
Jumat (7.01), 27 Maret 2020
-------------------------------
Lelaki itu melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat lima menit pagi, lalu beralih pada tempat tidur yang terlihat temaram karena tirai jendela belum dibuka.
Dia mendesah sambil menyandarkan bahunya di ambang pintu kamar. Kedua lengannya dilipat di depan dada. Pandangannya fokus menatap pria dan wanita setengah telanjang yang sedang terlelap sambil berpelukan di atas ranjang. Untung saja si wanita tidur agak menelungkup di sisi tubuh si pria dan posisinya memunggungi lelaki di ambang pintu. Kalau tidak, tubuh bagian atasnya akan terlihat jelas oleh si lelaki karena selimut tebal yang digunakan hanya menutupi pinggang ke bawah.
Kesal menunggu, lelaki itu mengetuk pintu dengan kasar menggunakan kepalan tangannya. Pria di atas ranjang menggeliat karena suara berisik yang mengganggu. Matanya yang perlahan terbuka menoleh ke sumber suara. Seketika dia melotot ke arah lelaki di ambang pintu sambil menarik selimut menutupi punggung telanjang wanitanya.
“Sialan kau, Gabe! Apa yang kau lakukan di situ?”
Gabriel menatap sinis kakaknya. “Kau berlebihan, kak. Aku tidak tertarik dengan wanitamu. Istriku jauh lebih cantik dan menarik.” Gabriel berbalik lalu pergi meninggalkan Freddy sebelum lelaki itu sempat membalas.
Freddy menatap kesal kepergian Gabriel lalu beralih pada wanita yang masih meringkuk di sisi tubuhnya. Amat lembut lelaki itu membelai pipi Ratna dengan buku jari lalu mengecup keningnya. Setelah itu Freddy turun dari ranjang, meraih T-Shirt polos putih dari laci lalu berjalan keluar sambil memakai T-Shirtnya.
Dari bawah pohon besar di seberang jalan rumah itu. Dia bisa dengan jelas melihat kegiatan di halaman rumah. Beruntung aksi yang ingin dilakukannya hanya berkisar di halaman. Tentu saja, dia masih harus melewati pagar tinggi yang mengelilingi rumah. Namun itu bukan masalah. Dia hanya perlu memperkirakan waktunya.
Jam enam tepat, mobil yang biasa digunakan Tuan Besar pemilik rumah telah dikeluarkan dari garasi. Lelaki itu sudah hafal bahwa Tuan Besar selalu mengendarai mobilnya sendiri tanpa bantuan sopir. Tinggal menunggu pelayan lelaki yang bertugas memarkir mobil di halaman dari garasi masuk kembali ke rumah, lalu lelaki itu bisa melakukan aksinya.
Waktu yang ditunggu telah tiba. Lelaki di bawah pohon itu memberi kode pada salah satu anak buahnya, sementara dirinya sendiri mulai berjalan santai layaknya pejalan kaki.
Tidak ada yang aneh dengan penampilan lelaki itu. Celana jins, sepatu kets dan jaket bertudung. Penampilannya malah terlihat seperti remaja yang memang biasa lalu lalang di jalanan depan rumah megah itu. Tapi siapa yang bisa menduga, di balik jaketnya dia membawa tang dan sebuah revolver yang terselip di pinggang, sekedar berjaga-jaga jika aksinya diketahui.
Dari bawah pohon besar di seberang jalan rumah itu. Dia bisa dengan jelas melihat kegiatan di halaman rumah. Beruntung aksi yang ingin dilakukannya hanya berkisar di halaman. Tentu saja, dia masih harus melewati pagar tinggi yang mengelilingi rumah. Namun itu bukan masalah. Dia hanya perlu memperkirakan waktunya.
Jam enam tepat, mobil yang biasa digunakan Tuan Besar pemilik rumah telah dikeluarkan dari garasi. Lelaki itu sudah hafal bahwa Tuan Besar selalu mengendarai mobilnya sendiri tanpa bantuan sopir. Tinggal menunggu pelayan lelaki yang bertugas memarkir mobil di halaman dari garasi masuk kembali ke rumah, lalu lelaki itu bisa melakukan aksinya.
__ADS_1
Waktu yang ditunggu telah tiba. Lelaki di bawah pohon itu memberi kode pada salah satu anak buahnya, sementara dirinya sendiri mulai berjalan santai layaknya pejalan kaki.
Tidak ada yang aneh dengan penampilan lelaki itu. Celana jins, sepatu kets dan jaket bertudung. Penampilannya malah terlihat seperti remaja yang memang biasa lalu lalang di jalanan depan rumah megah itu. Tapi siapa yang bisa menduga, di balik jaketnya dia membawa tang dan sebuah revolver yang terselip di pinggang, sekedar berjaga-jaga jika aksinya diketahui.
Dari bawah pohon besar di seberang jalan rumah itu. Dia bisa dengan jelas melihat kegiatan di halaman rumah. Beruntung aksi yang ingin dilakukannya hanya berkisar di halaman. Tentu saja, dia masih harus melewati pagar tinggi yang mengelilingi rumah. Namun itu bukan masalah. Dia hanya perlu memperkirakan waktunya.
