PERMONITION

PERMONITION
15.Grandma


__ADS_3

#Because of memories, don't say goodbye#


Seluruh tubuh Kara bergetar dan keringat dingin mengguyur tubuhnya, Kara memantapkan langkahnya satu persatu.


Tangannya mulai terangkat seperti hendak meraih sesuatu sampai kakinya tak sanggup menahan tubuhnya, Kara berlutut di depan wanita paruh baya yang bersimbah darah.


"Nek, Kara datang nek, bangun nek, maafin Kara,," Ucapnya bergetar


Dengan keadaan yang tidak di duga matanya terbuka, Kara menatap dalam mata neneknya itu yang terlihat sayu dan mulai menutup perlahan.


Dengan segera Kara menelfon ambulance


Dia benar benar menyesal pulang terlambat untuk neneknya.


sss


Pukul 21.30


Tulisan di tangan Kara menghilang perlahan satu persatu, tapi Kara tidak begitu menghiraukannya sekarang ini.


Kara melihat mata neneknya untuk terakhir kali, ia melihat kepala neneknya terbentur pinggiran meja yang terbuat dari kaca, kemudian neneknya mencoba untuk mencari pegangan tanpa di sadari neneknya mengarah pada hiasan kursi yang memang sedang rusak dan  meruncing ke atas, sialnya itu terbuat dari seng, benturan itu sangat keras sampai membuat neneknya seperti ini.


Kara berlari ke luar rumah memandu para perawat yang baru datang dari ambulance itu.


Brak..


Suara pintu mobil yang di tutup, mereka pun bergegas menuju Rumah Sakit terdekat.


❀ ❀ ❀


"Kara"


Kara menoleh pada arah suara tersebut, Kara yang melihat kehadiran Lyan di situ tidak bisa menjawab pertanyaannya, Ia hanya diam dengan mata sayu nya.


"Siapa walinya nenek Anni?" Tanya seorang dokter di sebrang Kara


"Saya, saya cucunya" Ucap Kara di ikuti Lyan menghampiri dokter tersebut


"Kami sudah melakukan yang terbaik, tetapi beliau belum sadarkan diri, kita tunggu sampai beberapa hari kemudian" Jelas dokter wanita tersebut


"Baik, terimakasih" Pamit Kara


❀ ❀ ❀


"Jadi sekarang langsung pulang?" Tanya Lyan


Kara pun membalasnya dengan anggukan


"Ikut aku ke suatu tempat sebentar mau?" Tanya Lyan


"Ke mana?" Tanya Kara balik


"Pantai"


"Nggapain?"


"Aku mau nangkep oksigen?" Jelas Lyan


"Hah?" Tanya Karang bingung


"Ikut ya sebentar aja kok"


Kara mengiyakan Lyan dengan tidak menjawabnya lagi.


Beberapa menit perjalanan mereka menuju pantai, akhirnya mereka sampai.


"Nggak nyelupin kaki?" Tanya Lyan


Tanpa Lyan sadari ternyata Kara sudah membuka satu sepatunya, kemudian Ia berjalan pelan menuju air.


Bruk..


Lyan sekarang ini sedang duduk di pasir, Kara yang melihat Lyan pun ikut duduk perlahan.


"Aaaaaaaaaaaa--" Teriak Lyan sangat keras


"Kamu ngapain?" Tanya Kara


"Aku? Aku lagi barter karbondioksida sama oksigen di tubuh" Jelas Lyan


"Kamu mau coba?"

__ADS_1


"Nggak ah kaya orang gila nanti"


"Emang aku tadi kaya orang gila?"


"Iya" Jawab Kara datar


"Coba deh cepett"


"Aku maksa" Jelas Lyan


Kara yang memasang wajah ragu itu perlahan mengangkat ke dua tangannya mendekati mulut.


"Ah jangan ah nanti di lihatin orang orang" Ucap Kara tidak jadi melakukan apa yang di suruh Lyan


"Aaaaa--" Kara di kagetkan oleh teriakan tersebut


"Tu bukan cuma kita yang lagi barter ada juga orang lain, jadi ngapain kamu malu, lagian ini sepi" Ucap Lyan meyakinkan Kara sekali lagi


"Beneran?" Tanya Kara meyakinkan diri


Lyan pun menjawabnya dengan anggukan mantap.


