
#My hopes are not always realized, but I always hope#
"Nenek lagi ngapain?" Tanya Kara
"Ambil persediaan rempah rempah, kamu mau makan apa Ra?" Tanya nenek
"Aku aja yang masak nek" Pinta Kara
"Kamu kan baru pulang kerja, nggak usah, nenek aja" Sahut nenek
"Aku aja nek, jarang jarang kan" Pinta Kara lagi
"Mending kamu bersih bersih aja sana" Suruh nenek
"Aku bantuin nenek aja deh" Ucap Kara
"Mandi aja dulu sana baru bantuin nenek"
"Nanti keburu udah selesai dong"
"Enggak, nenek tungguin deh" Ucap nenek meyakinkan Kara
"Beneran ya nek" Balas Kara untuk meyakinkan diri
"Iyaa"
Kara pun pergi dari ruang bawah tanah dan bergegas membersihkan diri.
Di kamar mandi, tiba tiba Kara teringat pembicaraannya dengan Rare waktu di kantor pagi itu.
__ADS_1
"Dari kapan Ra" Tanya Rare
"Maksud kamu?" Tanya Kara balik karena takut salah memahami apa yang dimaksud Rare
"Huruf itu muncul" Tunjuk Rare dengan dagunya
Kara terdiam tidak membalas perkataan Rare
"Aku udah menduganya ya Ra setiap jam 09.28 tangan kamu selalu kamu sembunyiin di bawah meja, pertama kali aku bisa lihat hurufnya berubah warna tapi aku ngeyakinin diriku kalau aku salah lihat"
"Sekarang jawab aku dengan jujur Ra, kamu bisa lihat kapan orang meninggal kan" Tanya Rare jelas dengan tampang serius
Tentu Kara kaget dengan pertanyaan yang di lontarkan Rare, dia tidak menyangka Rare bisa tau dengan begitu mudahnya.
"Kamu bisa juga?" Tanya Kara hati hati
"Bisa lihat apa?"
Kara dan Rare reflek menoleh kaget saat suara itu masuk ke telinga mereka, itu adalah bu Santi, bibi Rare sekaligus bos Kara.
"Bisa lihat macam macam model gaun langka buat pernikahanku nanti bi, karena aku mau Kara yang buatin gaunku, dia juga setuju kok, yakan Kara" Ucap Rare dengan mudahnya mengubah suasana
"Kenapa kamu bilang nggak bisa lihat hal seperti itu, kamu kan juga desainer gaun b*doh" Jawab bu Santi sedikit terkekeh
"Sudah cepat berkerja kembali jangan buang buang waktu mengobrol disini atau gaji kalian saya potong" Ucap bu Santi menggoda
"Ampun bi kita pergi deh, yuk Ra" Ucap Rare menarik Kara keluar dari kamar mandi
"Ra, temuin satu buku judulnya Real Life. Kamu bisa temuin jawabannya di buku itu dan kamu sebaiknya berhenti merubah takdir Ra, percuma nggak akan bertahan, kita bicarain ini nanti lagi oke" Ucap Rare panjang lebar lalu langsung pergi meninggalkan Kara tanpa sempat Kara menjawabnya.
__ADS_1
Tok tok tok..
"Ah ya Kenapa nek?" Sahut Kara dari dalam kamar mandi
"Kamu ngapain aja di dalam lama banget, cepat keluar terus makan" Ucap nenek
"Loh nek kok udah selesai, katanya mau nungguin" Kesal Kara sambil buru buru menggunakan pakaiannya
"Kamu aja piknik di kamar mandi kalo nunggu kamu mau makan jam berapa kita" Omel nenek
Ceklek
"Ah nenek mah ngelebih lebihin" Ucap Kara berjalan ke dapur
"Udah cepet duduk terus makan, besok kamu jadi pergi sama Lyan?" Tanya nenek
"Harusnya sih, dia belom ngabarin lagi sih" Jawab kara
Drt.. Drt..
"Siapa Ra? " Tanya nenek melihat tingkah Kara yang tersenyum sendiri saat melihat ponsel nya.
"Kepo ih" Jawab Kara tertawa
"Lyan ini mah" Ucap nenek yakin
"Siapa bilang dia, sok tau ih nenek" Balas Kara
Neneknya pun hanya tersenyum mengangguk anggukan kepalanya sambil menyuap makan di meja makan.
__ADS_1