
Iis langsung mengambil minuman yang ada di tangan Fila.
"Loh, bukan ini minumannya." ucap Iis.
"Maksudnya kak?" tanya Fila bingung.
"Kamu salah bawa minuman." Fila masih tak paham. "Ini kenapa ada nomer 2, 3 sama 5nya." Fila langsung merebut minumannya dari Iis. Seketika Fila terkejut dan beralih memelototi Lusi.
"Apa?" tanya Lusi bodo amat.
"Seharusnya kamu bawa minuman prim-a." ucapnya terkekeh. Fila tersenyum kikuk. "Kakak ambil ya. Kamu nggak boleh minum, minuman ini." Lalu Iis berdiri dan pergi. Lalu duduk di tempatnya.
"Gimana nih, Fil? Aku haus." rengek Lusi seraya mengusap-usap tenggorokannya yang sangat kering.
Fila berdecak. "Kan ini salah kamu. Jadi kamu tanggung sendiri akibatnya." ucapnya jengah.
Posisi Fila juga sama sekarang seperti Lusi. Sama-sama haus. Panas. Gerah. Berkali-kali Fila mengusap dahinya yang berpeluh. Tapi tetap saja tidak berhenti.
"Nih." ucap seorang dengan tangan yang menyodorkan botol minuman ke arah Fila. Fila mendongak. Menatap Dion yanh juga menatapnya. "Ambil." titah Dion. Fila langsung mengambil minuman itu.
"Makasih." ucap Fila tersenyum.
Dion langsung pergi setelah memberikan botol minum itu.
"Jutek banget. Abis ngasih langsung pergi." ucap Lusi nyinyir.
"Daripada kamu." ucap Fila membalas. Seraya meminum minumannya yang sudah dibuka oleh Fila.
"Minta." pinta Lusi yang sudah berada tepat di depan mata Fila.
"Gak boleh." Ucap Fila lalu meminumnya kembali.
Akhirnya Fila menyerah. "Nih." Fila memberikan botol minumnya. Tapi Lusi membuka mulutnya meminta untuk meminumkannya. Fila langsung menurutinya dan memiringkan botolnya dengan sangat hati-hati. Selesai.
"Udah ya istirahatnya." Ucap Nada dengan para senior juga sudah berkumpul. "Kita main game lagi," sambung Nada.
Terpaksa para maba menuruti perintah seniornya. Walaupun dengan keluh kesah. Fila segera berdiri setelah menghabiskan lima menit itu untuk istirahat. Dan bergabung membentuk lingkaran bersama para maba yang juga duduk, ikut membentuk lingkaran.
Bersiap dengan tugas bermain game yang diberikan kakak senior mereka. Game yang akan dimainkan kali ini adalah game putar barang. Atau lebih tepatnya game kejujuran.
Bian memberikan bolpoin kepada salah satu maba. Dan Aciel mulai memutar lagu. Pertanda game sudah dimulai.
****
Keringat mengucur di dahi mereka semua. Tepatnya para maba. Setelah mengurusi pekerjaan menuruti perintah seniornya.
Tapi lelah itu terbayarkan setelah Bian menepati janjinya. Dengan mentraktir mereka berlima.
__ADS_1
"Udah?" tanya Bian judes. Karena dompetnya sudah dikuras habis oleh mereka terutama Bom-bom.
"Udah kak."
"Iya udah." Ucap Fila menimpali perkataan Celly dan Dinda yang juga sudah selesai dengan aktivitas makannya.
"Kamu udah Bom?" tanya Bian lagi kepada Bom-bom.
"Be ...."
"Udah!" jawab Bian menyela ucapan Bom-bom. Seraya berdiri. "Kakak mau pergi. Kalo mau lagi, bayar sendiri."
"Iya kak, udah." Ucap Bom-bom tak tega dengan uang Bom-bom yang akan digunakannya nanti. Jika tidak ditraktir lagi oleh kak Bian.
Lalu mereka pulang dengan tujuan rumah masing-masing.
****
Sekarang Fila sudah tidur tengkurap setelah 10 menit tadi digunakannya untuk menyegarkan dirinya dengan guyuran air.
