
Ditempat lain, Ria and the genk sudah mendapat hukumannya. Orang tua mereka sangat kecewa, apa lagi papa Ria adalah orang kepercayaan papa Denis, pasti papa Ria sangat marah.
"Ria ayo pulang sekarang, kamu akan papa hukum di rumah" Ancam sang papa.
"Pa maafin Ria pa, Ria gak akan ngulangin lagi" Mohon Ria sambil menangis, tapi sang papa masih menyeret dia sampai ke mobil dan melaju pulang ke rumah.
Di parkiran Rio mendudukan Lyra di dalam mobil sebelah pengemudi. Sebelum keluar, Rio mengecup kening Lyra sebentar dan masuk lewat pintu sebelah untuk mengendarai mobilnya. Mereka tidak tahu ada yang memantau mereka sejak dari tadi.
"Gue gak nyangka ra loe bakal selingkuh dari gue, gue gak percaya kalau Rio sepupu loe. Apa kurangnya gue ra, gue sayang sama elo. Bahkan gue gak perna yang namanya cium kening elo, tapi elo dengan mudahnya membiarkan Rio menciummu.Gue kecewa ra, gue kecewaaaaaaaa" Teriak Kenan di dalam mobil sambil memukul setir.
Setelah kepergian mobil Rio, Kenan juga ikut melajukan mobilnya. Dia masih saja sakit hati mengingat kemesraan mereka.
"Lebih baik gue ke markas saja, dari pada di rumah gue pasti inget terus sama Lyra."
Setibanya di markas tempat berkumpulnya genk motor, Kenan langsung masuk di sambut dengan dua wanita penghiburnya. Ini adalah sisi gelap Kenan yang tidak di ketahui semua orang di sekolah, termasuk Lyra. Motor balapnya pun dia sembunyikan di markas itu. Setelah pacaran dengan Lyra dia sangat jarang mampir kesini, dia juga tidak bermain lagi dengan wanita penghibur itu. Tapi setelah tahu kalau Lyra menghianatinya, Kenan kembali lagi kesitu dan mengulang perbuatan laknat itu lagi.
"Hai sayang, kamu sudah lama tidak kesini. Apakah kau merindukan kita, ayo ikut kami. Akan kami buatkan ramuan yang dasyat agar kamu bisa tahan lama" Ucap sang wanita sambil mengedipkan mata"
Kenan hanya tersenyum menuruti mereka dan merangkul mereka masuk ke dalam kamar yang sudah disediakan.
Saat sampai di rumah, papa Denis sudah menunggu mereka di ruang tamu. Dengan tangan yang mengepal kuat menahan amarah ingin memukul wajah Rio.
"Assalamualaikum" Ucap mereka di depan pintu.
"Waalaikumsalam" Jawab mama Wulan.
__ADS_1
"Ya ampun Lyra kenapa dengan pipi kamu, apa yang terjadi sayang. Ayo masuk kita duduk dulu" Lanjut mama yang terkejut melihat putrinya babak belur.
Melihat hal itu papa Denis langsung berdiri dan meninju Rio dua kali.
Bug,, buggg,, "Ini balasan untuk pacar kamu, dasar laki-laki tidak berguna. Menjaga istri saja kamu tidak bisa hahh" Bentak papa Denis.
"Pa sudah dong pa jangan pukul Rio lagi,dia itu gak salah, yang salah itu Ria anak orang kepercayaan papa. Rio yang sudah menolong Lyra tadi, Lyra gak tahu bakal jadi apa kalau gak ada Rio.Jadi pliss ya pa jangan kasar lagi sama Rio." Mohon Lyra, dan mamanya mengangguk menyetujui apa yang dikatakan Lyra.
"Kurang ajar kamu Darto, kamu harus menerima akibatnya kalau seperti ini" Batin papa Denis. Papa Denis yang melihat putrinya menangis langsung memeluk Lyra dan mengecup keningnya.
"Sudah jangan nangis, papa sayang sama kamu, papa lakuin ini semua karena takut kehilangan kamu nak" Ucap papa Denis melepaskan pelukannya.
Rio yang masih terduduk di sofa hanya bisa meringis kesakitan.
"Duhhh yang kemarin baru sembuh malah dapet bogeman mentah lagi" Keluh Rio.
Mereka pun naik ke atas untuk masuk ke dalam kamar. Setelah menutup pintu, Rio membantu Lyra melepaskan pakaian. Lyra tidak menolak, tapi dia malah merasa iba melihat wajah Rio yang memar.
"Maaf"hanya itu yang keluar dari mulut Lyra.
"Hey kenapa kamu yang meminta maaf, papa benar ini semua gara-gara aku dan aku memang gak becus jaga istri" Ucap Rio sambil tersenyum.
"Apa, loe tadi panggil gue kamu. Loe gak salah kan?" Ucap Lyra yang heran dengan panggilan Rio.
"Gak ra, sekarang kita pangilannya aku kamu, jangan gue elo lagi ya. Kita sudah menikah, kita gak tahu kapan kita memiliki anak. Kalau tiba-tiba kamu hamil dan panggilan kita masih elo gue kan gak enak di dengar orang. Ra gue mau bilang serius, kamu mau gak jadi ibu dari anak-anakku nanti?"
__ADS_1
Lyra yang mendengar itu hanya melongo saja.
"Astaga Rio, loe beneran serius nganggep pernikahan kita ini, haha" Ucap Lyra sambil tertawa demi menutupi rasa gugupnya.
"Kenapa ra, apa aku salah. Pliss ra panggil aku kamu aja ya, aku mohon"
"Iya-iya aku mau" Jawab Lyra pasrah.
"Jadi kamu mau punya anak dari aku ra?" Ucap Rio senang seakan tak percaya.
"Maksud aku mau panggilan kayak gini, bukan mau punya anak. Masalah punya anak aku belum kepikiran, aku gak mau punya anak dulu yo.Aku masih mau kayak orang-orang yang menikmati hidupnya setelah lulus sekolah melanjutkan kuliah dan menggapai cita-citanya. Maaf ya Rio, aku belum bisa untuk memberimu anak"
Rio agak sedikit kecewa, tapi dia juga tidak bisa menyalahkan Lyra.Umur mereka masih 18 tahun, masih sangat mudah untuk melahirkan.
"Iya gak papa kok, aku ngerti ra. Tapi nanti kalau sudah lulus kuliah kita program anak ya" Mohon Rio sekali lagi.
"Iya, setelah lulus kuliah kita program anak.Setelah hamil aku akan berusaha menjadi istri yang baik untukmu" Jawab Lyra dan memeluk Rio.
Lyra tidak ingat kalau dia hanya memakai dalaman saja. Sangat terasa gundukan itu di dad* Rio.
"Ra kamu masih sakit gak, aku gak tahan nih" Ucap Rio yang sudah mulai panas dingin.
"Apaan sih kamu, lagi serius gini malah kepingin.Aku masih sakit, gak kuat kalau harus layani kamu"
"Yah ra udah tegang gini lihat kamu kayak gitu" Rio menunjuk kebawah dengan wajah melasnya.
__ADS_1
"Ahhhhh,, astaga gue masih belum pakek baju ternyata. Pantas saja kamu mesum gini. Sudah sana ambilin aku baju, aku mau tidur ngantuk" Lyra terkejut melihat tubuhnya sendiri, apa lagi banyak bercak merah di seluruh dad*nya. Rio yang diusir langsung mengambil pakaian Lyra dengan tampang lesunya. Tapi dia tidak mau memaksa Lyra yang sedang sakit.
"Terpaksa kamu puasa dulu tong"Batin Rio.