
Matahari mulai menyingsing. Mulai bekerja menyinari bumi di daerah tempat tinggal Fila berada. Membawa cahayanya masuk ke dalam kost Fila. Berniat membangunkan Fila. Tapi Fila sudah bangun sekarang. Sudah bersiap dengan segala atribut yang sudah ia kenakan. Dia mengenakan pakaian hitam putih. Dan mengubah gaya rambutnya dengan mengikat rambutnya kecil-kecil sebanyak angka tanggal lahir. Di dada kanan dan kirinya di rekatkan pita kain berwarna senada dengan bendera fakultas. Gelang dan kalung yang terbuat dari tali rafia berhiaskan permen juga sudah bertengger di tangan dan lehernya.
Satu jam lamanya Lusi menunggu. Tapi tak selesai-selesai dengan aktivitas dandannya. Berkali-kali Lusi menghela napas kasar. Entah berapa kali Lusi berdoa akan kerampungan Fila berdandan. Entah siapa yang akan Fila temui. Sampai sebegitu lamanya berdandan.
"Fil, ini udah terlambat banget Kamu nggak takut dimarahin sama kakak seniornya?"
"Bentar lagi." Seraya mengalungkan papan namanya. Bergegas mengambil topi yang terbuat dari bola plastik yang dibelah.
Sekarang Fila beralih mengambil tas karung dan memasukkan semua barangnya ke tas tersebut.
"Udah!" Teriak Fila semangat.
Akhirnya Lusi bisa bernafas lega.
"Ayo!" ajak Fila.
"Eits." Lusi menghadang Fila menghentikkan langkahnya.
"Apa?"
"Ngilang aja yuk!"
"Ngilang, kamsutnya?" Fila mengernyit tak paham dengan ucapan Lusi.
"Ngilang pas lagi sayang-sayangnya."
"Hah..."
Tak banyak omong Lusi langsung mengangkat tongkat ajaibnya. Dan "triiing."
"...hahaha. Gak jelas banget kamu." sambung tawa Fila.
"Ihh. Orang gila baru tuh. Ngomong sendiri." Entah darimana datangnya dua cewek itu bisa masuk ke kamar Fila.
"Lo yang gila! Gak jelas! Udah masuk kamar orang, gak pake permisi lagi!" Fila langsung saja meneriaki dua manusia itu.
"Kamar?" Mereka tergelak. "Ternyata dia lagi mimpi. Pantesan lagaknya kayak orang gila kesurupan." Mereka kembali tergelak dan meninggalkan Fila.
Fila mengernyit. Entah apa yang dibicarakan mereka.
Mata Fila melebar. Menunjukkan pupil matanya mulai mengecil.
__ADS_1
"Aaaaahhhh!!" Fila terkejut bukan kepalang. Gimana bisa kamarnya berubah jadi halaman kampusnya. Kapan Fila tidur? Fila tidak mimpi. Ia tidak gila. Ia masih waras. Ia tidak mungkin gila!
Fila meraba-raba tubuhnya. Entah apa yang sedang Fila pikirkan. Pipinya masih tembem. Ia masih hidupkah?
"Gimana aku bisa di sini? Aku belom jalan. Belom naik angkot. Aku juga nggak tidur." Bermonolog dan mengerjap-ngerjap kebingungan.
"Kamu lupa ada aku. Aku kan peri," ujarnya.
"Lha terus?" Fila menaikkan alisnya.
"Ternyata selain baperan kamu juga telmi ya Fil." Fila menatap Lusi sinis. "Aku kan punya kekuatan," tutur Lusi menyerah.
"Oh ya ya ya ya," jawab Fila jengah.
Fila lalu meninggalkan Lusi dan berjalan melewati halaman parkir. Tepat saat motor ninja merah memacu rodanya untuk berjalan ke arah Fila.
"Aaaaaaaaa!!" teriak Fila.
Pengendara motor itu membelokkan setirnya ke arah lain. Saat menyadari teriakkan Fila. Tapi dia malah kehilangan kendali dan berakhir tragis di selokan.
"Fila. Kamu nggakpapa?" tanya Lusi khawatir yang sudah berada di dekat Fila.
Sedangkan Fila masih sibuk dengan rasa keterkejutannya. Matanya masih memandang ke arah pengendara motor yang hampir saja menabraknya.
Fila terus menerus memperhatikan luka cowok itu. Hingga tak sadar lutut cowok yang diperhatikan sudah berada di depannya. Tepatnya mereka sudah saling berhadapan.
