Pesona Ibu Guru

Pesona Ibu Guru
Ajakan Pulang Bareng


__ADS_3

SMA Pattimura terdiri dari 15 kelas, yang masing-masing kelasnya terdiri dari 30 siswa. Sebagian besar di antara mereka berasal dari golongan menengah ke atas. Kalau pun ada siswa yang kurang mampu, mereka bisa masuk ke SMA Pattimura dengan bantuan beasiswa prestasi.


Sudah jam 02.53 siang, itu tandanya tidak sampai 10 menit lagi kelas akan bubar. Setelah pandemi usai, pemerintah menerapkan sistem pembelajaran seharian penuh, yang maksudnya pelajar akan memulai aktivitas pada jam 07.30 pagi sampai jam 03.00 sore. Ada tiga kali waktu istirahat, yakni pada jam 09.30 jam 11.30 dan jam 13.30 siang.


Melinda sendiri mengajar di lima kelas, yaitu kelas 12 A hingga 12 E. Dan saat ini, wanita itu sedang ada di kelas 12 B yang isinya lebih kalem daripada anak-anak di kelas 12 E.


"Baiklah anak-anak, sampai di sini saja kelas kita hari ini. Sebaiknya bereskan barang-barang kalian dan persiapkan diri untuk pulang. Cuacanya mendung dan ibu takut kalian akan kehujanan sebelum sampai di parkiran atau sampai di halte bus depan," kata Melinda disertai dengan sebuah senyuman manis.


"Baik, Bu ...." Anak-anak di kelas itu kompak menjawab. Namun ada satu anak laki-laki yang malah mengangkat tangannya alih-alih membereskan buku yang ada di atas meja.


Melinda punya ingatan yang cukup baik, apalagi jika anak itu adalah anak pintar yang selalu bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ia lontarkan di kelas.


"Bu?"


"Ya, Bram? Ada yang ingin kamu tanyakan?" tanya Melinda yang sudah selesai menyusun buku pelajaran di atas mejanya.


"Ibu pulang sama siapa? Mau saya antar pulang nggak?" tanya Bramasta Yudha yang merupakan salah satu anak terpintar di kelas itu. Tadinya, Melinda berpikir jika anak pintar seperti Bram akan memiliki sifat yang kalem dan lebih ke arah pemalu, tapi ternyata Bram sungguh jauh dari perkiraannya.

__ADS_1


"Huuuu ...." Sorakan dari teman sekelas Bram menggema di seluruh penjuru kelas. Sepertinya, mereka semua sudah sangat paham bagaimana kelakuan Bram.


"Tidak perlu, Bram. Kontrakan Ibu berada tidak jauh dari sini. Lagi pula, ibu memilih naik bus agar terhindar dari hujan," sahut Melinda berharap agar anak itu tidak kecewa.


Bram tersenyum dan tidak menyahut lagi. Melinda berpikir, jika Bram pasti paham dan berhenti mencoba untuk mengantarnya pulang.


Akan tetapi, apa yang Melinda pikirkan ternyata meleset jauh. Di luar kelas, Bram lagi-lagi mengajak Melinda untuk mau ikut pulang dengannya.


Karena risih dengan ajakan itu, Melinda menghentikan langkah kakinya dan melipat kedua tangan di depan dada.


"Wah, kebetulan banget kalau gitu, Bu! Setelah ini, saya ada jam latihan renang dengan anak-anak yang lain di klub renang. Setelah Ibu selesai nanti, saya juga akan selesai latihan. Sepertinya kita memang ditakdirkan untuk pulang bareng, Bu!" sahut Bram yang membuat Melinda kehabisan alasan.


Melinda menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya dengan perlahan. Anak-anak muda di usia seperti Bram ini memang memiliki tingkat penasaran yang begitu tinggi dan keinginan yang besar. Jika sedang menginginkan sesuatu, mereka akan memikirkan beribu alasan agar bisa mendapatkannya.


"Sebenarnya, nggak ada salahnya juga sih ... pulang sama dia. Uang ongkos bus bisa aku alihkan untuk makan malam," batin Melinda mencoba untuk menerima. "Ya sudah. Kalau gitu, terserahmu saja," kata Melinda pada akhirnya.


Bram terlihat begitu excited dengan jawaban Melinda barusan. Melihat hal itu, Melinda menarik kedua sudut bibirnya membentuk satu senyuman tipis, sebelum akhirnya ia berbalik untuk terus melangkah ke arah kantor.

__ADS_1


Namun belum jauh berjalan, ada seseorang yang menghentikan langkah Melinda lagi.


"Apa lagi, Br— eh, Rangga? Ada apa, Ga?" tanya Melinda, yang tadinya mengira jika Bram-lah sosok yang menghentikan langkah kakinya.


"Saya antar pulang, yuk!" ajak Rangga dengan dingin. Kedua tangannya masuk ke dalam saku celana abu-abu, yang terlihat dijahit eksklusif tidak seperti celana-celana anak SMA pada umumnya.


Melinda tersenyum memelas, "Maaf, Ga. Ibu ada urusan dulu di kantor. Lalu setelah itu ada urusan lainnya di perpus," sahut Melinda lemah. Ia mulai bingung dengan beberapa murid barunya di sekolah itu. Kenapa mereka seperti terpaksa menawarkan diri untuk mengantarnya pulang? "Apa jangan-jangan mereka melakukan taruhan, ya?" batin Melinda tanpa dasar.


"Sebenarnya, saya juga masih ada kelas renang setelah ini. Latihan untuk kejuaraan bulan depan. Kira-kira Ibu selesai jam berapa, ya? Cuacanya sudah mulai mendung loh, Bu. Sebaiknya saya antar pakai mobil. Gimana?" tanya Rangga lagi.


"Ibu selesai sekitar jam 04.00 atau jam 05.00 nanti. Meskipun begitu ... Ibu tetap nggak bisa ikut sama kamu. Soalnya ibu sudah ada tumpangan lain, Ga," terang Melinda mengingat janjinya tadi dengan Bram.


Sebagai seorang guru yang merupakan panutan murid-muridnya di sekolah, Melinda tidak mungkin mengingkari janji. Hal itu bisa saja menjadi bumerang baginya suatu saat nanti.


"Oh. Ya sudah kalau gitu." Rangga mengangkat kedua alisnya sekali, kemudian pergi meninggalkan Melinda sendirian.


"Sebaiknya aku cari tahu tentang mereka. Kalau sampai mereka benar-benar melakukan taruhan dan aku adalah objeknya, siap-siap aja untuk menyesal dan memohon maaf!" Melinda melanjutkan kembali langkah kakinya menuju kantor. Ia mau urusannya cepat selesai dan ingin lekas pulang.

__ADS_1


__ADS_2