Periku

Periku
Masa Ospek 7


__ADS_3

"Udah." Cegah para senior yang menahan Adam untuk tidak mencari keributan lagi.


****


Fila sekarang sedang bercermin. Melihat pantulan wajahnya yang sembab. Sesekali menyeka air matanya yang terus mengalir.


"Kamu kenapa, Fil?" tanya Lusi yang masih tidak mengerti apa yang terjadi.


"Dia ngehina aku."


"Siapa?"


Fila menghela nafas. Ia menceritakan sedetail-detailnya kejadian yang membuat air matanya menjadi luruh kembali.


"Hah! Serius?" tanyanya tak percaya.


Fila hanya memberi respon anggukan. Sambil terus menyeka air matanya.


"Tapi Fil, tadi aku ...."


Tiba-tiba ada ketukan di pintu toilet cewek. "Fil, lo nggakpapa kan?" tanya seseorang dari luar.


Fila langsung menghampiri dan membuka pintu toilet. Dan menunjukkan raut wajah cemas Celly dengan Dinda yang ada di sampingnya.


Fila tersenyum. Menghapus semua air matanya. "Nggakpapa kok."


Celly mengulum bibir. "Pulang bareng gue yuk!" Ajaknya dengan menggandeng tangan Fila. Fila merespon dengan anggukan.


****


Sampailah mereka berempat di kost Fila, termasuk Lusi. Fila keluar dari mobil Celly yang tadinya duduk di kursi belakang.


"Makasih ya. Udah anterin aku. Kalian mau mampir dulu nggak?" tanyanya basa-basi.


"Nggak usah Fil. Lain kali aja ya. Lain kali kita mampir," ucapnya. Fila hanya mengiyakan. Lalu mobil itu melaju meninggalkan Fila.


Lagian jika diajak mampir. Mau dikasih makan apa? Tabungan Fila juga sudah habis. Sedangkan jatah makannya hanya tiga kali di rumah ibu kost itu.


****


"Plaaak." Tamparan keras menghantam pipi seseorang berpakaian hitam dengan seseorang lagi yang berada di sebelahnya. Bergantian menampar kedua orang berkerudung. Atau lebih tepatnya jaket. Dengan kuku-kuku yang panjang orang yang menampar itu hampir saja menggores mata mereka. Tapi merekalah antek-antek yang harus dimanfaatkan.


"Antek-antek tidak berguna! Kenapa kalian bisa gagal lagi! Sangat banyak kesempatan yang disia-siakan!" hardiknya. Suaranya seperti laki-laki dan perempuan. Entah, bagaimana bisa suaranya bisa menjadi dua. Auranya sangat negatif di pesekitaran mereka.


"Maaf peri-periryan, dia juga sudah memiliki penjaga. Yang juga berasal dari bangsa kita. Walau dari dunia yang berbeda. Jadi kami sangat sulit untuk mencelakainya." Kali ini yang bersuara adalah seorang wanita yang berada di sebelahnya.


"Saya tau! Tapi kamu harus mencelakai dia!" Suaranya tidak begitu keras. Tapi seperti menggema di ruangan itu. Tiba-tiba asap hitam muncul mengiringi kepergian peri-periryan. Termasuk tawa dari gabungan wanita dan pria.

__ADS_1


****


"Drrrrtt."


Handphone Fila bergetar pertanda ada pesan masuk di sana. Fila langsung mengambil handphone miliknya di atas meja belajarnya.


+62***********


Fil, ini nomer baru aku. Save ya. Chindy.


Iya, aku save.


"Dari siapa?" Tanya Lusi menilik layar handphone Fila.


"Dari temen aku." Ucapnya lalu meletakan handphonenya di atas meja belajar. Lalu kembali menaiki ranjang menghampiri Lusi yang siap sedia menjadikan tangan sebagai bantalan. Sedangkan Fila tengkurap.


"Lanjutin tugas peri dong. Seru tau."


"Emang udah nggak sedih lagi?" Lusi memiringkan tidurnya menghadap Fila. Agar lebih jelas melihat ekspresi Fila.


"Ehmm. Udahlah jangan bahas-bahas itu lagi." Ucapnya merengut.


"Iya deh, iya. Ehmm, sampe mana? Aku lupa."


"Ciee pikun." Fila tergelak saat melihat Lusi memutar bola matanya. Pertanda ia marah. "Tugas peri umur ...."


