
Melinda menyandarkan tubuhnya di atas sofa empuk yang ada di ruang guru. Baru saja menjalani hari pertama mengajar, ia sudah merasa begitu kewalahan. Rupanya mengajar anak SMA sangat berbeda dibandingkan dengan ia dulu yang suka memberikan bimbingan belajar pada anak-anak SD dan SMP.
Jam pelajarannya masih tersisa 30 menit lagi. Akan tetapi, Melinda sudah tidak sanggup untuk kembali ke kelas dan melanjutkan pelajaran.
Sebenarnya mereka anak-anak yang pintar, tapi kelas yang terdiri dari 30 anak itu terasa begitu ramai, hingga Melinda harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk sekedar menjelaskan pelajaran di depan kelas.
"Ibuuuu ... tolong berikan anakmu ini kekuatan. Belum juga sehari suara Melinda sudah serak seperti ini ...," lirih Melinda yang sedang bersandar dan menengadahkan wajahnya ke atas, menatap kipas angin gantung.
Ibu dari Melinda sendiri sudah berpulang 10 tahun yang lalu. Orang tua perempuan dari Melinda merupakan seorang guru SD yang sangat disayangi murid-muridnya. Berlandaskan akan hal itu, Melinda berniat untuk menjadi seorang guru yang juga disayangi oleh murid-muridnya seperti sang ibu.
"Ibu Melinda? Apa yang ibu lakukan di sini? Jam pelajaran di kelas 12 E belum selesai, kan? Itu muridnya pada ke kantin, loh ...," kata seorang guru perempuan yang mungkin usianya sudah memasuki awal 40-an.
Mendengar hal itu, Melinda langsung bangkit dari tempat duduknya.
"Seriusan, Bu?" tanya Melinda tidak percaya. Bukankah anak-anak di kelas itu anak-anak yang pintar dan berprestasi? Mengapa bisa pergi ke kantin saat belum ada bell istirahat berbunyi?
"Lah, iya ... Siska, Ayunda, dan Mirna itu ... anak kelas 12 E, kan? Lagi mejeng di kantin tuh." Ibu Rahayu memastikan lagi. "Susul, gih!"
Mendengar perintah itu, Melinda hanya bisa mengangguk kemudian berlari kecil meninggalkan ruang kantor. Sesampainya di lorong sekolah, langkah Melinda terhenti. Ia bahkan tidak tahu di mana kantin sekolah itu berada. Untungnya ada seorang bapak-bapak yang sedang menyapu di dekat sana. Tanpa berlama-lama lagi, Melinda menghampiri bapak-bapak itu.
"Maaf, Pak! Kantin sekolah ini di mana, ya?" tanya Melinda buru-buru.
Laki-laki yang sedang asyik menyapu tadi, menjatuhkan sapunya karena terkejut dengan kehadiran Melinda yang mendadak.
"Astaga, Neng ... Bapak kaget atuh ...," sahutnya sambil mengelus dada beberapa kali. "Saya laporin gurunya loh ya, kalau ngisengin saya lagi!" seru orang itu, yang rupanya tidak tahu jika Melinda adalah seorang guru di sana.
"Eeemmm ... saya guru, Pak. Sebelumnya, saya minta maaf karena mengejutkan Bapak, tapi saya perlu tahu di mana kantin sekolah ini berada," ungkap Melinda yang kali ini mengatakannya dengan lebih halus.
__ADS_1
"Kantinnya ada di lantai tiga," sahut laki-laki itu ragu. Pandangannya terus mengamati Melinda dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Kamu jangan bercanda, ya ... ngapain anak murid pakai baju seperti ini pergi ke sekolah?" selidiknya lagi.
"Ya ... karena saya bukan murid, Pak. Saya guru di sini. Baru hari ini mengajar. Salam kenal ya, Pak. Nama saya Melinda!" Melinda menundukkan kepalnya sekali kemudian pergi meninggalkan si bapak yang hanya bisa garuk-garuk kepala.
Melinda mulai menaiki tangga. Setelah sampai di atas dengan kelelahan, ia melihat kantin sekolah yang begitu tertata rapi. Tampilan kantin itu tidak ubahnya seperti deretan rumah makan yang ada di mall. Melinda mengerjapkan matanya beberapa kali, untuk memastikan jika apa yang ada di hadapannya saat ini adalah nyata.
"Uwow ... ini kantin? Jauh beda sama kantin Mbok Ira di SMA-ku dulu ...," gumam Melinda masih terpesona.
"Hai, Dek! Mau makan apa hari ini? Kita ada menu baru, loh ... namanya Nasi Ayam Gila level Neraka!" tukas seorang laki-laki tampan yang sudah berdiri di samping Melinda.
Kehadiran laki-laki itu membuat Melinda tersentak kaget. Lamunannya buyar dan ia kembali jatuh pada kenyataan.
"Eh? E-enggak. Saya bukan adek-adek," kata Melinda yang gugup setengah mati saat melihat kehadiran sosok tersebut.
"Baiklah, Kak. Anda mau makan apa? Bakso beranak juga ada. Bahkan udah di upgrade dengan isian anak yang lebih variatif!" terang laki-laki itu lagi.
"Gatcha!" tukas Melinda saat melihat ketiga targetnya sedang makan di salah satu meja yang berada agak terlindung.
"Kak, jadi mau pesan apa?" tanya laki-laki tadi mulai memaksa.
"Ish, Si Abang! Saya gak mau makan—mau sih ... tapi nanti—saya ke sini untuk menjemput ketiga anak itu." Melinda menunjuk ke arah tiga sosok tadi. "Enak aja ... masih jam pelajaran saya, mereka malah main ke sini."
Sebelum laki-laki tadi sempat menghentikan Melinda, Melinda sudah melangkah laju ke arah tiga siswa yang ia cari.
"Lagi makan apa, nih?" tanya Melinda dengan suara riangnya seperti biasa.
"Bakso, lah. Masa gak lihat?"
__ADS_1
"Iya. Udah jelas gini ...," sahut yang lainnya lagi.
Brak!
Melinda menggebrak meja hingga membuat bakso bulat salah satu anak, melompat keluar dari mangkuk.
"Saya lihat! Tapi, apa kalian tahu, kalau jam pelajaran saya belum usai?" tanya Melinda dengan nada suara yang mulai menanjak.
Ketiga anak tadi mendongakkan kepala untuk melihat siapa yang sudah menggangu makan mereka.
Saat tatapan mereka saling bertemu, giliran Melinda lah yang harus menahan nafas. Ketiga siswi di hadapannya tidak berasal dari kelas 12 E. Tidak ada satupun dari mereka yang Melinda kenal.
"Eh?"
"Lu siapa, dah? Kita gak kenal."
"A- ini bukan jam istirahat. Kenapa kalian di sini?" tanya Melinda yang sudah kepalang tanggung. Sudah malu, malulah sekalian.
"Kita dari kelas 11 C, Kak. Jam olah raga renang, tapi kita gak ikutan. Masih datang bulan," sahut anak lainnya yang lebih kalem.
Melinda membungkam mulutnya. "Bukan kelas 12 E, ya?"
"Bukan."
Melinda balik badan dan meninggalkan anak-anak perempuan itu. Malunya sampai ke ujung rambut. Sudah capek naik ke lantai tiga, salah orang pula! Sungguh sial.
"Dasar guru jahil ... pasti sengaja usilin saya, yaaaa ...." Melinda mengepalkan tinju dan kembali turun ke lantai satu. Ia masih ada kelas dan malah menyibukan diri dengan hal yang tidak jelas. "Apes banget, sih ...."
__ADS_1