Pernikahan Rahasia Anak Sekolah

Pernikahan Rahasia Anak Sekolah
bab 7(sah)


__ADS_3

Setelah masuk ke dalam kamar, Lyra langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya bekas pergulatan tadi. Lyra tampak menangis di bawah guyuran air keran, dia sangat menyesali perbuatannya tadi.


"Kenapa, kenapa harus seperti ini. Andaikan saja aku memilih memberikan uang lima juta aku tidak akan seperti ini." Rintih Lyra.


Dia hanya berpura-pura kuat saat di depan semua orang, namun saat ini Lyra tampak rapuh menyesali semuanya.


"Besok aku akan menjadi seorang istri, sepertinya hidupku akan berubah. Impian untuk kuliah dan menjadi seperti yang ku inginkan tidak akan menjadi kenyataan, hikss,, hikkss. Percuma ku menangis, semua tidak akan berubah sedikitpun. Lebih baik aku tidur saja, menunggu hari penyesalan yang akan membuatku mungkin tidak akan sanggup" Sesal Lyra yang langsung menyudahi ritual mandinya. Lyra menaiki ranjangnya dan membaringkan dirinya hingga tertidur.


Sedangkan di kamar lain, jantung Rio terus berdebar membayangkan pernikahannya esok.


"Aduh mah sakit pelan-pelan dong" Ucap Rio yang ternyata sedang di obati oleh mamanya.


"Kamu itu dari tadi ngelamun terus, kenapa? Kamu menyesal sekarang. Mama gak habis fikir sama kamu yo, sejak kapan kamu seperti itu. Sampai-sampai anak pemilik sekolah kamu tidurin" Ucap buk Rida yang masih kesal.


"Apa mah, Lyra anak pemilik sekolah. Aku aja gak tau mah. Lyra penampilannya aja kayak orang biasa-biasa aja, tahu gini aku gak mungkin mau cari masalah sama dia" Sesal Rio.


"Sudah gak perlu menyesal, semua sudah terjadi. Lebih baik sekarang kamu tidur siapkan mental kamu untuk besok." Ucap buk Rida keluar menuju kamarnya.


"Lyra apa loe akan bahagia jika menikah dengan gue nanti, gue takut loe akan pergi saat gue sudah mulai cinta." Batin Rio yang langsung memejamkan matanya.


...****************...


Pagi telah tiba, papa Denis sudah memberitahu para pelayan untuk mengatur pernikahan Lyra. Dia sengaja tidak membangunkan semua orang, papa Denis tahu pasti semuanya sedang lelah, jadi pernikahan di laksanakan pada siang hari.


Pukul tujuh pak Arkan bangun untuk membersihkan diri dan pulang kerumah untuk mengambil keperluan yang dibutuhkan.


"Pak Denis, saya permisi dulu ya" Pamit pak Arkan.


"Baik pak, hati-hati di jalan" Balas papa Denis.


Di kamar Lyra bangun pukul delapan, dia masih saja merenungkan nasibnya. Matanya pun masih bengkak akibat menangis semalam.


"Gak ada pilihan lain, gue harus kuat" Batin Lyra.


Tiba-tiba ada yang mengetuk pintunya.

__ADS_1


Tok,, tokk,,, "sayang bangun ayo sarapan dulu. Gak usah mandi, mandinya nanti setelah sarapan saja." Ucap mama Wulan di balik pintu kamar Lyra. Setelah memberi tahu Lyra, mama Wulan membangunkan yang lain.


Lyra keluar kamar dengan wajah lesu, Rio yang melihatnya merasa kasian.


"Apakah miliknya masih sakit, seperti tidak ada semangat hidup lagi. Atau apakah Lyra menyesal karena akan menikah denganku, ahhh aku juga pusing kalau memikirkan ini" Batin Rio yang juga merasa menyesal.


Semua orang sudah duduk di meja makan, mereka makan tanpa suara, sampai papa Denis membuka obrolan.


"Buk Rida tadi suami anda pulang, apakah anda sudah tau?"


"Sudah tuan, mungkin dia masih di perjalanan kembali kesini" Jawab buk Rida.


Papa Denis hanya mengangguk. Setelah sarapan mereka menyuruh calon pengantin itu untuk mandi dan bersiap-siap karena perias sebentar lagi datang.


Dekorasi akad pun hampir selesai, pernikahan di laksanakan secara sederhana dan hanya di hadiri para kerabat dan kepala sekolah. Saat ini pernikahan mereka masih di rahasiakan, ketika mereka sudah lulus para orang tua akan menyelenggarakan resepsi di hotel.