"Heuh." Ucap Fila memiringkan bibir.


"Umur 20 tahun ketiga. Biasanya tugas peri umur 20 tahun ketiga sama keempat. Itu menjaga pemimpin peri. Entah itu pemimpin negara, pemimpin kota atau pemimpin wilayah."


"Kamu kan peri negara nih." Lusi mengangguki itu. "Terus pemimpin negaramu siapa?"


"Ratu peri," jawabnya.


"Loh. Bukan cowok?" tanya Fila heran.


"Emang pemimpin harus selalu cowok gitu," ucap Lusi yang merasa tersinggung.


"Ya enggak. Cuman kan, pemimpin itu biasanya identik dengan kemachoan dan itu cuman dimiliki sama cowok." Lusi memandang Fila malas. "Hehe. Maaf ya. Emang rajanya kemana?"


"Rajanya nggak ada. Diculik kamu," ketusnya.


"Lah kok aku?"


"Kata bunda, ayah ada di dunia lain," jelas Lusi.


"Dunia lain gimana?" Fila mengernyit.

__ADS_1


"Nggak tau. Entah ayah udah meninggal, atau di mana?" jawabnya menerka-nerka. Sampai sekarang pun Lusi tidak pernah tau keberadaan ayahnya. Dan jika bertanya kepada bundanya, ia hanya menjawab jika ayahnya ada di dunia lain.


"Aku minta maaf lagi," ucap Fila tidak enak.


"Nggakpapa." Lusi berdehem. "Kalo misalkan tugas peri umur 20 tahun kelima dan seterusnya. Ini tugas yang paling sulit. Yaitu menjaga pintu masuk lorong cahaya."


"Lus."


"Karna apa? Karna lorong cahaya itu rawan dimasuki batu-batu meteor. Bahkan juga bisa mencegah peri jahat masuk."


"Lus," panggil Fila lagi.


"Apalagi ...."


"Bentar. Aku mau tanya. Kamu umur berapa?" Tanya Fila yang membuat lusi melongo.


"Jadi, dari tadi kamu panggil-panggil. Kamu mau nanya itu." Lusi tersenyum. Ia kira Fila akan menanyakan soal peri. Jadi tidak perlu membuang-buang waktu dengan pertanyaan Fila yang akan dijelaskan oleh Lusi. Karena waktu tidurnya telah disia-siakan sekarang.


"Jawab. Malah diem," titahnya.


"19." Jawabnya singkat lalu ia menuju bantal yang siap untuk ditiduri.


"Ohh." Fila hanya ber-oh ria dan ia juga menyusul aktivitas Lusi.


****


Jam menunjukkan pukul 00.00. Tapi dua pasang mata itu masih setia memandangi layar gadgetnya yang digunakan untuk bermain game online. Game online memang semakin marak di kalangan anak muda. Sangat banyak ragamnya. Jadi tak jarang membuat banyak anak kecanduan.


"Yon. Lo kenapa sih, ada masalah apa?" Tanya cowok yang bernama Cakra itu seraya mengambil keripik kentang yang tersedia di toples. Dan kembali fokus pada permainannya.


"Gue nggakpapa." Jawabnya singkat seraya terus fokus pada handphone.


"Gue tau lo ada masalah. Gue udah kenal lo dari SMA. Dan kalo lo ada masalah pasti lampiasinnya ke game. Karna gue tau lo males banget kalo soal game." Cakra memang sangat tau sifat kekanakan Dion yang satu ini. Pada detik kelima permainannya menang. Bersama Cakra yang juga ikut menang. "Cerita." Dion menatap Cakra serius.


****


"Hai Fila. Berangkat bareng yuk!" Ajak Celly yang diikuti Dinda. Mereka sudah bersiap untuk ke kampus bareng Fila. Setidaknya kan Fila tak menganggap jika dirinya sendirian. Karena masih ada mereka.


"Loh. Kalian jemput aku?" tanya Fila.


"Iiya," ucap mereka serempak tapi tak sama. Karena salah satunya masih saja memasang wajah jutek. "Yaudah yuk!" Ajaknya lalu Celly menarik tangan Fila. Sedangkan Dinda hanya mengikuti mereka dengan malas. Mereka bertiga berangkat dengan mobil Celly.


****


"Hai semua." Sapa Chindy pada mereka bertiga yang sudah keluar dari mobil dan berjalan masuk ke halaman kampusnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2