
"Aku tahu kalau saat ini mulai harus menjaga jarak dengan Rangga dan Bramasta. Terlebih-lebih Rangga, karena pemuda itu merasa jika hubungan kami sudah lebih dari guru dan murid. Aih ... gimana, ya? Apa aku ajak bicara empat mata dulu?" tanya Melinda pada dirinya sendiri.
Saat ini Melinda sedang ada di ruang guru sendirian. Teman-teman guru yang lain ada di kelas masing-masing untuk mengajar dan sebagian lagi ada di kantin untuk sarapan, sebelum mereka masuk untuk mengisi jam pelajaran.
Melinda menyandarkan tubuhnya semakin ke belakang. Ia bingung, kapan waktu yang tepat untuk bicara dengan Rangga.
Apakah lebih baik di sekolahan atau di luar sekolah sekalian? Akan tetapi Melinda takut jika ia kembali mengajak Rangga untuk bicara di luar sekolah, akan ada laporan-laporan lain yang masuk ke kepala sekolah mereka yakni Pak Sani.
"Eh ... Memangnya, siapa yang mengadukan masalah Rangga yang suka mengantarku pulang, ya? Masa iya Bramasta?" gumam Melinda penasaran.
Akan tetapi, belum juga terjawab pertanyaan di benak Melinda, seseorang datang dan menyapanya dengan begitu ceria.
__ADS_1
"Selamat pagi Ibu Melinda ...," sapa Restu yang merupakan guru matematika untuk seluruh kelas 12 di SMA Pattimura.
Setelah menyapa Melinda, laki-laki itu meletakkan sebuah bungkusan di atas meja kerja Melinda. Meja kerja yang Melinda gunakan adalah meja yang dulunya di tempati wali kelas 12 E juga.
"Pagi, Pak Restu. Apa ini?" tanya Melinda penasaran.
Masalahnya, bungkusan yang diletakkan Restu barusan mengeluarkan wangi masakan, yang sanggup membuat perut kosong Melinda meronta-ronta minta diisi.
"Ini sambal goreng udang dan pare buatan istri saya, Bu. Sengaja saya bawa untuk Ibu Melinda. Saya tahu kalau Ibu Melinda sedang mengencangkan ikat pinggang karena baru pindah ke kota ini untuk bekerja," jelas Restu membuat Melinda sedikit malu. "Di dalamnya juga ada nasi, Bu. Bisa langsung dimakan."
Melinda menelan saliva. "Ya ampun Pak Restu ... sebenarnya Bapak nggak perlu repot-repot seperti ini. Saya masih punya uang untuk makan, kok. Lagi pula ... kalau nanti istri Bapak curiga sama kita bagaimana? Kan, saya yang tidak enak ...," bisik Melinda seraya mendorong bungkusan tadi menuju ke arah Restu kembali.
__ADS_1
Melinda harus menolaknya meskipun berat. Perutnya menagih Melinda untuk mencicipi masakan tersebut, tapi akal sehatnya menolak mentah-mentah.
"Loh, jangan ditolak dong, Bu. Masakan istri saya memang yang paling enak ... dan Ibu Melinda nggak perlu takut ketahuan istri saya. Soalnya, saya biasa kok, bagi-bagi makanan ke teman-teman yang lain," aku Restu, membuat Melinda harus berusaha lebih keras agar bisa menahan dirinya sendiri.
Padahal di bawah meja Melinda, tinju tangan kiri guru baru itu telah mengepal dengan erat. Ia siap menghadiahkan sebuah tamparan manis ke pipi laki-laki yang katanya telah beristri itu.
"Pak, Kalau saya jadi istri Pak Restu, saya nggak akan pernah mau membuatkan bekal makanan untuk salah satu teman kerja suami saya. Terlebih lagi jika teman yang dimaksud adalah seorang perempuan muda dan masih single. Apa mungkin, Bapak tidak mengakui sepenuhnya jika teman yang Bapak maksud itu seperti saya ini? Jangan-jangan ... Bapak mengakunya jika guru baru yang menjadi teman Bapak itu adalah seorang wanita tua yang hidupnya begitu miris. Benar begitu, Pak?" selidik Melinda dengan tatapan tajam tepat ke arah dia manik mata milik Restu.
Mendengar tuduhan tersebut, kini giliran Restu yang terlihat salah tingkah. Rupa-rupanya, apa yang Melinda katakan hampir mendekati kebenaran, hingga laki-laki itu merasa terganggu dan mulai takut.
Tidak Melinda duga, Restu mengambil kembali kotak makan siang yang ada di atas meja kerjanya dengan kasar. Tanpa berkata satu dua patah kata, laki-laki itu pergi meninggalkan Melinda dengan raut wajah yang penuh kekesalan.
__ADS_1
Mungkin ini adalah kali pertama Restu mendapat penolakan dari orang yang ia dekati. Sebenarnya, Melinda tidak ingin mencari musuh di hari kerjanya yang memang belum seberapa lama. Akan tetapi, Restu ini sepertinya tipe-tipe sosok penjilat yang selalu ingin berteman dengan siapa saja terlebih dahulu, lalu membuat masalah kemudian.
Melinda tidak ingin terlibat masalah lain, karena masalahnya yang sudah ada saja belum terselesaikan dengan baik dan benar. Ia masih harus bicara dengan Rangga, perihal teguran Pak Sani tadi. Dan sepertinya, pagi ini ia akan langsung mengajak Rangga bicara empat mata di tempat yang masih ia pikirkan ....