnya.meskipu Dea tidak keberatan aku tinggal dirumahnya sampai keadaannya kembali normal.
" assalammualaikum...Bu?" ucapku sambil membukakan pintu rumah ibu.
ternyata ibu sedang di dapur, meskipun sudah tua ibu masih rajin masak. ibu sengaja masak karna ibu tau hari ini aku akan datang.
" Bu daritadi aku panggil ibu tidak menjawab ternyata ibu ada disini." ucapku pada ibu.
" eh kamu sudah datang, sudah dari tadi kamu sampai nin? ibu tidak kedengaran kamu memanggil maklum ibu sudah tua jadi ibu sudah kurang dengar. ibu sedang memasak makanan kesukaanmu nin." ucap ibu padaku sambil sibuk memasak.
" iya Bu gak apa-apa padahal ibu gak usah repot-repot masakin Nina, kan Nina bisa beli kalo laper." ucapku pada ibu.
" owalah cuma masak begian ya gak cape to nin, memang kamu Ndak mau apa ibu masakin." ucap ibu padaku.
" bukan begitu Bu, Nina cuma gak mau ibu kecapean ibu sudah tua harusnya ibu banyak istirahat. tapi ini ibu malah terus direpotin sama Nina." jawabku pada ibu.
" ya sudah sana kamu tunggu di depan saja biar ibu selesaikan dulu masaknya setelah itu kamu makan dan kita bicara. sebentar lagi ibu beres." ucap ibu padaku.
" baik Bu terimakasih ya Bu sudah selalu perhatian sama Nina." ucapku pada ibu.
" owalah kamu ini bicara nya udah kaya buka sama ibu nya saja." ucap ibu padaku.
aku hanya tersenyum dan berlalu meninggalkan dapur.
tak lama kemudian ibu memanggilku untuk makan. ibu sudah selesai memasak.
" nin ayo kita makan, ibu sudah selesai masak. ini ada sambal dan lalapan kesukaan mu. ayo makan sekarang." panggil ibu padaku.
" iya Bu.." jawabku.
dan kami pun makan bersama. ibu tidak pernah berubah selalu sayang dan perhatian padaku tetap memperlakukan ku seperti saat aku masih kecil dulu. maka tak heran kakak-kakakku selalu iri pada ku merasa kalo ibu selalu pilih kasih. aku sangat menikmati masakan ibu sudah lama sekali aku tidak makan seperti ini,akhirnya makan pun selesai. kemudian ibu mengajakku ke ruang tamu untuk mengajakku berbicara. aku tau pasti ibu ingin kejelasan dariku,karna sampai sekarang ibu belum mengetahui masalah yang sebenarnya.
" ayo nin kita ke depan, ibu ingin bicara sama kamu." ajak ibu pada ku.
" iya Bu,,," jawabku.
" nin sudah lama ibu ingin bicara langsung seperti ini. coba tolong jelaskan pada ibu apa yang sebenarnya terjadi, kenapa sampai harus jadi seperti ini? kenapa kamu harus berselingkuh dengan pria lain?" tanya ibu dengan sangat detail.
" iya Bu Nina akan ceritakan semuanya pada ibu, tapi ibu janji ya jangan jadi pikiran dan sakit. iya Bu Nina sudah melakukan kesalahan yang fatal. Nina telah menghianati mas Surya dengan pria lain. laki- laki itu bernama mas Hendro Nina sudah 2tahun menjalin hubungan dengan mas Hendro dibelakang mas Surya, mas Hendro sudah punya istri dan anak Bu..tapi sekarang dia sedang mengurus perceraiannya dengan istrinya lalu akan menikahi ku dan kami akan pergi ke luar kota dan tinggal disana Bu. aku harap ibu merestui hubunganku dengan mas Hendro ya Bu. maafkan Nina yang sudah mengecewakan ibu." ucapku pada ibu dengan lirih.
" ibu benar-benar kecewa Nina!!!kenapa kamu bisa melakukan kesalahan fatal seperti ini? dimana hati dan pikiranmu nin??apa kamu tidak sedikitpun memikirkan perasaan anak-anakmu??? kamu tau tidak Nina, Surya itu bekali-kali datang kemari hanya untuk mencari mu, dia ingin mempertahankan rumah tangga kalian. dia tidak mau berpisah dengan mu tapi kamu malah seperti ini Nina, kamu akan menyesal kalo kamu terus menuruti ego mu! kamu akan kehilangan semuanya Nina!! kamu itu kurang bersyukur, kamu sudah dikaruniai 2 orang anak tidak semua orang bisa memiliki anak Nina, kamu sudah diberi kehidupan yang berkecukupan tidak kekurangan tidak semua orang bisa hidup berkecukupan tidak kekurangan Nina banyak yang hidup susah tapi mereka tidak pernah mengeluh. kamu sudah diberi hidup berkecukupan sudah di beri keturunan tapi kamu masih saja tidak puas kamu masih saja selingkuh dengan laki-laki lain. bahkan laki-laki yang sudah beristri dimana pikiranmu Nina?? kamu benar- benar sudah dibutakan dengan nafsu mu Nina. kalo kamu berpisah dengan Surya dan menikah dengan laki-laki yang bernama Hendro itu belum tentu kehidupanmu sebaik saat ini. ibu benar-benar kecewa sama kamu Nina! kamu bilang kamu akan menaikah dengan Hendro dan akan pergi keluar kota apa kamu tidak memikirkan anak-anakmu?apa kamu akan lepas tangan dan membuang mereka untuk hidup dengan laki-laki itu?" ucap ibu dengan penuh amarah padaku.
