
Fila keluar melalui pintu berwarna cokelat kostnya. Lusi menilik Fila dari jendela, yang masuk ke rumah ibu kost itu. Lusi kembali berbaring di bantal. Mengeluh-eluh atas kelaparannya. Tak berselang lama Fila kembali dengan piring yang ditutupi oleh kertas minyak.
Lusi segera mengambil kertas minyak yang menutupi piringnya. Setelah Fila meletakkannya di tikar yang sudah digelar.
"Kamu dapet pisang goreng ini dari mana?" tanyanya kesusahan karena mulutnya dipenuhi dengan pisang goreng yang dibawa Fila.
"Dapet dari bu Uus. Tadi sebenernya bu Uus mau ngasih ke aku. Cuman karna aku minta duluan. Jadi sekalian aja aku ambil," jelas Fila.
Tanpa sadar Lusi sudah menghabiskan empat dari lima pisang goreng itu. Fila segera mengambil satu pisang yang tersisa.
"Kamu mau abisin semua?" Lusi mengangguk. Dengan terpaksa Fila mengambil pisang itu dari Lusi.
Kecil tapi banyak makan.
"Aku denger," ucap Lusi menyindir. Fila tertawa kecil.
"Udah selesai kan? Sekarang cerita," titah Fila.
"Minumnya?" tanya Lusi yang bertujuan untuk menyuruh Fila.
"Heuh. Gimana aku bisa dimanfaatin kayak gini cuman gara-gara penasaran sama peri." Gumamnya sembari menuangkan air minum dari teko ke gelas.
"Aku denger." Sindirnya mengeraskan suara.
"Sabar, sabar, sabar, huh," ucap Fila meredam emosi. Menghampiri Lusi dengan tujuan melayani sang putri.
"Glek." Meminum air yang disuguhkan si pelayan.
"Karna Lusi udah dikasih makan, dikasih minum, sama dikasih perhatian. Lusi mau cerita." Fila malas sekali sebenarnya. Tapi ya sudahlah. Untuk mengobati rasa penasarannya.
Fila tersenyum mendekat.
"Tadi sampe mana ya?"
"Tugas peri negara." Lusi berbaring di tangan Fila.
"Tugas peri sih tergantung umurnya. Semakin dewasa umurnya, semakin berat juga tugas yang harus dikerjakan." Fila mulai terhanyut dan menidurtengkurapkan dirinya. "20 tahun pertama, menjaga anak manusia. 20 tahun kedua, biasanya menjaga bayi peri.
"Baby sitter, maksudnya?" tanya Fila sok tau.
__ADS_1
"Penjaga bukan perawat. Kalo penjaga lebih dominan menjaga bayinya. Kalo bayi peri membutuhkan sesuatu, maka penjaga itu akan mencarikan keperluan bayi tersebut. Dan akan diberikan pada ibu si bayi."
"Terus, terus kalo 20 tahun ketiga tugasnya apa, Lus?" tanya Fila.
"Udahlah, capek mau tidur." Lusi terbang ke arah ranjang dan tidur di bantalnya.
"Nanggung, Lus. Sekarang ajalah," paksa Fila.
"Kok ngatur?"
"Aku kan bos kamu. Jadi aku bolehlah ngatur bawahan," ucap Fila tak mau kalah.
"Aku penjaga buka pembantu. Jadi aku gak mau anggep kamu jadi atasan aku. Karna aku bukan BAWAHAN kamu. Ok." Tangan Lusi mengacungkan jempol. Seraya memiringkan tidurnya dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
Sedangkan Fila menganga sendiri melihat perlakuannya kepada Fila.
"Ih! Nyebelin banget sih!" Dengan rasa kekesalannya, Fila memutari ranjang dan tidur di sisi lain Lusi tidur.
****
Ini adalah hari kedua masa ospek Fila. Seperti biasa para maba wajib menggunakan atribut yang sudah dijelaskan para senior.
"Lo jelasin sendirilah. Masa gue?" ucapnya bodo amat.
"Di sini siapa yang mau kalo kak Siska dikeluarin? Dan nggak ngospek kalian lagi. Angkat tangan!" Wajah santai menghiasi rupa Bian.
Tak tanggung-tanggung semua maba menyetujuinya. Dan mengangkat tangan mereka. Bahkan ada yang sengaja mengangkat kakinya, karena dirasa kurang.
Sedangkan Siska yang sedang dipojokkan merasa tak terima. Dan ingin menghampiri Bian. Tapi urung sesaat setelah ada tangan kekar yang menghentikannya. Berharap itu Nada. Tapi bukan. Siska langsung melepas pegangannya.
