Pesona Ibu Guru

Pesona Ibu Guru
Segelas Air Dingin


__ADS_3

Melinda meletakkan sebuah nampan dengan segelas air dingin di atas meja teras. Di sana ada Rangga, yang tadi mengantarnya pulang. Tadinya Melinda hanya basa-basi saja meminta pemuda itu untuk mampir. Rangga malah benar-benar mampir dan membuatnya harus menjamu seperti ini.


“Kenapa repot-repot, Bu? Di mobil saya juga ada minuman dingin...,” kata Rangga yang tidak tahu jika gurunya sampai menjamu seperti ini.


Mendengar ucapan itu, Melinda hanya tersenyum sambil memeluk nampannya kembali.


“Ini sudah kebiasaan ... kalau ada tamu, pasti disuguhi air ...,” sahut Melinda yang merasa sedikit menyesal karena harus merelakan porsi terakhir dari sirup yang ada di dalam lemari pendinginnya.


“Oh ... kalau begitu, terima kasih, Bu.” Rangga mengambil gelas yang baru saja diletakkan Melinda kemudian menyeruput isinya.


Sebelum Rangga selesai minum, Melinda duduk di kursi tamu teras yang masih kosong.


“Kenapa kamu yakin sekali kalau Erin yang meletakkan ke—maksudnya binatang-binatang itu di tasmu, Ga? Apa kamu punya alasan yang kuat? Bisa saja, kan ... ada anak lain yang melakukannya ...,” tanya Melinda, yang sebenarnya juga merasa jika Erin yang punya kesempatan untuk melakukannya.


Sebelum menjawab pertanyaan gurunya, Rangga bergidik geli. “Ya siapa lagi, Bu? Hanya Erin yang masuk ke kelas itu, kan? Memangnya kapan lagi ada orang yang masuk dan melakukannya?” tanya Rangga kemudian.


“Tapi kita gak punya bukti.” Melinda kembali mengingat apa yang dilakukan kepala keamanan. “Sebaiknya kita bicara pada kepala keamanan itu. Kalau tidak, ia akan terus merusak rekaman yang ada kamu-nya. Gimana kalau ternyata, Erin ini sudah tahu banyak hal?” tanya Melinda dengan pemikiran yang ia dapat melalui berbagai film yang sering ia tonton.

__ADS_1


“Hah? Maksud ibu apa? Tahu banyak hal gimana?”


“Ah, enggak. Ibu hanya berpikir jika mungkin Erin tahu jika dirinya tidak akan ketahuan. Semua murid kan tahu, kalau di semua kelas ada CCTV-nya. Masa ia berani menyelinap seperti itu?” tanya Melinda kemudian.


Rangga terdiam. Apa yang dikatakan gurunya menjadi semakin menyeramkan. Sejauh ini, ia memang tidak pernah bisa membuktikan kalau Erin berhubungan dengan kesialan yang sering ia alami.


“Bu ... saya mau cerita sesuatu. Mau dengar, gak?” tanya Rangga memastikan.


Sebenarnya Melinda ingin Rangga segera pulang. Tidak enak jika dilihat tetangga, apalagi Rangga masih menggunakan seragam SMA.


“Ga, lebih baik kamu pulang. Tidak enak kelamaan di sini. Mana di rumah lagi gak ada orang ...,” bisik Melinda. Ia benar-benar tidak enak.


“Sepertinya Ibu benar ... kalau saya kelamaan di sini, kita bisa jadi bahan gosip baru ...,” sahut Rangga yang langsung saja berdiri dan bersiap untuk pergi.


“Ga! Maaf, ya ...,” kata Melinda lagi. Tidak enak, tapi tidak ada pilihan lain.


“Gak masalah, Bu. Ini juga sudah sangat sore. Memang sudah waktunya saya pulang. Terima kasih untuk air minumnya ...,” kata Rangga kemudian memberikan sehuah senyuman kepada gurunya itu. Guru yang sebenarnya bukan sosok yang diharapkan Rangga untuk muncul di kelasnya.

__ADS_1


Sepeninggal Rangga, Melinda langsung menyimpun sisa minum muridnya tadi. Melinda membawa gelas kosong itu kembali ke dalam rumah dan mulai menyapu lantai kontrakan sebelum magrib menjelang.


Jika sedang tidak malas, Melinda akan pergi ke mushola terdekat untuk menunaikan ibadah. Namun jika malas melanda, ia hanya akan beribadah di kamarnya saja.


Sepertinya malam ini Melinda akan ibadah di rumah saja. Rintik hujan membuatnya semakin mager. Lagi pula, wanita disarankan untuk beribadah di rumah saja, kan?


***


Derasnya hujan yang turun malam itu, membuat Melinda semakin tidak tenang. Saat ini ia hanya berbaring saja di kamarnya sambil memandangi jendela kaca yang memperlihatkan hujang angin di luar sana.


Melinda mengingat-ingat kembali, sosok seperti apa Erin itu. Gadis yang telihat polos dan pemalu. Terutama saat bicara padanya dan anak-anak lain di kelas. Entah mengapa ia bisa ada di kelas itu. Kelas dengan mayoritasnya berisi anak-anak perempuan yang cerewet.


“Pertama, dia bilang lagi nonton anak-anak club renang latihan. Lalu diralat ... bilang kalau dia mau gabung di club renang. Apa dia lupa, kalau anak kelas tiga diminta untuk mengurangi jadwal latihan? Lalu tadi pagi, kedapatan masuk ke dalam kelas. Padahal peraturan sekolah sudah cukup jelas tentang hal itu. Ini anak pasti ada apa-apanya ...,” gumam Melinda semakin penasaran.


Karena memikirkan hal itu, Melinda akhirnya terlelap. Ia tidak bisa melawan rasa kantuknya, apalagi cuaca malam itu sangat dingin dan mendukungnya untuk tidur lebih capat.


Pasti ada sesuatu dengan Erin. Melinda bertekad untuk menemukannya. Baik atau buruk, pasti ada hubungannya dengan Rangga. Club renang dan kecoa di tas Rangga.

__ADS_1


Tidak salah lagi ....


__ADS_2