Periku

Periku
Lusi - Misi Menyelamatkan seseorang


__ADS_3

...Pengalaman baru membuatmu terbang menemukan kejutan....


...~Lusi...


Berdandan. Adalah suatu kegiatan memoles wajah dengan alat kecantikan. Mulai dari pipi, bibir, alis dan mata. Dan yang paling aku suka dari merias wajah adalah kepuasan tersendiri karena dapat menciptakan aura magic yang terkumpul di sekitarku.


Lihat saja! Banyak orang yang berlalu-lalang. Bahkan ada yang masih sibuk dengan pekerjaannya. Tapi, mereka tetap menyempatkan untuk menyapaku. Jika tidak sekalipun menyapa, mereka hanya menatapku tanpa mau berkedip. Sungguh magic dengan cara manual.


Uhh, hampir saja aku lupa.


Segera aku terbang dan menemui ratu. Meninggalkan sorotan kekaguman dari warga kota. Aku tak terlalu memikirkan.


"Uhh, sayapku. Bagaimana bisa hujan disaat-saat seperti ini?" Aku segera turun setelah melihat istana peri. Aku memasuki istana setelah mengeringkan sayapku sejenak.


"Maaf ratu. Ada apa anda memanggil saya kemari? Apa ada tugas penting?" Aku segera menundukkan kepala ketika ratu berbalik menatapku.


Aku melihat kaki itu mendekat. Melangkah menghampiriku. Refleks aku berlutut ketika ratu sudah mensejajarkan tinggi badan kami.


"Kamu sangat sopan, nak. Jangan terlalu berlebihan menghormati bunda." Iya, dia bundaku. Ratu dari segala ratu peri. Bunda memang seperti itu. Selalu berlebihan mengistimewakan anaknya. Padahal kan aku juga warga di sini.


Tangan itu memegang bahu menguruhku untuk bangkit. Dia terlihat tersenyum. Mata indah birunya menatap lekat wajahku. Berusaha mencari perbedaan di wajah kami. Tak menemukan satu pun. Bunda beralih menatap penampilanku.


"Bun..."


"Shuttt." Bunda menghentikan ucapanku dengan menempelkan telunjuknya ke bibirku. " Bunda hanya ingin menatap putri bunda lebih lama lagi. Agar bunda puas." Seakan mengerti rasa bingungku bunda kembali berucap. "Kamu akan meninggalkan bunda." Aku tambah merasa bingung. Berharap akan mendapat jawaban yang jelas. Bunda malah pergi. Meninggalkanku dengan sejuta pertanyaan yang menyangkut di kepalaku.


Aku segera melangkah ketika bunda keluar dari aula istana.


"Maaf, tuan putri." Aku mengernyit bingung ketika seorang maid menyodorkan sekotak kecil berwarna putih gemerlap.


"Apa?" Pertanyaanku tak digubris. Maid itu hanya menunduk diam dengan kotak kecil yang masih setia menggantung di tangannya. Seolah mengatakan : Jika ingin tau, maka ambil dan aku akan mengatakannya.


"Maaf, tuan putri. Saya hanya ingin menyampaikan pesan ratu untuk anda." Kenapa ridak sekalian saja tadi? "Ratu berpesan, agar anda memakai cincin yang ada di dalam kotak itu." Aku membuka kotak itu. Dan menemukan sebuah cincin dengan hiasan sayap peri di atasnya.

__ADS_1


"Mari, ikut saya." Entah apa yang akan ditunjukkan maid itu. Daripada berteman dengan rasa penasaranku, lebih baik aku mengikutinya.


****


Semilir angin malam menembus kulitku. Jika ingin memberiku tugas lagi, kenapa harus menggunakan kendaraan berekor ini? Aku saja bisa terbang seperti biasanya. Tapi, sepertinya tugas ini berbeda, tidak seperti biasanya. Walaupun tempatnya masih sama. Tempat tinggal para manusia tidak bersayap.


Aku segera memasuki atmosfer bumi dan mendarat lalu menghilangkan kendaraan yang disebut bintang berekor.


Keheningan malam telah menyapaku. Aku harus bertanya pada siapa jika sudah seperti ini? Mengingat ukuranku dengan ukuran manusia sangat jauh berbeda. Lagipula aku tidak terlihat. Aku hanya bisa terlihat oleh 'dia' seseorang yang akan kujaga. Ini titik penasaranku. Bunda akan ikhlas-ikhlas saja saja jika aku menjaga seorang manusia. Tapi kali ini, bunda seperti merasa sedih. Sebenarnya siapa yang akan aku jaga. Apa dia istimewa?


Aku mendapat sinyal, setelah lama berjalan-jalan ups 'terbang-terbang'. Sayapku berkedip-kedip pertanda arah tujuanku sudah semakin dekat. Aku sepertinya melihat sebuah rumah.


"Arggghh ck ah." Daun pengganggu. Kenapa aku harus bertemu denganmu?