" sudah Bu Jang emosi nanti tensi ibu bisa naik lagi. ya aku tau Bu aku sudah sangat salah. dan aku pun sudah menyesal telah melakukan kesalahan ini tapi semuanya sudah terlambat Bu aku sudah melangkah terlalu jauh!!! aku harap ibu bisa mengerti. iya mungkin aku memang terlalu bodoh dan tidak bisa bersyukur dengan yang aku miliki saat ini. tapi ibu tidak merasakan bagaimana yang aku rasakan saat berumah tangga dengan mas Surya. dia memang baik telah memberikan kehidupan yang baik untukku.tapi Bu tidak semua hal bisa di ukur dengan uang. aku butuh kasih ketenangan hati kenyamanan hati Bu dengan mas Surya aku tidak mendapatkan itu semua." jawabku
ibu tetap tidak bisa menerima alasanku yang menurut ibu itu alasan yang terlalu kekanak-kanakan. dan ibu tetap tidak ingin aku bercerai dengan mas Surya.
" owalah nin alasanmu itu menurut ibu tidak masuk akal. kamu itu benar-benar sudah dibutakan oleh cintamu pada si Hendro itu. pokoknya ibu tidak rela kamu bercerai dengan Surya!!ayo kembali pada suami dan anak-anakmu. kalo kamu tidak menuruti ibu mu ini kamu akan menyesal Nina!! apa kamu tau perbuatan mu itu sungguh berdosa Nina! kamu telah menghianati suami mu dan itu dosa besar, kamu juga sudah merebut suami dari orang lain kamu telah menghancurkan rumah tangga orang lain. itu dosa besar Nina! dimana perasaan dan pikiranmu Nina? Jangan sampai Allah murka denga perbuatanmu bertobatlah sebelum.semuanya terlambat. apa kamu tidak kasihan dengan ibu mu yang sudah renta ini?" ucap ibuku dengan penuh amarah.
" maafkan anakmu ini ibu, tapi aku tidak bahagia hidup dengan mas Surya Bu. aku tau aku sangat berdosa tapi semua ini terjadi begitu saja Bu. aku mencintai mas Hendro Bu. dan aku ingin hidup dengan nya. setelah aku menikah dengan mas Hendro aku janji aku akan bertobat dan menata hidupmu menjadi lebih baik lagi. dan aku akan menebus semua kesalahan-kesalahanku dengan selalu berbuat baik. aku juga akan menjemput anak-anakku untuk tinggal bersamaku. aku sangat menyayangi mereka aku juga tidak bisa berpisah dengan Meraka tapi aku sudah melangkah dan aku akan menerima segala konsekuensinya Bu." ucapku pada ibu.
" kamu bilang kamu tidak bahagia hidup bersama Surya? setelah menjalani rumah tangga selama 15 tahun baru sekarang kamu mengatakan bahwa kamu tidak bahagia dengan Surya? terus selama 15tahun kebelakang kamu kemana saja Nina? kenapa baru sekarang setelah ada Hendro kamu baru mengatakan bahwa kamu tidak bahagia? kamu itu sekarang sedang dibutakan dan terbuai omongan si Hendro itu makanya kamu bilang kamu tidak bahagia dengan Surya!" ucap ibu padaku.
" sudah Bu cukup, keputusanku tetap sama aku tetap akan bercerai dengan mas Surya dan aku siap menerima segala konsekuensinya. apapun yang terjadi aku akan menerimanya Bu." jawabku pada ibu.
" ya sudah terserah kamu saja Nin, kalo memang kamu tidak mau menuruti nasehat ibumu ini. ibu bicara sperti ini karna ibu sayang padamu ibu tidak ingin kamu menyesal dan menderita." ucap ibu sambil pergi meninggalkan ku.
aku terdiam..aku berpikir mungkin memang benar yang ibu ucapkan aku terlalu dibutakan oleh nafsu dan keegoisanku. tapi aku sudah bulat dengan keputusanku bercerai dengan mas Surya dan menikah dengan mas Hendro.
aku sekarang tinggal di rumah ibuku semenjak aku tinggal di rumah ibu, tidak pernah ada mas Surya datang kerumah mungkin mas Surya sudah menyerah dan sudah menyetujui untuk bercerai.
seminggu kemudian tiba-tiba ada yang datang saat aku mengintip dari jendela ternyata mas Surya yang datang dia datang tanpa anak-anak. aku pun langsung memanggil ibu tanpa membukakan pintu terlebih dahulu. aku memberi tahu ibu untuk tidak memberi tahunya kalau aku ada disini.
" assalamualaikum.... assalammualaikum...Bu?" panggil mas Surya pada ibu.
" wa'alaikumsalam....eh Surya baru datang kesini lagi...mana anak-anak ibu rindu mereka. kamu masih mencari Nina?" tanya ibu pada mas Surya. sambil mempersilahkan mas Surya masuk.
