
Sudah dua minggu belakangan Melinda mengajar di SMA Pattimura. Sejauh ini ia memiliki hubungan yang cukup baik dengan Rangga, Bramasta, dan banyak murid lainnya.
Bramasta adalah murid pertama yang pernah mengantarnya pulang ke kontrakan dan Rangga adalah murid kedua yang pernah melakukan hal yang serupa. Tidak jarang pula Melinda mendapat ajakan pulang bareng dari murid lainnya, tapi ia bisa menolak semua itu dengan mudah tanpa harus pusing. Tidak seperti Bramasta atau Rangga tempo hari.
Yang menjadi perbedaan adalah Bramasta seperti kembali ke setelan pabrik. Ia menganggap, ya Melinda sebagai guru dan tidak pernah lagi menawarkan diri untuk mengantar wanita itu pulang ke kontrakan. Terlebih setelah ia melihat Rangga juga mengantar Melinda pulang ke kontrakan, bahkan sampai beberapa kali.
Tidak seperti Bramasta, Rangga malah menjadi semakin dekat dengan Melinda. Laki-laki itu menganggap Melinda sebagai guru dan teman yang bisa diajak ngobrol, meskipun pada awalnya bukan sosok Melinda yang Rangga harapkan hadir di depan kelas. Namun ternyata, Melinda cukup asik untuk dijadikan teman.
"Bu, hari ini saya pulang antar pulang, ya? Kebetulan hari ini tidak ada jadwal latihan dan saya memerlukan bantuan ibu," kata Rangga yang menyempatkan diri untuk ikut melangkah keluar kelas, saat Melinda mengakhiri jam pelajarannya.
Setelah ini masih ada pelajaran sejarah dan Rangga tidak ingin kesempatannya untuk mengantar Melinda pulang, sampai terlewat.
"Ga? Masih ada jam pelajaran. Masuk sana!" perintah Melinda saat menyadari kehadiran muridnya itu.
"Oke, Bu. Tunggu saya, ya!" Rangga menghentikan langkahnya setalah mengatakan hal tersebut.
Melinda hanya bisa geleng-geleng kepala akan kelakuan Rangga yang semakin nempel padanya.
Baru saja Melinda duduk di kursinya yang ada di ruang guru, ia dikejutkan oleh sebuah tepukan pelan di bahu kiri.
"Astaga!" pekik Melinda. Pasalnya memang tidak ada orang lain di sana dan tepukan itu membuat Melinda terkejut.
__ADS_1
"Ibu Melinda, coba ikut saya ke ruangan sebentar," kata Pak Sani yang merupakan kepala sekolah di SMA Pattimura. Entah dari mana datangnya, laki-laki itu tiba-tiba saja sudah berada di samping Melinda.
"Eh? I-iya, Pak ...," sahut Melinda yang sepertinya memang tidak punya pilihan lain.
Wanita muda itu melangkahkan kakinya, mengikuti sang kepala sekolah botak yang ada di depannya.
Setibanya di ruang Kepala Sekolah, Melinda dipersilakan duduk kemudian disuguhi segelas minuman kemasan murah.
"Silakan diminum, Bu. Saya mau bicara banyak sama Ibu," kata Pak Sani membuat Melinda semakin bingung. Ia memang tidak ada kelas lagi setelah ini, makanya ia tidak punya alasan untuk pergi dari sana.
"Terima kasih, Pak." Melinda berusaha untuk menghormati atasannya.
"Jadi, apa Ibu Melinda tahu ... kenapa saya ajak ke sini?"
"Ibu tahu siapa Rangga, kan?"
Melinda mengangguk. "Tau, Pak."
"Bagaimana Ibu Melinda bisa punya hubungan sedekat Itu dengan Rangga? Saya perhatikan ... Rangga sering mengantarkan ibu pulang. Benar begitu?"
"Pak ... saya baru dua minggu mengajar di sini, dan seingat saya Rangga baru mengantarkan saya sebanyak empat kali." Melinda mengacungkan empat jarinya di udara.
__ADS_1
"Itu sesuatu yang tidak biasa, Bu." Pak Sani berdiri dari bangkunya dengan mendadak. "Saya tahu Ibu Melinda ini cantik, muda, dan mempesona. Tapi semua itu tidak bisa Ibu gunakan untuk memanfaatkan seorang murid yang masih polos. Untuk mengantarkan pulang misalnya ...."
Mendengar tuduhan itu Melinda hampir tertawa. Namun ia sadar jika kepala sekolahnya itu sedang tidak bercanda.
"Ehem ... maaf, Pak. Maaf beribu maaf malahan. Saya tidak pernah menggunakan kecantikan saya untuk mendapatkan tumpangan gratis seperti yang Bapak tuduhkan. Lagi pula, saya tidak merasa cantik. Apa iya saya cantik, Pak?" Melinda bertanya kepada atasannya.
"Bu ... Saya serius."
"Saya juga, Pak."
"Berhenti menumpang pulang, terutama pada Rangga."
"Jadi begini, Pak ... Saya sudah sering menolak tawaran Rangga untuk mengantar saya pulang. Tapi anak itu seperti punya banyak alasan agar saya mau ikut dengannya. Apalagi waktu dia bilang lagi punya masalah dan butuh bantuan dari Saya. Sebagai seorang guru dan wali kelas dari Rangga, Saya tidak sepatutnya menolak, bukan? Bagaimana kalau bapak yang ada di posisi saya?" terang Melinda yang memang sedang berkata jujur. Rangga memang pernah mencoba meminta tolong padanya. Tentang masalah Erin itu contohnya.
Pak Sani menyandarkan tubuh kembali ke kursi kerjanya. Ia merasa omongan Melinda benar tentang menolong murid yang perlu bantuan.
"Menurut saya, tidak perlu sampai diantar pulang juga. Cukup bicarakan di sekolah dan hal itu sudah termasuk membantu."
Jika bukan karena teguran dari komite sekolah, Pak Sani akan membiarkan hal itu. Masalahnya, Rangga adalah anak Pembina Yayasan di sekolahnya memimpin. Jika tidak ada Yayasan milik ayah Rangga, sekolah itu seperti pincang. Namun, mereka juga harus patuh pada komite yang dibentuk masyarakat. Dalam hal ini adalah orang tua murid.
Sejauh ini Melinda paham betul apa yang dikhawatirkan Pak Sani. Ia tidak bisa menyalahkan laki-laki itu, karena semua memang ada peraturannya.
__ADS_1
"Baiklah, Pak. Saya akan mendengarkan perkataan Bapak. Sebisa mungkin, saya akan mengatur jarak dengan anak-anak murid saya ...." Melinda mengangguk dan permisi dari sana. Apa yang disarankan Pak Sani memang tidak salah. Ia bisa membantu Rangga saat di sekolah, anak itu tidak harus mengantarnya pulang. Melinda hanya harus mencari cara untuk menjelaskannya kepada Rangga si keras kepala ....