PERMONITION

PERMONITION
6.Kara


__ADS_3

KARA'S POV


#you're not everything, but without you, i'm nothing#


Aku menuju kamar dengan kepala yang penuh dengan pertanyaan. Tangan muncul huruf dan waktu berhenti, apa maksudnya? Aku tidak pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya.


Aku bergegas mengistirahatkan tubuhku, melepaskan timbunan pertanyaan di kepalaku dan bersiap untuk hari sibuk yang akan datang.


❀ ❀ ❀


Pukul 09.00, pagi ini terlihat cerah dengan awan awan, seperti biasa aku menempatkan diriku di meja kantor, menggambar sketsa sketsa gaun.


Memang cuaca bagus tapi rasanya membosankan.


"Kara kamu tau gak besok mau ada anak baru dan itu keponakan bos" Ucap Oya teman sekantorku


"oh masa? Kok aku nggak tau kabarnya?"


"Kemarin diberi tahu, kamu kan cuti" Jawab Oya sambil memutar mata malas


"ah iya ya" Jawabku kaku


"dia masuk paling pake koneksi" Dumal Rio


"woi sirik aja lo" Ucap Keos yang baru datang bersama Fanka sehabis membeli beberapa kopi untuk kita semua. Keos sebenarnya belum lama kerja di sini dan dia pindahan dari Jakarta.


sshhh


"argh" Tanganku tiba tiba panas seperti malam itu, huruf D itu bewarna biru cerah seperti warnanya akan keluar,,


"kamu kenapa Ra?" Ucap Oya sambil berdiri berusaha melihat aku yang berada di seberangnya


"gapapa, ga sengaja jariku kepentok" Jelasku


"aku kira apaan, hati hati dong ah" Decak Rio yang berada di sebelahku.


Aku menyimpan tanganku di bawah meja, jadi Rio tidak bisa melihatnya, aku melihat jam yang menunjukan pukul 21.28,, setelah itu tanganku kembali seperti biasa.


Aku sudah menutupi huruf ini dengan foundation karena terlihat sangat jelas. Lagi pula di kantor tidak boleh bertato apa lagi ini sangat jelas karena ada di dekat ibu jari, tapi karena hal tadi sekarang hurufnya jadi terlihat lagi hufttt


❀ ❀ ❀


"Aku pulang nek" Ucapku membuka pintu "karaa"


|ngging| "akh!! Kara~"


"kenapa Ra?" Aku tersadar dari lamunan


"kamu ngapain di sini?" Tanyaku pada Lyan


"katanya mau ajak kamu jalan jalan Kara" Ucap nenek dan Lyan hanya tersenyum kepadaku


"aku nggak bisa"


"Kara, dia udah jauh jauh ke sini, toh kamu udah pulang kok" Omel nenek


"tapi nenek gimana" Ucapku


"Tidak apa apa, hal itu sudah berlalu Kara, sekarang nenek udah aman" Jelas nenek


"memang nenek kenapa?" Tanya Lyan


"ah yaudah kamu tunggu aku ganti baju biasa dulu" Ucapku sambil pergi tidak menjawab pertanyaannya sebelumnya.

__ADS_1


"Kita mau kemana? ini udah mau sore nggak sampai sampai" Keluhku padanya


"kamu cerewet banget sih" Jawabnya


"cerewet? Aku baru ngomong loh" Jawabku tak trima


"bercanda" Balas Lyan tertawa.


"Sebenarnya dari tadi aku putar putarin doang sih, ini baru kita bakal jalan ketempatnya" Sambung Lyan santai


"hah?!" Aku menatapnya dengan mulut terbuka


"habisnya bagus dilihat waktu malam"


"terus kenapa kita nggak berangkat sore aja"


"takutnya kamu berubah pikiran, tadi aja aku di tolak mentah mentah apa lagi harus nunggu sampai sore bisa pura pura tidur kamunya, kan repot aku" Kata Lyan sambil memajukan mulutnya


"ya makanya kamu kalo mau ajak aku pergi itu akhir pekan dong kan aku li.."


Aku menghentikan perkataanku menyadari apa yang kukatakan dan sialnya Lyan sudah tersenyum lebar mencuri pandang antara jalanan dan diriku


"ngapain kamu?! liat jalan! aku ga mau mati gara gara kamu nabrak ya" Omelku


"oke berarti besok akhir pekan aku ke rumahmu"


"Jangan" Sahutku cepat


"katanya.." Ucap Lyan mulai pelan


"hari ini kan udah" Aku memberi alasan


"gitu banget"


"ya"


*Restoran*


"Kara minum apa?"


"Air putih aja"


"oke".


"Mbak mie ayam 2 minum nya es jeruk satu air putih satu" Pesannya


"silahkan di tunggu" Pamit pelayan itu.


Aku pun melepas jaketku karena terasa panas


"sebenarnya kita mau ke mana sih?" Tanya ku


"ke taman" Jawabnya


"ke taman malam malamm?!" Geramku


"ya nggak taman kaya biasanya dong Kara" Jelasnya


"Kara kamu pakai tato?" Tanya Lyan memecah hening, aku pun melihat tanganku


"ah ini, ya menurutmu gimana?" Jawab ku kembali memakan mie ayam ku


Lyan hanya terkekeh dengan ucapanku

__ADS_1


"Kukira kamu anak baik baik ternyataa"


"Apa! Sirik banget sih" Balas Kara kesal


Singkat cerita, saat ini kami berada di taman sawanka, letaknya lumayan tinggi dan perlu 1 jam untuk sampai, rasanya badanku sangat pegal huh >< tapi pemandangan di sini sangat indah, lampu dari setiap rumah terlihat sangat gemerlap.


"Kara gimana pendapat mu tentang nenek?" Tanya Lyan tiba tiba


"nenek ya, emm nenek itu segala nya buat aku"


"Kara" Ucap nya terhenti


"kamu harus percaya takdir deh"


Ucapnya dengan senyum mengembang tapi apa maksudnya nggak jelas banget dia.


"Kaya nya kita harus pulang skarang udah pukul 20.20" Pintaku


"iya ayo pulang" Ajak Lyan sambil berdiri.


Di perjalanan pulang ini sedikit hening, mungkin karena kita lelah dan kenyang jadi menimbulkan rasa kantuk dan malas.


sss


"argh" tangan ku kembali terasa seperti terbakar aku melirik arlojiku sekarang menunjukkan pukul 21.28 dan hal ini terjadi lagi.


"Kara kamu kenapa?,,Tatomu" Ucap Lyan kaget


"gapapa ini tato nya ada masalah kali sama tintanya" aku memang tidak menutupi huruf nya dengan tangan karena akan terasa tambah sakit dan jika ingin menyembunyikannya, inginku sembunyikan di mana tanganku ini, pasti dia tetap bisa melihat nya


"tapi itu berubah warna" Protes Lyan


"Ngarang, kamu salah lihat kali" Elakku dan Lyan hanya memasang wajah bingung.


Aku pun menempatkan diriku di kasur.


Drtt.. Drtt..


Aku mengecek ponsel tertera nomor tidak di kenal mengirim sebuah gambar


______________________________________________


D. I. E


3 kata. 3 menit. 3 huruf. 3 kesempatan


Takdir tau waktu


Takdir tau alur


Dia akan pergi walau kamu menghilang


Menyelamatkan hanya menunda


Pikirkanlah takdir mu sendiri


Kamu bukan satu satunya


Di dunia ini.


R.L


______________________________________________

__ADS_1


KARA'S POV OFF


__ADS_2