Periku

Periku
Masa Ospek 9


__ADS_3

"Nggak mau. Capek," ucap Lusi membantah.


"Kok nggak mau sih. Terus, gimana kita berangkatnya coba?" tanya Fila cemas.


Lusi menghela nafas kasar. "Triing."


Akhirnya Lusi membawa Fila ke kampus Fila. "Makasih ya," ucap Fila senang. Lusi hanya membalas dengan anggukan.


****


Malam keakraban adalah malam di mana para senior melepaskan jabatannya. Dari senior menjadi teman. Tidak ada kata kakak senior lagi. Acaranya hanya sekedar mengakrabkan maba dan mala. Sekaligus menjalin sebuah ikatan yang dinamakan pertemanan.


"Cel, lo nggak jemput Fila?" Tanya Chindy kepada Celly yang sudah datang ke kampus bersama Dinda.


Celly menepuk jidatnya. "Oh iya gue lupa. Soalnya tadi buru-buru. Jadinya nggak sempet jemput," ucapnya lesu.


"Wih neng, cantik bener."


"Mau jadi pacar abang nggak?"


"Ati-ati neng jangan sampe jatoh. Sini abang bantu."


"Jatoh ke mana?"


"Jatoh ke hati gue lah ke mana lagi."


Ungkapan-ungkapan para maba cowok saat melihat Fila datang. Yang membuat Dion yang berada di sana menolehkan kepalanya. Dan mendapati Fila. Tak bisa lepas pandangannya. Melihat Fila mengenakan dress berwarna biru muda. Dengan sepatu dan aksesoris yang padu. Semua sangat padu jika dipakai Fila. Apalagi setelah ia menata rambutnya dengan rapi, tidak seperti pada saat masa ospek.


Seiring langkahnya berjalan, ia terus memperhatikan.


"Iya, dia emang cantik. Tapi udah bekas."


"Bekas gimana maksud lo?" tanya cewek yang berada di sebelahnya. Yang membuat perhatian Fila teralihkan.


"Iya, kan dia udah disewa sama om-om."


Dion juga sempat mendengar pembicaraan antara dua cewek nyinyir ini. Semua ini salahnya. Seharusnya ia tak melakukan hal yang bisa membuat Fila terbully.


Fila menatap nanar mereka. Lalu tanpa sengaja ia juga menemukan cowok yang membuatnya terkena masalah. Dion. Tatapannya sudah tak bersahabat kali ini.


"Fila!" Teriak histeris Chindy yang menghampiri Fila. Disusul Dinda. "Fila. Kamu cantik banget!" Seru Celly yang memutar-mutar tubuh Fila. Fila hanya pasrah diputar-putar.


"Ya udah yuk, ke sana." Ajaknya lalu menggandeng tangan Fila untuk ikut bersamanya.


"Oh iya, Chindy di mana?" tanya Fila. Seraya matanya mencari keberadaan sosok sahabatnya itu.


"Nggak tau. Tadi bareng kita kok. Tapi nggak tau sekarang di mana."


****

__ADS_1


"Lo tadi ngomong apa?" Dion berada di depan cewek yang tadi membicarakan Fila.


"Nggak. Gue nggak ngomong apa-apa," jawab cewek itu gugup.


"Gue tau. Lo ngomongin aneh-aneh kan sama Fila," desaknya.


"Nggak! Apaan sih. Kita dari tadi nggak ngomong apa-apa kok. Mungkin ... mungkin lonya aja kali yang salah denger," elak cewek yang satunya lagi.


"Kalo gue salah denger. Berarti lo ngomong sesuatu. Dan itu ngomongin aneh-aneh tentang Fila," skakmat.


"Enggak, tadi ...."


"Alah udah!" Dion mengibaskan tangan geram. Beralih menunjuk kedua cowok itu. "Kalo lo ngomongin tentang Fila yang enggak-enggak lagi, gue bakal buat lo nyesel nantinya," ucap Dion penuh ancaman. Dion lalu pergi meninggalkan.


"Apaan sih, nggak jelas banget. Kan dia yang kalo Fila disewa sama om-om," ketusnya.


****


"Ya ampun gue diabetes," ucap Adam yang ditujukan kepada Fila.


Bom-bom menoyor kepala Adam. "Lebay!"


"Woy! Tenaga lo kayak gajah. Jangan asal noyor kepala gue dong."


"Emang dasar, bang Adam lebay. Bang Adam bang, bang Adam bang, bang Adam bang, lebay, lebay, lebay, lebay, lebay bang." ejek Bom-bom menyanyikan lagu asal-asalan.


"Lo berat ogeb. Turun!" titah Bom-bom.


"Ogah. Gue enteng. Lo yang berat kali." Ucapnya menarik-narik rambut Bom-bom seperti sedang mengendali kuda.


