
Tokkk,, tokkk..
Hal itu sontak membuat Rio terkejut dan merapihkan pakaiannya.
"Siapa" Ucap Rio was-was.
"Gue Marco cepetan buka"
"Untung Marco, gue pikir orang tua Lyra" Lega Rio.
Rio pun langsung membuka pintunya.
"Nih dompet elo ketinggalan, mau nyolok aja sampe lupa dompet, gak sabaran banget sih loe masih jam sembilan udah nyolok aja" Sewot Marco.
"Heheeh, udah kebelet nih gue. Udah sono pergi" Usir Rio yang membuat marko hanya mendengus kesal.
"Aman, gue lanjut lagi aja nih mumpung Lyra sudah gak pakai apa-apa"
Rio pun melancarkan aksinya, membuat Lyra semakin panas.
"Rio ayo masukin aku sudah tidak kuat"Pinta Lyra memohon.
"Baiklah sayang jika ini kemauanmu akan ku lakukan"
Rio pun langsung menindi Lyra dan kuda-kudaan pun terjadi. Sampai pada puncaknya Rio menyemburkan lahar hangat itu di perut Lyra.
Setelah beberapa ronde akhirnya Rio pun tumbang dan merebahkan tubuhnya disebelah Lyra, Lyra pun sudah kelelahan sampai membuatnya tertidur setelah itu.
__ADS_1
Suhu ruangan yang dingin membuat Rio menarik selimut untuk menutupi mereka berdua yang tanpa sehelai benang, tidak lupa Rio tidur dengan memeluk Lyra.
Dua jam setelah perang tadi, tiba-tiba handphone Lyra berbunyi, Rio yang terbangun langsung mengangkatnya. Dia pikir itu adalah handphonenya kebetulan handphone mereka sama merk nya.
"Hallo siapa sih telepon, ganggu orang tidur saja"
Sontak saja orang yang ada disebrang telepon langsung naik pitam.
"Dasar anak kurang ajar, kau bawa kemana putriku sampai jam 12 malam dia belum pulang." Bentak papa Denis.
Mendengar suara orang tua membuat Rio langsung terkejut, mata yang tadinya lima watt sekarang menjadi seratus watt. Rio melihat handphone yang dia pegang, ternyata itu adalah milik Lyra.
"Jangan diam saja kamu, segera kalian keluar atau saya dobrak pintunya" Ucap papa Denis lagi.
"Ternyata papa Lyra disini, matilah gue" Rio tampak takut mendengar suara papa Denis. Dengan tubuh gemetar Rio membangunkan Lyra agar segera bangun.
"Ra,, ra bangun ra. Bokap loe ada disini"
"Ra buruan pake pakaian loe, bokap loe udah nunggu nih"Ucap Rio yang melemparkan pakaian Lyra tepat di tubuh Lyra.
" Aduh gimana ini, gara-gara elo nih gue begini. Pokoknya loe harus tanggung jawab"Ancam Lyra.
"Iya-iya, yang penting kita sekarang keluar. Kamu bilang kita gak ngapa-ngapain ya, jangan ceritain hal ini. Bisa kena gantung kita"
"iya bawel. Awwww sakit" Lyra merasakan bagian bawahnya terasa perih, itu karena ulah Rio tadi yang merenggut keperawanannya.
"kenapa ra, apa yang sakit" tanya Rio panik.
__ADS_1
"ini punya gue perih tau gak, ahhh ini semua gara-gara elo Rio, siapa nanti yang mau sama aku kalau aku gak perawan lagi" teriak Lyra sambil menangis.
Tiba-tiba pintu di dobrak dari luar, papa Denis yang sudah mendengar dari tadi tidak tahan mendengar anaknya merintih.
Buggg,, buggg,, bugg,, Papa Denis langsung meninju wajah Rio tiga kali. Lyra yang melihat itu berteriak histeris.
"Pah sudah pah, bisa-bisa papa membunuh Rio" ucap Lyra melerai mereka.
"Sebaiknya kalian keluar dan masuk ke dalam mobil papa" Ucap papa Denis yang langsung keluar terlebih dahulu.
Lyra merasa kasihan dengan Rio yang sudah babak belur, dia mencoba memapah Rio agar berdiri.
"Maafkan gue ra, gara-gara gue loe kena masalah" Ucap Rio menyesal
"Udahlah loe gak usah ngomong, mending kita pergi dari sini."
Mereka keluar dan langsung masuk kedalam mobil yang pengemudinya adalah papa Denis.
Sedangkan mobil Rio di bawah oleh supir papa Denis.
"Sekarang telepon orang tuamu untuk datang sekarang juga di rumah kami, cepatt,," Bentak papa Denis yang masih kesal.
"Sudah pah jangan marah-marah nanti papa jadi darah tinggi. Lebih baik kita selesaikan masalah ini di rumah"Ucap mama Wulan menasehati.
Ternyata mama Lyra menunggu di dalam mobil, dia tidak mau masuk ke tempat seperti itu karena bau alkohol yang menyengat.
Setelah menelpon orang tuanya Rio memilih diam dan merenungkan nasibnya nanti.
__ADS_1
"Duh gimana ini kalau gue disuruh tanggung jawab, gue kan gak ada kerjaan, gimana mau ngasih makan anak bini gue nanti" Batin Rio yang nampak terlihat frustasi.
"Sudahlah Rio, ini kan emang salah kamu sendiri. Pokoknya kamu harus tanggung jawab" Bisik Lyra pada Rio yang sebenarnya di dengar oleh orang tuanya, tapi mereka memilih diam dan akan mengintrogasi mereka nanti.