Aku harus lewat mana ini? Aku menggedor-gedor pintu. Tapi apa sih kekuatanku, aku sama kupu-kupu saja kalah. Tapi aku tak kehabisan akal.


"Fila." Aku mulai bersuara. Untung saja aku mengingat namanya. Jadi tidak terlalu sulit.


"Fila." Ck, dia sedang tidurkah? Terdengar seperti suara langkah kaki. Mendekat. Knop pintu pun mulai berputar. Akhirnya pintu itu terbuka juga. Tapi apa yang terjadi? Arggghh.


Aku mengeluarkan tongkatku. Dan mulai menaburinya dengan bubuk ajaib. Seketika ia melayang, aku mulai membawanya masuk. Dan menidurkannya di tempat dimana dia biasa tidur. Heuh, kenapa tidak dari tadi.


Aku melihat dia mulai terbangun. Dia mulai mengerjap-ngerjap. Mungkin penglihatannya masih kurang jelas. Dia mulai mengejat hebat lalu mundur. Terdapat air muka yang menunjukkan rasa ketakutan diri.


"Ka-kamu siapa?" Aku mulai mendekat.


"Aku itu pe..."


"Jangan deket-deket." Emang aku jelek ya? Sampai tidak sudi didekati. Perasaan aku cantik deh. Dasar manusia!


"Oke-oke." Aku mulai menjauh. "Jangan takut Fila, sekarang aku temanmu." Aku rasa dia sudah tenang. Sekarang aku berada di depan wajahnya.


"Arggghh!!!" Gila! Biasa saja dong. Gendang telingaku mau pecah nih. Tebakanku ternyata salah. Dia belum tenang. Seperti hewan buas saja. Sepertinya ini alasan bunda merasa sedih. Aku harus menjaga hewan buas.

__ADS_1


Kurasa dia sangat ketakutan. Dadanya terlihat naik turun.


Bentuknya kecil banget. Dia siapa sih? Hantu? Hantu apaan. Cantik gini dibilang hantu.


"Aku bukan hantu Fila. Aku ini peri. PERI." Aku mempertegas kalimatku. Tentu saja, siapa yang mau dibilang hantu?


"Peri? Gak mungkinlah. Kamu tuh gak ada. Kamu cuma ada di cerita dongeng." Sepertinya dia mulai berani. Mungkin dia berfikir dia hanya bermimpi.


Tunggu dulu. Dia bisa baca fikiran aku? Mungkin emang bener ini cuma mimpi. Bener kan?


"Heuh." Lelah sekali berkenalan dengannya. Terserahlah.


"Oh ya peri. Kamu kan paling deket sama Tuhan. Kamu bisa nyampein pesen aku gak sama Tuhan?"


Ini kan cuma mimpi. Tapi, soga jadi kenyataan. Apa maksudnya?


"Ekhem. Fila, tempat kita memang sama. Tapi Tuhan berada di langit paling atas. Langit ketujuh. Sedangkan, aku berada di langit paling bawah. Bahkan, tempatku pun belum bisa disebut langit. Masih terlalu rendah."


"Hem." Aku mendengar Fila berdeham. Mungkin merasa kecewa. Kentara sekali melihat perubahan wajahnya.


"Fila, memang kamu mau berpesan apa sama tuhan. Dia menatapku setelah beberapa lama mengalihkan pandangannya.


"Gak ada. Aku gak papa. Hmm." Kudengar Fila Fila mengela nafas. "Aku cuma kangen sama nenek. Aku cuma..." Dia sedikit mengulum bibirnya. "Cuma mau pesen sama Tuhan. Tolong jaga nenek. Aku cuma sendiri. Aku kangen banget sama nenek." Dia menunduk menutupi wajahnya. Sepertinya, kisah hidupnya lebih buruk dari semua orang yang aku jaga.


"Fil, tenanglah. Lagipula Tuhan pasti bakal jaga semua hambanya. Aku dijaga, kamu dijaga, nenek kamu di sana pun pasti dijaga. Tenang, Fil." Aku mulai mengusap bahunya yang mulai naik turun manahan isakan.


Dia mulai menatapku dengan mata sembabnya. Aku tersenyum melihatnya mulai tenang. Dia mungkin juga melihat senyumku, jadi dia juga mulai tersenyum.


"Peri, walaupun aku cuama mimpiin kamu. Tapi aku ngerasa lega udah curhat sama kamu. Bebanku mulai berkurang." Dia mengulas senyum lebih lebar dan menyeka air mata yang mulai berhenti mengalir. Entah mengapa aku mulai merasa 'hangat'.


"Kapan-kapan mampir lagi ke mimpiku ya. Pintu mimpiku pasti bakal terbuka kok buat kamu." Dia mulai menarik selimut dan memejamkan matanya tanpa mematikan lampu. Mungkin kebiasaan.


"Ternyata tidak sebuas yang aku kira."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2