Polisi Penggoda

Polisi Penggoda
1b


__ADS_3

Selasa (12.58), 24 Maret 2020


----------------------------


Ratna mendekap tumpukan kertas di dadanya sambil bergegas keluar kantor. Dia ingin cepat-cepat pulang lalu segera menyelesaikan dokumen-dokumen itu. Dia sudah berhasil menyelesaikan tiga perempat dari dokumen itu dengan bantuan dua bawahannya. Tapi tetap saja, masih tinggal seperempat lagi.


BRUKK.


Ratna menggosok pelipisnya yang mulai berdenyut melihat semua dokumen berhamburan.


“Makanya, kalau jalan pakai mata.”


Ratna mendesah keras lalu mendongak melihat Mina yang berjalan menjauhi dirinya dengan pinggul bergoyang.


Baiklah, sudah cukup aksi sabarnya.


Ratna mendekati keranjang sampah yang khusus untuk sampah basah. Dia segera menghampiri Mina sambil menenteng keranjang itu. Ketika Mina hendak membuka pintu mobil, mendadak Ratna menuangkan isi keranjang sampah ke atas kepala Mina. Wanita itu menjerit keras membuat beberapa orang di situ menoleh lalu tertawa.


“Ups, sorry. Ini salahku karena aku tidak pernah pakai mata kalau jalan.” Dengan geram Ratna memasangkan keranjang berbau itu ke kepala Mina lalu segera menghambur pergi.


Beruntung karena suasana kantor sudah sepi dan angin tidak berhembus. Kertas-kertas yang dia tinggalkan berserakan masih berada di tempat. Ratna segera berlutut memunguti kertas-kertas itu.


Entah darimana, seorang lelaki turut berjongkok lalu membantunya. Ratna tidak bisa melihat wajah lelaki itu karena ia memakai jaket bertudung.


“Terima kasih. Maaf merepotkan.” Ucap Ratna sambil sesekali melirik lelaki itu.


“Tidak masalah.” Suaranya terdengar berat dan seksi namun dia tidak menoleh menatap Ratna. Pandangannya masih fokus untuk mengumpulkan kertas yang berserakan.


Begitu semua kertas terkumpul, lelaki itu meletakkan tumpukan kertas yang sudah tersusun rapi di depan Ratna. Tanpa menunggu respon, lelaki itu langsung bangkit lalu berjalan menjauh.


“Hei, tunggu!”


Seruan Ratna sama sekali tidak digubris. Ratna menyipitkan mata sambil berkacak pinggang melihat ke arah perginya lelaki itu. Ratna yakin lelaki itu seorang yang dikenalnya namun tidak ingin dirinya dikenali. Terlihat jelas dari tingkahnya yang aneh dan berusaha tidak memperlihatkan wajahnya pada Ratna.


Akhirnya Ratna mengangkat bahu. Dia merengkuh kembali tumpukan kertas ke dadanya lalu bergegas menuju parkiran. Keranjang sampah yang tadi menjadi senjatanya masih tergeletak di tempat parkir. Ratna bersyukur wanita gatal itu memilih langsung pergi. Kalau tidak, semua kontrol dirinya bisa menguap.


***


Sejak dua hari yang lalu lelaki itu memperhatikan aktifitas di sebuah rumah megah. Dia mulai menghafal kegiatan apa saja yang dilakukan penghuni rumah itu pada jam-jam tertentu untuk melancarkan aksinya.

__ADS_1


Dari bawah pohon besar di seberang jalan rumah itu. Dia bisa dengan jelas melihat kegiatan di halaman rumah. Beruntung aksi yang ingin dilakukannya hanya berkisar di halaman. Tentu saja, dia masih harus melewati pagar tinggi yang mengelilingi rumah. Namun itu bukan masalah. Dia hanya perlu memperkirakan waktunya.


Jam enam tepat, mobil yang biasa digunakan Tuan Besar pemilik rumah telah dikeluarkan dari garasi. Lelaki itu sudah hafal bahwa Tuan Besar selalu mengendarai mobilnya sendiri tanpa bantuan sopir. Tinggal menunggu pelayan lelaki yang bertugas memarkir mobil di halaman dari garasi masuk kembali ke rumah, lalu lelaki itu bisa melakukan aksinya.


