Pesona Ibu Guru

Pesona Ibu Guru
Bekal


__ADS_3

Mansion Keluarga Rangga


Pagi-pagi sekali Rangga sudah bangun dari tidurnya. Seperti biasa, ia akan langsung mandi dan mempersiapkan dirinya sendiri. Biasanya Rangga akan mandi, menyikat gigi, mengenakan deodorant, memilih jaket yang akan digunakan hari ini, menata rambut, menyemprotkan minyak wangi, dan siap.


Akan tetapi, tidak seperti hari-hari biasanya, hari ini Rangga ingin membawa sesuatu ke sekolahnya. Seharusnya dengan Rangga yang lebih cepat bangun dari tidur, hal itu sempat disiapkan.


Dengan langkah cepat, Rangga turun dari lantai dua tempat kamarnya berada. Bangunan tiga lantai itu memiliki luas tanah hampir seperti setengah lapangan sepak bola, dengan luas rumah yang hanya setengahnya saja dari luas halaman. Membuat Rangga sendiri belum tentu mau menginjakkan kakinya di setiap sudut ruang yang ada di sana. Rangga pergi ke ruang makan karena Ayah dan Ibunya pasti sudah menunggu juga di sana.


“Selamat pagi, Nak. Tumben lebih pagi …,” sapa Miranda Sari, ibu dari Rangga. Wanita itu sendiri sudah terlihat cantik dan siap untuk pergi. Pun dengan Ayah Rangga yang terlihat tidak kalah stylish. Jadi, gaya berpakaian Rangga yang selalu keren setiap hari memang tidak lepas dari pengaruh kedua orang tuanya.


“Iya, Bu.” Rangga tersenyum kepada Ibunya. Lalu, pandangannya beralih kepada si bibik di belakang Ibunya. “Rangga ingin minta Bik Suci untuk menyiapkan bekal makanan untuk Rangga bawa. Bisa, Bik?” tanya Rangga kepada Bik Suci yang memang ada di sana sejak tadi.


“Bekal, Nak? Tidak salah?” tanya Miranda bingung. Ini adalah hal langka. Rangga tidak pernah minta bekal sebelumnya. Biasanya Rangga akan makan di kantin sekolah, karena standar yang ada di kantin sekolah sudah cukup baik baginya.


“Apakah tidak boleh, Bu?” Rangga sudah duduk di salah satu kursi makan yang kosong.

__ADS_1


“Maksud ibumu bukannya begitu, Ga. Kamu hanya membuat ibumu kaget saja. Terakhir kali kamu meminta hal itu saat duduk di kelas satu SMP. Kamu ingat tidak?” tanya Riduan Okto.


Laki-laki yang masih saja berjiawa muda itu mirip sekali dengan seorang aktor senior bernama Ari Wibowo. Ketampanannya tidak lekang oleh waktu. Membuatnya mewariskan ketampanan yang sama kepada anak sang tunggal, Rangga Febrian Putra.


“Iya sih, Yah. kalian pasti bingung karena mendadak begini. Rangga hanya sedang ingin saja …,” sahut Rangga yang enggan meneruskan obrolan tersebut.


Sebenarnya, ada sesuatu yang ingin Rangga katakan kepada sang ayah. Hanya saja, tidak di depan ibunya. Kalau ibunya sampai tahu, Miranda pasti akan marah. Rangga ingin menanyakan tetang sosok guru baru yang masuk di sekolahnya. Kenapa tidak sesuai permintaannya yakni yang seksi? Bukankah sang ayah sudah berjanji, sebagai hadiah kemenangannya di olimpiade kemarin akan menuruti keinginan tersebut?


“Ya sudah. Tolong kamu buatin ya, Bi …,” kata Miranda kepada Bik Suci yang masih menunggu perintah.


Rangga mengambil piring kosong dan mulai mengaut nasi goreng kesukaannya. Seperti biasa, ia akan makan secukupnya dan meminum segelas susu sebagai pelengkap.


“Ga, bagaimana dengan guru barumu di sekolah? Apa dia bisa membaur dengan kalian dengan baik?” tanya Miranda penuh senyuman.


Mendengar hal itu, Rangga jadi tahu kalau ibunya lah yang memutuskan siapa yang akan masuk menggantikan wali kelasnya yang lama. Sebagai ketua komite sekolah, ayah Rangga memang lebih patuh kepada sang istri yang merupakan seorang direktur utama sebuah perusahaan konveksi.

__ADS_1


“Ah … jadi Ibu yang memilihnya? Lumayan, Bu … tapi ia terlalu muda. Anak-anak perempuan di kelasku jadi kurang suka padanya,” terang Rangga berdasarkan kenyataan.


“Begitukah? Bukankah ia tidak cantik dan tidak seksi? Kenapa mereka harus merasa tidak suka?” tanya Miranda yang sudah bertopang dagu di atas meja. Seperti menunggu jawaban dari kedua orang laki-laki yang saat ini duduk satu meja dengannya.


Baik Rangga dan Riduan tahu, jika Miranda sedang menyindir mereka berdua. Karena itu, keduanya memilih untuk diam dan bicara seperlunya saja.


“Tentu saja mereka akan merasa tersaingi dengan setiap perempuan baru yang bergabung dengan kami. Mereka menginginkan guru laki-laki, Bu ...,” sahut Rangga jujur.


“Oh … biarkan saja. Ibu cukup yakin kalau si Melinda itu akan cabut sendiri jika nanti tidak sanggup menghadapi anak-anak perempuan di kelasmu.” Miranda tidak begitu peduli.


Rangga hanya mengangguk sambil menyuapkan nasi ke dalam mulutnya lagi.


Setelah hampir setengah jam sarapan bersama, Rangga bersiap untuk pergi ke sekolah. Seingat Rangga, ayahnya akan pergi ke luar kota lagi hari ini. Rangga sungguh tidak masalah akan hal itu, tapi entah mengapa ia merasa jika sang Ayah jadi sering pergi ke luar kota beberapa bulan belakangan ini.


Dari kaca spion mobilnya, Rangga melihat sang Ayah mengecup pipi ibunya sebelum masuk ke dalam mobil. Rangga tersenyum. Baginya, kabahagiaan kedua orang itu, adalah hal yang paling penting. Sebagai seorang

__ADS_1


anak, Rangga hanya mengharapkan hal itu bertahan selamanya ….


__ADS_2