" maafkan saya Bu ternyata sampai detik ini saya masih belum menemukan Nina. saya berpikir mungkin Nina sudah pergi ke luar kota bersama laki-laki itu. dan sekarang aku kesini untuk berbicara pada ibu." ucap mas Surya pada ibu.
" iya Sur, bicara saja. ibu siap mendengarkan." jawab ibu.
" maafkan saya mungkin saya bukan suami yang baik,saya juga sudah lalai menjaga anak ibu. maafkan saya ya Bu belum bisa membuat anak ibu bahagia sampai dia memutuskan untuk pergi dari rumah meninggalkan aku dan anak-anak. selama ini aku sudah berusaha untuk mencari tapi sampai detik ini juga saya belum bisa menemukan Nina. hari ini saya telah memutuskan untuk berhenti mencari Nina dan melanjutkan hidupku dengan anak-anak tanpa Nina. aku telah mengiklaskan Nina. mungkin saya juga akan segara mengurus surat perpisahan kami.maafkan saya Bu karna telah memutuskan untuk berpisah dengan anak ibu. aku harap ibu bisa mengerti dengan keputusan ku. mungkin hanya itu yang ingin sampaikan. saya pamit ya Bu.. assalammualaikum.." ucap mas Surya pada ibu.
" ya sudah Sur, kalau memang itu sudah menjadi keputusan kalian ibu tidak bisa apa-apa lagi ibu hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian. atas nama Nina ibu minta maaf karna anak ibu sudah melakukan kesalahan. terimakasih telah menjaga anak ibu selama 15 tahun ini hanya satu pesan ibu jangan abaikan anak- anak kalian meskipun kelak kamu dan Nina sudah memiliki pasangan baru lagi. tidak pernah ada bekas anak. anak tetaplah anak jadi mereka tetap tanggung jawab kalian." ucap ibu pada mas Surya
aku menguping semua obrolan ibu dan mas surya.ternyata mas Surya datang bukan untuk mencariku melainkan untuk mengembalikan ku pada ibu ku. entah apa yang ada di dalam pikiranku ini. bukankah ini yang aku harapkan aku menginginkan bercerai dengan mas Surya tapi kenapa saat mendengar mas Surya akan menceraikan ku aku malah merasa sangat sedih dan patah hati apa mungkin aku masih mencintai mas Surya. tapi aku sudah memilih jalanku. aku harus bisa merelakan ini semua. karna sudah tidak ada lagi harapan untuk memperbaikin semuanya.
tiba-tiba ibu datang menghampiriku disaat aku sedang memikirkan semua ucapan mas Surya.
" nin kamu sudah mendengar semuanya? sekarang kamu sudah puas nin, Surya sekarang akan menceraikan mu? ini yang kamu inginkan Nina? ibu benar-benar kecewa sama kamu." ucap ibu dengan tatapan penuh kecewa padaku.
aku tidak menjawab apa yang ibu katakan. ibu pun berlalu meninggalkan ku.
BAB XVII
keesokan harinya tiba-tiba ada yang datang kerumah ibu dan aku pun langsung memanggil ibu karna saat ini aku belum berani membuka kan pintu takut mas Surya atau anak-anak yang datang karna jujur aku belum siap bertemu dengan mereka, aku belum siap bertemu dengan anak-anak ku aku belum bisa menjawab saat mereka bertanya kenapa aku pergi dari rumah dan meninggalkan Meraka. ibu pun bergegas membukakan pintu ternyata yang datang adalah bekas tetanggaku di komplek perumahan tempat tinggalku dia adalah pa Engkus. dia seorang Amil. dan aku tentu sudah tau maksud dan tujuan dia datang kemari dia pasti disuruh oleh mas Surya untuk mengurus surat perceraian ku dengan nya.
" assalammualaikum... assalammualaikum..." ucap pak Engkus.
" wa'alaikumsalam....silahkan masuk pak maaf bapak ini siapa ya dan ada keperluan apa?" tanya ibu ku sambil mempersilahkan pa Engkus masuk.
" maaf ibu kalo kedatangan saya mengganggu waktu ibu...perkenalkan saya bapak Engkus saya pengurus sekaligus Amil di komplek perumahan pak Surya. apa benar ini dengan rumah orang tua ibu Nina." ucap pak Engkus sambil memperkenalkan diri.
" oh iya betul,,, dan saya ibu nya Nina...tapi maaf pak Nina tidak ada disini..jadi bapak bisa bicara melalui saya saja." jawab ibu ku.
" baik Bu kalo begitu saya langsung bapa intinya saja ya Bu. jadi kemarin pak Surya datang pada saya dia meminta tolong pada saya untuk mengurus surat perceraian dengan ibu Nina..dengan alasan ibu Nina telah pergi dari rumah slama kurang lebih 2 bulan. jadi disini saya ingin meminta persetujuan dari ibu Nina untuk bercerai dengan pak Surya, kalo ibu Nina bersedia untuk bercerai silahkan ibu Nina menandatangani surat ini. karna surat ini tidak bisa di wakilkan jadi saya titipkan kepada ibu untuk diberikan kepada ibu Nina. tolong ibu sampaikan ya Bu nanti 3 hari kemudian saya akan datang lagi kemari untuk mengambil surat yang sudah di tandatangani oleh Bu Nina." ucap pak Engkus menjelaskan pada ibu.
