
sebulan setelah malam pertama itu, mereka masih sering melakukan hubungan suami istri, maklum saja mereka masih bisa di bilang pengantin baru. dan pagi ini, pagi pagi sekali Nay telah bangun. perut nya terasa sangat mual, hingga ia sudah beberapa kali bolak balik kamar mandi. Yoga akhirnya bangun juga kala merasa ada yang tak beres dengan istrinya itu.
" kau baik baik saja " tanya Yoga ketika Nay telah keluar dari kamar mandi. ia kembali berbaring di atas ranjang dengan tubuhnya yang sudah lemas.
" hmm.. sepertinya masuk angin " sahut Nay dengan suara yang lemas. tak perlu di suruh, Yoga langsung berdiri mencari minyak angin. ia pun mengoles minyak itu di seluruh punggung dan di perut istrinya.
" hari ini aku tak ke kantor. aku akan istirahat, tolong beritahu Roy ya " ucap Winda. Yoga mengangguk setuju.
" sebenarnya aku lebih senang jika kau bisa di rumah saja. tak perlu bekerja" ucap Yoga. Nay diam tak menjawab. lagi lagi ia berlari ke kamar mandi karena perutnya Kembali mulas. Yoga pun mengikutinya dari belakang. nampak aneh karena Yoga melihat Nay tak mengeluarkan apapun saat ia muntah.
" Nay, kau sudah datang bulan? " tanya Yoga.
" hm.. belum, aku telat seminggu. biasanya juga sering telat seminggu " sahut Nay. Yoga pun keluar kamar, mengambil sesuatu di dalam tas kerja nya.
" ini, coba kau cek." ucap yoga sambil menyerahkan testpack pada istrinya.
" mana mungkin, aku tak mungkin hamil, kenapa kau memberi ku ini. aku sudah minum obat pencegah kehamilan" ucap Nay. ia mengambil obat itu di dalam laci yang ada di kamar mandi itu. Karena memang Nay menaruhnya di dalam sana. Yoga mengambil dan meneliti obat itu. sebagai dokter kandungan ia tahu betul itu pil apa.
" Nay, ini bukan pencegah kehamilan, tapi ini penguat kandungan. kau sering minum ini setelah malam pertama kita waktu itu? " tanya Yoga. Nay terbelalak mendengar ucapan suami nya.
" tentu saja aku sering minum. setahu ku itu pil pencegah kehamilan, aku harus meminumnya sebelum kita berhubungan " ucap Nay kesal. ia meninggalkan Yoga sendiri di kamar mandi itu.
__ADS_1
" Dimana kau beli ini. kita bisa meminta apotek itu untuk tanggung jawab" ucap Yoga sambil mengikuti langkah kaki istrinya.
" bukan aku yang beli, tapi Mayang" ketus Nay.
" begini saja, kau coba tes dulu. baru kita bisa tahu pasti hasil nya." ucap Yoga. Nay kembali ke kamar mandi dengan tatapan kesal ke arah Yoga. 10 menit di dalam, Nay pun keluar sambil menyerahkan testpack itu pada Yoga. Mata Yoga melotot melihat benda pipih yang ada di tangan nya itu.
" apa hasilnya " tanya Nay. Yoga diam, ia ingat betul perkataan istrinya sebelum menikah bahwa mereka tidak akan memiliki anak, karena memang Nay tidak mau punya anak.
" ini positif " jawab Yoga dengan ragu ragu.
" apa! " pekik Nay. dengan kesal ia mengambil ponselnya mencoba menghubungi nomor Mayang, Nay berniat ingin memarahi sahabatnya itu.
" hallo " jawab Mayang dari seberang sana
" iya, aku bilang ingin pil penahan kehamilan. maksud ku memang pil yang kau maksud itu. memangnya kenapa? " ucap Mayang.
" kau bilang pil penahan kehamilan? " tanya Nay. belum sempat Mayang menjawab, Nay sudah memutuskan panggilan itu.
" mungkin pegawai apotek itu salah paham. mungkin penahan kehamilan yang di pikiran mereka adalah penguat kandungan" ucap yoga.
" diam " sahut Nay cepat. nampak sekali kekesalan di raut wajahnya.
__ADS_1
" kalau aku dan Yoga punya anak, maka selamanya hubungan kami akan terus terikat begitu kan " gumam Nay. melihat mood istrinya yang tidak bagus Yoga pun mencoba mendekati istrinya secara perlahan.
" aku minta maaf, karena aku sudah menghamili mu. terlepas kamu suka atau tidak, tapi aku bahagia sekali mendengar kabar ini. aku tau kita telah melanggar kontrak. maka aku ingin tau apa yang akan kau lakukan dengan kehamilan mu ini" tanya Yoga dengan hati hati. sebagai dokter kandungan ia paham betul mengenai mood ibu hamil. perasaan ibu hamil yang memang kadang kadang sensitif, ia paham betul itu.
" apa yang harus aku lakukan selain pasrah? lagipula nasi sudah menjadi bubur begini " sahut Winda.
" aku janji, aku akan membantu kamu menjaga kandungan ini " ucap Yoga sambil tersenyum. ia memegang kedua tangan Nay mencoba memberikan kekuatan pada sang istri.
" aish.. terserah kau saja " jawab Nay sambil melepas genggaman suami nya. ia langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang. meninggalkan Yoga yang masih duduk di tepi ranjang mereka.
Nay sebenarnya bukan tak ingin punya anak. hanya saja ia belum siap. ia belum siap menjadi seorang ibu walaupun usianya bisa di bilang sudah sangat matang jika ingin berperan sebagai ibu. di kehamilan ini, tak bisa di pungkiri ia memang kesal. tapi ia juga merasa sangat senang kala mengetahui bahwa sekarang di perut nya akan tumbuh seorang calon bayi.
Yoga keluar kamar, ia hendak memasak makanan untuk Nay, dari tadi pagi Nay muntah muntah. pasti sekarang perutnya kosong. itu yang ada di dalam pikiran Yoga. Yoga lalu mengambil ponsel nya, ia mencari nomor Roy.
" Roy, tolong ke minimarket, belikan susu kehamilan semester awal yang mereknya **** . karena itu adalah susu yang paling bagus " ucap Yoga.
" memang nya siapa yang akan meminum susu itu tuan " tanya Roy
" jangan banyak bertanya. berangkat sekarang juga. uangnya akan segera aku transfer" ucap Yoga.
" baik baik tuan." sahut Roy.
__ADS_1
" benar benar. mereka tak lihat apa ini jam berapa, mana ada minimarket yang buka jam segini " gerutu Roy.