
Saat ini Melinda sudah berada di dalam kamar tidurnya sendiri. Teman satu kontrakannya—Putri—belum pulang padahal sudah jam setengah sebelas malam.
Ya, Melinda tidak tinggal sendirian di rumah kontrakan itu. Putri adalah temannya saat SMP dulu. Akan tetapi, wanita itu sudah lebih dulu pergi merantau dan wanita itu juga yang lebih dulu tinggal di kontrakan ini.
Melinda bertemu dengannya saat sedang keliling mencari SMA Patimura, di hari pertamanya tiba di kota itu. Putri begitu berjasa, karena kebetulan tahu lokasi SMA yang dicari Melinda dan langsung mengantarkannya ke sana. Putri juga menawarkan tempat tinggalnya yang kebetulan ada di dekat SMA tersebut.
Melinda berbaring di atas tempat tidur yang empuk.
Tatapannya berpusat pada langit-langit kamar yang berwarna putih bersih. Ia membayangkan lagi, bagaimana tadi sore ia pulang bersama dengan Bram. Dan bagaimana anak itu menunjukkan rasa sukanya kepada Melinda.
“Jangan bilang anak itu beneran punya feeling sama aku. Gak boleh! Guru dan murid gak mungkin bisa punya hubungan sejauh itu. Gimana kalau satu sekolah tau? Reputasiku dipertaruhkan!” batin Melinda khawatir.
Melinda tidak hanya khawatir dengan reputasinya.
Sejujurnya, Melinda punya pekerjaan sampingan sebagai penulis novel online. Dan hal-hal seperti ini, hanya ada di dalam novel-novel yang pernah ia baca. Ending-nya tidak pernah baik!
“Mengerikan … dia itu masih sangat muda … gimana bisa punya pikiran untuk menjadikanku istri?” cicit Melinda.
Ketakutan Melinda bukannya tanpa alasan. Tadi sore, Bram mengatakan jika Melinda adalah tipe yang selama ini ia cari. Dewasa tapi terlihat imut. Cantik dan mandiri. Melinda membiarkan anak itu memandangnya seperti itu, tapi langsung terkejut saat Bram bilang jika ia mau menikahi Melinda suatu saat nanti.
Anak gila. Hanya itu saja yang ada di pikiran Melinda tadi sore. Untungnya, Bram bukan tipe yang akan memaksakan kehendaknya. Anak itu memohon kepada Melinda agar tidak menjauhinya. Ia bilang, jika Melinda tidak menerimanya sebagai kekasih, setidaknya mereka bisa berteman.
Melinda juga tidak mungkin memusuhi Bram dan terus terusan menjauhi anak itu di sekolah. Jadi, sepertinya berteman adalah jalan tengah yang cukup baik untuk saat ini.
Dddrrrttt …
Sebuah getaran pada HP Melinda membuat wanita itu berpaling.
Melinda mengambil HP-nya dan melihat siapa yang mengirimkan pesan. Putri adalah orang pertama yang ia pikirkan.
“Belum tidur?” pesan itu berasal dari nomor yang tidak dikenal.
Melinda mengerutkan kening. Ia menebak jika mungkin pesan itu berasal dari Bram, tapi tidak ingin kegeeran. Mana tahu saja hanya pesan yang salah masuk.
“Ini saya, Rangga.”
__ADS_1
Pesan kedua itu membuat Melinda speechless. Apa ia tidak salah lihat? Pesan itu dari Rangga, bukannya Bramasta apalagi Putri.
Melinda bangkit dari tidurnya dan kembali memperhatikan layar HP dengan seksama.
“Rangga? Kok, tumben? Apa maksudnya ini?” batin Melinda mulai kebingungan.
Seingatnya, di kelas anak itu hanya diam dan melakukan apa yang diperintahkan Melinda secepat mungkin. Seperti anak itu enggan terjebak dengannya terlalu lama. Lalu, saat menawarkan diri untuk mengantar pulang tadi siang, Rangga juga biasa saja waktu Melinda menolaknya.
Semua itu hanya berarti satu hal, Rangga melakukan semua itu hanya untuk basa-basi saja. Sekedar formalitas di sekolah. Tapi sekarang kenapa malah mengirimkan pesan seperti ini?
Melinda pun membalas pesan itu.
“Apa barusan kamu salah kirim pesan, Ga? Kamu ingin mengirimkan pesan itu ke siapa?” tanya Melinda dengan perut yang mulai terasa lapar.