" iya pak saya mengerti,nanti saya sampaikan pada Nina." jawab ibu.
" ya sudah kalo begitu saya langsung pamit saja ya Bu, sekali lagi saya mohon maaf telah mengganggu waktu ibu.saya pamit ya Bu.. assalammualaikum." ucap pak Engkus pada ibu.
" iya silahkan pak... wa'alaikumsalam.." jawab ibu.
kemudian ibu mengantar pak Engkus sampai depan rumah.dan segera bergegas menemui ku. aku yang dari tadi sudah mendengar semua obrolan pak Engkus dengan ibu hanya diam tidak banyak bertanya pada ibu. sejujurnya hati ini sangat sakit saat mendengar mas Surya sudah mengurus surat perceraian kami. entah mengapa perasaan ini muncul saat mas Surya sudah mengajukan perceraian.
" kamu sudah dengar semuanya Nina?" tanya ibu padaku sambil memegang kertas yang diberi oleh pa Engkus.
" iya sudah Bu, mana suratnya biar aku tanda tangan. mungkin lebih cepat lebih baik Bu." jawabku pada ibu dengan perasaan yang hancur. tapi aku berusaha untuk terlihat tegar.
" ini nin,,dia bilang 3 hari lagi dia akan kembali untuk mengambil surat ini..dan mungkin sebentar lagi kalian akan resmi bercerai. sekali lagi ibu tanya apa benar kamu sudah yakin ingin berpisah dengan Surya? kalo kamu masih ragu jangan paksakan nin biar ibu yang bicara sama Surya untuk menarik membatalkan perceraian ini. ibu tidak ingin kamu menyesal kemudian hari nin..karna penyesalan itu tidak akan datang di awal melainkan di akhir. ibu sayang pada mu Nina ibu tidak ingin kamu menyesal dan tersiksa karna ulahmu sendiri nin." ucap ibu padaku
sejujurnya aku memang menyesal dan ingin mengembalikan semuanya seperti semula. aku ingin kembali seperti dulu. tapi aku tidak mungkin kalo harus mengatakan sejujurnya karna aku malu. jadi aku berusaha untuk terlihat tegar berpura-pura biasa saja walaupun hati ini sangat hancur!!!
" semua sudah terjadi Bu,,, dan aku sudah bulat dengan keputusanku. apapun yang akan terjadi kedepannya aku siap Bu." ucapku meyakinkan ibu.
akhirnya aku pun menandatangani surat cerai itu. dan memberikan kembali surat itu pada ibu.
" semoga dilembutkan hatimu nin, semoga Allah selalu melindungi mu dan memberimu kebahagiaan." ucap ibu dengan lirih.
ibu pun berlalu meninggalkan ku. aku langsung mengunci pintu kamarku dan menangis sejadi-jadinya.
tiga hari kemudian pa Engkus datang kembali untuk mengambil surat cerai yang sudah aku tanda tangani. ibu pun langsung memberikan pada pa Engkus. akhirnya sebentar lagi aku akan resmi bercerai dengan mas Surya. aku pun langsung menghubungi mas Hendro.
Tut...Tut...Tut....telpon pun langsung di angkat oleh mas Hendro.
" hallo mas? kamu sedang sibuk?" tanyaku pada mas Hendro.
" hallo Nina...tidak ko..maaf saya jarang menghubungi mu sekarang saya sedang sibuk mengurus proyek. kalo proyek ini beres aku akan segera menjemputmu dan kita akan tinggal bersama." ucap mas Surya padaku.
" iya mas semoga urusanmu segera selesai..mas aku ingin bicara padamu. mas Surya sudah menceraikan ku dia sudah mengurus semua nya dan aku sudah menandatangani suratnya mungkin sebentar lagi kami akan bercerai." ucapku pada mas Hendro.
" serius nin??? ya itu kan lebih baik kita jadi bisa cepat bersama,aku pun sudah mendaftarkan perceraian ku dengan istriku dan mungkin sebentar lagi akan ada panggilan sidang pertama.tapi aku tidak akan hadir." ucap mas Hendro padaku.
" iya mas,,semoga semuanya cepat selesai ya..." ucapku pada mas Hendro.
" kamu kenapa nin ko kaya yang tidak bersemangat gitu?apa kamu menyesal telah? apa kamu tidak mau bercerai dengan Surya? " tanya mas Hendro.
" tidak ko mas aku senang akhirnya aku bisa bercerai dengan mas Surya dan bisa segera hidup bersama dengan mu mas. semoga masalah kita cepat selesai ya mas."
" iya nin,,,,aku juga berharap seperti itu. tapi nin ada hal yang perlu aku bicarakan padamu. " ucap mas Hendro.
" apa itu mas? bicara saja." jawabku.
" nin mungkin nanti saat aku pergi dari rumah aku tidak akan membawa apa-apa nin. mungkin mobil yang sekarang aku pakai ini akan aku berikan pada anakku untuk biaya kuliah dia, dan rumah juga itu milik mertuaku. jadi mungkin aku akan pergi tanpa membawa apa-apa. apa kamu tidak keberatan nin hidup dengan ku mulai dari nol lagi???" ucap mas Hendro padaku.
jujur aku sangat syok mendengar semua ini,karna aku pikir mas Hendro itu punya segala nya melebihi yang di miliki mas surya.karna selama berhubungan dengan ku dia selalu royal dan memberi apapun yang aku minta sehingga aku terbuai dan aku gelap mata. hingga aku rela kehilangan segalanya. tapi aku harus bagaimana lagi nasi sudah menjadi bubur semua telah terjadi dan tidak mungkin bisa di kembalikan seperti semula.
