
Para senior itu juga duduk di atas rumput. Di depan para maba.
"Dimulai dari kakak ya. Nama kakak Aciel Danendra panggilannya Aciel," ucap senior ganteng itu.
"Lah gue baru tau kalo nama lo ada yang bagus. Kenapa panggilannya Aciel. Bagus juga Danendra," ucap senior cowok yang sempat dipanggil 'Yan' itu.
"Udah, lo diem aja. Semua nama itu bagus. Lonya aja yang nggak bersyukur," ucap senior ganteng itu yang bernama Aciel. Dan langsung saja mendapat sorakan kekaguman dari para maba. Terutama kaum hawa.
"Tuh, fans gue banyak," bisik Aciel kepada cowok yang dipanggil 'Yan' itu yang berada di sebelahnya. "Kita lanjutin ya."
"Sekarang giliran gue. Hay ciwi-ciwi," sapanya.
"Hay juga kak," dan langsung mendapat tanggapan dari kaum hawa.
"Lah kok yang disapa cuman cewek doang kak?" protes cowok yang sempat hampir menabrak Fila.
"Lah iyalah. Kalo gue nyapa lo, dikira gue 'gay'. Emang lo suka sama gue?" Para warga maba langsung menanggapi dengan tawa kerasnya.Termasuk Fila.
Dan kebetulan juga cowok itu duduk di sebelah Fila. Fila langsung kicep saat ditatap seperti itu.
Senior itu menghentikan tawanya. Dan mulai berdehwm menetralkan. "Kalo kakak namanya Bian Galaxy. Panggil aja kak Bian." Jelas Bian tersenyum. "Nih, kalo lo pengen tau nama gua," ucap Bian yang ditujukan pada cowok itu. Dia hanya membalas dengan tatapan elangnya. "Santai dong bro." Ucap Bian dengan cengiran lebarnya.
"Aku Fernada. Panggil aja Nada," ucap Nada.
Cowok idaman Fila. Yang kemarin sempat akan dicium oleh Fila. Ahh! Fila sangat malu mengingatnya.
Fila terus-menerus memperhatikannya. Sampai Fila tak sadar ada seseorang yang juga terus-menerus memperhatikannya.
"Ekhem." Deheman cowok itu mampu membuyarkan konsentrasi Fila. Dia menoleh tapi tak mendapati apapun yang mencurigakan.
Dia kembali memarkirkan pandangan matanya ke depan. Tapi matanya risih sesaat setelah melihat cowok idamannya tengah dekat dengan wanita lain. Atau lebih tepatnya cewek itu memeluk tangannya.
"Sis. Ayo kenalan!" ucap Nada. Seraya menyenggol tangannya yang dipeluk oleh Siska.
"Genit banget tuh cewek."
"Heu'eh kegatelan," ucap dua cowok itu yang berada di belakang Fila.
"Gue Siska!" ucapnya singkat.
"Gak niat banget lo! Kalo lo nggak niat ngospek anak-anak ngomong!" ucap Bian emosi.
"Shhhhtt. Udah. Jangan pada ribut," ucap Aciel melerai. Melihat Siska yang akan kembali berdebat.
__ADS_1
Siska terlihat bodo amat dan malah kembali bergelayutan di lengan Nada.
"Hay, nama aku Iis Fahriah. Panggil aja kak Iis ya. Semangat buat ospeknya." Ucap Iis tersenyum.
"Iya kak," jawab serempak para maba.
****
Masa ospek adalah masa dimana maba ditugaskan untuk menuruti semua perintah seniornya. Walaupun seringkali orang menanggapi ini adalah perpeloncoan. Tapi masa ospek bertujuan untuk mengakrabkan maba-mabanya. Agar tidak terlalu kaku menjalani masa perkuliahan.
Para maba sekarang berada di taman kampus. Setelah tadi mereka sempat berkenalan dengan beberapa senior. Dan diberikan tugas oleh seniornya sesuai jurusan fakultas atau universitasnya.
Mereka sedang bersantai ria. Menunggu seniornya yang katanya akan ada kejutan. Tentu para maba tidak percaya. Karena dari tadi mereka hanya diberikan tugas, tugas dan tugas.
"Fil," panggil Lusi.
"Hem?" Tanyanya melihat Lusi yang duduk di atas tas yang dipangku olehnya. "Kenapa?"
"Aku haus Fil. Mau minum." Ucapnya seraya mau membuka tas karungnya.
Fila mencegahnya dan mulai menutupnya kembali. "Entar. Sekarang belom boleh minum."
"Kan aku yang minum," ucapnya merengek.
