Perubahan Hati

Perubahan Hati
Siapa Wanita Resepsionis Itu?


__ADS_3

***


“Bukankah kamu menyukaiku?” tanya seorang gadis sembari menatap laki-laki yang ada di hadapannya ini


“Kenapa kamu diam aja jawab” ucapnya lagi dengan nada yang lebih tinggi


“Kau sudah tau jawabannya” ucap laki-laki terebut tanpa menatap manik mata bening berkaca-kaca yang di miliki gadis tersebut


“Mana aku tau jawabannya, aku hanya mengira-ngira karena sikapmu terhadapku, begitupula cara kamu menatap ke arah ku sangat berbeda dengan cara kamu menatap gadis-gadis lain, apa aku bisa menyimpulkan bahwa kamu menyukaiku” ucap gadis tersebut nadanya mulai melemah menahan sesak di dadanya


“Maka kesimpulan mu itu benar” lagi-lagi laki-laki tersebut tidak menatap ke arah gadis yang sudah memenuhi pikirannya itu


“Lantas kenapa kamu menolak ku” ucap gadis itu, nyatanya air mata itu sudah mengalir di pipi nya


“Apa yang kamu pikirkan sampai berani menyatakan cinta kepadaku?” ucap pria tersebut yang sudah berbalik badan dan mengalihkan pandangannya ke langit seakan-akan enggan melihat gadis tersebut, bukan bukan enggan tapi dia tidak ingin melihat gadis tersebut menangis karenanya


Dia mengusap air matanya “Aku…. Aku berpikir bahwa kamu tidak berani menyatakan cintamu padaku” ucapnya tertahan “Aku…. Aku berpikir bahwa kamu akan menerimaku, bahkan kenzo pun mengatakan bahwa kamu akan menerimaku karena kamu menyukaiku” pada akhirnya air mata itu masih mengalir walaupun sudah ia usap berkali-kali


“Apakah menyukai seseorang harus dengan cara menjalin hubungan cinta” ucap laki-laki tersebut masih dengan pandangan ke arah langit


“Lantas…. Bukankah sebuah hubungan akan semakin kuat jika di resmikan” gadis itu berusaha agar tidak terisak


“Kamu salah pada nyatanya hubungan akan semakin hancur jika suatu saat kita tidak lagi sejalan” ucapnya sembari menghadap ke arah gadis tersebut, tangannya mulai terulur ke depan ingin rasanya mengusap air mata gadis yang ada di hadapannya ini namun dia urungkan, dia tarik kembali tangannya dan memasukkan ke saku celananya


“Apa maksudmu?” tanya gadis tersebut menatap manik mata laki-laki yang mampu membuat dadanya sesak berusaha mencari kebenaran dari mata tersebut, seseorang pernah berkata mata tidak dapat berbohong namun hasilnya nihil dia tidak mendapatkan jawaban akan kebenaran tersebut


“Pulanglah ini sudah sore” laki-laki tersebut melewati gadis itu begitu saja berjalan meninggalkannya sendiri


“Hiks hiks hiks hiks hiks hiks” tangis gadis itu pun pecah, sekuat apapun dia menahan akhirnya akan runtuh juga


Laki-laki itu terus berjalan tanpa menengok ke belakang, namun dia dapat mendengar isak tangis dari gadis yang pernah mengisi pikirannya tersebut. Mengisi pikiran? namun apakah hatinya juga diisi oleh gadis tersebut

__ADS_1


Kring kring


Bunyi alarm membangunkan pria yang sedang tertidur lelap


“Hah mimpi ternyata” gumamnya dan dia segera beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk membersihkan diri


Ia tau pasti bahwa itu bukan hanya sekedar mimpi melainkan memori kenangannya di masa putih abu-abu sebelum dia berangkat keluar negeri untuk melanjutkan pendidikannya


***


Tok tok tok


Pintu ruangan itu di ketuk membuat sang penghuni di dalamnya menyebutkan satu kata perintah “Masuk!”


