
...Pertemanan tidak memandang dari dunia mana dia berasal....
...~Fila Dellarel...
Hari ini adalah hari dimana Fila harus ke kota. Menjemput sang cita-cita. Setelah bertemunya Fila dengan peri, yang Fila pikir itu hanya mimpi. Senyumnya tampak merekah.
Dia sedang memasukkan barang-barangnya ke tas besar miliknya. Lalu beralih menatap foto neneknya. Senyumnya masih tak luntur. Lalu memasukkan kembali ke tasnya.
Sekarang aku harus bisa ninggalin rumah ini. Rumah yang membangun kenangan dengan nenek. Rumah yang setiap sudutnya memiliki keunikan tersendiri. Senyum itu tak henti-hentinya menghiasi wajah Fila. Senyum kegetiran.
Fila melangkah keluar. Lalu menguncinya.
Bunga, kamu gak bakal dirawat sama aku lagi. Maaf ya.
****
Menikmati musik adalah jalan utamanya untuk menghalau rasa bosan. Duduk di samping jendela bus membuatnya nyaman untuk bersandar. Dan menikmati lagu favoritnya dengan menggunakan earphone yang setia bertengger di telinganya.
Lima jam menempuh perjalanan. Fila keluar membawa tas jinjingnya. Agak asing dengan udara kota. Biasanya hanya rasa sepi yang menggelepar. Sekarang banyak sekali lalu lalang kendaraan.
Jika kalian tanya Chindy ada dimana. Dia sudah berada di kota. Dua hari sebelum keberangkatan Fila ke kota. Tentu saja, dia telah mengabari Fila.
****
Setelah beberapa menit ia berkeliling. Akhirnya ia menemukan kostan yang cocok dengan budgetnya. Walaupun ruangannya hanya petak dan beberapa alat-alat untuk memasak, tidur dan beberapa kegiatan lainnya. Fila merebahkan tubuhnya setelah meletakkan barang-barangnya ke tempat yang seharusnya.
Matanya mulai terpejam dan terlelap. Ada cahaya apa Fila? Dia mulai mengerjap dan mulai membuka matanya.
"Peri, kamu dateng lagi." Kang halu mulai lagi. Entah kenapa akhir-akhir ini dia sering tersenyum.
"Fila, kamu mimpi gak?" tanya peri itu. Aneh.
"Mimpilah. Kamu kan udah tau."
"Kalo gak mimpi gimana?" Sungguh Fila benar-benar tidak curiga.
"Gak mungkin." Fila melambaikan tangan tanda tak percaya.
"Fil, tapi kamu bener-bener gak mimpi. Ini kenyataan. Frustasi memang.
'tok tok tok.'
"Bentar." Fila berjalan ke arah pintu dan membukanya.
Kedua wanita itu saling melempar senyum tanda sapa.
"Maaf nak, apa ibu mengganggu istirahatmu?" tanya ibu kost itu sopan.
"Oh, gak kok bu. Gak ganggu. Lagian Fila udah selesai istirahat kok." Jawab Fila ramah yang masih belum sadar apa yang sedang terjadi.
__ADS_1
"Oh, iya. Bagus deh kalo kayak gitu. Emm... ibu cuma mau ngasih tau kalo misalkan malem, lampunya jangan dimatiin ya," titah ibu itu. Matanya melirik-lirik seolah sedang was-was.
"Lho, kenapa bu? Bukannya nanti bakal nambahin tagihan listrik ya?" Fila mengerutkan kening menampakkan kebingungan.
"Yah, iya sih. Cuman bahaya aja kalo dimatiin. Nanti bakal ada sesuatu yang terjadi." Fila menajamkan pendengarannya ketika ibu kost itu melirih tajam pada akhir kalimat.
Entah apa yang akan dikatakan ibu kost itu. Tapi sugestinya sudah berhasil membuat bulu kuduk Fila meregang.
"Oke. Ibu permisi dulu. Jangan lupa untuk gak matiin lampunya pas malem." Lagi-lagi.
Fila lalu memasuki kostnya. Dan mulai menaiki kasurnya. Keberadaan peri itu pun sudah tidak ada.
"Ini kan cuma mimpi. Kenapa bisa kayak bener-bener nyata?"
"Awww!" Satu teriakan itu menyadarkan Fila. Teriakannya sendiri. Setelah kegiatan mencubit pipinya. Alhasil dia meringkuk di bawah selimut. Sampai kepalanya pun ikut terselimuti.
"Fila." Deg. Jantung Fila berdegup keras. Gubrak! Gubrak! Gubrak! Jeng, jeng, jeng.
