
Melinda bersiap untuk masuk ke kelas 12 E. Sebenarnya, masih ada sepuluh menit lagi sebelum ia masuk ke kelas itu. Akan tetapi, ada sesuatu yang ingin Melinda cari dan ia tidak ingin menganggu waktu belajar nantinya.
“Mana, ya? Kok gak ada, sih?” tanya Melinda kepada dirinya sendiri.
Saat ini, hanya ada Melinda di ruang kelas itu. Anak-anak sedang berada di kantin atau koridor karena saat ini memang sedang jam istirahat.
“Ya ampun ... kalau hilang kan sayang banget ... itu punya Ibu, loh ...,” gumamnya sambil terus mencari.
Saat ini Melinda ada di bawah kolong meja guru yang besar seperti peti. Mencari gelang emas pemberian almarhumah sang Ibu kepadanya sebelum beliau meninggal dunia.
“Seharusnya kusimpan saja di rumah. Kalau begini ... apa mungkin ditemukan anak-anak kelas 12 E, ya? Haduh ...,” sesal Melinda lagi.
Pada saat Melinda sedang asik mencari seperti ini, ia tidak menyadari jika sejak tadi ada yang mengawasinya. Sesosok laki-laki yang merasa penasaran dan langsung saja melangkah lebih dekat ke arah Melinda.
Sosok itu ikut masuk ke dalam kolong meja karena ingin tahu dan ingin membantu Melinda sekalian.
“Ada yang hilang, ya?” tanya sosok itu sedikit berbisik.
“Iya, nih ... gelang pemberian almarhumah Ibuku hilang. Kemungkinan jatuh di sini. Kira-kira ada yang menemukannya atau gimana, ya? Kok gak ada ...,” cicit Melinda tanpa melihat siapa yang bertanya.
__ADS_1
“Gelang, ya? Biar saya bantu cari ...,” katanya kemudian.
“Ah, iya. Terima kasih!” seru Melinda yang masih belum menyadari keberadaan sosok tersebut.
Lalu, setelah sepersekian detik kemudian, Melinda baru sadar telah bicara dengan seseorang. Karena hal itu, ia langsung berbalik dengan terburu-buru. Hal itu membuatnya langsung berhadapan dengan wajah Rangga yang ada tepat di belakangnya.
“Ra-Rangga?! A-apa yang kamu lakukan di sini?!” seru Melinda terkejut.
“Membantu Ibu mencari gelang. Katanya hilang ....” Rangga mengatakannya dengan enteng.
“I-iya, tapi ... ka-kamu di situ—”
Klek~
Kini posisi Melinda sedang bersandar di tubuh Rangga, dengan tangan anak itu mendekap mulut Melinda dari belakang entah bagaimana ceritanya. Sama persis seperti seorang penjahat yang berhasil mendapatkan seorang sandera.
“Ssttth ... jangan berisik, Bu. Nanti mereka tahu kita berdua-duaan di bawah sini ...,” bisik Rangga tepat di samping telinga Melinda.
Tentu saja hal itu membuat Melinda semakin berdebar-debar. Jantungnya seperti mau copot karena banyak hal. Posisi yang begitu dekat dengan Rangga dan rasa takut ketahuan anak-anak muridnya.
__ADS_1
Mau tidak mau Melinda diam saja. Ia tidak ingin namanya tercoreng hanya karena hal seperti ini.
Melihat Melinda yang sudah cukup tenang, Rangga mulai mengendorkan dekapan tangannya di mulut Melinda. Setelah benar-benar lepas, Melinda mencoba untuk menjauh dari tubuh Rangga yang wangi dan terasa kekar.
Tangan Rangga menahan Melinda yang bergerak terlalau jauh. Ia tahu jika tubuh Melinda bisa saja terlihat dari luar sana.
“Apa yang Ibu lakukan? Menunduk sedikit ...,” bisik Rangga lagi.
Melinda mengangguk dan mengikuti ucapan Rangga. Kemudian dari tempatnya, Rangga mencoba untuk melihat siapa yang tadi masuk ke dalam kelas. Kenapa tidak ada obrolan atau apa pun itu?
Saat Rangga mencoba untuk mengintip, ia hampir saja ketahuan. Laki-laki buru-buru menundukkan kepalanya kembali sebelum sosok yang ada di luar sana melihatnya.
“Siapa?” bisik Melinda penasaran.
“Erin ...,” sahut Rangga yang juga bingung dengan sosok yang ia lihat.
Melinda menaikkan kedua alisnya seakan minta penjelasan lebih, tapi Rangga hanya meletakkan jari telunjuknya di depan bibir. Memberi isyarat agar Melinda tidak bertanya lagi.
Di dalam hati, Melinda begitu penasaran. Apa yang gadis itu lakukan di kelas pada jam istirahat? Padahal, peraturan sekolah sudah jelas, tidak ada siswa yang boleh berada di dalam kelas saat jam istirahat. Hal itu sehubungan dengan banyaknya barang siswa lain yang ditinggal di kelas.
__ADS_1
Rangga tadi masuk pasti karena melihat pintu yang lupa Melinda tutup rapat. Meskipun Rangga anak ketua komite sekolah, ia tetap harus mengikuti peraturan sekolahnya.
Melinda merasa pasti ada sesuatu pada Erin ... tidak hanya sekali, ada beberapa hal yang membuat Melinda mulai curiga ....