
"Tidak za mama tidak akan setuju" teriak mama Ezza
"Za kamu itu apa-apaan sih, kamu mau ngelawan papa sama mama?" papa Ezza berusaha untuk tidak tersulut emosi
Ezza hanya terdiam melihat kemarahan papa dan mamanya
"Za apa bagusnya perempuan ini, Sheryl lebih pantas buat kamu" mamanya melihat Dina dengan tatapan tajam yang ditatap hanya bisa menunduk
"Wanita yang manja dan hanya mengandalkan kekuasaan orang tuanya mama bilang lebih pantas untuk aku" teriak Ezza yang tidak terima hinaan yang di lontarkan untuk Dina
"Apa-apaan ucapan kamu itu, kamu berani meneriaki mama kamu" tegur sang papa dengan nada yang tak kalah tinggi
Ya sehabis kejadian yang terjadi di kantor Ezza langsung membawa Sheryl di hadapan orang tuanya, rasanya dia sudah tidak mau menahan gemuruh yang mengganjal di hatinya, hidupnya adalah miliknya maka dialah yang menentukan dan menjalankannya
"Pa ma sekalipun papa dan mama tidak mengizinkan aku tetap akan memilih Dina" ucap Ezza tegas
"Za apa kamu mau menyakiti Sheryl, za bilang sama mama apa Sheryl juga sudah tau kamu memiliki hubungan dengannya?" tanya mama bagaimana jika Sheryl tau akan hal ini apa yang akan ia rasakan dan bagaimana jika orang tua Sheryl juga mengetahui tentang ini apa yang akan mereka katakan
"Dia sudah tau ma" ucap Ezza datar
"Apa? za apa kamu tau apa yang kamu lakukan ini? kau menyakitinya za" ucap mama kecewa dengan apa yang dilakukan oleh putranya itu
"Za bawa pergi perempuan ini dari rumah!" perintah sang papa
"Segera putuskan hubungan kamu itu, dan kamu tetap akan menikah dengan Sheryl" lanjut papa dengan tegas tidak ingin di bantah
"Biarpun papa dan mama tidak setuju aku tetap akan memilih nya" Ezza langsung menarik tangan Dina keluar dari rumah yang besar mewah nan megah itu
Dina sedari tadi hanya terdiam, Dina merupakan tipe wanita yang penakut apalagi ketika mendapat gertakan yang cukup besar dari orang lain
"Za apa lebih baik kita putuskan saja hubungan kita ini" ucap Dina tiba-tiba saat mobil sudah berjalan pergi meninggalkan halaman rumah kediaman Ezza
"Apa yang kamu katakan, kamu jangan dengerin ucapan mama dan papa ku"
"Din.... apa sebaiknya kita kawin lari saja" ucap Ezza dengan enteng
"Za apa kamu sadar akan ucapan aneh mu itu" tanya Dina dia terkejut dengan ide konyol Ezza
"Aku sangat sadar dan lagi itu bukan ucapan aneh" ucap Ezza dengan tatapan mata yang serius
"Tidak za aku tidak mau, aku tidak mau membuat ibuku tambah khawatir" ucap Dina
"Lagian apa kamu mau membuat orang tuamu khawatir? tidak kan"
__ADS_1
"Mungkin apa yang mama papa kamu bilang itu benar aku tidak pantas buat kamu, Sheryl lebih pantas buat kamu za"
"Wajahnya, kepribadiannya, latar belakangnya, keluarganya, semua yang dimilikinya pantas untukmu..... bahkan dia jauh lebih muda dariku" Dina mengatakan semua itu dengan pandangan ke luar jendela, tatapan matanya terlihat sendu, ia sadar akan posisi yang ia miliki saat ini
"Din bagaimana bisa kamu mengatakan semua itu, tentu saja wanita manja itu tidak cocok denganku, aku lebih menyukai wanita yang mandiri dan yang seumuran, dan lagi kamu lebih cantik darinya" ucap Ezza jujur
Dina menghadap ke arah Ezza menatap kedua mata Ezza tatapannya terlihat cukup serius apa bener semua yang ia katakan
"Za kau tau aku tidak ingin hubungan mu dengan orang tuamu rusak karena aku, aku tidak mau kamu mengalami apa yang aku alami" ucap Dina matanya sudah mulai berkaca-kaca
"Kamu tenang saja mereka pasti setuju dengan hubungan kita dan aku akan membatalkan perjodohan itu" Ezza berusaha meyakinkan wanita berjilbab yang duduk di sampingnya
"Za" panggil Dina
"Mmmmm" Ezza berdehem sembari menoleh ke arah Dina
"Kenapa kamu berbohong?" tanya Dina
Ezza mengerutkan dahinya "Maksud kamu?"