Kara kembali dengan wajah ragunya, ia melihat sekeliling terutama Lyan.


"Huftt, oke"


Kara menarik nafas dalam dalam


"Aaaaaaaaaaaaa--"


"Hahhh"


Kara menarik nafas dalam dalam lalu menghembuskan nya.


Setelah itu Kara langsung menidurkan dirinya di pasir.


"Eh kok malah tiduran" Ucap Lyan mengikuti Kara


"Kamu juga ngapain ikut ikut" Jawab Kara sambil memejamkan matanya.


"Enak ya kamu bisa ke sini setiap hari"


"Ya kamu juga bisa kok ke sini setiap hari" Ucap Lyan


"Kan ini pantai punya pemerintah, jadi kamu bisa ke sini kapan aja hahahaha" Ucap Lyan bercanda


"Gak lucu tau" Balas Kara singkat kemudian bangun dari tidurnya di pasir.


"Tunggu sebentar ya" Ucap Lyan meninggalkan Kara


Kara pun hanya menoleh pada Lyan kemudian terfokuskan pada air pantai yang menenangkan.


"Oi" Ucap Lyan mencolek pungung Kara


Di situ Lyan sudah jongkok dengan tangan berisi sebuah kerang


"Kerang?" Ucap Kara bingung


"Iya, nih"


Kara menerima kerang tersebut, karena sekitarnya gelap jadi warna kerang itu tidak begitu terlihat, Kara mengambil ponselnya dan menyalakan senter.


"Wah, cantik banget" Ucap Kara kagum


"Iya kan, aku nemu pagi tadi" Jelas Lyan


"Ini buat aku?"


"Iyalah, simpen aja" Ucap Lyan tersenyum


"Aku boleh cerita?" Tanya Kara


Lyan hanya menoleh dan mengangguk dua kali


"Jadi dulu aku nggak suka sama kerang" Ucap Kara menoleh pada Lyan begitu pun sebaliknya dengan spontan Lyan menoleh kepada Kara


"Karena tangan sama mulutku sering lecet kalo lagi makan kerang, jadi aku nggak suka sama kerang" Jelas Kara


"Tapi"


"Waktu aku berhenti makan kerang, nenek ajak aku cari cangkang kerang di pantai. Baguss banget, setiap ke pantai nenek selalu bantu aku nyari cangkang yang unik" Sambung Kara

__ADS_1


"Semenjak itu, aku mulai suka banget koleksi cangkang sampai sekarang"


"Pokoknya pantai bakal selalu identik dengan nenek buat aku" Ucap Kara tersenyum samar.


"Kara" Panggil Lyan


"Hmm?"


"Kalo buat aku pantai itu identik sama mamah" Ucap Lyan


Reflek Kara menoleh pada Lyan


"Mamah suka banget sama pantai, dia juga koleksi kerang lo, tapi abis itu di buat kerajinan" Jelas Lyan


"Besok aku jemput kamu ya"


"Oke"


"Ayo pulang nanti kemaleman"


Kara menganggukan kepala mengiya kan ajakan Lyan.


Setelah beberapa saat, mereka sampai di rumah Kara.


"Makasih ya" Ucap Kara turun dari mobil Lyan.


Kara masuk ke rumahnya, Ia menaruh tasnya, hari ini merupakan hari yang paling melelahkan bagi Kara. Kara tiba tiba teringat dapur, Ia menuju dapur untuk membersihkan bekas darah yang tersisa, rasanya miris sekali membersihkan darah neneknya di lantai.


Keesokan paginya, Kara pergi ke rumah sakit sebelum pergi bekerja, kepalanya berdenyut karena ia kelelahan, semalam ia melembur pekerjaan lainnya.


Kara melewati hari ini seperti biasa, bekerja di kantor, bertemu pekerjaan, bertemu teman, hari yang melelahkan. Sore harinya, Kara kembali ke rumah sakit, berharap sang nenek sudah sadar dari komanya, namun nihil, neneknya belum sadarkan diri.


"Nek, cepet bangun ya, Kara sayang nenek, Kara gamau sendirian, Kara gamau kehilangan lagi. Nenek kan udah janji sama Kara, nenek bakal sama Kara terus, yakan nek" bisiknya pada nenek sambil tersenyum.


