Periku

Periku
Fila Dellarel - Ditinggal Nenek


__ADS_3

Setiap ada pertemuan pasti akan ada perpisahan


...~Fila Dellarel...


Di sebuah pelosok pedesaan, di rumah bercat hijau muda yang menyamakan makhluk hidup bernama pohon. Dimana aku tinggal. Dengan dikelilingi bunga yang kutanam dan bunga liar yang tak sengaja tumbuh berkat udara dan musim yang mendukung pertumbuhan mereka.


Sekarang aku sedang memandang mereka. Di balik benda transparan yang biasa disebut kaca atau jendela. Sampai suara renta itu membuyarkan lamunanku.


"Fila."


"Iya nek!" aku sedikit berteriak. Karena jarak dari taman belakang dan kamar nenek lumayan jauh.


Mari berkunjung ke rumahku. Kalian tidak akan yakin jika rumahku sangat membingungkan. Akan kubuat kalian berselancar. Bukan berarti aksi. Tapi otak kalian yang kubuat berfikir.


Aku tidak akan terlihat jika kalian berada di depan rumah. Bagaimana bisa, magic kah? Hey, aku bukan pesulap. Begini, jika dilihat dari depan rumahku tampak memiliki dua lantai. Lain halnya jika dilihat dari belakang. Rumahku tampak memiliki tiga lantai sekaligus. Seperti ruang bawah tanah terlihat. Sebenarnya tidak. Hanya saja halaman depan dataran tinggi, halaman belakang dataran rendah. Biarkan kalian berfikir . Sekarang aku yang harus berfikir. Apa ya?


Oh iya aku lupa!


"Cu!"


Tuh kan. "Iya nek!"


"Lama banget kamu. Nenek sampe lumutan di sini," katanya


"Hehe maaf nek." Entah kenapa tanganku refleks menggaruk tengkuk yang sama sekali tidak gatal.


Lalu aku duduk dan bersiap untuk menyuapi nenek negaraku untuk makan. Setelah pagi tadi nenekku menolak untuk makan. Tapi, setelah matahari sudah di atas kepala cacing di perutnya mungkin sudah keroncongan.


"Jangan bubur terus, cu," udah abis baru ngomong.


"Mau gimana lagi, orang nenek nggak punya gigi. Gimana mau ngunyah," nah lo kok keceplosan.


Ampun nek!


"Ah, sakit nek," kupingku berdenyut-denyut.


Ampun dah gak lagi-lagi.


"Rasain. Siapa suruh ngatain nenek ompong. Orang gigi nenek masih penuh gini di bilang ompong," aku mendengar nenek bergerutu. Ya kupingku masih waraslah.


"Nenek!" Aku terbangun dari alam tak sadarku. Dan mendapatiku pada lantai satu.

__ADS_1


Ternyata itu hanya mimpi. Pedih sekali ditinggalkan yang disayang. Air mata itu lolos lagi. Huh.


Aku segera membereskan barang-barang peninggalan nenek. Seperti buku diary, lukisan dan semua barang yang berada di ruang kenangan ini. Dan membawa semuanya ke kamarku.


Sangat sulit memang. Tapi aku harus bisa melupakan luka itu untuk sejenak.


Pelan tapi pasti aku mulai memejamkan mataku. Hanya terpejam. Aku mungkinberhalusinasi. Walaupun mataku terpejam tapi aku masih bisa melihat seberkas cahaya dari balik kelopak mataku. Sudahlah halusinasi dapat memperpanjang masalah.


****


Matahari telah terbit. Menembus masuk melewati tirai jendela yang berenda. Terlihat sepenuhnya ketika aku menyibak tirai itu. Dan menampakkan cahaya kuning menyilaukan dari arah timur. Aku menyipit mendapat silau dari matahari itu. Bergegas merapikan tempat tidur dan mejalankan aktivitas seperti biasanya.


Setelah tiga tahun berlalu. Tak dapat melenyapkan rasa sepi yang bergelimang di rumah ini. Bagaimana bisa?


Di sini, tempat duduk nenek. Di sampingku.


"Eh itu ayam nenek, kenapa kamu ambil? " tanya nenek.


"Nenek kan masih sakit, jadi nggak boleh makan ayam, " elakku. Sembari menaruh ayam itu di piringku.


"Sejak kapan orang sakit nggak boleh makan ayam? " Sejak kapan ya? Aku juga nggak tau.


"Sejak tadi, " jawabku enteng. Sembari mau memakan ayam itu.


"Nenek!"