"Soal perjodohan mu, kenapa kamu tidak pernah memberi tahuku soal perjodohan mu sama sekretaris mu itu?" tanya Dina pandangannya lurus ke depan
Ezza terdiam alasan apa yang pantas untuk dia lontarkan
"Bukan" jawab Ezza cepat
"Dia bekerja di sana karena kedua orang tuaku, tidak ada hubungannya sama sekali denganku"
"Benarkah?" pandangan beralih ke arah pria tampan yang pernah mengisi hati dan pikirannya, pernah? lantas apa sekarang masih sama
"Tentu saja benar" Ezza tersenyum melihat wajah Dina
"Lantas kenapa kamu sama sekali tidak pernah menceritakan apapun tentang itu?" tanya Dina
"Karena aku tidak ingin menyakiti mu"
"Aku tidak ingin kau menjauh lagi"
"Aku tidak ingin kau mengalah lagi"
"Kau juga pantas untuk bahagia" ucap Ezza
"Apa kau pikir bersama dengan mu aku akan bahagia?" tanya Dina
__ADS_1
"Tentu saja, kau mencintaiku bukan" ucap Ezza dengan pedenya sembari mengangkat alisnya dan tersenyum menggoda
Dina langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain, wajahnya memerah menjadi salah tingkah
Kenzo yang menyetir mobil sedari tadi memperhatikan gerak-gerik serta mendengarkan ucapan mereka, tanpa sadar dia mengeratkan kedua tangannya pada setir mobil
"Mampir dulu ke restoran" perintah Ezza yang mendapat anggukan dari Kenzo
"Kamu mau makan di sini atau di rumah sakit?" tanya Ezza lembut
"Di rumah sakit aja ya bareng ibu" jawab Dina
"Oke, mau makan apa?"
"Nasi goreng cumi-cumi+udang dengan telor setengah matang" ucap Dina
Mobil sudah berhenti di restoran seafood, restoran yang menjual berbagai macam jenis seafood yang berkualitas tinggi
"Kenzo turun! pesankan nasi goreng cumi-cumi+udang dua porsi, yang satu pakai telor setengah matang yang satunya lagi telur mata sapi matang" perintah Ezza
"Oh ya sama bubur ikan satu" keluarga Dina memang sangat menyukai makanan seafood
"Baik bos" Kenzo mengangguk mengerti dan turun dari mobil "Cuma nasi goreng aja mesennya di restoran semewah ini" batin Kenzo
Setelah setengah jam berlalu Kenzo datang membawa makanan dan memasuki mobil
"Kenzo mampir ke supermarket beli buah-buahan di sana!" ya namanya juga bos main perintah aja
"Baik bos" ucap Kenzo
Setelah mampir ke supermarket membeli satu keranjang buah-buahan dengan pita ungu yang cantik, mobil pun berhenti di parkiran rumah sakit tempat ibu Dina dirawat, Ezza dan Dina melangkahkan kakinya menuju kamar VIP, kamar yang begitu mahal dengan perawatan yang lebih khusus dan istimewa, siapa lagi yang memesan kamar itu kalau bukan Ezza, bahkan sedari dulu yang membiayai perawatan ibu Dina adalah Ezza
"Assalamualaikum Bu" Dina memasuki ruangan sembari mengucapkan salam diikuti dengan Ezza di belakangnya dan diikuti dengan Kenzo di belakangnya lagi dengan membawa keranjang buah beserta makanan yang tadi di beli di restoran seafood
"Waalaikumsalam" ibunya masih berbaring di atas kasur kondisi masih terlihat lemah namun sudah mampu untuk tersenyum
"Bu bagaimana kabarnya?" tanya Ezza sopan
"Alhamdulillah nak Ezza sudah mendingan" ucap ibu Dina, wajahnya masih nampak pucat
"Ibu belum makan kan? Ini ada bubur ikan ibu makan dulu ya biar bisa minum obat" Dina membuka bungkusan makanan dan menyiapkannya di mangkok, perlahan Dina menyuapi ibunya dengan telaten
Ezza tersenyum menyaksikan pemandangan itu, bagi Dina ibunya adalah segalanya karena cuma ibunya keluarga yang ia miliki
__ADS_1