PERMONITION

PERMONITION
4.Special


__ADS_3

#if something can be changed, why don't we change it?#


"Aku berangkat nek" Ucap Kara terburu buru keluar pintu tanpa sempat neneknya membalas pamitannya


"hati hati di jalan" Gumam sang nenek. Kara melakukan pekerjaannya seperti biasa, ia bekerja sebagai seorang designer. Kara lebih aktif mendesain gaun, ya bukan designer terkenal sekali tapi dia sering merancang gaun untuk para aktris.


Kara selalu menjadi orang yang konsisten dan mendetail dalam hal bekerja.


Jadwal kerja Kara terbilang singkat untuk ukuran seorang designer, jam berkerjanya tergantung pada job yang di terima.


Hari ini Kara pulang cepat dan menuju tempat pameran baju. Ia berencana membeli beberapa baju formal untuk bekerja. Tak terasa hari menjelang sore. Kara mendapat 2 setelan baju dan 1 bawahan. Setelah itu, Kara pergi ke supermarket untuk membeli beberapa mie instan untuk persediaan.


"Aku pulang" Sapa Kara sembari membuka pintu.


|nginggg| "akh!! Kara~" terbesit sebuah gambar neneknya terjatuh dan memanggil namanya.


"kamu lembur hari ini? " tanya nenek. Sebelum mendapat jawaban, Kara sudah memeluk erat tubuh neneknya.


Setelah beberapa menit, dengan suasana sepi, nenek Kara membuka pembicaraan tapi tetap dengan posisi berpelukan


"Kara ada apa?" Kara melepaskan pelukan dan hanya menatap sayu neneknya


"ayolah kita lihat saja nanti" Ucap nenek yang paham maksud dari pelukan erat yang di berikan Kara


"Nenek harus menemani Kara sampai Kara tua titik" Serunya dengan manja dan hanya disambut cubitan kecil di hidung Kara.


"sekarang kamu istirahat aja sana biar belajaanmu nenek yang urus sekali sekali ya" Pinta nenek.


Kara hanya membalas neneknya dengan anggukan. Kara mulai melangkah memasuki kamar, lalu tiba tiba berhenti dan berkata


"aku pasti bisa ubah alurnya nek" Ucapnya langsung masuk dan menutup pintu, sedangkan neneknya hanya bisa tersenyum mendengar perkataan kara.


❀ ❀ ❀


Hari ini Kara berangkat lebih pagi dan mampir ke sebuah supermarket untuk membeli minuman kaleng, Kara bekerja seperti biasa tapi hari ini Kara sedikit lembur.


Sampai saatnya pulang ia kembali mampir ke supermarket untuk membeli es krim. Ya, kara memang seperti anak anak yang suka membeli jajan dan harus rutin.


"Kara" Sontak Kara menoleh ke arah panggilan tersebut, Kara hanya diam memasang wajah bingung sambil memiringkan sedikit wajahnya


"bukan kebetulan kok, aku sengaja ke sini karena kemarin aku lihat kamu" Ya, dia Lyan. Siapa lagi kalau bukan dia, seorang laki laki humble, cerewet, dan menggemaskan mungkin.

__ADS_1


"terus kalau hari ini aku nggak mampir kamu mau di sini sampai jam berapa? " Tanya Kara tak percaya dengan pemikiran Lyan


"ya berarti aku buang buang waktu aja, Kara aku mau main ke rumah mu! " Ucap Lyan semangat


"gak" Jawab Kara


"Sekali aja deh" Mohon Lyan


"gak gak aku pergi dulu" Jawab Kara acuh.


"Aku pulang" Ucap Kara membuka pintu


Grep


Ada tangan yang menahan pintu saat Kara hendak menutupnya dengan spontan


|ngingg| (sering sering mampir ke rumah ku ya)


Kara menyadarkan dirinya, tepat dihadapannya sudah berdiri Lyan.


"kamu kenapa?"