"Tetep aja. Entar aku yang dikira minum," ucapnya kembali menasehati.
"Lo nggakpapa?" tanya Celly memegang pundaknya. Celly heran karena dari tadi Fila bicara sendiri.
"Hah. Nggak kok. Nggakpapa. Emang kenapa?" tanya Fila tak paham.
"Enggak. Dari tadi gue merhatiin lo kayak ngomong sendiri. Lo 'aus?" Sedangkan Lusi yang memperhatikan hanya mengangguk-angguk. Padahal bukan dia yang ditanya.
"Enggak kok." Fila menggeleng.
"Nih. Kalo 'aus minum aja. Mumpung nggak ada kakak seniornya." Seraya menyodorkan botol minumnya.
"Nggak. Nggak usah." Fila menggeleng lalu tersenyum. Celly hanya mengangguk.
"Yaudah," ucapnya. Seraya menarik kembali botol minumnya. Lusi hanya merengut saat melihat air lezat itu telah menjauh meninggalkan tenggorokan kering Lusi.
Tak selang berapa lama kakak-kakak seniornya sudah mulai kembali dengan segala peralatan yang entah akan digunakan untuk apa.
"Maaf ya semua. Kita terlambat lagi." Ucap Bian seraya meletakkan semuanya ke rumput.
__ADS_1
"Jadi kejutannya adalah jeng-jeng-jeng ... kita akan main game." Seraya menyuruh semuanya tepuk tangan.
Sudah kubilang. Semua sudah menebak. Tidak ada yang spesial.
"Seneng gak? Seneng gak? Senenglah. Masa enggak," ucap Bian. Bian tertawa garing.
Semua mulai mengikuti perintah seniornya. "Semua berbaris sesuai kelompoknya masing-masing ya. Setiap kelompok dibagi lima anggota." Ucap Iis menjelaskan. Lalu Iis mulai mengatur barisan mereka.
Fila satu kelompok dengan Chindy, Dinda, Bom-bom dan salah satu cowok yang sempat menghantarkan cowok yang hampir menabrak Fila.
"Hai. Nama lo siapa?" Tanya cowok itu yang berada di depan Fila. Dan menghadap belakang.
Fila hanya menunduk. Dia sangat malu. Sedangkan cowok itu menggoyangkan tangannya yang sudah lama menggantung di depan Fila. Dengan ragu-ragu, Fila menjabat tangannya. Sayang.
Sedikit senyum. "Gue Adam."
"Ehmm Fila," ucapnya seperti gumaman. Tapi masih bisa di dengar oleh Adam.
"Weiiisshh. Udah kenal-kenalannya ya," ucap Aciel menyindir mereka berdua. Lalu Adam kembali menghadap depan.
Kelompok pertama adalah kelompoknya Fila. "Semuanya! Liat sini!" Semua langsung mengarah ke asal suara. "Game pertama adalah game tebak gaya. Jadi kalian harus menebak atau mengartikan ekspresi atau gerakan-gerakan yang dicontohkan teman kalian. Aturannya gak boleh ngomong dan gak boleh ngadep belakang," tutur Aciel.
"Nih kalo ada yang belom paham." Ucap Nada yang sedari tadi diam karena terus digelayuti Siska. Nada menepis tangan Siska yang mau menggelayutinya lagi. Dan mulai mendekat ke arah Bian. Hanya decakan yang terdengar di mulut Siska.
Lalu mereka mulai berbaris dengan Nada yang paling belakang. Lalu Nada menepuk pundak Bian. Nada mempraktikan gaya seperti mengegas motor. Lalu tangannya seperti mengibaskan kain. Lalu mulai meletakkannya di tali khayalan. Lalu secara berurutan semuanya ikut mempraktikan gerakan Nada. Sampai pada barisan paling depan yaitu Siska.
Iis mulai mempraktikannya.
"Apa sih?!" ucap Siska geram karena tak mengerti sama sekali.
"Woy! Gak boleh ngomong!" ucap salah satu maba cowok.
"Gak sopan banget sih lo!" ucap Siska membalas.
"Shhht. Shhht." Ucap Aciel dan langsung mengisyaratkan agar Siska menebaknya.
"Ngulek sambel," ucap Siska. Dan langsung dihadiahi tawa dari para maba.
"Dikira mau bikin pecel kali."
Atau emang karna dia cabe-cabean."
"Lo yang cabe-cabean!" teriak Siska geram.
__ADS_1
"Huh ham mulutnya aja pedes banget." Ucap salah satu maba seraya mengibas-ibaskan tangannya seperti sedang kepedesan.
Bersambung...