" Kenapa? Nyam... nyam... nyam... enak tau. Mau?" Aku mengangguk seolah doyan sekali dengan ayam itu.


"Beli. " Aku kembali merengut mendengar ejekan nenek.


Tak terasa aku menarik bibirku dan menampilkan senyuman di sana. Sedetik kemudian bibirku kendur. Dan menyisakan tangisan diam. Segera aku bangkit. Dan menarik tanganku untuk menghapus jejak kepedihan yang bertengger di pipiku.


****


"Fil," panggil Chindy teman sekelasku.


"Hem?"


"Kamu kenapa sih, ada masalah? Cerita sama aku. " Tangan itu terulur untuk mengusap bahuku. Siapa tau bisa menyapu masalah yang kuhadapi.


Aku menatap netranya yang sedang menatapku teduh. Sangat teduh. Aku tersenyum membalas senyumannya.

__ADS_1


"Aku nggakpapa kok." Aku kembali tersenyum.


"Yaudah kalo nggak ada apa-apa. Tapi, kalo ada masalah apapun ngomong. Jangan diem-diem aja. Nggak enak tau didiemin," cicitnya sembari merengut seolah sedang marah.


"Hem, iya. " Setidaknya rasa sakitku memudar setelah melihat ketulusannya dalam bersahabat.


"Oh ya. Abis ini kamu mau lanjut kuliah apa langsung kerja Fil? " tanyanya Meneguk minuman botol berperisa strawbery itu.


"Mungkin kuliah dulu. Kan aku udah dapet beasiswa. Mubazir kan kalo gak dipake," tuturku.


Dia hanya manggut-manggut mendengar penjelasanku. Setelahnya, dia sepertinya tidak nyaman. Aku dapat melihat seringai tipis dari bibirnya. Oh mungkin aku salah mengartikan. Dia hanya tersenyum.


"Fil, aku mau ke toilet dulu ya, " ucap Chindy. Aku hanya mengangguk sebagai jawaban.


Setelah perginya Chindy salah satu teman sekelasku menghampiriku.


"Fil, kamu jangan deketin Chindy lagi. Kamu tuh nggak pantes temenan sama dia," ucapnya sembari memelankan suara. Terdengar sakit di telingaku.


" Kenapa? Aku sadar kok aku nggak pantes. Aku nggak secantik dia. Dia jauh lebih cantik dari aku. Aku sadar kok. Sadar banget malah. " Entah kenapa emosiku tak terkontrol. Aku masih mempunyai masalah. Kenapa malah mendapat cacian darinya?


"Bukan gitu Fil. Tapi, dia itu..." Aku masih menunggu celaan dia. Tapi entah mengapa dia membisu dan berdiri lalu pergi dari hadapanku. Dia mau bicara apa? Aneh.


"Fil." Aku mendongak setelah Chindy Menepuk bahuku lalu duduk di depanku.


"Eh?"


"Lho, kamu kenapa? "Aku melihat dia memasang wajah bingung. Mungkin karena aku kembali sedih.


"Gakpapa kok. " Aku berusaha menutupi semuanya. Tapi tetap saja hatiku tidak akan tenang jika berbohong kepadanya. Mengingat dia sudah menjadi sahabat yang baik. Dan berusaha membuatku tersenyum.


Aku memegang lengannya dan menghentikan aktivitasnya bermain benda berbentuk kotak pipih. Gadget. Terlihat dia menatapku dan menungguku bicara.


"Chin, emang bener ya aku itu nggak pantes temenan sama kamu? " tanyaku hati-hati.


"Hah, kata siapa? " Mungkin dia sering sekali tersenyum sekarang.


"Fil, kita itu sahabat. Gak ada kata nggak pantes dari hubungan persahabatan kita. Emang kamu mau sahabatan sama aku karena aku cantik? Iya? Gak kan? Kita jadi sahabat kan karna ada rasa sayang." Aku hanya menghela mendengar penuturan Chindy. "Kamu kan sahabat aku. Seharusnya kamu dengerin aku bukan dengerin orang lain. " Aku tersenyum melihat Chindy merengut.


"Ya udah ini buat kamu." Chindy melempar balon yang berisi air padaku. Oke ini kan hari kelulusanku kenapa aku harus sedih.


"Awas ya kamu." Sekarang aku dan Chindy lempar-melempar balon air. Entahlah aku jangan egois dengan memikirkan lukaku terus-menerus. Ini saatnya.

__ADS_1


"Kyaaaaa!"


Bersambung...


__ADS_2