
# If you can dream it, you can do it #
Rabu pagi, Lyan sedang menyiapkan warungnya, Ia memang suka membuka warung sesukanya.
Jelas kebiasaan yang buruk tapi itu yang Lyan inginkan, sebenarnya dia lumayan ceroboh dalam melakukan suatu hal.
Dia berangkat di pagi hari karena tidak tau apa yang harus dia lakukan.
Lyan termasuk anak dalam keluarga yang tidak utuh, karena ibunya sudah meninggal.
Lyan sebenarnya bisa saja melanjutkan posisi ayahnya sebagai CEO, ayahnya pemilik sebuah perusahaan di kota itu, memang tidak besar sekali, tapi jelas mereka cukup kaya, bahkan justru ayahnya yang meminta Lyan untuk menggantikannya, karena kakaknya lebih ahli di bidang seni.
Lyan menolak setiap tawaran yang di berikan ayahnya berkali kali dan lebih memilih membuat warung sederhana di pesisir pantai; Ibunya sangat menyukai pantai.
"Selamat datang" Ucap Lyan menyapa pelanggan pertamanya.
Siang ini warung tidak seramai biasanya. Lyan memutuskan untuk mencari beberapa kerang, Ia ingin membuat sebuah gelang untuk diberikan kepada Kara.
Memang terkesan ribet, tapi Lyan melakukannya supaya bisa diingat Kara terus. Memang bucin.
"Ini pesanannya, selamat menikmati" Ucap Lyan ramah pada pelanggan ke-tiganya.
"Huft siang ini terasa panas sekali" Gerutu Lyan sembari berusaha membuat gelang, Ia memasang satu persatu kerang tersebut dengan teliti, karena menurutnya itu sangat sulit dilakukan.
"Hahh harusnya aku minta tolong kakak aja ini" Gumam Lyan pada dirinya sendiri
"Eh tapi nanti nggak hasil keringatku dong" Sambungnya pelan
"Hufttttt"
"Mas?" panggil salah satu pelanggan
"Ah iya ada yang bisa saya bantu?" Tanya Lyan
"Tambah udangnya lagi sepiring ya" Pesan pelanggan tersebut
"Baik ibu, silahkan di tunggu" Pamit Lyan menuju dapur
Percaya tidak percaya Lyan sangat handal memasak apalagi urusan seafood, makanya Lyan membuka warung seafood.
"Tunggu tunggu"
"Lah warna kesukaan Kara apa ya?"
Lyan berbicara sendiri sembari mengacak ngacak rambutnya lelah.
Lyan bergegas mengambil ponselnya dan menelfon seseorang.
"Halo" Suara dari sebrang sana menyapa
"Halo, kakak suka warna apa?" Tanya Lyan
"Dih tumben mau beliin aku barang yaa" Balas kakaknya
"Ngapain beliin kakak, buang buang uang banget" Balas Lyan
"Kali kali napa pelit banget" Ucap kakaknya datar
"Udah cepet jawab aku sibuk nih" Pinta Lyan menuntut
"Ungu biar kaya janda" Ucap kakaknya bercanda
"Nikah aja belom udah mau jadi janda, gagal nikah tau rasa kamu kak" Balas Lyan datar seperti ucapakan kakaknya sebelum nya
"Jadi warna apa"
"Merah, biru, kuning"
"Oke"
"Mau buat ap--"
Lyan sudah mematikan telfonnya, memang adik kurang ajar.
__ADS_1
Pasti itu yang di rasakan oleh kakaknya.
Lyan pun pergi ke toko yang menjual benang untuk gelang, ya, sekarang sudah menjelang sore hari, dan Lyan belum berhasil membuat gelang indah seperti yang dibayangknnya. Ia menutup warungnya sementara.
Padahal, menjelang sore hari biasanya banyak pelanggan yang makan di tempat Lyan.
Di jalan Lyan melajukan motornya dengan kencang karena dia mau memberi gelang itu kepada Kara malam ini juga, tapi sepertinya jelas tidak akan sempat.
Dia bahkan belum membuat satu pun, emm sebenarnya sudah sih, tapi dia menghancurkan yang pertama dan ingin mengulang membuatnya.
"Mbak ada benang buat gelang?" Tanya Lyan di sebuah toko
"Oh ada, mau warna apa?" Tanya pelilik toko
"Merah, biru, kuning"
"Biru muda atau tua?"
"Emm,, dua duanya deh" Ucap Lyan sedikit berfikir
"Makasih mbak" Ucap Lyan meninggalkan toko tersebut dan bergegas kembali ke pantai.
Ia sekarang sudah kembali di warungnya, kembali membukanya dan menyiapkan bahan dan alat
"Mas"
"Ah iya selamat datang"
Pelanggan terus berdatangan jadi Lyan memang lumayan ketetran antara memasak dan membuat gelang.
Lagi pula dia seharus nya tidak terlalu menargetkan harus memberinya malam ini juga.
