Polisi Penggoda

Polisi Penggoda
13b


__ADS_3

Selasa (07.33), 07 April 2020


-------------------------


“Sudah puas mengamati diriku, Ratna sayang?” Matt bertanya dengan senyum mengejek di bibirnya. “Atau kau masih ingin mencoba keberuntunganmu? Mungkin saja kali ini aku akan tertipu dan memberimu celah untuk melarikan diri.”


Ratna menelan ludah dengan susah payah. Ternyata sejak tadi Matt hanya bermain-main dengan dirinya. Lelaki itu tahu bahwa Ratna sedang berusaha menemukan cara untuk menyelamatkan diri atau menghubungi orang luar.


“Kalau kau diam, aku akan menganggap bahwa jawabannya iya. Jadi sekarang kita akan langsung memainkan permainan yang tadi sudah kujelaskan padamu.”


Tanpa sadar Ratna mundur menjauh ketika melihat seringai kejam di bibir Matt. “Apa yang akan kau lakukan kalau aku menolak dan melawanmu?”


“Aku memang berharap kau melawanku seperti belasan tahun yang lalu. Sungguh aku merindukan gadis kecil lincah yang berusaha melawanku dengan liar itu.”


Tidak lagi.


Sekali lagi Ratna mengingatkan bahwa dirinya bukan lagi gadis kecil belasan tahun yang lalu. Kini dia wanita dewasa yang akan memikirkan dengan matang apa yang harus dia lakukan bahkan dalam situasi terdesak sekalipun. Berkali-kali Ratna mengulang kenyataan itu seperti mantra untuk menguatkan diri.


Kelebatan bayangan menghampiri benak Ratna. Saat-saat dimana Freddy mengajarinya menembak, lelaki itu juga mengajari Ratna beberapa teknik bela diri. Kini Ratna memiliki kesempatan untuk menguji kemampuannya.


“Kau menjadi makin pendiam, sayang.” Ujar Matt sambil melangkah mendekati Ratna.


Dalam hati Ratna menghitung tiap langkah yang diambil Matt. Otaknya berputar memikirkan cara yang paling jitu untuk menjatuhkan lelaki itu.


Matt berhenti ketika jarak mereka tinggal terpaut selangkah. “Kenapa kau terlihat begitu tegang? Santailah sedikit lalu nikmati permainan ini.”


Tangan Matt terulur untuk membelai pipi Ratna dengan buku jarinya. Segera Ratna mencekal pergelangan Matt dengan satu tangan. Tidak cukup kuat tapi memberi kesempatan tangan yang lain untuk melayangkan tinju tepat di pangkal leher Matt.


Lelaki itu mundur beberapa langkah sambil terbatuk. Dia tidak menyangka Ratna akan menyerangnya seperti itu. Matt memang mengharapkan perlawanan. Namun yang ia bayangkan Ratna akan menyerangnya secara membabi buta sambil menangis histeris.


Mendadak salah satu pintu lemari yang berjejer di sepanjang dinding terbuka dengan suara keras.


“Anda baik-baik saja, Mr. Bennedict?” tanya lelaki bertubuh kekar yang berdiri di ambang pintu. Lelaki itu menatap Matt lalu beralih menatap Ratna dengan dengan wajah sangar.


Dilihat dari cepatnya anak buah Matt datang setelah mendengar tuan mereka terbatuk-batuk, Ratna menduga ada beberapa orang yang sedang berjaga tepat di depan pintu keluar. Walau Ratna sudah tahu yang mana pintunya dan mencoba melarikan diri, dia pasti akan segera tertangkap kembali. Lalu pandangan Ratna jatuh pada benda yang ada dalam genggaman lelaki yang masih berdiri di ambang pintu itu.


“Aku menghantam pangkal lehernya. Kurasa sekarang dia akan kesulitan menelan dan berbicara.” Ujar Ratna sambil meremas kedua tangan dengan gugup.


Lelaki itu melotot ke arah Ratna lalu menghampiri Matt yang masih terbungkuk sambil memegang lehernya.


Saat itulah kesempatan Ratna. Begitu si lelaki kekar tiba di dekat Matt, Ratna bergerak cepat ke arah pintu. Sesuai dugaan Ratna, anak buah Matt itu beralih mengejarnya.


“Kau pikir bisa kabur dari sini, Nona?” senyum merendahkan menghiasi bibir lelaki itu ketika dia berhasil mencengkeram lengan atas Ratna.


“Aku tidak bermaksud kabur.” Sahut Ratna enteng.


Tanpa diduga Ratna mengangkat lututnya hingga tepat menghantam dengan keras tonjolan di antara kedua paha lelaki itu.


Suara erangan keras memenuhi udara. Belum berhenti erang kesakitan si lelaki kekar, Ratna merebut pistol di tangannya lalu menghantamkan gagang pistol tepat di sisi leher si lelaki hingga jatuh tersungkur.


Tanpa membuang waktu Ratna melepas tiga kali tembakan ke pintu masuk yang masih terbuka, membuat beberapa anak buah Matt yang mencoba masuk kembali menjauh.


Setelahnya dia bergerak cepat ke arah Matt sambil menodongkan pistol ke kening lelaki itu. Matt yang sudah berhasil menguasai diri kembali hanya berdiri santai menatap Ratna dengan tatapan tertarik.

__ADS_1


“Sudah cukup permainan konyolmu, Matthew Bennedict! Sekarang keluarkan aku dari tempat terkutuk ini atau akan kuledakkan kepalamu!”


