
3 hari setelah pertemuan Yoga dan Winda, tak ada lagi kabar dari Yoga. sedangkan ibu Wati sudah mulai siuman, namun beliau masih sangat lemah.
tok tok tok...
suara ketukan pintu mengagetkan Yoga yang baru saja selesai mandi, kamar ibu Wati adalah kamar VIP. Tentu saja Yoga akan melakukan yang terbaik untuk ibu nya. Yoga pun berjalan menuju pintu hendak membuka nya.
" maaf tuan Yoga, saya perawat magang disini. nama saya Pandu ".
" silahkan masuk dulu " perawat itu pun masuk ke dalam ruangan ibu Wati.
" saya langsung saja tuan, saya kemari hendak membereskan kamar ibu Wati. nona Winda meminta pihak rumah sakit untuk memulangkan ibu Wati lebih awal " ucap perawat itu. tanpa menunggu jawaban perawat itu langsung berdiri, berniat melepas selang infus di tangan ibu Wati. tapi dengan segera Yoga menahan tangan Pandu.
" jangan sentuh ibu ku " ucap Yoga dengan penuh penekanan.
" sekali lagi maaf tuan, saya hanya menjalankan perintah " ucap nya.
" sekarang kau keluar, aku akan menelepon Winda " ucap Yoga.
" baiklah, kalau begitu saya permisi dulu " perawat itu langsung keluar dari kamar itu. di luar sana Roy sudah berdiri menunggu pandu.
" bagaimana? " tanya Roy.
" dia bilang akan menelepon nona Winda "
" bagus, ini upah mu. jika ia benar benar menelepon nona Winda maka upah mu akan aku tambah " ucap Roy sambil menyerahkan amplop coklat ke pada pandu.
" wah terimakasih tuan " ucap pandu sambil berlalu pergi.
sebenarnya tak ada yang ingin memindahkan ibu Wati, bahkan dokter Andri pun selaku dokter yang merawat ibu Wati tak tahu menahu tentang hal ini.
__ADS_1
" siapa nak? " tanya ibu Wati dengan suara seraknya.
" hmm... dokter Bu, katanya tadi mau periksa ibu tapi kan ibu sudah di periksa beberapa jam yang lalu " sahut Yoga. ibu Wati hanya mengangguk pelan. Yoga pun menghampiri ibu Wati, ia duduk di atas kursi yang ada di pinggir bangkar milik ibunya itu.
" ibu, ada hal penting yang ingin aku sampaikan " ucap Yoga
" apa nak? "
" bagaimana kalau aku menikah? ibu jangan khawatir, aku tak akan menelantarkan ibu. aku akan tetap menjaga ibu. aku bahkan akan bawa ibu satu rumah dengan ku " ucap Yoga seakan tau kekhawatiran ibu nya.
" kau bicara apa nak? tentu saja ibu bahagia jika kau ingin menikah. karena nanti akan ada yang merawat mu. ibu tidak tahu sampai kapan ibu bisa bertahan "
" ibu, Jangan bicara begitu. aku akan berusaha melakukan yang terbaik untuk ibu. ibu akan sembuh, dan kita akan kumpul lagi seperti biasa " ibu Wati tersenyum mendengar perkataan anak kesayangan nya.
" nak, tolong berjanji pada ibu. jika nanti kau telah menikah, apapun yang terjadi tolong sayangi istri mu. ayah mu dulu sangat memperhatikan ibu, dia penyayang, sabar, dan dia selalu mengalah pada ibu. ibu mau kau juga seperti ayah mu" ucap Bu Wati dengan suara nya yang lemah
" ibu tenang saja. aku akan menyayangi istri ku sama seperti aku menyayangi ibu "
" ibu tunggu sebentar ya. aku ingin menghubungi seseorang "
" iya nak " Yoga keluar kamar, ia mengambil kartu nama Winda yang selalu ia bawa untuk sekedar jaga jaga. ia mengetik nomor ponsel Winda, tak lama ponsel Yoga pun terhubung.
" hallo ".. ucap Winda. nomor ponsel Winda hanya Yoga, Mama, Roy, dan Mayang sahabatnya yang tahu. jadi winda bisa menebak siapa yang menelepon.
" aku Yoga " Winda tersenyum mendengar perkataan Yoga.
" aku tahu " jawab Winda.
" aku tunggu kau di cafe depan rumah sakit " Yoga langsung mematikan sambungan telepon nya.
__ADS_1
" apa? dia mematikan telepon ku? dia tak tanya apa aku ada jadwal hari ini? baru kali ini ada orang yang berani mematikan telepon ku" ketus Winda.
" Roy!! kosongkan jadwal ku hari ini" pekik Winda dari dalam ruangan nya. ia kemudian langsung pergi menuju cafe, mengemudikan mobilnya sendiri ke sana.
tiba di cafe, tak butuh waktu lama bagi Winda menemukan keberadaan Yoga, selain cafe nya yang tidak besar, yoga juga nampak mencolok di antara pengunjung lain dengan menggunakan jas dokter nya.
" lama menunggu? " tanya Winda setelah ia duduk di meja Yoga.
" tidak juga " sahut Yoga. Winda hanya ber oh ria saja. ia kemudian mengeluarkan berkas dari dalam tas yang ia bawa, dan langsung menyerahkan nya kepada Yoga.
" apa ini? " tanya Yoga.
" langsung saja, aku tau kau tak ingin menikahi ku. jadi anggap saja kita menikah kontrak " ucap Winda. Yoga sedikit kaget mendengar penuturan Winda. bagaimana bisa perempuan ini menganggap remeh pernikahan. Yoga kemudian membuka berkas itu. tak ada syarat apapun yang tertera di sana.
surat itu hanya berisi pernyataan bahwa mereka tak akan memiliki anak.
" aku sengaja tak memberi syarat pernikahan di dalam kontrak kita. karena aku ingin pernikahan ini nampak alami di depan ibu mu maupun mamaku. hanya saja aku tak ingin punya anak " ucap Winda.
" kenapa? " tanya Yoga.
" hanya tidak mau " sahut Winda.
" baiklah." tanpa basa basi Yoga langsung menandatangani surat kontrak itu. Winda tersenyum ke arah Yoga.
" jangan panggil aku Winda. panggil aku Nay, aku mau kau memanggil nama ku beda dari yang lain " ucap Winda.
" baiklah. jika tak ada lagi aku permisi. aku ada operasi siang ini, dan kau aku masih kesal dengan mu karena kau hampir saja mencelakai ibu ku "..
" ya bagaimana lagi, aku sudah memperingatkan mu kemarin. oh ya lusa Kita ke rumah ku. aku ingin mengenalkan mu ke mama. nanti ku hubungi kau lagi " ucap Winda.
__ADS_1
" baik, aku pamit " Yoga langsung pergi meninggalkan Winda
" lagi lagi aku di tinggal " gumam Winda.