...****************...


"Kenapa jantung gue berdetak kencang kayak gini sih" Ucap Lyra yang sudah siap di rias.


"Emang begini mbak kalau mau menikah, pasti rasanya gugup. Antara sedih dan bahagia, sedih karena harus meninggalkan orang tua dan bahagia karena akan bersama dengan orang yang kita cintai" ucap sang MUA lagi.


Mendengar hal itu Lyra malah menangis.


"Eh mbak kok nangis sih, udah simpen dulu air matanya kita makeup aja dulu, hehe" Ucap sang MUA sambil tertawa.


Lyra hanya mengangguk dan menyeka air matanya. Dua jam sudah dia di rias dan memakai gaun akad. Memakai kebaya beludru putih panjang yang dihiasi dengan mutiara membuat Lyra semakin cantik dengan hiasan melati asli di kepalanya.


Di ruangan lain, Rio sudah siap dengan setelan Jaz putih dan peci. Dia terlihat sangat tampan dengan pakaian itu, mama Wulan sampai memujinya.


"Ya ampun calon mantu mama cakep banget sih, semangat ya jangan lupa buatkan cucu yang banyak nanti" Ucap mama Wulan sambil mencubit pipi Rio.


Rio yang mendengar itu hanya melongo. "Apa!cucu yang banyak, apakah Lyra mau punya anak?" Tanya Rio pada dirinya sendiri.


Jam sudah menunjukan pukul 13.00 WIB.

__ADS_1


Akad pun di mulai.


"Rio Arkan Wijaya bin Arkan Wijaya saya nikahkan engkau dengan anak kandung saya Lyra Denisa dengan mas kawin 100g dibayar tunai."


"Saya Terima nikah dan kawinnya tersebut tunai."


#Sah,,, Sah....


Alhamdulillah...


Akhirnya akad nikah berjalan dengan lancar, Lyra yang melihat akad itu dari handphonenya langsung menitikan air mata.


"Duh mbak jangan nangis ya, nanti aja di tahan. Sini saya lap dulu ya nanti luntur, hehe"


Setelah membersihkan air mata Lyra, mereka turun kebawah. Semua pandangan orang tertuju pada Lyra yang menuruni tangga.


Rio juga yang melihatnya tampak terpesona dengan kecantikan Lyra, dengan makeup natural saja Lyra terlihat sangat cantik.


"Astaga istri gue cantik bener, gak sia-sia gue nikah muda. Udah cantik, anak pemilik sekolah pula. Tapi gue harus bekerja keras supaya dia tidak ninggalin gue, semoga aja pernikahan ini bertahan sampai akhir hayat kami" Batin Rio yang tanpa ia sadari Lyra sudah berada di sampingnya.


Papa Arkan menyenggol lengan Rio agar sadar dari lamunannya. Sontak saja Rio langsung terkejut, membuat para hadirin semua tertawa.


"Udah nang jangan mikirin malam pertama dulu, kebelet banget sih kamu" Ucap sang paman Rio.


Rio sangat malu di bilang seperti itu, wajahnya nampak merah, membuat semua orang tertawa lagi.


Setelah acara ijab qobul, Lyra dan Rio menyalami orang tuanya dan meminta maaf. Lyra yang sudah di bilang jangan menangis tetap saja menangis, untung saja makeupnya masih bagus, hanya eyeliner yang sedikit luntur. Sang MUA memaklumi itu, toh semua terjadi pada semua orang. Setelah acara sungkeman selesai semua tamu undangan dipersilahkan menikmati hidangan yang ada.


Lyra dan Rio duduk di kursi pengantin, tidak ada obrolan apa pun, mereka hanya diam saja melihat para tamu.


"Astaga, bagaikan dengan kenan. Apakah gue harus melupakannya" Batin Lyra yang ingat kalau pacarnya kenan mantan ketos di sekolahnya yang kebetulan sekelas dengan Rio.


Sedangkan Rio juga memikirkan pacarnya Ria yang tidak dia beri kabar dua hari ini. Handphone Rio terus saja bergetar karena Ria menelpon, biasanya jika hari minggu mereka selalu jalan-jalan ke mall untuk menyenangkan Ria. Ria memang gadis manja dan matre, namun Rio terpesona karena Ria selalu memberi kepuasan pada Rio di atas ranjang.


"Duh gimana ya, mending gue putusin aja lah, lagi pula gue udah punya yang halal, dimanapun melakukan gak akan ada yang melarang,heheh" Batin Rio.

__ADS_1


__ADS_2