Melinda melepaskan HP-nya dan langsung memegangi perut yang mulai keroncongan. Tadi Melinda memilih untuk tidak makan malam. Pasalnya, ia masih merasa begitu kenyang setelah makan siang tadi.
Akan tetapi, sekarang rasa lapar itu baru mulai menggerayangi perutnya yang kosong.
“Ya ampun … laparnya …,” keluh Melinda saat ini.
“Bagus … kemana pudingku yang masih ada dua mangkuk?” tanya Melinda kecewa.
Sembari menahan lapar, ia memegangi perutnya dan terus melangkah pergi ke arah luar rumah. Biasanya pada jam segini masih ada satu atau dua gerobak nasi goreng yang lewat.
"Biasanya jam dua belas malam juga masih lewat ... mana, ya?" tanya Melinda dengan pandangan yang melihat ke kanan dan ke kiri bergantian.
Tidak lama berselang, sebuah suara piring dipukul-pukul terdengar. Hal itu hanya menandakan satu hal, akan ada tukang nasi goreng yang sebentar lagi melewati jalan di depan kontrakan Melinda ini.
"Aaah ... itu dia. Aku selamat ...," gumam Melinda yang sudah tidak sabar lagi.
Dddrrrt ...
Sebuah getaran lagi pada ponsel Melinda, mengalihkan fokus wanita itu. Melinda membuka pesan yang baru saja masuk. Pesan itu berasal dari nomor yang sama dengan pesan yang terakhir ia terima.
"Saya mengirimkannya benar untuk Ibu Melinda. Apa saya tidak boleh untuk sekedar bertanya?" Rangga terdengar begitu formal. Malah membuat Melinda takut salah ketik.
__ADS_1
Melinda mendudukkan dirinya di kursi panjang yang ada di depan kontrakannya. Ia mulai membalas pesan itu, tapi sempat berpikir sejenak. Kira-kira apa yang harus ia katakan?
"Oh, aku tau."
"Untuk jawaban WA-mu tadi: Saya belum tidur, Ga. Sekarang lagi kelaparan dan sedang menunggu abang nasi goreng lewat. Setelah makan, saya akan pergi tidur. Kamu sendiri, kenapa belum tidur? Apa tidak lelah setelah seharian belajar dan lanjut eskul renang?" Melinda memastikan tidak ada typo di dalam pesan WA yang akan ia kirimkan.
Setelah yakin, pesan itu langsung terkirim.
Bertepatan dengan itu, abang nasi goreng yang ditunggu-tunggu Melinda akhirnya tiba di depan kontrakan. Laki-laki itu menghentikan gerobaknya karena melihat Melinda melambaikan tangan.
"Nasi gorengnya masih ada, Bang?"
"Masih, Neng! Mau berapa piring?"
"Satu aja, Bang. Jangan pedes, ya ...," sahut Melinda tidak sabar.
"Siaaap ...." Abang nasi goreng tadi langsung memulai aksinya. Ia memanaskan wajan dan mulai memasukkan berbagai jenis bumbu ke dalam wajan. Wangi bumbu yang ditumis sukses membuat Melinda semakin kelaparan. Setelah bumbunya siap, abang nasi goreng tadi memasukkan nasi putih sesuai dengan takaran. Dan tidak lama setelah itu nasi goreng pesanan Melinda sudah jadi.
Terakhir, abang nasi goreng tadi menaburkan bawang goreng, kerupuk, dan tidak lupa meletakkan satu buah telur goreng mata sapi di atas nasi Melinda.
"Ini pesanannya, Neng!" Si abang nasi goreng menyodorkan satu piring nasi goreng yang telah siap.
Melinda menerimanya kemudian memberikan satu lembar uang Rp20.000 kepada laki-laki itu. Sebelum si abang pergi, ia memberikan uang kembalian dan bonus satu bungkus kerupuk untuk Melinda.
"Terima kasih ya, Bang!"
Si abang tersenyum dan menggangguk kepada Melinda. Tanpa berlama-lama di sana, abang nasi goreng itu mendorong kembali gerobaknya untuk mencari pelanggan lain.
Melinda membawa piring nasi gorengnya masuk ke dalam rumah dan berniat untuk langsung melahapnya sampai habis. Tapi sebelum itu, Melinda membuka satu WA yang sudah masuk sejak tadi.
"Baiklah, Bu. Selamat malam."
Membaca pesan jawaban dari Rangga, membuat Melinda mengerutkan kening. Tanpa membalas pesan tersebut, Melinda meletakkan HP-nya dan fokus kepada nasi goreng yang sudah menunggu.
"Bodo amat. Aku lapar ...."
__ADS_1