Waktu yang ditunggu telah tiba. Lelaki di bawah pohon itu memberi kode pada salah satu anak buahnya, sementara dirinya sendiri mulai berjalan santai layaknya pejalan kaki.


Tidak ada yang aneh dengan penampilan lelaki itu. Celana jins, sepatu kets dan jaket bertudung. Penampilannya malah terlihat seperti remaja yang memang biasa lalu lalang di jalanan depan rumah megah itu. Tapi siapa yang bisa menduga, di balik jaketnya dia membawa tang dan sebuah revolver yang terselip di pinggang, sekedar berjaga-jaga jika aksinya diketahui.


Sejak dua hari yang lalu lelaki itu memperhatikan aktifitas di sebuah rumah megah. Dia mulai menghafal kegiatan apa saja yang dilakukan penghuni rumah itu pada jam-jam tertentu untuk melancarkan aksinya.


Dari bawah pohon besar di seberang jalan rumah itu. Dia bisa dengan jelas melihat kegiatan di halaman rumah. Beruntung aksi yang ingin dilakukannya hanya berkisar di halaman. Tentu saja, dia masih harus melewati pagar tinggi yang mengelilingi rumah. Namun itu bukan masalah. Dia hanya perlu memperkirakan waktunya.


Jam enam tepat, mobil yang biasa digunakan Tuan Besar pemilik rumah telah dikeluarkan dari garasi. Lelaki itu sudah hafal bahwa Tuan Besar selalu mengendarai mobilnya sendiri tanpa bantuan sopir. Tinggal menunggu pelayan lelaki yang bertugas memarkir mobil di halaman dari garasi masuk kembali ke rumah, lalu lelaki itu bisa melakukan aksinya.


Waktu yang ditunggu telah tiba. Lelaki di bawah pohon itu memberi kode pada salah satu anak buahnya, sementara dirinya sendiri mulai berjalan santai layaknya pejalan kaki.


Tidak ada yang aneh dengan penampilan lelaki itu. Celana jins, sepatu kets dan jaket bertudung. Penampilannya malah terlihat seperti remaja yang memang biasa lalu lalang di jalanan depan rumah megah itu. Tapi siapa yang bisa menduga, di balik jaketnya dia membawa tang dan sebuah revolver yang terselip di pinggang, sekedar berjaga-jaga jika aksinya diketahui.


Sejak dua hari yang lalu lelaki itu memperhatikan aktifitas di sebuah rumah megah. Dia mulai menghafal kegiatan apa saja yang dilakukan penghuni rumah itu pada jam-jam tertentu untuk melancarkan aksinya.


Dari bawah pohon besar di seberang jalan rumah itu. Dia bisa dengan jelas melihat kegiatan di halaman rumah. Beruntung aksi yang ingin dilakukannya hanya berkisar di halaman. Tentu saja, dia masih harus melewati pagar tinggi yang mengelilingi rumah. Namun itu bukan masalah. Dia hanya perlu memperkirakan waktunya.


Jam enam tepat, mobil yang biasa digunakan Tuan Besar pemilik rumah telah dikeluarkan dari garasi. Lelaki itu sudah hafal bahwa Tuan Besar selalu mengendarai mobilnya sendiri tanpa bantuan sopir. Tinggal menunggu pelayan lelaki yang bertugas memarkir mobil di halaman dari garasi masuk kembali ke rumah, lalu lelaki itu bisa melakukan aksinya.


Waktu yang ditunggu telah tiba. Lelaki di bawah pohon itu memberi kode pada salah satu anak buahnya, sementara dirinya sendiri mulai berjalan santai layaknya pejalan kaki.


Tidak ada yang aneh dengan penampilan lelaki itu. Celana jins, sepatu kets dan jaket bertudung. Penampilannya malah terlihat seperti remaja yang memang biasa lalu lalang di jalanan depan rumah megah itu. Tapi siapa yang bisa menduga, di balik jaketnya dia membawa tang dan sebuah revolver yang terselip di pinggang, sekedar berjaga-jaga jika aksinya diketahui.


Sejak dua hari yang lalu lelaki itu memperhatikan aktifitas di sebuah rumah megah. Dia mulai menghafal kegiatan apa saja yang dilakukan penghuni rumah itu pada jam-jam tertentu untuk melancarkan aksinya.


