
" hufftt... " Yoga membuang kasar nafas nya. hari ini ia telah melakukan 3 operasi. sungguh hari yang cukup melelahkan. ia masuk ke dalam ruangan nya. Yoga hendak bersiap pulang. karena hari ini ia hanya kerja sampai sore hari. tiba tiba suara ketukan pintu menghentikan aktifitas Yoga yang tengah berkemas untuk pulang.
" silahkan masuk" ucap Yoga dari dalam, lelaki itu pun masuk ke dalam ruangan Yoga.
" maaf tuan Yoga. nama saya Darma, ada hal penting yang ingin saya sampaikan pada tuan" ucap nya.
" kalau begitu, silahkan duduk " sahut Yoga. lelaki itu menurut. ia duduk di sofa yang sudah di sediakan dalam ruangan Yoga.
" anda siapa?" tanya Yoga.
" perkenalkan saya Darma tuan, saya orang kepercayaan ibu Wati " ucap nya. Yoga tersenyum mendengar perkataan orang tersebut. orang kepercayaan? seperti nya ada yang aneh.
" lalu? " tanya Yoga.
" sebelum meninggal, ibu Wati berpesan pada saya agar mengurus balik nama cafe yang ia dirikan untuk tuan" ucap nya.
" cafe? mana mungkin ibu punya cafe. setahu saya ibu saya hanya seorang ibu rumah tangga. dia bahkan kerja keras untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. bagaimana bisa ia punya orang kepercayaan" ucap Yoga.
" anda sudah bekerja di sini selama 3 tahun lebih. dan setiap bulan gaji yang anda hasilkan, anda serahkan semua ke ibu Wati. sebenarnya ibu Wati tak menghabiskan uang itu begitu saja. selama 3 tahun gaji yang anda hasilkan tak pernah ia gunakan sepeserpun, gaji itu ia simpan di bank hingga cukuplah untuk modal awal membuka cafe." Yoga terdiam mendengar penuturan pak Darma. lalu dimana ibunya mendapat uang untuk keperluan makan mereka sehari hari selama ini. itu yang ada di pikiran Yoga.
" siang itu ibu Wati bertemu saya. saat itu kondisi saya benar benar kalut, restoran saya bangkrut karena saya di tipu oleh istri saya sendiri. ibu Wati bersedia memberikan saya modal untuk memulai kembali usaha saya. karena saya sudah 15 tahun bekerja di bidang ini tak butuh waktu lama bagi saya mendirikan kembali cafe ini, karena memang saya banyak memiliki pelanggan lama " ucap pak Darma panjang lebar.
" lalu maksud bapak datang kemari? " tanya Yoga.
__ADS_1
" karena ibu Wati sudah tidak ada, maka setiap bulan laporan keuntungan cafe akan saya laporkan pada anda. saya sudah tua, dan saya juga tak memiliki anak. jadi saya akan mengabdikan sisa hidup saya di cafe ini. 1 tahun berjalan cafe ini berkembang pesat, dan rencana nya kita akan membuka 2 cabang sekaligus di kota sebelah" ucap pak Darma. Yoga menunduk mendengar perkataan pak Darma, ternyata ibunya sangat memikirkan masa depan Yoga seperti ini.
" jika ibu menabung begini, lalu dimana ia mendapatkan uang selama 3 tahun ini untuk keperluan sehari hari kami. " ucap Yoga.
" anda beruntung memiliki seorang ibu yang pekerja keras. dan ini adalah surat tanah yang ia beli 1 bulan sebelum ia masuk rumah sakit. tanah ini ia beli dari 1 tahun gaji anda, dan juga di tambah dari sebagian keuntungan cafe. sedangkan cafe ini ia dirikan dengan menabung 2 tahun gaji anda. rencana nya ia ingin membuat kontrakan. tapi sayang tuhan berkehendak lain. ia tak sempat membangun kontrakan itu" ucap pak Darma.
" terimakasih banyak pak atas informasinya." ucap yoga.
" sama sama tuan. kalau begitu tanda tangan disini, ini adalah bukti jika anda adalah ahli waris dari cafe maupun tanah yang di miliki oleh Bu Wati." ucap pak Darma sembari memberikan Yoga sebuah kertas. yoga pun mengambil kertas itu kemudian membacanya secara seksama. barulah ia menandatangani nya. setelah itu, pak Darma pun pamit pulang.
tiba di apartemen, Yoga melihat ibu mertuanya yang sedang menyiapkan makanan. dengan sedikit canggung Yoga menghampiri mama Mila.
" sudah lama sampai ma? " tanya Yoga.
" eh anak mantu, udah lumayan lama. maaf ya kemarin waktu mama mu meninggal mama tidak hadir. mama tidak tau jika mama mu" mama Mila menghentikan pembicaraannya.
" it's oke. mama ngga masalah. ini berarti baru menikah siri kan. nanti setelah kamu lebih baik, kita bisa mendaftarkan pernikahan kalian di KUA. dan kita akan mengadakan resepsi nya" ucap mama.
" ma, maaf sebelum nya. aku tau kemarin mama sudah menyiapkan pernikahan kami. bahkan mama bilang persiapan nya sudah 80%. aku mau agar semua biaya nya aku sendiri yang tanggung. karena aku juga sudah menabung untuk hal ini. aku tidak ingin membebani pihak perempuan" ucap Yoga.
" hmm... mama sama sekali tidak terbebani kok "
" aku tau, tapi sebagai laki laki aku bertanggung jawab atas semua nya. baik itu biaya, nafkah lahir dan batin. apapun itu mengenai Naywinda" mama Mila yang mendengar itu nampak berkaca kaca.
__ADS_1
" ah.. maaf ma jika mama tersinggung." ucap Yoga cepat. dengan cepat juga mama Mila menggeleng.
" mama tidak tersinggung. tapi mama senang karena Nay mendapatkan suami yang bertanggung jawab. semua terserah kalian, mama mendukung apapun yang kalian lakukan " ucap mama Mila.
" terimakasih ma. oh ya, Nay kemana? " tanya Yoga.
" hmm.. bentar lagi juga sampai. tadi dia bilang lagi di perjalanan pulang"
ceklek pintu apartemen itu di buka. benar saja itu Nay yang baru pulang dari kantor. muka nya nampak lelah dan lesu.
" udah pulang cantik?"
" hmmm... " jawab Nay dengan malas.
" sekarang kalian berdua mandi dulu, abis itu kita makan. itu si Yoga juga baru pulang " Nay langsung melotot mendengar ucapan mama nya.
" mandi? kita mandi bareng?" tanya Nay lagi.
" terus? " tanya mama Mila.
" hmm.. bi, aku mandi duluan yah. Kamu pasti capek banget kan. biar aku duluan ajah " ucap Nay sambil tersenyum ke arah suami dan mama nya.
" bi? " tanya Yoga.
__ADS_1
" iya baby.. dah ah, aku mandi dulu " ucap Nay dengan wajah bersemu merah. mama Mila hanya tersenyum melihat kelakuan anak nya sedangkan Yoga masih berdiri di sana.
" baby? kesambet apa tu cewe " gumam Yoga..