
SMA Pattimura
Hari ini adalah hari piket Melinda. Ia dan beberapa guru lainnya bertugas menjaga gerbang sekolah. Seperti biasa, jika ada guru atau murid yang datang terlambat, mereka akan mendata dan bahkan melarang masuk jika memang sudah begitu terlambat.
“Bu, sudah jam setengah delapan. Sebaiknya pintu gerbang kita tutup saja,” kata seorang guru laki-laki bernama Johan. Laki-laki itu terlihat cukup perhatian pada Melinda bahkan sejak pertama kali Melinda datang ke sekolah itu.
"Iya nih ... saya juga harus masuk kelas 12 B,” sahut Melinda kemudian.
Mendengar penuturan Melinda, Johan terlihat bingung. Yang ia tahu, hari ini kelas 12 B jam pelajaran olah raga, lalu kenapa Melinda yang mengisinya?
“Bukannya jamnya Ibu Sandra, ya? Olah raga. Kenapa Ibu Melinda yang masuk?” tanya Johan memastikan.
“Oh ... tadi pagi Ibu Sandra WA saya. Beliau bilang minta tukar jam karena beliau harus mengantar anaknya ke bandara dulu pagi ini. Jadi saya masuk pagi ini, Pak ...,” jelas Melinda yang sudah mengunci pintu gerbang. Ia kemudian menyerahkan anak kuncinya kepada satpam yang berjaga.
"Oooh ... tukaran jam. Ya sudah kalau begitu. Mari kembali ke ruang guru, Bu ...," ajak Johan kemudian.
Melinda mengangguk dan berjalan di samping Johan rekan kerjanya. Hal biasa yang tentu saja tidak perlu dibesar-besarkan. Para guru lain yang berjaga dan telah selesai bertugas pun masuk ke dalam kelas atau hanya kembali ke ruang guru.
Tidak terkecuali Melinda yang langsung saja masuk ke kelas 12 B setelah mengambil tas dan buku pelajarannya di ruang guru. Kebetulan, hari ini ia hanya masuk di dua kelas. Di kelas 12 B dan 12 E. Kelas 12 E sendiri baru akan ia masuki setelah jam istirahat pertama nanti.
“Selamat pagi anak-anak!” sapa Melinda setelah ia meletakkan buku pelajarannya di atas meja.
Melihat kehadiran Melinda, beberapa anak tampak kebingungan. Akan tetapi, mereka tetap menjawab salam Melinda seperti biasa.
“Selamat pagi, Bu ...,” sahut mereka kompak.
“Terima kasih.” Melinda tersenyum dan lalu duduk di bangku guru.
__ADS_1
Sebelum Melinda sempat menjelaskan, beberapa anak mengangkat tangannya karena ingin menanyakan sesuatu.
“Iya, ada apa?” tanya Melinda saat melihat anak-anak itu.
“Bu, bukankah pagi ini jam olah raga Ibu Sandra? Apa Ibu Sandra tidak masuk?” tanya seorang murid perempuan yang Melinda ingat bernama Susan.
“Iya, maaf sebelumnya. Tapi tadi pagi, Ibu Sandra meminta ibu untuk menukar jam pelajaran. Ibu Sandra ada urusan dan baru kembali hadir di sekolah jam sepuluh nanti. Jadi, Ibu yang masuk pagi ini,” jelas Melinda kepada seluruh anak kelas 12 B yang telah mengenakan baju olah raga berwarna biru.
“Oooo ...,” sahut anak-anak serempak.
Manik mata Melinda mengamati setiap anak yang ada di kelas itu. Kemudian, ia merasa ada yang kurang. Melinda tahu jika ada beberapa anak yang tidak ada di kelas tersebut, tapi ia tidak tahu siapa-siapa saja.
Akan tetapi, sebelum Melinda sempat bertanya, salah satu murid perempuan kembali mengangkat tangannya.
“Iya?”
