
Jatuh cinta itu seru. Tapi kalo jatuh doang sakit tau.
...~Fila Dellarel...
"Emmm... hai," sapa Fila pada pria itu. Entah kenapa Fila jadi seberani ini. Pria itu mendongak menatap gadis yang menyapanya.
"Oh, hai." Jawabnya ramah sambil tangannya menepuk rumput yang berada di sebelahnya mengisyaratkan gadis itu duduk.
"Lo mahasiswa baru ya?" Dan ya ampun senyumannya.
Apa aku tersihir senyumannya? Fila, ayo cepat bangun!Woy Fila gak sebar-bar itu.
Entah kenapa Fila memajukan bibirnya setelah dirasa wajah cowok itu mendekat menghampirinya.
Fila merasa ada tangan yang melambai-lambai di depan wajahnya. Seketika mata Fila melotot dan menampakkan seemburat merah di pipinya. Segera ia memalingkan wajahnya. Dan alhasil merutuki pikiran dan perbuatannya.
Cowok itu terkekeh. Apalagi setelah melihat pipi Fila yang menjelma menjadi tomat.
"Lo mikir apa?" Tanya cowok itu yang masih mengukir senyum jahilnya.
Sungguh Fila sangat malu. Ingin sekali dia menggali tanah dan langsung mengubur dirinya sendiri hidup-hidup di sana.
"Nama lo siapa?" tanya cowok itu mencairkan suasana.
"Fila," Fila menjawab seadanya. Menyadari perasaannya masih kikuk di sini.
"Gak usah tegang gitu kali. Biasa aja." Sekarang Fila tak lagi menatap senyumnya. Takut terjadi lagi.
Hingga suatu panggilan membuyarkan aktivitas Fila memainkan jarinya.
"Nad, ternyata lo di sini," ujarnya seperti tergesa-gesa mencari cowok itu.
"Kenapa Yan?" Tanya cowok itu berdiri.
"Siska nyariin lo tuh. Udah gue bujuk berkali-kali. Tapi dia tetep gak mau makan. Dia minta lo yang nyuapin. Lo samperin deh," ucap cowok yang dipanggil 'Yan' itu. Cowok idamannya sekarang tengah membereskan laptop dan semuanya dengan tergesa-gesa dan mulai menuju tempat yang dituju.
Fila berniat mengejarnya tetapi urung setelah mendengar ucapan cowok yang bernama 'Yan'.
"Eh. Lo mau kemana, Lo mahasiswa baru kan?" Dan langsung mendapat anggukan dari Fila. "Ikut gue."
"Iya kak." Fila mengekori cowok itu. Dan mulai menepis semua pikirannya.
Memangnya aku siapa? Sampe berani ikut campur urusan orang lain.
****
"Ok para maba. Kalian semua dikumpulkan di sini karena kita akan menyampaikan beberapa aturan yang harus dipatuhi selama masa ospek berlangsung. Jadi, jika kalian melanggar satu aturan pun yang kita siapkan. Maka kalian akan mendapatkan sanksi sesuai kesalahan yang kalian buat. Mengerti semua?" tutur salah satu senior laki-laki.
"Mengerti!" jawab serempak para maba yang berbaris mengikuti arahan seniornya.
"Semua harap duduk. Dan keluarkan buku dan pulpen kalian untuk mencatat semua aturan-aturannya." Para maba segera menuruti semua titah senior perempuan itu.
Semua tengah sibuk mencatat beragam aturan yang diucapkan senior mereka. Mulai dari atribut yang mereka kenakan. Lalu model rambut yang harus mereka potong. Satu hal yang sangat sedikit orang mengerti. Yaitu soal makanan dan minuman yang harus mereka bawa.
__ADS_1
"Soal makanan apa kalian sudah paham?" tanya senior ganteng itu.
"Masa iya kak, kita harus bawa makanan sama minuman kayak gitu. Mana monyet-monyet gila pakek dibawa-bawa lagi," celetuk salah satu maba yang berbadan gempal itu.
Semua menyetujui perkataannya termasuk Fila.
"Iya kak. Apa gak serem tuh kak?" salah satu maba perempuan kembali menanggapi.
"Kalian bingung?"
"Iya," jawab mereka serempak.
"Kalo kalian punya IQ tinggi otomatis kalian bisa nyelesain semua ini." Senior itu tersenyum. "Ayo semangat!" Seraya mengepalkan tangan dan menariknya ke atas.
"Semangat buat apa kak?" sekarang Fila yang angkat bicara.
Senior itu membungkuk memajukan wajahnya ke hadapan Fila. "Mikir." Jawab senior ganteng itu menarik bibir melengkung yang membuat senyuman. Pipi merah? Sudah pasti. Itu sudah dapat dipastikan. Walaupun sekarang wajah seniornya sudah menjauh pipi itu tetap saja merah.
