
"Pak!"
"Ya ampun! Ampun! Ampun! " Seorang laki-laki tua seumuran Ayah dari Melinda, terkejut dengan teguran Melinda yang begitu semangatnya. "Ada apa, Bu? Mengejutkan saya saja ...," omelnya kemudian.
"Oh ... kaget ya, Pak? Maaf kalau begitu. Saya ke sini mau minta diperlihatkan hasil rekaman CCTV saat jam istirahat tadi di kelas saya. Boleh, kah?" tanya Melinda memastikan.
"Oh, ya boleh dong. Memangnya ada yang kehilangan barang, Bu? Bukannya gak boleh ada siswa di kelas saat jam istirahat?" tanya Pak Agus memastikan. Laki-laki itu mulai mengutak-atik keyboard dan menggerakkan mouse laptop-nya.
"Enggak sih, Pak. Hanya saja ada yang menemukan sesuatu di kelas. Makanya saya mau tau siapa yang meletakkannya." Tatapan Melinda terus melihat ke arah layar laptop. Ia tidak ingin melewatkan apa-apa.
Tidak menunggu lama, tampilan di layar laptop sudah sampai ke beberapa jam sebelumnya. Di mana ada Rangga yang masuk ke dalam kelas dan mendekati meja guru, tempatnya mencari anting. Hal itu membuat jantung Melinda berdegub kencang. Ia takut Pak Agus menuduhnya yang tidak-tidak.
"Eh eh eh ... itu Mas Rangga, ya? Haduh ... bikin kerjaan saja ...," cicit Pak Agus yang langsung saja mengutak-atik keyboard-nya lagi untuk melakukan sesuatu.
Melinda yang tidak tahu menahu tentang hal itu, hanya diam saja sambil menunggu Pak Agus selesai.
"Oke, sudah! Sekarang Ibu masih mau lanjut?" tanyanya kemudian.
Melinda mengangguk dan kembali memperhatikan layar laptop. Namun, tampilan di layar sudah terlewat jauh. Hal itu membuatnya bingung.
"Loh, Pak. Kok sudah sampai sini aja ... yang sebelumnya, Pak!" seru Melinda agar didengar si kepala keamanan.
"Itu ... sudah saya rusak, Bu. Karena ada Mas Rangga-nya, jadi saya gak berani ambil resiko ...."
Mendengar hal itu, Melinda hanya bisa terbelalak sempurna. Ia tidak mengira jika si kepala keamanan bisa melakukan hal bodoh seperti itu.
"Bapak apa?!" seru Melinda geram.
__ADS_1
"Eh? Apa Ibu tidak tahu? Gak ada rekaman yang boleh merekam Mas Rangga dalam sebuah kesalahan. Namanya selalu bersih dan saya gak mau mengorbankan pekerjaan untuk melanggar hal itu," aku Pak Agus sedikit malu.
Mendengar pengakuan tersebut, Melinda tidak bisa berkata-kata. Ternyata sebesar itu pengaruh Rangga dan keluarganya yang merupakan pemilik yayasan tempat sekolah itu bernaung.
Melinda tahu jika kesempatannya untuk mengetahui apa yang Erin lakukan telah sirna. Rekaman itu baru terlihat jelas saat murid-murid kelas 12 E sudah masuk kembali ke dalam ruangan untuk melanjutkan pembelajaran. Saat diputar dari awal pun, mereka hanya melihat Melinda yang masuk untuk mencari sesuatu di kolong meja guru.
"Ya sudah, Pak. Kalau gitu terima kasih atas waktunya," kata Melinda kemudian pamit pergi dari sana.
Melinda sendiri tidak bisa menyalahkan Pak Agus, karena laki-laki itu hanya mengamankan pekerjaannya saja. Lagi pula, Rangga memang tidak melakukan apa-apa di sana. Sayangnya ia terlambat menyadari, apa yang Pak Agus lakukan sehingga rekaman itu keburu rusak.
Melinda yang gagal mengetahui hal penting apa yang dilakukan Erin, memutuskan untuk segala pulang. Belakangan ini cuaca lebih sering mendung dan hujan, membuatnya takut jika mengulur waktu untuk pulang.
Saat Melinda baru saja keluar dari halaman sekolah, melewati gerbang SMA Pattimura yang memang baru dicat, seseorang menyapa Melinda membuat langkah wanita itu terhenti.