Fila menyibakkan anak rambutnya yang menutupi penglihatannya. Beralih duduk dan menatap Lusi.
"Apa?" tanyanya heran. Tatapan Fila menyinis.
Perasaan Lusi sudah tidak enak. Lusi berkali-kali menaikturunkan salivanya. Berusaha menelan semua ketakutan yang ia rasakan. Oh tidak, hewan buas telah merasukinya, batin Lusi lebay.
"Buuk! Buk!" Yang terdengar hanya suara amarah Fila yang sedang memukul Lusi dengan bantal. Entah berapa kali Lusi menghilang dan muncul kembali. Sampai ia juga berpindah-pindah tempat.
Fila dengan nafas memburunya. Seperti sedang kerasukan. Memunculkan sisi buruknya yang menyeramkan. Hingga urat nadinya tertonjol dan berkedut keras.
"Dimana kamu?!" Ucapnya seperti monster dengan bantal yang siap menghantam Lusi kapanpun dan dimanapun.
Fila berjalan ke arah kasurnya dan menilik ke bawah kasurnya. Dia tidak menemukan apapun. Amarah Fila semakin memuncak. Beralih ke meja belajarnya. Kembali membungkuk. Dan ... tidak ada lagi. Fila mencurigai lemari kecil yang berada di samping ranjangnya.
Fila melangkah dengan penuh amarah.
"Tak. Tak. Tak." Sampai kakinya pun ikut bersuara mengiringi langkahnya.
"Abis," ucap Lusi pasrah. Dan memejamkan matanya.
"Kreeeeett." Fila membuka lemarinya.
Sedangkan Lusi yang memejamkan matanya, bingung setelah tidak terjadi apapun yang dapat membahayakannya. Perlahan Lusi membuka matanya penasaran. Menemukan wajah penuh kejengkelan di sana. Lusi tersenyum kikuk.
Fila berusaha menahan amarahnya. Lalu ia berjalan menuju kasurnya. Dan mendudukkan dirinya di sana.
Lusi melihat Fila yang masih berada di dalam lemari. Lalu ia keluar dan menghampiri Fila yang sudah bisa mengontrol emosinya.
__ADS_1
"Fil." Panggil Lusi mencolek tangan Fila yang berada di depannya.
"Apa?" tanya Fila tak bersahabat.
"Maaf ya." Ucap Lusi yang sudah tiduran di tangan Fila seperti biasanya.
"Hem," ucapnya membalas. "Ceritain yang tadi," titahnya yang mulai normal kembali. Lusi langsung tersenyum lebar.
"Ok jadi gini ...." Ucap Lusi yang membuat Fila mendekat. "Jadi gini Fil, kan kemaren malem aku liat ada angka 2, 3, sama limanya. Terus ...," jelas Lusi terpotong.
"Bentar, bentar. Ini kamu bicarain soal apa ya?" tanya Fila bingung.
"Soal botol kan. Ya makanya aku mau ...."
"Bukan," ucap Fila geram.
"Lah terus?"
Fila menghela nafas. "Tugas peri," ucap Fila memperjelas. Lusi hanya mengangguk-angguk mengerti.
"Apa?" tanya Fila tak sabaran.
"Bentar," ucap Lusi sok keren.
"Tugas peri adalah tugas yang wajib dikerjakan oleh peri. Entah itu peri negara, peri kota, peri wilayah, atau peri yang sedang dihukum atas kesalahannya.
"Jadi kamu lagi dihukum?" tanya Fila.
"Enggak dong. Aku disuruh bunda buat jalanin tugas negara," ucap Lusi sombong.
"Kalo perinya beda-beda, tugasnya beda-beda nggak?" tanya Fila lagi.
"Ada yang beda. Ada yang sama."
"Oh ya, ya. Kalo peri negara tugasnya apa?"
"Dari tadi nanya mulu. Kasih makan kek. Laper nih," keluh Lusi.
"Yah, tabunganku abis. Gimana donk?" ucap Fila bingung.
"Yahhh ...." Keluh Lusi yang menendang-nendang tang Fila seperti anak kecil.
"Bentar." Fila berdiri yang membuat Lusi tergelinding di bantal.
"Mau ke mana?"
Bersambung...
__ADS_1