" hallo Nina? kamu masih disitu?" tanya mas Hendro.
suara mas Hendro membuatku kaget dan membuyarkan semua lamunan ku.
" hallo iyaa mas masih ko.." jawab ku.
" kenapa kamu diam? kamu nyesesal nin telah memilihku? karna sekarang kamu tau keadaanku seperti ini?" tanya mas Hendro padaku.
" eummmm...enggak ko mas...aku tadi sedang mendengarkan mu bukan sedang melamun. aku akan tetap bersamamu mas apapun yang terjadi." ucapku meyakinkan mas hendro.padahal aku sendiri sekarang mulai tidak yakin dengan perasaanku ini.
" ya syukurlah kalo begitu...maaf nin aku memberikan mobilku untuk anakku karna aku ini hanya kerja wiraswasta jadi tidak selalu mendapatkan pemasukan yang besar.kalo sedang ada proyek mungkin aku akan mendapatkan pemasukan yang besar tapi kalo sedang kosong proyek aku pun tidak akan ada pemasukan. makanya aku berikan mobilku untuk di jual dan uangnya untuk biaya dia kuliah biar aku tidak dikejar Maslah biaya dan nafkah anakku nin. semoga kami bisa mengerti ya nin." ucap mas Hendro padaku.
" iya mas aku mengerti. ya sudah mas kalo gitu aku mau istirahat dulu ya mas." ucapku pada mas Surya.
" ya sudah,,terimakasih ya nin kamu sudah mau mengerti kondisi ku. semoga kamu akan selalu seperti ini." ucap mas Hendro.
" iya mas... assalammualaikum.." ucapku
" wa'alaikumsalam..." jawab mas Hendro sambil mematikan telpon
aku benar-benar dilema setelah mendengar penjelasan dari mas Hendro,,,aku jadi semakin ragu dengan mas Hendro apa dia bisa memenuhi kebutuhan ku sedangkan akan pergi bersamaku tanpa membawa apapun dan akan memulai lagi dari nol. aku benar-benar menyesal telah memilih mas Hendro yang aku pikir memiliki segalanya. tapi nasi sudah menjadi bubur aku tidak mungkin memutuskan mas Hendro karna hanya karna dia tidak memiliki apa-apa. mungkin ini hukuman karna aku sudah meninggalkan suami dan anak-anakku hanya karna tergoda oleh pria lain. aku pun hanya bisa meratapi hidupku sekarang setelah benar-benar bercerai dengan mas Surya. karna mas Surya tidak akan memberiku harta Gono gini dengan alasan aku yang keluar dari rumah. bahkan aku tidak diberi seperpun. aku tau dia tidak memberiku sepeserpun karna dia takut harta nya aku pakai dengan mas Hendro.
( PROV Natasya )
tidak terasa sudah 3 bulan ibuku pergi dari rumah. dan aku tidak menyangka ternyata Aya akan menceraikan ibuku. bahkan ayah tidak akan memberi sepeserpun harta pada ibuku. ayah memang belum memberitahuku kalau ayah akan menceraikan ibu tapi aku mendengar obrolan ayah dengan pak Engkus tetanggaku yang bekerja di pengadilan agama.
aku benar-benar sedih dan sangat terpukul mendengar bahwa ayah akan menceraikan ibu karna itu artinya aku akan terpisah selama-lamanya bahkan aku tidak tau keberadaan ibu sekarang. karna sampai saat ini ibu tidak memberi kabar. ibu benar-benar menghilang bagai ditelan bumi. sebenarnya aku ingin sekali mengunjungi rumah nenek dan menanyakan ibu..aku juga rindu pada nenek. tapi aku takut kalo ayah marah,karna semenjak ayah tidak bisa menemukan ibu ayah seperti benar-benar menunjukan kebencian pada ibu bahkan ayah telah berterus terang bahwa Ayah tidak mengizinkan aku dan Gilang untuk bertemu dengan nenek ataupun dengan keluarga ibu yang lainnya. saat aku sedang termenung di kamar tiba-tiba ayah mengetuk pintu kamarku dan kemudian masuk.
" Nat...Natasya ..boleh ayah masuk?" tanya ayahku padaku.
" iya boleh ayah, masuk saja." jawab ku pada ayah.
" Ayah ingin bicara, apa kamu sedang santai?" tanya ayah lagi.
" iya ayah bicara saja, aku sudah selesai mengerjakan pr." jawabku pada ayah.
