
Lyra adalah gadis cantik, bertubuh tinggi semampai dan putih mulus.Ia adalah anak seorang pengusaha ternama di Ibukota.Saat ini Lyra masih menginjak kelas tiga SMA di sekolah ternama di kotanya.
"Pagi ma"Sapa Lyra pada mamanya yang sudah menata makanan di meja.
"Pagi sayang,tumben jam segini sudah rapi,biasanya kalau di bangunin susah banget"Sindir mama Wulan.
"Mama ini gimana sih anaknya bangun pagi diomong, bangun siang masih aja diomong, kan bagus kalau Lyra udah rajin sekarang"Timpal sang papa yang baru keluar dari kamarnya.
"Hehe papa ini bisa aja buat Lyra terbang" Balas Lyra yang senang saat di puji papanya.
"Iya-iya mama salah, udah sini makan. Kalian itu harus banyak makan biar gak lemes nanti. Nih pah sarapannya"Ucap mama menyodorkan sepiring nasi goreng seafood pada papa dan Lyra.
"Masakan mama emang the best pokoknya, restoran mah kalah"Puji Lyra sambil mengacungkan jempolnya.
Mama Wulan hanya tersenyum melihat putri sematawayangnya itu.
Walaupun di rumah banyak pelayan,tapi mama Wulan jika pagi selalu membuat sarapan untuk keluarga kecilnya. Hal itulah yang membuat papa Denis sangat mencintai mama Wulan.
Setelah selesai sarapan,Lyra pamit pada mereka dan melesat pergi dengan motornya.Sebenarnya papa melarang Lyra membawa motor sendiri,tapi karena Lyra memaksa akhirnya papa menurutinya.Lyra pun menyamar menjadi anak layaknya berasal dari keluarga sederhana, padahal sekolah itu adalah milik ayahnya sendiri.Entah apa yang Lyra pikirkan sampai memilih menjadi anak sederhana,sedangkan diluaran sana anak orang miskin saja pura-pura menjadi kaya agar dipuji teman-temannya.
Saat di jalan,Lyra tidak melihat kalau di depannya ada mobil yang berhenti secara tiba-tiba.
__ADS_1
Sssttttttt,, duurrrrr,,,
Lyra terjatuh dari motornya,dia menabrak mobil itu dengan sedikit keras.
"Auuu,,,dasar mobil sialan ngapain sih berhenti mendadak gini"Ucap Lyra yang memegangi tangan kirinya yang berdarah.Tiba-tiba seseorang keluar dari mobil yang ditabrak Lyra.
"Hey punya mata gak sih loe, gara-gara elo mobil gue jadi penyok gini.Pokoknya loe harus ganti rugi, gue gak mau ada alasan apapun"Marah sang pengemudi itu.
"Apa ganti rugi,loe gak mikir ya ini semua gara-gara elo yang tiba-tiba ngerem mendadak.Bukannya nolongin malah marah-marah gak jelas"bentak Lyra tidak mau kalah.
"ckckck,,emang dasar buta, ya buta tuh mata.Lihat di depan tadi ada nenek-nenek nyebrang di jalan,kalau lewat pas zebra cross itu harusnya pelan bukan ngebut.Loe pikir gue gak lihat apa loe dari tadi bawak motor gimana.Pokoknya ganti rugi lima juta,sekarang juga."
"Gue gak punya duit sebanyak itu, udahlah kita damai aja ya."Suara Lyra menjadi lembut setelah tahu kalau dia yang salah.
"Hah mau kemana, jangan macam-macam ya" Ucap Lyra nampak curiga.
"Ya udah kalau gak mau,berarti kamu harus bayar sekarang atau gue laporin polisi"Rio mulai mengeluarkan handphonenya di dalam saku celananya.
"Iya,iya gue mau"Lyra terpaksa menuruti keinginan Rio dari pada memilih membayar lima juta, padahal jika meminta papanya pun akan di kasih.Tapi dia memilih masuk kedalam perangkap Rio.
"Ya sudah mana nomor HP loe,biar gue hubungi nanti"
__ADS_1
Lyra lalu memberikan handphonenya dengan Rio.Rio yang melihat Lyra tampak kesakitan menjadi iba,lalu tanpa aba-aba dia langsung menggendong Lyra.Lyra tampak terkejut melihat perlakuan Rio.
"Hey turunin gue,gimana sama motor gue nanti"
"Udah diem,nanti ada orang bengkel yang mengambil motormu"
Setelah berdebat panjang lebar akhirnya Rio melajukan mobilnya ke sekolah.Untung saja gerbang belum ditutup.Setelah sampai di parkiran Rio memapah Lyra masuk kedalam kelasnya.
"Elo kelas berapa, biar gue antar"Ucap Rio.
"Gue kelas dua belas IPS satu"jawab Lyra.
"Oh jadi loe anak IPS,pantes pakaiannya gak rapi"Ejek Rio.
"Terserah loe lah, siapa namo loe?"Lyra lupa menanyakan nama Rio.
"Gue Rio,nama loe pasti Lyra"Tebak Rio.
"Eh,, kok loe tau"Ucap Lyra bingung.
"Tuh dibaju loe ada namanya Lyra Denisa"Tunjuk Rio tepat di dada Lyra hingga membuatnya menyentuh gundukan yang lumayan besar itu.
__ADS_1
Sebelum Lyra marah Rio sudah berlari terlebih dahulu.
"RIO...... " teriak Lyra yang sampai di dengar teman sekelasnya.