Pesona Ibu Guru

Pesona Ibu Guru
Jam Mepet


__ADS_3

Kediaman Keluarga Bramasta


Beda kepala, beda sifat. Mungkin hal itulah yang cocok diibaratkan kepada Rangga dan Bramasta. Jika Rangga akan bangun pagi dan mempersiapkan dirinya sendiri, berbeda dengan Bramasta. Laki-laki itu lebih suka bangun pada jam-jam mepet, karena baginya tidur adalah sesuatu yang begitu membahagiakan.


Tok tok tok!


"Mas Bram! Banguuuun!" seru Bik Yem yang tidak berhasil membuka pintu kamar anak majikannya.


Biasanya Bramasta tidak pernah mengunci pintu kamar seperti pagi ini. Masalahnya, laki-laki itu memang cukup sulit jika harus bangun pagi. Setiap hari, Bik Yem akan membangunkan Bramasta dengan mengguncangkan kaki pemuda itu. Namun kali ini, Bik Yem harus menggunakan suaranya agar Bramasta bisa terbangun.


Meskipun masih merasa begitu mengantuk, Bramasta mendengar panggilan Bik Yem dari luar kamarnya. Laki-laki itu menggeliat sebelum benar-benar bangkit dari tempat tidur.


"Iya, Bik. Iya. Ini Bramasta bangun ... sudah mandi malah ...," sahutnya membuat sedikit kebohongan. Sayangnya Bik Yem tidak percaya ucapan pemuda itu.


"Jangan ngadi-ngadi, Mas. Suara masih begitu, pasti baru bangun tidur. Iya, kan?" tebak Bik Yem yang memang sudah tidak ada pekerjaan lain selain membangunkan Bramasta. Semua pekerjaannya di dapur untuk mempersiapkan sarapan dan lain-lain, sudah selesai sejak beberapa menit yang lalu.


“Ya Tuhan ... cerewetnya ngalahin almarhum Ibu ...,” lirih Bramasta yang buru-buru bangkit dari atas tempat tidur dan pergi menuju ke arah pintu kamar.


Laki-laki itu membuka pintu kamar dan menemukan Bik Yem berdiri di depan kamarnya dengan menyampirkan kedua tangannya di samping pinggang.


“Akhirnya bangun juga! Buruan, Mas! Setengah jam lagi masukan loh ...,” omel Bik Yem yang tahu betul kebiasaan anak majikannya.

__ADS_1


Semenjak ditinggal pergi sang Ibu lima tahun lalu, Bramasta kerap bangun siang. Laki-laki itu lebih suka tidur dan baru akan bangun jika jamnya sudah begitu mepet dengan jam masuk kelas.


Bik Yem sendiri tidak tahu apa alasannya, dan semua itu semakin menjadi setelah Indra Irawan, ayah dari Bramasta kabarnya dekat dengan seorang wanita. Wanita itu adalah rekan kerja ayah Bramasta dan sampai sekarang Indra belum memperkenalkan wanita itu kepada Bramasta.


“Iya, Bik ... lagian, jam pertama pelajaran olah raga, kok. Telat dikit gak masalah ... cuma Ibu Sandra ini ...,” kilah Bramasta. Laki-laki itu memang kadang suka telat pada jam pelajaran olah raga. Mungkin karena ia adalah salah satu anak kesayangan di kelasnya, Bramasta jadi seenaknya saja.


“Jangan gitu, Mas Bram ... hormati juga teman-teman dan guru-guru yang lain. Mas Bram ini kan anak yang pandai ... banyak prestasinya ... jangan dicoreng dengan hal-hal seperti itu. Telat datang, lupa ngerjain PR, dan lain-lainnya. Jadi anak yang bikin bangga Ibu dong, Mas.” Bik Yem mengingatkan.


Meskipun ada di dalam kamar mandi, Bik Yem yakin kalau Bramasta mendengar semuanya. Meskipun bukan anak sendiri, Bik Yem sayang dengan Bramasta. Apalagi ... ibu dari Bramasta sendiri yang menitipkan pemuda itu padanya. Bik Yem adalah seorang pembantu tua yang cucunya sudah duduk di bangku SD kelas 6. Anaknya yang perempuan telah meninggal dan menantunya pergi entah kemana. Untung saja Indra Irawan masih berbaik hati menampungnya dan Seruni sang cucu di rumah itu.