Jangan deket-deket plis. Jangan deket-deket.
Jantung Fila berpacu seperti sedang menaiki 'roller coaster'. Di satu sisi dia ingin pingsan untuk mengakhiri semuanya. Di sisi lain dia juga penasaran. Iya, kalo itu hantu, tapi kalo penjahat. Fila harus menanggung resikonya hari ini. Dia harus berani.
Oke. Dia harus bersiap-siap. Iya, walaupun dengan menutup mata. Dan hap! Ini seperti kelereng berambut yang melayang. Rasa penasarannya mengalahkan rasa takutnya. Dia mulai membuka. Satu mata. Dua mata. Dan...
"Aaaaaaaaaaaaaaa...!" Ternyata peri juga bisa usil ya. Lusi lalu memunculkan semua tubuhnya.
****
Ayo bangun Fila. Ini udah jam berapa? Tunggu dulu, bagaimana dia bisa bangun. Sedangkan dia tidak pernah tidur. Lihatlah, dia seperti panda. Pipi gembul dan mata hitam. Sama persis. Sebenarnya lebih ke imut sih.
Dengan gerakan terpaksa dia mengambil handuk dan peralatan untuk mandi.
****
Fila keluar ketika Fila sudah selesai bersiap-siap.
"Nak Fila, bentar-bentar nak." Panggil ibu kost itu yang menghentikan Fila.
"Iya, kenapa bu?"
"Ibu cuma mau ngasih tau. Kalo malem lampunya jangan dimatiin. Soalnya..."
"Kan tadi malem ibu udah kasih tau. Ibu lupa ya?"
"Hah! Ibu gak ngadih tau. Orang ke kostan kamu aja gak tadi malem." Hah! Tadi malem siapa dong?
"Oh, mungkin itu Iis. Saudara kembar ibu. Ibu lupa udah nyuruh dia ngasih tau ke kamu. Soalnya ada anak kost baru tadi malem." Harus banget dikasih tau ya. Sampe nyuruh orang segala. Kayaknya kost itu bener-bener serem.
"Bu, emang ada berapa banyak penunggu di kost itu bu?" tanya Fila dengan takut-takut.
__ADS_1
"Hah, penunggu apa? Ngawur kamu nak," ucap ibu Uus.
"Tapi katanya kalo lampunya dimatiin pas malem bakal ada sesuatu yang terjadi," tutur Fila.
"Hahahahah, kata siapa?"
"Ibu Iis."
"Hahahah, mana mungkinlah ada penunggu. Kamu dikerjain kali sama ibu Iis." Sedangkan ibu Iis yang berada di depan pintu hanya tertawa meledek Fila.
"Terus kenapa lampunya gak boleh dimatiin?" tanya Fila.
"Soalnya lampunya kongslet. Kalo dimatiinnya malem-malem nanti gak bisa diidupin lagi."
Fila hanya mengangguk malas.
****
Huh! Ternyata cuma dikerjain doang. Padahal mata Fila udah item gitu. Kasian.
"Hai Fila."
"Aah!" teriak Fila.
"Kenapa mba?" tanya salah satu penumpang angkot.
"Ada hantu mba," jawab Fila kalang kabut.
"Mana? Orang gak ada." ucap mba itu. Lalu memberi isyarat kepada penumpang lain seolah menanyakan hal yang sama. Dan mereka menjawab 'entah.'
"Ini, emang mba gak ngeliat?" tanya Fila menunjuk Lusi.
Para penumpang pun melihat apa yang Fila tunjuk. Tapi tidak ada apa-apa. Terlihat para penumpang memberi wajah curiga.
"Masa gak liat sih mba. Ini." Masih keukeuh menunjuk Lusi. Sedangkan yang ditunjuk hanya senyum-senyum tanpa dosa.
"Euh. Kiri pak," titah Fila kepada supir angkot. Fila keluar dan membayarnya.
"Kasian padahal masih muda." Itulah bisikan para penumpang angkot. Fila masih mendengarnya.
"Kok bisa-bisanya penumpang itu gak liat. Perasaan aku bukan indigo deh." ucapnya bermonolog setelah memasuki halaman kampusnya.
"Apa dia beneran peri? Tapi masa iya." bermonolog terus.
Tapi segera setelah itu dia menepis pikirannya. Matanya tertuju pada sosok pria yang tengah duduk di sambil memfokuskan matanya pada layar laptop.
Entah kenapa kakinya melangkah...
Bersambung...
__ADS_1