"Terus Dam. Terus."


"Adam. Adam. Adam."


"Bom-bom. Bom-bom. Bom-bom."


Teriak para maba mendukung jagoan mereka masing-masing.


"Jangan tarik-tarik. Sakit njir." ucap Bom-bom yang sudah tidak kuat menahan berat badannya ditambah berat badan Adam yang menjadi benalu atau menumpang sekarang. Dan membuat Bom-bom oleng hingga terjatuh menimpa Adam. Bisa dibayangkan bagaimana rasanya.


Para maba terus bersorak sorai, apalagi setelah melihat pertunjukan gratisnya semakin seru.


Bom-bom langsung bangun saat menyadari tidak ada pergerakan dari orang yang berada di bawahnya.


Adam hanya terlentang pasrah tak berdaya.


"Lo nggakpapa kan?"


****

__ADS_1


Sayang, jemput aku ya.


Tulisan itu yang tertulis di layar handphone Nada saat ia menilik aplikasi berwarna hijau. Dan menemukan nama Siska di dalamnya.


Nada hanya membacanya dan tidak beniat membalasnya. Lalu memasukan hpnya ke saku celana. Beralih mengambil kunci motor di meja nakas. Lalu berniat menjemput Siska. Entahlah, dia hanya ingin memenuhi permintaan temannya.


****


"Sakit Bom." Sekarang Bom-bom merangkak menjadi tukang pijit. Entah karena ulah siapa. "Sebelah sini Bom." Ucap Adam menunjuk area yang diinginkan.


"Sumpah. Badan lo cungkring bener dah. Kayak nggak pernah dikasih makan." Ejek Bom-bom seraya terus memijit punggung Adam.


"Brissiikk!" ucapnya.


"Fil." panggil Dion tiba-tiba berada di depan Fila.


"Ngapain dia ke sini? Mau aku kasih pelajaran kayaknya." Ucap Lusi yang sudah mau maju dan men'tring' Dion. Tapi tangan Fila menghalangi Lusi guna mencegah Lusi yang akan memberi pelajaran kepada Dion.


"Ngapain lo ke sini?" tanya Celly dengan nada keras. Hingga membuat orang yang sedang melakukan aksi pijit-pijitan itu terhenti. Dan menoleh memperhatikan mereka.


"Gue cuman mau minta maaf sama Fila. Fil." Ucapnya lalu mendekat ke arah Fila.


Celly mendorong bahu Dion. "Apaan. Lo minta maaf apaan. Lo udah bikin dia nangis," ketus Celly.


"Gue tau. Makanya gue mau minta maaf," jelasnya.


Fila menghela nafas samar. Lalu ia berdiri. "Aku udah maafin kamu." Ucap Fila tanpa menatap Dion. Cukup lama Fila menunduk. Sampai ia memberanikan diri untuk mendongak menatap Dion. Sesaat kontak mata mereka bertemu. Hingga membuat Dion tersenyum tipis.


"Lo, ikut gue." Adam menarik lengan Dion untuk ikut bersamanya. "Lo ngapain hah, kesini lagi."


"Gue cuman mau minta maaf. Udah itu doang," jelasnya.


Tatapan mata Adam masih tak bersahabat. Jelas sekali saat ia mengerutkan dahinya.


"Gue tau gue salah. Gue minta maaf Dam." Adam tak merespon apapun. Ia hanya menghela nafas. Apakah persahabatannya akan berhenti sampai sini saja? Setelah bersahabat selama satu tahun. Bersama Cakra, Adam dan dirinya. "Gue bakal benahin perilaku gue sama Fila," ucapnya lagi.


Gue harap, lo bisa manfaatin kesempatan ini dengan baik Yon." Adam menepuk pundak Dion. Dion merespon dengan senyuman tipisnya.


****


Malam keakraban telah usai. Sekarang tinggal malam tidur Fila yang disia-siakan. Hingga mengurangi wakru tidur Fila yang sangat berharga. Tidak sampai di situ saja, sekarang ia harus menanggung sendiri akibat dari malam keakraban itu. Yaitu bangun kesiangan.


"Aaaaa!" Teriaknya saat melihat jarum jam dinding menunjukan waktu yang tidak semestinya. Fila langsung bangkit. Mengambil handuk. Dan keluar untuk mandi di kamar mandi luar rumah. Atau kamar mandi umum.


Setelah selesai dengan aktivitas mandinya. Ia beralih pergi ke cermin rias miliknya. Merias wajahnya senatural mungkin. Selesai berdandan. Sekarang dia mengambil tasnya. Bukan tas karung lagi. Melainkan tas biasa yang digunakan untuk mahasiswi pada umumnya.


"Lus, bangun."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2