Pesona Ibu Guru

Pesona Ibu Guru
Kepikiran


__ADS_3

Tepat jam lima sore Melinda keluar dari perpustakaan. Ia tidak lupa dengan janjinya pada Bram untuk pulang bareng dengan anak itu. Dengan langkah dipercepat, Melinda pergi ke arah parkiran yang letaknya di dekat gerbang utama.


Sebelum Melinda sampai di parkiran utama, ia bisa mendengar suara gemuruh geluduk dari kejauhan. Hal tersebut membuat Melinda mendongak untuk melihat langit sore itu.


“Ya ampun … segelap ini? Sepertinya aku harus lekas pulang … by the way, Bram jadi ngantar pulang gak, ya?” tanya Melinda kepada dirinya sendiri.


Bersamaan dengan itu, rintik hujan mulai berjatuhan ke bumi. Memaksa Melinda untuk mempercepat langkah kakinya menuju tempat untuk berteduh.


Dengan sedikit kelelahan, Melinda sampai di pos satpam yang ada di dekat gerbang utama. Ternyata, tidak hanya ia saja yang sedang berteduh di sana. Ada sekitar tiga anak perempuan lain yang juga berteduh di tempat yang sama. Satu di antaranya, Melinda kenal sebagai anak kelas 12 E.


“Bu! Baru pulang juga?” tanya seorang murid perempuan yang di kelas tadi tidak begitu banyak bicara. Jika tidak salah ingat, anak itu duduk di baris ke dua dekat pintu masuk.


“Eh, iya … saya dari perpustakaan. Kalian sendiri, baru pulang? Ada eskul?” tanya Melinda kepada ketiga anak di sana.


“Ah, enggak Bu … kami dari klub renang. Nonton mereka latihan,” ungkap salah satu anak yang penampilannya terlihat culun dengan kacamata minusnya yang super tebal.


“Eh? Memangnya, apa yang kalian lihat?” tanya Melinda menyelidik. Menonton orang latihan berenang, apa maksud mereka anak laki-laki yang bertelanjang dada?


“Itu … saya berpikir untuk masuk ke klub renang, makanya mau lihat-lihat sedikit,” kata si anak dari kelas Melinda.

__ADS_1


Melinda melihat anak itu dari ujung rambut hingga ujung kaki. Kalau tidak salah, namanya Erin. Pintar dan pemalu.


“Kamu gak salah bicara, kan? Kalian ini sudah kelas tiga, kenapa baru terpikir untuk ikut club renang? Di mana murid lain sedang mengurangi jadwal latihan agar bisa fokus belajar.”


Mendengar pertanyaan Melinda barusan, membuat mereka terdiam. Baru saja Melinda ingin memaksa Erin bicara, sebuah mobil berhenti di depan pos satpam. Dari sana turun Bramasta dengan payung dan langsung menghampirinya.


“Bu, masuk, yuk!” seru Bram di depan ketiga anak murid Melinda yang juga ada di sana.


Melinda mengangguk dan pergi dengan Bram. Meninggalkan tiga remaja yang hanya bisa saling senggol, dengan kehadiran Bram yang telah datang menjemput.


Melinda bisa melihat raut keterkejutan di wajah ketiga anak perampuan yang berdiri bersamanya tadi. Mungkin mereka kaget dengan Bram yang tiba-tiba datang dan membawa guru mereka pergi.


Bram sendiri kemudian masuk ke dalam mobil dengan jaket yang sedikit basah.


“Sorry saya lama, Bu …,” kata Bram sambil membuka jaket yang ia kenakan.


“Gak masalah. Saya juga baru sampai, kok …,” sahut Melinda di tempatnya.


Jujurlly, ini adalah kali pertama Melinda naik mobil sport keren seperti ini. Rasanya kurang nyaman, tapi gengsinya memang terasa naik beberapa derajat.

__ADS_1


“Rumah ibu di mana? Semoga saja jauh dari sini, ya …,” kata Bram setelah meletakan jaketnya di kursi belakang.


Sebelum melajukan mobilnya, Bram mengeluarkan sebungkus permen karet dan mengunyahnya satu. Mungkin kebiasaan. Ia juga menawarkan permen itu kepada Melinda, tapi Melinda menolak.


“Rumah kontrakan saya deket dari sini. Ada di jalan Anggrek, rumah ketiga dari jalan masuk …,” terang Melinda mengenai tempat tinggalnya yang hanya sebuah kontrakan kecil.


Melinda yang hanya memiliki seorang ayah, harus bisa mengatur pengeluarannya selama bekerja jauh dari keluarga.


Di kampung, ayahnya punya sebuah toko kelontong yang masih bertahan setelah hampir sepuluh tahun berdiri. Bagitu-begitu, toko itulah yang berhasil membiayai sekolah Melinda sampai bisa menjadi guru seperti saat ini.


Suatu ketika, ayahnya pernah meminta Melinda untuk meneruskan usaha untuk menjaga toko kelontongnya, tapi keinginan Melinda untuk bisa menjadi seorang guru, membuat Pak Syarif tidak bisa memaksa lebih jauh. Ia hanya bisa berdoa agar anaknya sukses dan tidak pernah melupakan keluarga.


“Bu … ibu sudah punya pacar belum?” tanya Bram yang sejak tadi fokus kepada jalan di depannya. Sepertinya, laki-laki itu bertanya hanya untuk memecah keheningan di antara mereka saja.


“Kenapa, Bram? Kamu mau jadi pacar ibu? Jangan ngadi-ngadi. Ibu ke kota ini untuk fokus bekerja. Bukan untuk yang lain-lain. Sudahlah fokus nyetir …,” kata Melinda berusaha untuk tidak menyinggung Bram yang mengantarnya pulang.


Di sampingnya, Bram hanya senyum-senyum saja. Ia memang menyukai gurunya yang satu ini, tapi belum juga menyatakan cinta, Melinda sudah menolak. Bram jadi berpikir jika Melinda mungkin sudah punya kekasih hatinya sendiri.


“Apa ibu sudah punya pacar, ya? He he he … maaf ya, Bu. Saya lancang ….”

__ADS_1


Bramasta. Anak itu jauh lebih ceria dan periang dari pada Rangga. Akan tetapi, entah mengapa saat ini Melinda malah kepikiran sosok Rangga. Apa mungkin karena anak itu terlihat dingin, tapi sempat menawarkan untuk mengatarkannya pulang juga tadi?


__ADS_2