Gadis cantik itu memasuki ruangannya menyerahkan tugas dan membacakan jadwal seperti biasanya


“Pak habis rapat jangan pergi dulu, saya mau bicara sebentar di ruang rapat, hanya sebentar” ucap gadis tersebut kemudian melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu keluar dari ruangan tersebut tanpa menunggu sang lawan bicara membalas ucapannya


Rapat berjalan dengan lancar satu persatu orang yang berkepentingan dalam rapat keluar dari ruang rapat, kini tinggallah tiga orang di ruang rapat namun Ezza menyuruh asistennya untuk keluar ruangan agar dapar berbicara empat mata pada gadis yang tadi memberi perintah agar dia tidak keluar dari ruang rapat


“Apa yang ingin kamu bicarakan” tanya Ezza tanpa basa basi setelah asistennya itu keluar dari ruangan dan menutup pintu ruang rapat


“Apa maksud bapak bersikap seperti ini pada saya?” tanya Sheryl


“Sikap apa? bukankah ini sikap atasan dan bawahannya” ucap Ezza datar


“Iya benar, namun apakah sikap yang bapak tunjukkan terhadap salah satu resepsionis yang bekerja disini itu juga termasuk sikap atasan dan bawahan” tanya Sheryl yang mampu membuat lawan bicaranya ini diam sejenak


Deg


Ezza kaget dengan pertanyaan itu namun sebisa mungkin dia tetap terlihat biasa saja seakan tidak memiliki hubungan atau sikap yang salah

__ADS_1


“Apa maksudmu?” tanya Ezza


“Maksud saya apakah seorang atasan mengantar seorang resepsionisnya pulang?” tanya Sheryl seolah-olah mengintimidasi calon suaminya tersebut


“Itu hanya kebetulan, aku hanya menolongnya” jawab Ezza enteng, padahal dalam hatinya darimana dia tau apakah dia punya mata-mata


“Iya juga ya, bos yang baik hati kan harus memperhatikan setiap karyawannya” ucap Sheryl seakan-akan membenarkan ucapan Ezza


“Iya itu kamu sendiri tau” jawab Ezza lega


“Namun apa ada seorang reseptionis yang membawakan kotak makan ke atasannya setiap jam makan siang” ucap Sheryl lagi


“Itu saya pesen tentu saja jasa pengantarnya menuju resepsionis, dan kemudian dia yang membawakannya ke ruangan saya” ucap Ezza untung bisa nyari alasan secepat ini


“Lantas makan siang berduaan di ruangan” ucap Sheryl sembari menyipitkan matanya sambil melirik ke arah Ezza, dia bener-bener bisa menjadi seorang detektif yang handal


“Jika hanya ini yang ingin kamu bicarakan aku tidak punya waktu meladeni kamu” ucap Ezza melangkahkan kakinya keluar dari ruang rapat, kenapa rasanya seperti di intimidasi oleh istri ya, haish kenapa juga analisanya begitu tepat padahal dia tidak pernah memergokiku bersamanya


Sedangkan Sheryl hanya termenung di ruang rapat sendirian “Sudah sejauh ini bagaimana bisa aku berhenti di tengah jalan? Bagaimana bisa aku menyerah? Aku harus tetap bertahan apapun yang terjadi, liat aja nanti apa yang akan aku perbuat untuk mendapatkan apa yang harus ku miliki” batinnya sembari mengepalkan tangannya


Reseptionis itu? Siapa namanya?


Sheryl keluar dari ruang rapat dia berjalan hendak ke lantai dasar tempat resepsionis itu bekerja, namun langkahnya terhenti ketika dia melihat Ezza dengan wanita resepsionis itu yang sampai sekarang Sheryl belum mengetahui namanya, mereka berbicara di tempat yang sepi yang tidak banyak di lalui oleh karyawan lainnya, sayup-sayup terdengar suara pembicaraan mereka


"Za mau sampai kapan kita kayak gini terus" tanya wanita tersebut


"Aku akan membawa mu kehadapan orang tua ku" jawab Ezza meyakinkan


"Iya tapi kapan, aku takut mereka menolak ku" ucap wanita itu dengan sorot mata yang terlihat sedih


"Maka aku akan mencari cara agar mereka dapat menerima mu" Ezza benar-benar meyakinkan wanita yang ada di hadapannya ini

__ADS_1


__ADS_2