
"Dia itu cewek jal*ng! Cewek murahan! Mungkin dia juga sering disewa sama om-om." tuduh Dion yang membuat Adam marah besar dan ingin memukul Dion. Tapi dihentikannya saat ada tangan yang memegang tangannya. Lalu langsung menampar Dion dengan segunduk perasaan marah, kecewa, dan sedih.
Dion masih berpaling ke kanan. Tamparannya tidak keras. Tapi membuat Dion tersentak kaget. Dan merasa sadar atas perbuatannya.
Entah sejak kapan air mata itu berjatuhan. "Aku tau kok, aku yang udah ancurin motor kamu .... Aku juga tau kalo aku yang udah bikin kamu luka-luka." Fila mendongak menampung air matanya, agar tidak berjatuhan. Tapi tetap saja tidak dapat terbendung. "Tapi nggak seharusnya kamu ngehina aku kayak gitu! Aku bukan cewek murahan! Aku bukan cewek ... jal*ng." Fila sungguh tak bisa menahan apapun lagi. Pertahanannya telah runtuh. Dengan segala langkah yang meninggalkan jejak kepiluan.
Dion perlahan mundur. Tidak tau apa yang harus dilakukannya kali ini. Dia sudah sangat keterlaluan.
Adam mulai mendekati Dion. Dengan segala perasaan marah, Adam memukuli setiap sisi wajah busuk yang diperlihatkannya saat ini. Dion hanya membiarkan temannya mendukung dirinya.
"LO GILA!" Berangnya terus memukuli Dion.
"Udah! Udah!" Mereka berhenti saat beberapa maba dan senior juga yang melerai mereka. Bian tidak tau juga kelanjutannya akan seperti ini. Dia benar-benar menyesal.
Nada benar-benar sudah tidak tahan dengan semua ini. Ia mulai mengejar langkah demi langkah yang semakin cepat. Tidak menghiraukan panggilan-panggilan yang ditujukan untuknya.
Melihat Dion yang juga sudah lepas dari pukulan sahabatnya. Ia juga berlari mengejar kesalahan yang harus diperbaiki.
Sedangkan Adam sekarang tengah menenangkan dirinya. Bersama para mba yang juga menenangkannya.
Sampailah Nada pada seseorang yang tengah meneriaki dirinya sendiri di taman belakang kampus tepatnya.
"Arrrgghh!! Aku bukan cewek jal*ng!" teriaknya tak karuan. Sesekali terisak. Menahan sesak di dadanya yang menjalar ke ulu hati.
Nada tak tinggal diam. Dia langsung mendekati Fila. Membalikkan badannya. Dan langsung memeluk Fila. Berharap gadis itu tenang. Tapi ia malah semakin terisak. Nada langsung mempererat pelukannya.
Sampai pada sepasang mata yang menyaksikan dua insan manusia yang saling memberi kehangatan satu sama lain. Ada rasa sakit yang menjalar. Sepasang mata yang tadinya putih. Sekarang menjadi mempunyai garis-garis merah dengan otot mata yang menegang. Kaki jenjangnya mulai melangkah pergi. Meninggalkan mereka yang sedang berpelukan.
"Arrgghh!!" Dengan segala luapan emosi yang semakin meronta, Dion memukuli habis-habisan tembok yang sekarang menjadi pelampiasan amarahnya.
Lusi terkejut sendiri saat ada suara dari dalam toilet cowok. Yang berada dekat dengan toilet cewek. Ia menguping di balik pintu toilet cowok.
Dion lalu berdiri meninggalkan jejak merah di tembok. Darah. Lalu ia mendobrak pintu.
Sedangkan Lusi bingung sendiri. Sebenarnya apa yang terjadi? Karena sedari tadi ia berada di toilet. Untuk sekedar bercermin. Dia berada di samping Fila hanya sampai dari Lusi memanggil Fila. Tapi tak digubris olehnya.
__ADS_1
****
"Fil, udah ya. Jangan nangis lagi." Nada menyeka air mata di mata Fila.
"Kak."
"Hem." Nada menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Fila yang lengket karena keringatnya.
"Makasih ya kak."