"Lo kalo jalan liat-liat dong!" Fila tersentak melihat cowok itu sudah berada di hadapannya. "Lo nggak punya mata?! Apa dari dulu lo nggak pernah diajarin cara ngeliat yang bener? Sampe motor gue segede itu lo nggak liat!" Seraya menunjuk motornya yang sudah hancur lebur. Fila hanya tersentak-sentak mendengar bentakan cowok itu.
Dengan pipi yang terus merah cowok itu terus memandangi Fila dengan intens. Sedangkan Fila ketakutan sendiri melihat tatapannya.
"Woy! Ada apa tuh? Liat-liat!" ucap salah satu maba.
Seketika seluruh maba mengerubungi mereka. Karena suara bising yang terjadi di tempat Fila.
"Kenapa nih?" tanya salah satu senior yang sudah berhasil menyelinap masuk di antara maba yang berdesakan. Di susul beberapa senior.
"Ini ada temennya luka, kenapa nggak dibantuin? Malah pada diem aja." ucap senior cewek.
"Ayo yang cowok bantu, bantu!" Dua cowok itu langsung menuruti seniornya. Dan memapah cowok itu. Tatapan cowok itu kembali memarkirkan ke mata Fila. Fila hanya menunduk.
"Eh, motor gue!" Cowok itu berhenti karena melihat motornya yang belom terselamatkan.
__ADS_1
"Nanti diurus. Udah kamu ke UKS." Mereka kembali berjalan ke tempat tujuan. "Yang lain, bawa motornya." Mereka langsung membawa motor cowok itu. Dan semuanya pada bubar melihat pertunjukannya sudah selesai.
"Giliran udah selesai aja pada pergi." cicit Lusi.
"Lagian tadi kan dia yang mau nabrak aku. Kenapa malah aku yang disalahin?" Gumamnya yang sudah berjalan menuju halaman kampus yang akan dijadikan tempat ospeknya.
****
Fila menoleh saat ada seseorang yang menepuk bahunya.
"Lo tadi yang hampir ditabrak sama cowok itu kan?" tanya cewek itu yang sudah duduk di rumput di samping Fila.
"Iya," jawab Fila sekenanya.
Cewek itu membuka mulutnya berbentuk bulat. "Ohh. Tapi lo nggakpapa kan?" Cewek itu memegang bahu Fila berusaha akrab.
"Nggak. Aku nggakpapa kok. Nggakpapa," jawab Fila terburu-buru agar yang bertanya tidak khawatir.
Cewek itu tersenyum simpul. Terlihat tulus.
"Oh ya. Nama lo siapa?" tanyanya.
"Fila. Kamu?"
Cewek itu mengulurkan tangan dan langsung dijabat oleh Fila. "Gue Celly." Celly tersenyum manis.
"Gue Dinda," ucap cewek yang sedari tadi hanya memperhatikan mereka. Dan mereka juga saling berjabatan.
"Minggir, minggir!" usir cowok berbadan gempal. Menerobos mereka di tengah-tengah.
"Pa'an sih lo?" protes Dinda.
"Gue juga mau kenalan," ucapnya yang sudah duduk di tengah-tengah. Kenalin dulu dong," ucapnya. Dan tangan yang sudah menggantung di udara. Fila juga menjabat tangannya. "Abraham. Kebagusan ya namanya? Tapi kalo nggak nyaman panggil aja bom-bom. Mereka juga sering panggil gitu. Katanya panggilan sayang. Atau nggak panggil sayang juga nggakpapa." Ucapnya disertai kedipan mata di akhir kalimat.
"Udah tenang aja. Dia juga temen kita kok," ucapnya diselingi tawa.
"Semua." Menepuk-nepuk tangannya guna mengambil alih perhatian yang tadi sempat buyar. Semua langsung tertuju pada kakak senior itu. "Maaf ya semua. Keberulan tadi ada insiden yang bikin ospek ini tertunda. Tapi sekarang kita akan mulai ospeknya," jelas senior itu.
Sekarang cowok yang tadi hampir menabrak Fila pun sudah duduk di tempatnya. Dengan perban yang sudah menempel di sikut dan lututnya. Setelah diantar dua cowok tadi yang membantunya.
"Oh ya sebelum kita memulai ospeknya. Alangkah baiknya kalo kita saling mengenal. Pasti udah ada yang kenalan kan tadi. Nah sekarang kakak seniornya yang kenalan," ucap senior ganteng itu.
__ADS_1
Bersambung...