Sejenak Melinda berpikir kemudian menggelengkan kepalanya. “Tidak perlu, ya. Tidak masalah jika kalian sudah mengenakan baju olah raga. Tidak perlu repot-repot!” sahut Melinda dengan senyuman manisnya seperti biasa.
“Terima kasih, Bu ...,” sahut anak-anak di kelas itu hampir serempak lagi.
Pelajaran akan segera Melinda mulai. Ia membuka buku absen kemudian memanggil nama anak-anak muridnya dari urutan abjad yang paling pertama. Sampai akhirnya ia sampai di nama Bramasta dan tidak ada jawaban dari sosok itu.
Melinda mengitarkan pandangannya ke ruang kelas itu dan memang tidak bisa menemukan sosok Bramasta di sana. Pemuda yang kemarin mengantarnya pulang dengan mobil.
“Bramasta tidak ada?” tanya Melinda memastikan. Mana tahu saja pemuda itu masih di kantin atau di toilet dan ada yang melihatnya.
“Tidak ada, Bu! Sejak pagi saya belum melihatnya,” sahut salah satu anak laki-laki dan disetujui juga oleh beberapa anak yang lain.
__ADS_1
“Baik. Apa ada yang dititipi pesan oleh Bramasta? WA atau DM?” tanya Melinda sebelum menetapkan jika anak itu alpa.
Anak-anak di ruangan itu terdiam dan hanya saling pandang. Mereka menggelengkan kepala dan angkat bahu.
Melinda memutuskan untuk memberikan alpa karena memang tidak ada yang tahu di mana Bramasta berada saat ini. Kemudian ia lanjut mengabsen anak berikutnya. Dan ternyata, ada tiga anak yang tidak masuk pada pagi hari itu.
Setelah absen, pelajaran pun dimulai. Melinda meminta anak-anak untuk membuka buku pelajaran bahasa Indonesia dan mendengar sedikit penjelasan darinya tentang wawancara. Kemudian ia meminta semua murid untuk melakukan model wawancara kerja secara berpasangan.
Sejenak, Melinda punya jam bebas. Ia memilih untuk membuka HP dan melihat kemungkinan Bramasta mengirimkan pesan untuknya. Akan tetapi, tidak ada apa-apa seperti yang Melinda harapkan.
“Ke mana anak itu? Tidak ada kabar ... apa ia sering seperti ini, ya?”
Dalam lamunan Melinda, seorang anak perempuan kemudian menghampiri meja guru dan menepuk punggung tangan Melinda dengan pelan.
“Bu?” panggilnya lagi. Rupanya anak itu sudah memanggil beberapa kali, tapi Melinda tidak memberikan respon.
“Eh? I-iya, San. Ada apa?" sahut Melinda yang akhirnya mendengarkan.
“Bu ... sepertinya saya tahu Bramasta ke mana. Ini postingan Bramasta sekitar lima menit yang lalu, Bu. Dia ada di kuburan ibunya ...,” bisik Susan yang rupanya tidak ingin didengar oleh teman-teman sekelas yang lain.
Melinda melihat tampilan istagram Susan. Memang benar di sana ada foto sebuah batu nisan dan tangan laki-laki dengan simbol love dengan jari. Di pojok kiri atas, Melinda bisa melihat nama akun ‘Brmsta’ yang kemungkinan besar memang milik anak muridnya.
“Terima kasih, San. Tapi, Bramasta tidak ada konfirmasi sama Ibu, artinya Bramasta memang alpa. Kecuali jika nanti dia meralatnya langsung sama Ibu. Sekarang, kamu kembali mengerjakan tugas dari saya, ya. Jangan main HP lagi.”
Hal itu membuat Susan garuk-garuk kepala. Karena apa yang ia adukan, malah berimbas pada dirinya yang ketahuan sedang main HP saat pelajaran masih berlangsung.
“He he he ... baik, Bu ....”
__ADS_1