Pesona Ibu Guru

Pesona Ibu Guru
Ibu Guru Baru


__ADS_3

"Tolong kalian diam dulu. Bapak punya sebuah pengumuman penting," kata laki-laki botak yang saat ini ada di depan kelas. Orang itu adalah kepala sekolah di SMA Pattimura. Saat ini ia sedang berdiri di podium kelas 12 E, berusaha membuat pengumuman untuk anak-anak remaja di hadapannya.


"Huuuuu ...." Belum mendengar apa yang ingin dikatakan kepala sekolah itu saja, anak-anak sudah ricuh dan mulai mengolok-olok. Di antara kelas 12 dari yang A hingga yang E, kelas E adalah kelas yang paling sulit diatur. Akan tetapi ada banyak murid berprestasi di kelas itu.


"Nak ... tolong lah. Bapak sudah mules ini. Biar cepat saja loh ...," mohon Pak Sani.


Akhirnya, seorang pemuda berwajah tampan dengan rambut sedikit gondrong, berdiri dan sontak membuat seluruh kelas menjadi tenang. Semuanya tanpa terkecuali laki-laki dan perempuan.


"Bicara, Pak Sa. Kalau beritanya gak penting, kami akan buat bapak pup di celana, ya ...," ancam pemuda bernama Rangga. Salah satu siswa berprestasi yang berhasil menyumbangkan medali emas pada Olimpiade Matematika bulan lalu dan mendali emas pada cabang atletik renang dua bulan sebelumnya.


Pak Sani mengambil sapu tangan dari dalam saku celana dan mulai menyeka keningnya yang terus berkeringat.


"Baik ... baik. Dengarkan ... mulai hari ini Bapak Syamsudin tidak akan menjadi wali kelas kalian lagi. Beliau mendapat beasiswa untuk meneruskan kuliah sastra di Kanada."


"Waahh ... Keren dong bisa kuliah sejauh itu. Beasiswa pula." Salah satu anak berbisik dengan teman sebangkunya.


"Asik ... asik! Akhirnya Pak Syamsudin yang ngomongnya selalu mengandung sastra itu, tidak mengajar kita lagi. Udah eneg gua dengarnya!" timpal murid lainnya.


"Terus, gantinya siapa, Pak? Kalau bisa, jangan kayak Pak Syamsudin lagi, ya! Kasih yang cantik, Pak!" seru seorang siswa yang tentu saja mengundang ejekan para siswi perempuan di kelas itu.


"Yeeee ... enak aja! Mau wali kelas yang ganteng, Pak! Biar kami makin semangat belajarnya!" sahut salah satu siswi perempuan berambut keriting bergelombang.

__ADS_1


"Yang cantik, Pak!"


"Yang ganteng, Pak!"


"Cantik!"


"Ganteng!"


Kedua kubu di kelas itu saling sahut. Di depan kelas, Pak Sani sudah tidak tenang ingin cepat-cepat keluar dari kelas itu dan pergi ke toilet.


"Haduh ... kalian ini bisa diem dulu nggak? Apa kalian mau saya kasih wali kelas laki-laki tapi kemayu dan pintar dandan? Biar terpenuhi semua keinginan kalian! Mau?"


Rangga yang sejak tadi terlihat bosan menunggu, malah tertawa mendengar ancaman Pak Sani barusan.


"Baiklah kalau begitu. Ini wali kelas baru kalian. Beliau ini baru saja lulus kuliah dan langsung lolos seleksi CPNS. Karena sekolah kita kekurangan guru PNS, jadi tenaga Beliau ini memang dibutuhkan sekali." Pak Sani tersenyum. "Silakan masuk, Bu ...," katanya kemudian.


Sebelum kelas kembali ricuh, Pak Sani mempersilakan si guru baru untuk langsung masuk dan menemui calon murid-muridnya.


"Selamat pagi, Semua! Perkenalkan nama saya Melinda. Kalian bisa manggil saya Ibu Meli, Ibu Linda, atau Ibu saja. Salam kenal, ya ... saya harap kita semua bisa menjalin kerja sama yang baik di kelas ini," kata Melinda Usagi yang merupakan wali kelas baru dan sekaligus akan mengajar bahasa Indonesia. Wanita muda itu terlihat begitu bersemangat dan riang.


Belasan siswa laki-laki yang ada di sana terlihat memamerkan senyum dan bertepuk tangan karena senang. Tidak seperti siswi perempuan yang langsung saja memasang wajah cemberut, saat mengetahui jika wali kelas baru mereka adalah seorang perempuan. Mereka menganggap wali kelas perempuan akan lebih ketat lagi dalam menjalankan peraturan kelas.

__ADS_1


"Imut banget ... yakin, sudah lulus kuliah, Kak?" tanya seorang siswa laki-laki yang tidak hentinya tersenyum.


"Yakin dong! Ini ijazah saya," sahut Melinda yang sudah memegang ijazah sarjananya di depan dada.


"Wow ... keren ...," timpal murid yang lain.


"Ish ... biasa aja, dong. Cuma guru juga ...," lirih salah satu murid perempuan yang nyata sekali terlihat tidak suka dengan kehadiran Melinda di depan kelas.


Mendengar penuturan murid perempuan itu, Melinda malah tersenyum. Ia menyimpan ijazahnya kembali ke dalam tas dan melipat kedua tangan di depan dada.


"Kalau tidak ada guru, memangnya ada presiden? Kalau tidak ada guru, memangnya ada insinyur? Lain kali, kalau ngomong dipikir, ya ...," sahut Melinda masih dengan suaranya yang riang.


Satu hal yang selalu ada dalam ingatan Melinda, jika ia tidak boleh menganggap murid-muridnya sebagai sosok yang perlu ditindas atau ditekan. Ia harus bisa membaur dengan para pemuda itu dan menjadi teman yang baik.


"Ya sudah, Bu Meli ... selamat datang di sekolah kami, terutama di kelas 12 E. Saya permisi dulu ... dan Bapak harap kalian bisa menyambut Ibu Melinda dengan baik. Terutama kamu Rangga, Bapak sangat berharap kamu bisa mencontohkan yang baik kepada teman-teman di kelas ini. Hormati Ibu Melinda ... okey?"


Pandangan Melinda beralih kepada siswa laki-laki yang dimaksud Pak Sani. Anak itu hanya mengangkat kedua alisnya dan tersenyum.


"Oh, jadi itu yang namanya Rangga? Yang pintar dan berbakat itu? Kenapa ngumpet di kelas ini, sih?" batin Melinda penasaran.


Sementara itu di bangkunya, Rangga sudah mengeluarkan buku tulis dan buku pelajaran Bahasa Indonesia. Kehadiran wali kelas baru mereka tidak berkesan sama sekali untuk Rangga. Tadinya ia berharap wali kelas barunya adalah sosok wanita yang tegas dan seksi, tapi Melinda sangat jauh dari ekspektasi itu.

__ADS_1


Padahal, ia sudah khusus meminta pada ayahnya sebulan sebelum kepergian Pak Syamsudin. Ia mau wali kelas baru yang tegas dan seksi, terutama seksi. Sayangnya semua tidak berjalan sesuai keinginannya sama sekali.


"Cih! Kecewa banget gue ...," batin Rangga kesal.


__ADS_2