" sebelumnya ayah minta maaf ya nak..karna ayah tidak bisa menepati janji ayah untuk membawa ibumu kembali berkumpul dengan kita. tapi kamu harus tau bahwa ayah sudah melakukan segala cara untuk mencari ibumu. tapi sampai saat ini Ayah tidak menemukan ibumu. sampai pada akhirnya ayah benar-benar putus asa. Ayah menyerah nak untuk mencari ibumu dan ayah memutuskan untuk mengakhiri rumah tangga kami. maafkan ayah ya nak mungkin Aya terlalu egois tapi Ayah hanya manusia biasa. semoga kamu bisa mengerti dan menerima kenyataan ini karna Ayah mengurus surat perceraian ayah dengan ibumu melalui pa Engkus dan mungkin sebentar lagi Ayah dan ibumu akan resmi bercerai." ucap ayah padaku.
aku hanya diam tidak bergeming tidak tau harus menjawab apa,,saat ini aku hanya ingin menangis sekencang-kencangnya.
" Nat kamu nangis? maafkan ayah nak. tapi Ayah janji ayah akan mengurus mu dan adikmu dengan sungguh-sungguh. kamu juga jangan takut kekurangan kasih sayang dari ayah karna sampai kapanpun kalian adalah darah daging ayah. jadi tidak akan mungkin ayah mengabaikan kalian." ucap ayah meyakinkan ku.
" iya ayah..aku akan mencoba untuk menerima kenyataan ini. tapi aku hanya takut kalau ayah berubah tidak akan menyayangiku dan Gilang. apalagi kalau nanti ayah menikah lagi aku takut ayah akan melupakan kami dan fokus pada keluarga baru ayah. aku taku ayah..." ucapku pada ayah dengan tangisan.
" tidak akan seperti itu nak, ayah janji kalaupun suatu saat ayah menikah lagi ayah pastikan ayah akan mencarikan ibu baru yang bisa menyayangi anak-anak ayah seperti menyayangi anak kandungnya sendiri. kamu jangan takut ya nak. kamu anak ayah yang kuat." ucap ayah padaku.
" memang Ayah akan langsung menikah lagi? atau ayah sudah punya calon ibu baru?" tanyaku pada ayah.
" tidak nak...ayah belum terpikir untuk menikah lagi. saat ini ayah hanya ingin fokus mengurus kalian. tapi ayah minta mulai saat ini kamu ataupun Gilang jangan pernah lagi berkunjung kerumah nenek kalian. karna Ayah tidak mau Aya tidak suka." ucap ayahku padaku.
" tapi ayah kenapa kami tidak boleh bertemu dengan nenek? bukankah nenek tidak bersalah? yang salahkan ibu yah?!" ucapku pada ayah dengan nada yang sangat kecewa.
" tidak nak, ayah tidak mau kalian pergi kesana karena ayah tidak mau nanti kalian di hasut dan di nasehati yang tidak baik oleh mereka agar kalian tidak patuh lagi pada ayah!" seru ayah dengan nada meninggi.
" tapi mana bisa begitu ayah???? itu tidak adil!!! aku kecewa pada ayah!!" jawabku pada ayah sambil menangis.
" kalau kata ayah tidak berarti tidak Natasya!!!jangan buat ayah marah padamu!!!!"ucap ayah dengan suara meninggi kemudian ayahpun berlalu meninggalkan ku.
BAB XVIII
sudah 3 hari aku tidak bicara pada ayah, karna aku masih kesal pada ayah. ayah sangat telaten mengurusku dan adikku Gilang. dari mulai makan, cuci baju, menyetrika baju kami,sampai mengajari kami saat kami mengerjakan PR. tapi tetap hati ini sangat kesal pada ayah karna Ayah Sudah melarang kami menemui nenek.
seperti biasa aku berangkat sekolah di antar oleh ayah. saat aku sampai di sekolah tiba-tiba Ada ayu teman sekolah ku menghampiriku. aku sangat kaget karna kami beda kelas dan tidak akrab dia adalah tetangga nenekku.
" Nat...Natasya..tunggu" seru ayu padaku.
akupun menghentikan langkahku dan dia langsung menghampiriku.
" eh ayu ada apa yu?" tanyaku pada ayu.
" ini Nat aku dapat titipan dari ibumu. tapi ibumu bilang jangan bilang ayahmu kalau ibumu menitipkan ini untukmu." ucap ayu padaku.
aku benar-benar sangat terkejut serasa mimpi ibu menitipkan surat untuk ku. karna sudah hampir 3 bulan ibu benar-benar menghilang tanpa kabar. tapi hari ini benar-benar seperti mimpi aku mendapatkan surat dari ibu. meskipun hanya lewat surat tapi aku sangat senang karna akhirnya ibu mengabariku. aku benar-benar merasa ibu telah hadir kembali di kehidupanku.
" oh iya yu,,,makasih banyak ya..." ucapku pada ayu.
" iya Nat sama-sama...aku duluan ya Nat." ucap ayu sambil berlalu pergi.
aku pun sangat tidak sabar untuk membuka dan membaca isi surat dari ibu ku. rasa nya jantung ini sangat berdebar. aku benar-benar merindukan ibu. tak terasa air matakuenetes di pipi karna aku benar-benar sangat bahagia. aku pun sudah tidak sabar membuka surat dari ibu.
( ISI SURAT DARI IBU )
perlahan aku membuka amplop saat aku buka ternyata ada uang dan selembar kertas.kemudian aku pun segera membaca nya.
UNTUK ANAK-ANAKKU NATASYA dan GILANG.