Di dalam kamar mandi, Bramasta terdiam saat mendengar wejangan dari Bik Yem. Apa yang wanita itu katakan seperti apa yang dikatakan ibunya dulu. Tanpa pemuda itu sadari, ia merindukan sosok sang ibu. Wanita yang selalu ada untuknya dan satu-satunya sosok yang bisa jadi tempatnya mengadu.


“Sialan ... gue jadi kangen Ibu ...,” lirih Bramasta yang sudah tidak berniat lagi pergi ke sekolah. Namun, Bik Yem pasti akan mengadu ke Ayahnya jika Bramsata bilang tidak pergi ke sekolah. Satu-satunya hal yang tidak ingin ia lakukan adalah memancing keributan dengan sang Ayah.


“Anakmu sudah siap, Bu. Sampai ketemua nanti, ya ....”


***


Setelah menyelesaikan sarapan dengan Ayahnya, Bramasta buru-buru cabut dari rumah. Seperti biasa, ia akan mengendarai mobil pemberian Ayahnya tahun lalu, seteah ia menjuarai Olimpiade Renang antar provinsi.


"Bramasta pergi, Yah!" Pemuda itu berseru pada angin, karena Ayahnya masih di dalam rumah. "Ya, Nak," sahutnya sendiri mencontoh sang Ayah.

__ADS_1


Akan tetapi, saat ini Bramasta tidak berniat untuk pergi ke sekolah. Jika ke sekolah harusnya mengambil jalan ke kanan saat simpang empat lampu merah tadi, Bramasta malah lurus saja dan mengambil jalan menuju ke pinggiran kota.


Lagi-lagi pemuda itu melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Sudah jam setengah delapan dan sekolahnya pasti sudah menutup pintu pagar. Akan tetapi, Bramasta seperti tidak peduli. Tujuannya juga bukan sekolah pagi ini.


Tidak sampai satu jam kemudian, mobil yang Bramasta kemudikan sampai di jalan yang tidak beraspal. Jalan tanah dan batu itu membuat Bramasta harus mengurangi laju kendaraan yang ia bawa. Untungnya Bramasta tidak pernah mau memodif mobilnya agar lebih rendah hanya untuk terlihat keren. Jika saja ia termakan ajakan teman nongkrongnya, saat ini mobil itu pasti menangis ketika melalui jalan berbatu.


Di depan sana, mulai terlihat banyak pedangang kembang yang menjajakan dagangannya. Bramasta memilih parkiran yang masih terlihat kosong dan langsung saja berhenti di sana.


Setelah turun dari mobil, Bramasta mendekati seorang penjual kembang yang terlihat sudah sangat tua.


“Kembang kuburannya berapa, Nek?” tanya Bramasta basa-basi. Padahal, ia sudah biasa ke sana dan tahu jika harganya hanya sepuluh ribu saja satu bungkus.


“Sepuluh ribu, Anak Ganteng. Mau beli berapa?” tanya nenek itu kemudian.


“Mau beli tiga, Nek. Sama yang rampai dua, ya.” Bramasta memberikan satu lembar uang lima puluh ribu kepada si nenek.


“Alhamdulillah. Sebentar Nenek bungkus dulu, Nak ...,” sahut Nenek itu dengan ucapan yang begitu lambat. Maklum, orang tua.


Karena Bramasta tidak punya tujuan lain—dan dia memang memutuskan untuk bolos sekolah hari ini—jadi Bramasta menunggui si nenek dengan sabar.


“Iya, Nek. Santai saja ....”

__ADS_1


Lalu, setelah kebang Bramasta dapatkan, ia pergi dari lapak si nenek. Sudah saatnya ia bertemu ibunda tercinta. Wanita yang telah melahirkannya dan telah berpulang menghadap Sang Pencipta meninggalkan ia salama-lamanya.


__ADS_2