Dari bawah pohon besar di seberang jalan rumah itu. Dia bisa dengan jelas melihat kegiatan di halaman rumah. Beruntung aksi yang ingin dilakukannya hanya berkisar di halaman. Tentu saja, dia masih harus melewati pagar tinggi yang mengelilingi rumah. Namun itu bukan masalah. Dia hanya perlu memperkirakan waktunya.


Jam enam tepat, mobil yang biasa digunakan Tuan Besar pemilik rumah telah dikeluarkan dari garasi. Lelaki itu sudah hafal bahwa Tuan Besar selalu mengendarai mobilnya sendiri tanpa bantuan sopir. Tinggal menunggu pelayan lelaki yang bertugas memarkir mobil di halaman dari garasi masuk kembali ke rumah, lalu lelaki itu bisa melakukan aksinya.


Waktu yang ditunggu telah tiba. Lelaki di bawah pohon itu memberi kode pada salah satu anak buahnya, sementara dirinya sendiri mulai berjalan santai layaknya pejalan kaki.


Tidak ada yang aneh dengan penampilan lelaki itu. Celana jins, sepatu kets dan jaket bertudung. Penampilannya malah terlihat seperti remaja yang memang biasa lalu lalang di jalanan depan rumah megah itu. Tapi siapa yang bisa menduga, di balik jaketnya dia membawa tang dan sebuah revolver yang terselip di pinggang, sekedar berjaga-jaga jika aksinya diketahui.


Sejak dua hari yang lalu lelaki itu memperhatikan aktifitas di sebuah rumah megah. Dia mulai menghafal kegiatan apa saja yang dilakukan penghuni rumah itu pada jam-jam tertentu untuk melancarkan aksinya.

__ADS_1


Dari bawah pohon besar di seberang jalan rumah itu. Dia bisa dengan jelas melihat kegiatan di halaman rumah. Beruntung aksi yang ingin dilakukannya hanya berkisar di halaman. Tentu saja, dia masih harus melewati pagar tinggi yang mengelilingi rumah. Namun itu bukan masalah. Dia hanya perlu memperkirakan waktunya.


Jam enam tepat, mobil yang biasa digunakan Tuan Besar pemilik rumah telah dikeluarkan dari garasi. Lelaki itu sudah hafal bahwa Tuan Besar selalu mengendarai mobilnya sendiri tanpa bantuan sopir. Tinggal menunggu pelayan lelaki yang bertugas memarkir mobil di halaman dari garasi masuk kembali ke rumah, lalu lelaki itu bisa melakukan aksinya.


Waktu yang ditunggu telah tiba. Lelaki di bawah pohon itu memberi kode pada salah satu anak buahnya, sementara dirinya sendiri mulai berjalan santai layaknya pejalan kaki.


Tidak ada yang aneh dengan penampilan lelaki itu. Celana jins, sepatu kets dan jaket bertudung. Penampilannya malah terlihat seperti remaja yang memang biasa lalu lalang di jalanan depan rumah megah itu. Tapi siapa yang bisa menduga, di balik jaketnya dia membawa tang dan sebuah revolver yang terselip di pinggang, sekedar berjaga-jaga jika aksinya diketahui.


Sejak dua hari yang lalu lelaki itu memperhatikan aktifitas di sebuah rumah megah. Dia mulai menghafal kegiatan apa saja yang dilakukan penghuni rumah itu pada jam-jam tertentu untuk melancarkan aksinya.


Dari bawah pohon besar di seberang jalan rumah itu. Dia bisa dengan jelas melihat kegiatan di halaman rumah. Beruntung aksi yang ingin dilakukannya hanya berkisar di halaman. Tentu saja, dia masih harus melewati pagar tinggi yang mengelilingi rumah. Namun itu bukan masalah. Dia hanya perlu memperkirakan waktunya.


Jam enam tepat, mobil yang biasa digunakan Tuan Besar pemilik rumah telah dikeluarkan dari garasi. Lelaki itu sudah hafal bahwa Tuan Besar selalu mengendarai mobilnya sendiri tanpa bantuan sopir. Tinggal menunggu pelayan lelaki yang bertugas memarkir mobil di halaman dari garasi masuk kembali ke rumah, lalu lelaki itu bisa melakukan aksinya.