Lyan melanjutkan kegiatannya membuat gelang, sedari tadi dia baru menyelesaikan satu gelang, padahal dia membeli 4 warna dan bertekad membuat semuanya.
Lyan merasa pusing karena di paksakan membuat gelang yang sebenarnya dia tidak ahli, Lyan memutuskan untuk berjalan jalan di pantai sebentar.
Memang pemandangan di sore hari adalah yang terbaik saat di pantai, desiran ombak dan hembusan angin sangat menenangkan untuk Lyan, Ia teringat ibunya.
Ah, tidak lama lagi hari peringatan kematian ibunya.
Lyan sudah memutuskan untuk menutup warungnya, dia lumayan kelelahan hari ini karena ternyata di sore hari banyak pengunjung yang datang.
Saat membuat gelang Lyan terus berfikir apakah Kara akan menyukainya.
Lyan mengubah rencananya, ia berencana memberi gelang ini pada ibunya, kakaknya, Kara, dan nenek Kara.
Dia membuat empat karena ia memiliki empat warna.
Hari mulai malam, Lyan memutuskan pergi ke sebuah cafe untuk meminum secangkir Espresso panas.
Sruup..
Lyan menyeruput kopinya sedikit demi sedikit.
"Wahh, bikin gelang ternyata sesusah ini" Gumam Lyan sendiri merasa lelah
"Permisi" Ucap seseorang
Set..
Lyan langsung mengalihkan pandangannya terhadap orang tersebut
"Ah,, saya boleh duduk di sini tidak?" Pinta orang tersebut
"Oh silahkan silahkan" Balas Lyan ramah
Entah apa yang terjadi tapi Lyan merasa tercengang saat melihatnya; Ia sangat cantik
❀ ❀ ❀
"Aku pulang" Ucap Lyan memasuki rumahnya
"Baru pulang kamu" Ucap kakak Lyan
__ADS_1
"Mana hadiah ku" Tagih kakaknya itu
"Tadi mampir cafe aku, nih kopi Macchiato kesyukaan anda" Ucap Lyan menggoda kakaknya
"Yah kok kopi aku mau nya baju" Kesal kakaknya
"Gak tau terima kasih, ini aku buang aja lah" Ucap Lyan mengambil es kopi Macchiato yang sudah di letakan di meja itu.
"Enak aja buang buang, sini sini ah" Balas kakaknya menyerobot es kopi tersebut dari tangan adiknya.
"Anak baik besok beliin lagi ya yang Affogato" Goda kakaknya
"Enak aja auto miskin aku, minta sana sama calon suami" Dumal Lyan pergi menuju menaiki tangga, menuju kamarnya.
Lyan segera membersihkan diri dan memulai melanjutkan kegiatan membuat gelangnya.
Sekarang sudah pukul 20.00 tapi Lyan baru akan memulai membuat gelang ke tiganya.
Tok.. Tok.. Tok..
"Ya?" Ucap Lyan segera menyembunyikan gelang gelangnya.
Ceklek..
"Udah makan belom kamu" Teriak kakaknya
"Udahh, biasa aja kali gausah teriak, udah denger aku" Balas Lyan
"Suka suka aku lah, papa lembur jadi nggak pulang malam ini katanya" Jelas kakaknya
"Okee" Sahut Lyan
"Hmm" Ucap kakaknya meninggalkan kamar Lyan
Ia pun melanjutkan kegiatannya.
"Untung nggak lihat bisa di ocehin sampe pagi aku" Ucap Lyan pada diri sendiri.
"Kapan selesainya elahhh"
"Kesel banget"
"Lain kali nggak usah sok buat buat dah aku"
Ucapnya sendiri meratapi kebodohannya tang tidak becus membuat beberapa gelang.
Pupus sudah sepertinya harapan Lyan mau memberi gelangnya malam ini juga.
Lagian nggak enak kalau datang terlalu malam juga.
"Udahlah rebahan aja satunya besok lagi" Gumam Lyan menyerah lalu meletakkan tubuhnya di kasur.
"Pen indomai" Ucapnya sendiri
"Udah malem elah nanti di katain kakak, tahan diri tahan hati tahan pikiran ayo perutku sayang kamu kuat" Candanya pada diri sendiri. Lyan menarik nafas dalam dalam lalu membuangnya dengan kencang.
Memang tidak berguna sekali kelakuan Lyan.
"Tidor tidor dah kuy" Ucap Lyan untuk ke sepersekian kalinya pada dirinya sendiri.
Beberapa saat kemudiaan, saat Lyan akan mulai menutup matanya.
Drtt.. Drtt..
"Mau tidorrrr, gini amat hidupku Tuhan"
Drt.. Drt..
Ia melihat ponselnya, tertera nama Kara di sana. Spontan Lyan bangun.
"Duh gajadi Tuhan, terima kasih Tuhan" Ucapnya sambil menerima telfon dari Kara
"Halo, kenapa malam malam telfon?" Ucap Lyan
__ADS_1
"Lyan bisa ketemu sekarang?" Tanya Kara di ujung sana
"Bisa, kamu kenapa?"