"Rangga?" Melinda terlihat bingung sambil pandangannya ia lempar ke arah sekolah, lalu kembali ke arah Rangga yang sedang bersandar di kap mobilnya. "Bukankah seharusnya kamu ada eskul renang? Kamu bolos, hhm?" Melinda melipat kedua tangannya di depan dada. Iya menuntut jawaban pemuda itu.
Jadi saat jam pelajaran Melinda baru saja dimulai Rangga menemukan sebuah kotak bekal sekali pakai di dalam tasnya.
Tadinya ia berpikir benda itu adalah bekal yang ia bawa dari rumah, tapi ia baru ingat jika bekal yang ia bawa sudah diletakkan di atas meja Melinda yang ada di kantor. Ya, Rangga sengaja membawa bekal dari rumah untuk diberikan kepada Melinda. Entah kenapa, ia ingin saja melakukan hal tersebut. Mungkin karena ia melihat Melinda yang tidak jadi pergi ke kantin kemarin siang.
Tanpa curiga sama sekali Rangga membuka kotak bekal itu karena penasaran dengan beratnya yang begitu ringan.
Hal berikutnya yang terjadi adalah, Rangga mendapati lima ekor kecoa ada di dalam tempat makan itu, hingga membuatnya syok bukan main. Rangga sangat mencintai kebersihan dan salah satu hewan yang paling membuatnya jijik adalah kecoa.
Rangga tidak menjerit. Pemuda itu hanya terdiam dengan bulu kuduk yang berdiri dengan sempurna. Apalagi saat salah satu hewan kecil itu terbang dan membuat ricuh seisi kelas.
"Setidaknya saya tahu kalau kamu takut sama kecoa. Bukan hal yang mengejutkan juga, sih ...."
__ADS_1
"Ssshht! Stop mengatakan nama hewan itu, Bu. Saya masih bisa membayangkan mereka ada di depan saya dan bergerak-gerak!" seru Rangga sembari mengelus tengkuknya sendiri.
Melinda tersenyum puas dengan apa yang ia lihat. Ia berjalan mendekati Rangga, kemudian melihat ke sekeliling seperti memastikan jika keadaan di sana aman.
"Keco—" Melinda mendekat dan berniat membisikkan hal itu di samping telinga Rangga. Namun Sayangnya belum selesai Melinda berkata Rangga terlebih dahulu membungkam mulut gurunya itu hingga Melinda terdiam.
"Ibu mau dipecat, hah?" ancam Rangga dengan suara bergetar.
Melinda tahu jika muridnya itu masih ketakutan dan Ia juga sudah kelewatan. Melinda menggelengkan kepala kemudian mengacungkan kedua ibu jarinya di udara. Memberi kode kepada Rangga agar melepaskan dekapan tangan kekar itu pada mulutnya.
"Sorry, Bu. Anda membuat saya kesal. Bukankah ibu bilang, ibu akan Mencari tahu siapa yang meletakkan kecoa itu di tas saya? Pasti Erin, kan?" tanya Rangga menuntut jawaban.
Setelah bebas dari dekapan Rangga, Melinda menjauh. Ia memperbaiki kemeja yang ia kenakan.
"Sayangnya Pak Agus malah menghilangkan bukti rekaman tadi pagi."
"Loh, kok gitu?" Rangga tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Saat saya meminta Pak Agus untuk memutar rekaman tadi pagi, Pak Agus melihatmu masuk ke dalam ruang kelas dan ia mulai mengotak-atik keyboard di depan kami. Saya gak tau kalau Pak Agus akan meleyapkan rekaman itu. Saya baru sadar tepat saat rekaman kembali diputar dan gambarnya sudah sampai pada saat kalian semua masuk ke dalam kelas."
Rangga terdiam.
"Katanya, sudah jadi rahasia umum jika seorang Rangga tidak boleh terlihat melakukan sebuah kesalahan di dalam CCTV. Dan masuk kelas pada jam istirahat seperti tadi, merupakan suatu pelanggaran yang akan mengakibatkan sanksi. Maka dari itu ia menghapus rekaman yang saya butuhkan meskipun rekaman itu penting."
"Astaga ... kenapa kalau gak bilang jika saya yang meminta pertolongan?"
"Ya mana saya tahu ...."
__ADS_1