Jam enam tepat, mobil yang biasa digunakan Tuan Besar pemilik rumah telah dikeluarkan dari garasi. Lelaki itu sudah hafal bahwa Tuan Besar selalu mengendarai mobilnya sendiri tanpa bantuan sopir. Tinggal menunggu pelayan lelaki yang bertugas memarkir mobil di halaman dari garasi masuk kembali ke rumah, lalu lelaki itu bisa melakukan aksinya.
Waktu yang ditunggu telah tiba. Lelaki di bawah pohon itu memberi kode pada salah satu anak buahnya, sementara dirinya sendiri mulai berjalan santai layaknya pejalan kaki.
Tidak ada yang aneh dengan penampilan lelaki itu. Celana jins, sepatu kets dan jaket bertudung. Penampilannya malah terlihat seperti remaja yang memang biasa lalu lalang di jalanan depan rumah megah itu. Tapi siapa yang bisa menduga, di balik jaketnya dia membawa tang dan sebuah revolver yang terselip di pinggang, sekedar berjaga-jaga jika aksinya diketahui.
Dari bawah pohon besar di seberang jalan rumah itu. Dia bisa dengan jelas melihat kegiatan di halaman rumah. Beruntung aksi yang ingin dilakukannya hanya berkisar di halaman. Tentu saja, dia masih harus melewati pagar tinggi yang mengelilingi rumah. Namun itu bukan masalah. Dia hanya perlu memperkirakan waktunya.
Jam enam tepat, mobil yang biasa digunakan Tuan Besar pemilik rumah telah dikeluarkan dari garasi. Lelaki itu sudah hafal bahwa Tuan Besar selalu mengendarai mobilnya sendiri tanpa bantuan sopir. Tinggal menunggu pelayan lelaki yang bertugas memarkir mobil di halaman dari garasi masuk kembali ke rumah, lalu lelaki itu bisa melakukan aksinya.
Waktu yang ditunggu telah tiba. Lelaki di bawah pohon itu memberi kode pada salah satu anak buahnya, sementara dirinya sendiri mulai berjalan santai layaknya pejalan kaki.
__ADS_1
Tidak ada yang aneh dengan penampilan lelaki itu. Celana jins, sepatu kets dan jaket bertudung. Penampilannya malah terlihat seperti remaja yang memang biasa lalu lalang di jalanan depan rumah megah itu. Tapi siapa yang bisa menduga, di balik jaketnya dia membawa tang dan sebuah revolver yang terselip di pinggang, sekedar berjaga-jaga jika aksinya diketahui.
Dari bawah pohon besar di seberang jalan rumah itu. Dia bisa dengan jelas melihat kegiatan di halaman rumah. Beruntung aksi yang ingin dilakukannya hanya berkisar di halaman. Tentu saja, dia masih harus melewati pagar tinggi yang mengelilingi rumah. Namun itu bukan masalah. Dia hanya perlu memperkirakan waktunya.
Jam enam tepat, mobil yang biasa digunakan Tuan Besar pemilik rumah telah dikeluarkan dari garasi. Lelaki itu sudah hafal bahwa Tuan Besar selalu mengendarai mobilnya sendiri tanpa bantuan sopir. Tinggal menunggu pelayan lelaki yang bertugas memarkir mobil di halaman dari garasi masuk kembali ke rumah, lalu lelaki itu bisa melakukan aksinya.
Waktu yang ditunggu telah tiba. Lelaki di bawah pohon itu memberi kode pada salah satu anak buahnya, sementara dirinya sendiri mulai berjalan santai layaknya pejalan kaki.
Tidak ada yang aneh dengan penampilan lelaki itu. Celana jins, sepatu kets dan jaket bertudung. Penampilannya malah terlihat seperti remaja yang memang biasa lalu lalang di jalanan depan rumah megah itu. Tapi siapa yang bisa menduga, di balik jaketnya dia membawa tang dan sebuah revolver yang terselip di pinggang, sekedar berjaga-jaga jika aksinya diketahui.
Dari bawah pohon besar di seberang jalan rumah itu. Dia bisa dengan jelas melihat kegiatan di halaman rumah. Beruntung aksi yang ingin dilakukannya hanya berkisar di halaman. Tentu saja, dia masih harus melewati pagar tinggi yang mengelilingi rumah. Namun itu bukan masalah. Dia hanya perlu memperkirakan waktunya.
Jam enam tepat, mobil yang biasa digunakan Tuan Besar pemilik rumah telah dikeluarkan dari garasi. Lelaki itu sudah hafal bahwa Tuan Besar selalu mengendarai mobilnya sendiri tanpa bantuan sopir. Tinggal menunggu pelayan lelaki yang bertugas memarkir mobil di halaman dari garasi masuk kembali ke rumah, lalu lelaki itu bisa melakukan aksinya.
Waktu yang ditunggu telah tiba. Lelaki di bawah pohon itu memberi kode pada salah satu anak buahnya, sementara dirinya sendiri mulai berjalan santai layaknya pejalan kaki.
Tidak ada yang aneh dengan penampilan lelaki itu. Celana jins, sepatu kets dan jaket bertudung. Penampilannya malah terlihat seperti remaja yang memang biasa lalu lalang di jalanan depan rumah megah itu. Tapi siapa yang bisa menduga, di balik jaketnya dia membawa tang dan sebuah revolver yang terselip di pinggang, sekedar berjaga-jaga jika aksinya diketahui.
__ADS_1
-------------------------
♥ Aya Emily ♥