Waktu yang ditunggu telah tiba. Lelaki di bawah pohon itu memberi kode pada salah satu anak buahnya, sementara dirinya sendiri mulai berjalan santai layaknya pejalan kaki.


Tidak ada yang aneh dengan penampilan lelaki itu. Celana jins, sepatu kets dan jaket bertudung. Penampilannya malah terlihat seperti remaja yang memang biasa lalu lalang di jalanan depan rumah megah itu. Tapi siapa yang bisa menduga, di balik jaketnya dia membawa tang dan sebuah revolver yang terselip di pinggang, sekedar berjaga-jaga jika aksinya diketahui.


Sejak dua hari yang lalu lelaki itu memperhatikan aktifitas di sebuah rumah megah. Dia mulai menghafal kegiatan apa saja yang dilakukan penghuni rumah itu pada jam-jam tertentu untuk melancarkan aksinya.


Dari bawah pohon besar di seberang jalan rumah itu. Dia bisa dengan jelas melihat kegiatan di halaman rumah. Beruntung aksi yang ingin dilakukannya hanya berkisar di halaman. Tentu saja, dia masih harus melewati pagar tinggi yang mengelilingi rumah. Namun itu bukan masalah. Dia hanya perlu memperkirakan waktunya.


Jam enam tepat, mobil yang biasa digunakan Tuan Besar pemilik rumah telah dikeluarkan dari garasi. Lelaki itu sudah hafal bahwa Tuan Besar selalu mengendarai mobilnya sendiri tanpa bantuan sopir. Tinggal menunggu pelayan lelaki yang bertugas memarkir mobil di halaman dari garasi masuk kembali ke rumah, lalu lelaki itu bisa melakukan aksinya.


Waktu yang ditunggu telah tiba. Lelaki di bawah pohon itu memberi kode pada salah satu anak buahnya, sementara dirinya sendiri mulai berjalan santai layaknya pejalan kaki.


Tidak ada yang aneh dengan penampilan lelaki itu. Celana jins, sepatu kets dan jaket bertudung. Penampilannya malah terlihat seperti remaja yang memang biasa lalu lalang di jalanan depan rumah megah itu. Tapi siapa yang bisa menduga, di balik jaketnya dia membawa tang dan sebuah revolver yang terselip di pinggang, sekedar berjaga-jaga jika aksinya diketahui.


Sejak dua hari yang lalu lelaki itu memperhatikan aktifitas di sebuah rumah megah. Dia mulai menghafal kegiatan apa saja yang dilakukan penghuni rumah itu pada jam-jam tertentu untuk melancarkan aksinya.


Dari bawah pohon besar di seberang jalan rumah itu. Dia bisa dengan jelas melihat kegiatan di halaman rumah. Beruntung aksi yang ingin dilakukannya hanya berkisar di halaman. Tentu saja, dia masih harus melewati pagar tinggi yang mengelilingi rumah. Namun itu bukan masalah. Dia hanya perlu memperkirakan waktunya.


Jam enam tepat, mobil yang biasa digunakan Tuan Besar pemilik rumah telah dikeluarkan dari garasi. Lelaki itu sudah hafal bahwa Tuan Besar selalu mengendarai mobilnya sendiri tanpa bantuan sopir. Tinggal menunggu pelayan lelaki yang bertugas memarkir mobil di halaman dari garasi masuk kembali ke rumah, lalu lelaki itu bisa melakukan aksinya.


Waktu yang ditunggu telah tiba. Lelaki di bawah pohon itu memberi kode pada salah satu anak buahnya, sementara dirinya sendiri mulai berjalan santai layaknya pejalan kaki.


Tidak ada yang aneh dengan penampilan lelaki itu. Celana jins, sepatu kets dan jaket bertudung. Penampilannya malah terlihat seperti remaja yang memang biasa lalu lalang di jalanan depan rumah megah itu. Tapi siapa yang bisa menduga, di balik jaketnya dia membawa tang dan sebuah revolver yang terselip di pinggang, sekedar berjaga-jaga jika aksinya diketahui.


--------------------------------

__ADS_1


♥ Aya Emily ♥


__ADS_2