Dengan penuh rasa ketidakpercayaannya Kara menjawab


"Kara kenapa? " Tanya nenek berjalan sedikit cepat karena mendengar bentakan Kara.


"Dia siapa Kara" Sambung neneknya.


"Ah! Kenalin nek aku Lyan aku temen Kara kita baru kenal 2 hari tapi aku sangat suka dengan Kara" Ucap Lyan semangat layaknya anak kecil, Kara hanya bisa terbelalak dan neneknya pun memiliki ekspresi yang sama dengan Kara


"ah jadi kamu sangat menyukai Kara ya Lyan hahaha, apa kamu mau ikut makan malam di sini?" Tanya nenek


"tentu saja nek!"Jawab Lyan


" Nggak nggak ngapain sih nekk" Rengek Kara


"Masa sama temen sendiri gitu, gak baik ah"


"cepat cepat masuk dulu" Suruh nenek. Mereka pun masuk dan menempatkan diri di meja makan.


"apa ini semua yang masak nenek? Bukankah ini sangat enak hehe" Tanya Lyan

__ADS_1


"tentu saja siapa yang masak ini semua jika Kara pulang jam segini


"wah Kara kamu harus lebih perhatian dengan nenekmu" Omel Lyan


"kamu nuduh aku nggak ngerawat nenek ku!?, lagian nenek terlalu berlebihan deh, kan aku juga udah pernah bilang nggak usah masak biar aku aja" Protes Kara


"kalau nunggu kamu sekarang nenek sudah kelaparan tau" Jawab nenek


"wah Kara kamu benar benar" Ucap Lyan dengan menggeleng gelengkan kepalanya.


Kara hanya bisa berdecak kesal.


"Oh ya apa maksudnya kamu sangat menyukai Kara? " Tanya nenek


"ah itu jadi nek waktu pertama kali aku memberinya sebotol vitamin, Kara cuma sekilas melihatku, mengucapkan terima kasih saja sambil pergi.


"Aku pikir dia sangat tidak sopan tapi anehnya aku belum pernah di perlakukan seperti itu nek! " Tegas Lyan sambil membenarkan posisinya untuk menunjukan sisi angelnya ke pada nenek Kara.


"Hahaha kamu memang tampan dan eh apa itu, matamu indah sekali, sangat menyejukan" sahut nenek


"benar kan nek mataku ini siapa yang tidak mau melihatnyaa, lebih anehnya lagi aku bertemu dengan Kara terus menerus, tapi kenapa dia tidak pernah melihatku begitu" Jawab Lyan sembari memajukan bibirnya.


"padahal semua perempuan yang bertemu aku akan menatap mataku sangat lama, jadi ini adalah takdir nek dan aku sangat menyukainyaa, dia berbeda sekali, aku akan menjadi orang yang penting untuknya haha" Lanjut Lyan


"woi ngarang kamu!" Ucap kara memukul punggung Lyan yang ada di sampingnya


"akhh" Rintih Lyan


"Kenapa Kara? bisa aja kan benar takdir" Goda nenek, dan Kara hanya bisa melongo menghadapi suasana ini.


"Oh ya, kenapa kamu suka seperti itu" Tanya Lyan menghadap ke Kara


"seperti itu apa? Seperti suka makan gitu?" Jawab Kara sambil memutar bola mata


"bukann, waktu di depan pintu tadi dan waktu di pantai kamu kenapa?" jelas Lyan


"peduli banget, ga penting juga" Jawab Kara cuek


"nenekk" Adu Lyan


"hoo kalau itu nenek tidak bisa bicara apa apa kalau Kara tidak mau cerita sendiri ke kamu" Jelas nenek

__ADS_1


"oke lah kalau begitu aku tunggu ya Kara" Ucap Lyan melanjut kan makannya.


Tidak seperti kelihatannya, Lyan yang memiliki wajah pendiam ternyata sangat berisik, jadi malam itu mereka makan bersama dengan suasana yang sangat ceria; kecuali Kara yang terus menjadi sasaran.


__ADS_2