" anak-anak ibu tersayang...dengan surat ini ibu ingin menyampaikan permintaan maaf ibu ..ibu minta maaf yang sedalam-dalamnya karna ibu telah pergi meninggalkan kalian. ibu tau kalian pasti marah, kalian pasti kesal, kalian pasti kecewa pada ibu mu ini. kalian boleh marah, kesal, dan kecewa pada ibu tapi ibu mohon jangan pernah kalian membenci ibu karna ibu tidak sanggup kalo sampai di benci oleh anak-anak ibu yang paling ibu cintai dan sayangi. perlu kalian tau nak, ibu di sini tidak pernah sedetikpun melupakan kalian. setiap detik ibu selalu mengingat kalian ibu rindu memeluk dan mencium kalian. maafkan keegoisan ibu, maafkan atas segala kesalahan ibu kepada kalian. meskipun ibu saat ini tidak bersama kalian tapi disini ibu selalu merindukan kalian kalian selalu ada di hati ibu sampai kapanpun. ibu janji suatu saat nanti kita pasti akan bersama kembali seperti dulu.ibu akan menjemput kalian. semoga kalian sehat-sehat selalu ya nak. semoga kalian selalu bahagia.jaga diri kalian ibu selalu merindukanmu. ini ada uang untuk kalian berdua.maafkan ibu ya nak ibu belum bisa menjadi ibu yang baik untuk kalian. ibu tau mungkin ayah kalian akan melarang kalian untuk bertemu dengan ibu.karna ibu paham betul watak ayahmu. tapi kalian jangan sedih ibu akan selalu menitipkan surat pada ayu temanmu. untuk mengobati rasa rindu kalian pada ibu. ibu sayang kalian".
tak terasa air mataku terjatuh membasahi pipiku.aku benar-benar tidak bisa menahan air mata ini. ingin rasanya aku menangis sejadi-jadinya tapi aku malu karna aku sedang berada di kelas. saat aku sedang termenung sendiri tiba-tiba Nia sahabatku datang membuat mengagetkan ku.
" hei Nat....pagi-pagi sudah bengong saja!!!" seru Nia padaku.
" ihhh..apaan sih kamu ngagetin aja deh". jawab aku dengan kesal.
" ya sorry habis kamu di panggil-panggil diem aja.ternyata sedang begong!!!ehh..kamu nangis ya Nat?" tanya Nia dengan heran.
" nggk ko,,,cuma kelilipan." jawab ku pada Nia.
" bohong banget kelilipan tapi pipi sama bajumu sampai basah gitu!!!kamu pasti abis nangis ya!! kenapa sih Nat pagi-pagi sudah nangis?? di gangguin sama anak cowok?? apa abis di marahin ayahmu?" tanya Nia.
" so tau banget..kamu salah!!! aku emang nangis tapi bukan karna itu." jawabku pada Nia.
" terus apa dong? ayo cerita Nat.." ucap Nia dengan penasaran.
" nih baca.." ucap ku sambil memberikan surat dari ibuku pada Nia.
" apa ini? ko seperti surat sih?? kamu dapat surat cinta?? hehe.." ucap Nia sambil terkekeh.
" ih kamu itu lama-lama makin nyebelin y! baca aja dulu jangan main tebak-tebak aja." ucapku dengan kesal.
kemudian Nia pun membaca surat dari ibu..awalnya dia biasa saja tapi tak lama matanya pun mulai berembun. mungkin dia terharu membaca surat dari ibu ku. Nia pun mbaca surat dari ibuku sampai selesai.
" ya ampun Nat sumpah aku sangat terharu baca surat dari ibumu. sedih banget sumpah..kamu yang sabar ya Nat...Allah pasti akan segera mempertemukan mu dengan ibu mu. kamu jangan sedih pokoknya apapun yang terjadi masih ada aku sahabatmu yang akan selalu menjadi pendengar yang baik untukmu." ucap Nia padaku.
aku sangat terharu dengan ucapan Nia...dia memang benar-benar sahabat sejati..dia selalu ada saat aku membutuhkannya..dia selalu menjadi pendengar yang baik saat aku sedang membutuhkan teman curhat. pokoknya aku sangat beruntung mempunyai sahabat seperti dia.
" iya makasih ya Nia kamu udah jadi sahabat terbaikku." ucapku pada Nia.
kemudian kami pun saling berpelukan.
hari ini jadwal kosong semua guru sedang rapat jadi tidak ada mata pelajaran. aku pun hanya termenung mengingat ibuku. aku benar-benar rindu ibuku. tak terasa waktu pulang pun sudah tiba. rasa nya aku malas untuk pulang. akhirnya aku pun pulang kerumah kakak dari ayahku. rumahnya tidak jauh dari rumahku.
" assalammualaikum.... assalammualaikum..wa? " ucapku pada uwa
" wa'alaikumsalam...eh ada Natasya..sini masuk? tumben kerumah uwa masih pake seragam? emang belum pulang kerumah?" tanya uwa padaku.
" belum wa..tadi pulang sekolah langsung kesini..males pulang kerumah. ya sudah tinggal disini aja sama uwa. kasian kamu nak." ucap uwa sambil mengelus rambutku.
" gilang ada kesini gak wa? nggk ada Nat, Gilang mah jarang kesini. padahal Deket." jawab uwa.