Satu kata yang dapat menggambarkan Fila. Baperan.
****
_________________________________________________
Minuman/makanan
Minuman perkakas.
Permen rubah.
Singkong I Love U.
Ratu perak.
Snack pembohong.
Minuman bilangan 2,3,5.
Snack monyet-monyet gila.
Snack tornado.
_________________________________________________
Fila terus melihat tulisan itu di bukunya. Tapi tetap saja tak menemukan jawaban. Hanya beberapa saja yang ketemu. Triplek berlapis, permen rubah dan snack pembohong. Tapi dia sama sekali tidak menemukan minumannya.
"Terus gimana dong?" Tangannya menyuruh pulpen untuk mengetuk-ngetukkan dagunya. Berpikir. Seraya tengkurap menyamankan posisinya. Dia sudah kehabisan akal.
Dengan senyum licik Lusi terbang mengendap-endap di belakang Fila.
__ADS_1
"Dorr!"
"E-eh bulu kuduk gue jedor-jedor!" latah Fila yang tidak nyambung sama sekali.
Seketika Fila membelalakkan matanya. Melihat pemandangan yang akhir-akhir ini sering ia lihat. Segera Fila bangun dan mengubah posisinya menjadi terduduk dan memeluk erat lututnya. Seraya terus mengucap kalimat dukungan untuk dirinya sendiri. Ini cuma mimpi. Berkali-kali.
"Sampe kapan kamu terus yakinin kalo ini cuma mimpi, Fil?" Fila mendongak dan kembali meyakinkan dirinya sendiri. Lusi menghela napas samar. "Fil, aku Lusi. Peri dari negara Fairy Rel. Peri tercantik, terbaik, terimut, terpintar. Ter-ter-ter-ter." Membanggakan dirinya seolah dia paling segalanya.
Lusi mengulurkan tangannya. Berharap Fila tersenyum. Tapi ini kemajuan besar dia mulai menjabat tangannya. Lusi tersenyum.
Fila tersenyum kikuk. Segera ia melepas jari telunjuknya setelah tadi menjabat tangan Lusi.
Lusi duduk di kasurnya. Tepatnya bantal Fila yang berada di depan Fila. Lusi masih tersenyum melihat Fila yang mulai penasaran dengan dirinya. Fila tengkurap dan memperhatikan lekat-lekat setiap sisi wujud Lusi.
"Fuhhh." Fila mengejat kecil sesaat setelah Lusi meniup matanya. Lusi tergelak.
Fila tersenyum. Dan mulai menumbuhkan rasa simpati layaknya seorang teman.
****
Sekarang sudah menunjukkan pukul 21.00. Dan Fila masih setia dengan tugas kuliahnya. Ia sudah menyelesaikan atribut dan makanannya. Sekarang tinggal pekerjaan paling sulit. Yaitu minuman.
"Fil." Panggil Lusi dengan mengerjap-ngerjapkan mata menahan kantuk.
"Hem?" jawabnya yang masih melihat buku tugasnya.
"Sampe kapan ngerjain tugas terus? Emang kamu nggak capek?" tanyanya.
"Capek sih. Tapi mau gimana lagi, orang tugasnya belom selesai." Fila menatap Lusi sekilas lalu kembali lagi ke bukunya.
"Tugas apa lagi sih. Bukannya itu udah banyak tugas yang kamu kerjain." Ujarnya menunjuk perlengkapan ospek.
"Iya itu udah. Tapi masih kurang satu lagi."
Fila langsung mengernyit ketika Lusi menatap buku dan mulai membaca satu persatu abjad di sana.
"Emang kamu bisa?" tanya Fila tak yakin satelah melihat Lusi kesusahan menemukan jawabannya.
"Ehmm. Kayaknya aku tau deh." ucap Lusi mulai serius.
"Beneran tau?" Tanya Fila mulai terhanyut dan mendekati Lusi.
"He'em." Lusi mengangguk. "Udah kamu tenang aja. Mending kamu tidur. Daripada besok terlambat. Ini aku aja yang kerjain. Gampanglah cuman satu doang." tutur Lusi.
"Emang bener bisa?" tanya Fila yang kini sudah berbaring di atas kasur dan terselimuti.
"Iya, udah deh." kembali meyakinkan.
Fila tertidur. Dan mempercayakan tugasnya kepada Lusi. Biar dia aja yang ngerjain.
Lusi mengangkat tongkat sihirnya. "Triing."
Cahaya mulai berkilauan. Dan muncul beberapa botol minuman dengan bilangannya.
__ADS_1
Bersambung...