"Iiya." Ucapnya tersenyum.
"Sayang. Kita mulai gamenya yuk." Ajak Siska yang sudah risih karena sedari tadi ia melihat pemandangan yang tidak mengenakkan baginya. "Ayok!" Ajaknya lagi seraya tangannya menarik-narik tangan Nada agar bangkit.
"Sis, malu ah. Kita kan nggak pacaran. Nggak usah sayang-sayangan," tolaknya mentah-mentah. Yang membuat respon para maba dengan menertawakan nasib buruk Siska.
"Ihh!" Ketusnya lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
"Udah. Kamu di sini aja." Titahnya mengusap kepala Fila. "Biar yang lain aja yang main." Fila hanya mengangguk menuruti.
"Manja," gumam Dinda yang sempat didengar oleh Fila.
"Apaan sih Din." Tapi Dinda malah mengeloyor pergi meninggalkan mereka. "Jangan dipikirin. Dinda emang orangnya jutek banget, tapi aslinya baik kok," jelas Celly meyakinkan.
"Iya ... aku tau." Fila tersenyum percaya.
"Bukan jutek. Tapi emang kadang nggak mikir," celetuk Bom-bom.
Celly langsung menjitak kepala Bom-bom. Bom-bom hanya mengaduh. "Dah ayo!" ajaknya.
Celly dan Bom-bom langsung pergi dan menghampiri Dinda. Kecuali Adam yang sedari tadi menatap Fila. Fila yang sadar sedang ditatap oleh Adam, hanya tersenyum canggung. Adam lalu langsung melangkah pergi saat mengingat gamenya yang akan segera dimulai.
"Fila." Panggil Lusi yang seperti biasa dia sudah duduk ditangan Fila.
"Aku pengen marahin kamu," ketusnya.
__ADS_1
"Lah. Aku terus yang jadi pelampiasan amarah kamu." protesnya tak terima.
"Karna kamu kecil. Pengen aku penyet-penyet." ucapnya geram. Fila mencontohkan gerakan jarinya yang ingin memenyet sesuatu.
"Ishhh! Huhh!" Hanya keluhan yang keluar dari mulut Lusi.
Fila tertawa kecil. Seraya terus mencabuti rumput sebagai kebiasaannya. Entahlah kapan kebiasaan ini muncul. Ia sangat menyukainya.
Ada sepasang mata yang terus menerus memperhatikan Fila dari belakang. Melihar pergerakan tangan Fila yang terus-menerus mengotori tangannya dengan mencabuti rumput. Refleks kaki itu mendekat.
"Kotor, " tegurnya. Lalu menarik tangan Fila untuk dibersihkan.
Dion yang menyadari perbuatan refleksnya itu langsung melepaskan genggamannya. Ia duduk dengan lutut yang ditekuk.
"Tolong jangan deket-deket." Usirnya tanpa menatap Dion.
"Fil, gue minta maaf," sesalnya. Lalu dengan refleks Dion memegang tangan Fila.
Tapi Fila langsung menepisnya. "Aku bilang jangan deket-deket." Tak banyak omong Fila langsunh berdiri dan pergi meninggalkan dua makhluk ciptaan Tuhan itu.
"Fil, mau kemana?" Tanya Lusi yang sudah menyusul Fila pergi.
Sedangkan dari jauh Adam yang sedang bermain, langsung bergerak meninggalkan permainan. Dan langsung menghampiri seseorang berwajah busuk itu baginya.
"Woy! Lo apain Fila?! Hah!" Adam menarik dan meremas kerah baju Dion hingga membuat Dion berdiri.
Dengan beberapa senior cowok juga sudah menyusul. Sedanglan yang cewek mengatur maba yang sedang bermain.
"Gue cuman mau minta maaf," jelasnya tenang.
"Gue nggak percaya! Kalo lo minta maaf nggak mungkin Dila sampe pergi kayak gitu!" cecar Adam tak percaya.
Dion sangat malas meladeni sahabatnya ini yang emosian. Dia melepaskan remasannya pada kerah bajunya. Lalu berlalu pergi meninggalkan mereka semua.
"Lo ...."
__ADS_1
Bersambung...