"Yan, jangan gitulah. Masa lo ngajarin yang nggak bener. Di kampus kita nggak ada pembullyan," ucap Aciel.
"Jangan mentang-mentang lo suka sama dia. Terus lo belain dia," ucap Bian menantang.
"Gue nggak belain dia. Lo yang salah!" seru Aciel.
"Gue?!" Menunjuk dirinya sendiri untuk memastikan apakah ia tidak salah dengar.
"Udah! Kalian apaan sih? Malah berantem." Lerai Iis menatap mereka berdua secara bergantian yang masih memasang wajah jengkel. "Lo juga Sis. Bukannya pisahin malah diem aja."
__ADS_1
"Bodo amat. Gue nggak peduli!" Siska berjalan ke arah Nada dan kembali bergelayut manja. Tapi sialnya tangan Siska ditepis oleh Nada. Dan ia malah mendekati para maba yang sempat berisik, membisikkan hal yang tadi menjadi percekcokan antara para senior.
"Kita mulai aja yuk." Ajaknya seraya menarik tangan maba. Dan anehnya yang ditarik adalah Fila. Yang membuat Fila berdiri "Ayok!" ajaknya lagi kepada para maba yang lain. Seraya tangan satunya melambai-lambai.
Para maba lalu mengekori Nada dan Fila yang masih belum lepas pegangannya. Sedikit menjauh dari para senior yang masih harus meninggalkan sifat kekanak-kanakannya.
Nada melepas pegangannya. "Kita main game tanya jawab ya." Nada lalu duduk sila menghadap para maba yang juga sudah duduk. "Kelompoknya kayak kemaren." ucapnya. Lalu melihat teman-temannya yang sudah menyusul. Berharap tak membawa keributan lagi kali ini.
"Ok. Ayo mulai!" ucap Fila semangat. Lalu tanpa sengaja dua cowok itu tersenyum kepada Fila. Yang tak disadari gadis itu.
****
Game pertama telah selesai. Sekarang para maba sedang beristirahat ria dengan makanan yang sedikit masuk ke perut mereka.
Seseorang beringsut mendekati Fila lalu duduk di sebelahnya. "Tadi kamu semangat banget. Capek?" Pertanyaan retorik Adam yang tak perlu dijawab lagi. Tak sadarkah? Sejak tadi gadi itu mengeluarkan peluh. Memang tidak terlalu banyak aktivitas. Tapi kerja otaklah yang mampu menguras habis tenaganya. Adam merogoh sakunya. Dan mengeluarkan sapu tangan biru miliknya. Niatnya ingin diberikan kepada Fila. Tapi sebelum sampai ke tujuan, seseorang merebutnya dan membuangnya ke kotak sampah kecil di dekat mereka.
"Lo kenapa mau ngasih sapu tangan lo sama cewek yang udah buat motor gue ancur?!" Pekik Dion emosi yang membuat Adam berdiri.
"Apaan sih Yon?! Gue cuman mau ngasih sapu tangan gue doang. Biar dia nggak kepanasan." Perasaan Adam antara bingung dan kesal. Melihat kelakuan sahabatnya sendiri.
"GAK USAH SOK PERHATIAN!" bentak Dion dengan luapan amarah tak tertahankan.
Dalam sekejap saja, semua pasang mata yang berada di sana mengarahkan pandangannya ke asal suara. Dan membuat orang yang dibicarakan pun bingung atas pertengkaran antara dua cowok itu yang sekarang ada di hadapannya.
"Lo kan udah tau Yon, kalo gue suka sama Fila." Ucap Adam berusaha setenang mungkin.
Dan membuat orang yang dibicarakan kaget. Karena dengan terang-terangan ada cowok yang mengungkapkan isi hatinya. Walaupun tidak secara langsung.
"Fil," panggil Lusi. Dan sama sekali tak digubris oleh Fila. Dengan keasaman Lusi hanya berdecak kesal.
"GUE NGGAK SUKA KALO LO SUKA SAMA CEWEK KAYAK DIA!" Entah ke mana sayap Fila hilang seketika. Saat ada orang yang menerbangkannya, sekarang ia dijatuhkan saja.
"Maksud lo apa ngomong kayak gitu?! HAH! MAKSUD LO APA?!" Berang Adam yang sudah meremas kerah baju Dion.
"Gue harus pisahin." Nada berjalan ke arah mereka. Tapi langsung dicegah oleh Bian dan Siska. Karena hanya ada mereka bertiga sebagai seniornya. Mengingat mereka yang sedang mengurusi urusan khusus, yaitu urusan toilet.
"Udah biarin aja. Biar mereka yang nyelesaiin sendiri."
Bersambung...
__ADS_1