Hari berlalu seperti biasa, tak terasa, sudah tiga hari neneknya tak sadarkan diri dari koma, pihak rumah sakit sudah melakukan banyak hal, namun percuma, nenek tetap tak kunjung sadar. Dengan berat hati pihak rumah sakit memutuskan untuk melepas alat bantu nenek karena tidak ada respon apapun dari nenek.


Tak lama setelah alat dilepas, nafas nenek serta detak jantungnya hilang,


pippppp


Kara terpaku diam melihat neneknya. Tidak bisa berkata, tidak bisa menangis, dirinya merasa tidak berguna untuk nenek.


Orang yang pertama Kara hubungi adalah Lyan, dia menelfon Lyan untuk meminta bantuan.


"Halo.. Lyan, bisa ketemu sekarang?"


"Kamu kenapa?" Tanya Lyan bingung


"Nenek..."


"Nenek kenapa?"


"Kamu ke rumah sakit sekarang"


Tanpa pikir panjang Lyan melajukan mobilnya dengan kencang ke rumah sakit tempat nenek Kara dirawat.


Sesampainya disana, "Kara"


Kara terdiam melihat Lyan, ia tidak mengatakan sepatah kata pun, membisu, mematung, membuat Lyan heran. Lyan mencoba melihat ke ruangan nenek yang dipenuhi para suster,


"Kenapa ya sus?"


"Maaf mas, kami sudah mencoba segala hal, tapi nenek Anni tidak menunjukkan respon apapun, jadi terpaksa kami melepas alat bantu beliau, lalu mohon maaf, kami tidak bisa menyelamatkannya"


Lyan teramat sangat kaget, ia keluar ruangan dan melihat kara yang masih mematung, Lyan memeluk Kara erat. Entah mengapa, Kara merasa desiran darahnya mengalir sangat kencang, ia merasa hangat, Kara tidak ingin menahannya tapi ia tidak bisa, tidak bosa menumpahkan kesedihannya lewat air mata


"Semua gara gara aku Lyan, aku gabisa jaga nenek" Ia menyalahkan diri sendiri.


Lyan mendekap Kara semakin erat, ia seperti merasakan luka yang dirasakan gadis itu. Setelah mengurus semua hal, Lyan mengajak Kara pulang. Kara menolak, tapi Lyan memaksanya dan berjanji akan kembali keesokan paginya


Lyan mengantar Kara pulang, sesampainya di rumah, mata Kara tiba tiba tertuju pada sebuah kertas di meja depan sofa, Kara pun mengambil kertas itu.


\Kara,, maafin nenek nggak bisa tepati janji nenek. Udah cukup kamu selamatin nenek 2 kali tapi nggak buat ke tiga kali, untuk tulisan yang ada di tangan kamu juga gara gara nenek, sakit ya, maafin nenek udah buat kamu ada di posisi yang rapuh. Biarin nenek hidup dengan seharusnya bukan dengan penundaan, kamu tidak perlu mengorbankan hidupmu untuk nenek. Nenek tau, hidup kara berkurang karena menyelamtkan nenek, nenek tidak mau itu. Kara masih muda, kamu harus sukses buat nenek, kamu harus bahagia. Kamu harus punya kehidupan yang baik. Maafin nenek, kalau ternyata yang kamu omongin benar benar terjadi nggak papa, nenek yakin kamu baik baik aja kamu kan kuat dan kamu spesial. Nenek selalu di hati Kara//


Kara sangat sangat terpukul membaca surat itu, bagaimana bisa selama beberapa hari ini ia tidak menyadari surat tersebut, Kara merasa sedih sekaligus bingung dengan isi surat neneknya, ia bingung, bagaimana bisa neneknya menulis surat ini, jelas ini di sengaja.


Jika neneknya dapat menulis surat seperti itu berarti neneknya tau sesuatu tentang huruf di tangan Kara.


Tetapi hanya seorang Deathmgc yang bisa membuka bukunya.


Perasaan Kara yang masih sedih tercampur dengan hal membingungkan seperti itu membuat Kara benar benar tertekan.

__ADS_1


"Aku pikir aku butuh istirahat sekarang" Ucap Kara dalam hati menatap cermin setelah selesai merapikan semuanya kemudian bersiap mengistirahatkan diri.


__ADS_2