" kamu sudah makan Nat? kebetulan uwa baru selesai masak ayo kita makan dulu." ajak uwa padaku.
" belum wa, kebetulan aku lagi laper..hehe." jawabku.
" nih uwa ambilkan nasi dan lauknya,,makan yang banyak ya." ucap uwa padaku
" iya wa..."jawabku.
" kalo dirumah makannya gimana Nat? ayah yang masak? apa beli masakan yang sudah matang?" tanya uwa padaku.
" beli terus wa...kadang kalo ayah pulang telat suka beli di warung Bu Anwar, aku rindu masakan ibu wa." jawabku dengan lirih.
" udah jangan sedih...sok mau di masakin apa atuh sama uwa biar ngobatin rasa rindu kamu sama ibu mu." ucap uwa padaku.
" aku mau dimasakin ayam kecap wa..." ucapku pada uwa.
" ya sudah besok uwa masakin ya. sekarang sana kamu cari Gilang dulu suruh makan dia.sekalian kamu salin ganti baju seragam dulu. ucap uwa padaku.
BAB XlX
aku pun pulang kerumah untuk mengambil salin dan mencari Gilang. ternyata rumah masih di kunci itu artinya Ayah belum pulang dan Gilang tidak ada dirumah. aku ingin memberi tahu pada Gilang kalo ada surat dari ibu untuk kami. aku pun lekas mengganti bajuku kemudian pergi mencari Gilang. aku pergi kerumah Ivan sahabat Gilang,karna biasanya Gilang selalu bermain di rumah Ivan.
" assalammualaikum..... assalammualaikum...." ucapku.
" eh ada Natasya...cari Gilang ya?" ucap ibu Ivan.
" iya Bu apa Gilang ada disini?" tanyaku pada ibu Ivan.
" ada Nat,sebentar ya ibu panggilkan.." ucap ibu Ivan.
aku pun menunggu Gilang di luar. aku sudah tidak sabar ingin memberikan surat dari ibu.
" ada apa kak? tumben mencariku." ucap Gilang.
" ayo Lang pulang dulu, ada yang mau kakak tunjukin sama kamu." ucapku pada Gilang.
" apaan kak? bikin penasaran saja." jawab Gilang.
" ya sudah makanya ayo kita pulang dulu kerumah." ucapku pada Gilang.
" ya sudah sebentar aku pamitan dulu sama Ivan dan ibunya." jawab Gilang.
akupun menunggu di luar. setelah berpamitan Gilang langsung menghampiriku. dan kami pun langsung pulang kerumah.
" ayo kak apa yang ingin kakak tunjukan padaku?" ucap Gilang.
" ini ambil dan kamu baca sampai selesai." ucapku pada Gilang sambil memberikan surat itu pada Gilang.
" kertas apaan ini kak? ko malah ngasih aku kertas dan nyuruh aku baca segala.males aku kak, kakak aja deh yang baca biar aku mendengarkan saja." ucap Gilang padaku
" ayo Gilang baca dulu,setelah baca kamu pasti senang." ucapku sambil tersenyum pada Gilang.
" ya sudahlah aku baca." jawab Gilang sambil membuka surat itu.
" serius ini kak??? Dari mana kakak dapat surat dari ibu ini?? ibu yang kasih? kakak ketemu ibu dimana? ayo kak ajak aku ketemu ibu, aku rindu sekali pada ibu." ucap Gilang padaku.
" syuutttt....jangan berisik dek,, nanti kedengaran ayah bahaya. kakak belum ketemu ibu, surat itu ibu titipkan pada ayu teman sekolah kakak yang tetangga nenek itu . kamu tau kan? dan ibu juga menitipkan uang ini untuk kita...nanti kita bagi dua. tapi kamu janji jangan bilang ayah. sekarang kamu baca dulu surat nya." ucapku pada Gilang.
" iyaa kak,,aku tau kalo Ayah tau dia pasti akan sangat marah karna kita sekarang udah gak dibolehin ketemu dengan ibu lagi.ayah memang keras kepala." ucap Gilang padaku.
" udah dek jangan ngedumel aja..semuanya sudah di atur oleh Allah..sekarang kita hanya bisa menerima dan jalani saja. insya Allah Allah akan selalu kasih kita jalan." ucapku pada Gilang.
" Iya kak." jawab Gilang.
Gilang pun melanjutkan membaca surat dari ibu hingga selesai. dan matanya pun mulai berembun. tak terasa kini air matanya jatuh membasahi pipinya.
" kamu kenapa Lang? kamu nangis? " tanya ku pada Gilang.
" aku sedih kak. aku ingat ibu, ingin sekali rasanya bertemu dengan ibu. tapi apa itu masih mungkin?" tanya Gilang padaku.
" kamu harus yakin dek,kalo kita pasti akan bertemu dengan ibu dan suatu saat kita akan sama-sama lagi sama ibu." Jawabku pada Gilang.
" ya tapi gimana caranya kak?? dan kapan waktunya???" tanya Gilang lagi.
__ADS_1
" Allah yang akan kasih cara dan jalannya. kita hanya bisa berdoa dan bersabar dek. Kakak juga sama sedih tapi kakak berusaha untuk kuat. karna hidup kita masih harus berlanjut." ucapku pada Gilang.