Salah satu sudut bibir Matt tertarik. Dia tampak geli dengan ancaman Ratna. Lelaki itu bergerak mendekat hingga moncong pistol menempel di keningnya.


“Aku ingin lihat seberapa kuat dirimu. Apakah kau sanggup benar-benar meledakkan kepalaku.” Matt menatap tajam Ratna dengan sorot merendahkan.


***


“Kalau sampai terjadi sesuatu pada Ratna, aku tidak akan segan-segan membunuh Matthew.” Kalimat itu diucapkan dengan tenang namun tidak bisa menutupi kemarahan tertahan yang menguar dari nada suaranya.


Toni melirik kaca spion dalam mobil. Max yang duduk di kursi belakang tetap terlihat tenang bahkan setelah Freddy menyuarakan peringatannya.


Setelah kalimat serupa sumpah yang diucapkan Freddy, tidak ada lagi yang membuka suara dalam mobil itu. Keheningan yang menyesakkan memenuhi seisi mobil. Namun ketiga orang yang berada dalam mobil tidak bisa merasakannya karena lebih sibuk dengan pikirannya masing-masing.


“Aku tidak akan membantumu mencari tempat Matt menyembunyikan Ratna jika tidak mau hal itu terjadi.” Akhirnya Max membuka suara menanggapi kalimat Freddy sebelumnya.


Sekali lagi Toni melirik penasaran pada Freddy yang duduk di sampingnya lalu kembali memusatkan perhatian untuk mengendalikan laju mobil yang dikendarainya.


Raut wajah Freddy tidak berubah. Masih menampilkan wajah datar tanpa emosi seperti beberapa jam lalu di kantor polisi ketika Maxwell Bennedict berhasil mendapatkan alamat Matt. Tapi Toni bisa merasakan kemarahan yang menguar seperti menyelimuti sekujur tubuh Freddy. Mungkin ada juga perasaan takut dan khawatir. Tapi yang lebih dominan jelas kemarahan.


Keheningan kembali terjadi. Tidak ada lagi yang tertarik membuka suara sampai mobil yang mereka tumpangi memasuki kawasan perumahan yang baru dibangun. Jarak antar rumahnya masih cukup jauh hingga tidak akan menimbulkan kecurigaan jika ada aktifitas yang tidak biasa di salah satu rumah.


“Semua personil polisi akan berada di sini sekitar sepuluh menit lagi. Kita hanya memiliki waktu selama itu untuk mencari Ratna lalu membawanya keluar sebelum penyergapan dimulai untuk menghindari wanita itu terjebak dalam baku tembak.” Jelas Toni setelah memarkir mobil beberapa meter dari rumah peristirahatan yang menurut Rudi adalah milik Matt.


Freddy hanya mengangguk sebagai jawaban lalu segera keluar mobil diikuti Toni dan Max.


“Sebaiknya Uncle Max tunggu di sini. Biar kami saja yang masuk.” Jelas Freddy.


“Sepuluh menit adalah waktu yang sangat singkat. Kalian tidak punya waktu untuk bertarung melawan anak buah Matt.” Max tidak menunggu ada yang menanggapi ucapannya. Dia segera berjalan tenang menuju rumah yang terletak beberapa meter dari mobil diparkir.


Terdapat pagar tinggi yang mengelilingi rumah bernuansa hijau rerumputan itu. Dua orang penjaga tampak duduk santai disebuah pos jaga dibalik pagar. Kedua orang itu tersentak kaget dan jelas kebingungan ketika melihat Max berjalan mendekat. Sebelum Max mencapai pagar, dengan sigap kedua orang itu membuka pagar, memberi jalan bagi Max masuk untuk memasuki halaman rumah.


“Kami tidak menyadari kapan Anda keluar rumah, Mr. Bennedict.” Jelas salah satu pria masih dengan raut kebingungan.


“Tidak usah dipikirkan.” Sahut Max tenang. “Apa wanita itu masih di dalam?”


Penjaga itu paham siapa yang dimaksud Max. Mereka mengangguk bersamaan.


“Kalian tetaplah disini. Aku akan menemui wanita itu.”


“Baik, Mr. Bennedict.”


Sebelum melanjutkan langkah, Max menyadari tatapan curiga kedua penjaga pada Freddy dan Toni yang berdiri di belakangnya. Walau kedua polisi itu tidak mengenakan seragam mereka—hanya mengenakan kemeja santai dan jeans yang dibalut jaket kulit berwarna gelap untuk menyembunyikan pistol—tetap saja mereka terlihat seperti penegak hukum.


Max berdehem untuk menarik perhatian kedua penjaga. “Mereka polisi yang sudah kusogok untuk membantuku. Kalian tahu, Rudi sudah tertangkap. Kita harus lebih berhati-hati sekarang. Dan keberadaan mereka disini bisa melindungi kita.”


Toni sedikit menegang karena Max dengan santainya membocorkan profesi mereka. Namun sebaliknya Freddy masih terlihat tenang.


Medengar itu kedua penjaga saling pandang lalu perlahan seringai setuju menghiasi bibir mereka.


“Anda sangat cerdas, Mr. Bennedict. Kita pasti aman kalau ada polisi yang bekerja sama dengan kita.” Puji salah satu penjaga yang sebelumnya hanya diam.


Max mengangguk menerima pujian lalu kembali melangkah menuju rumah diikuti Freddy dan Toni.

__ADS_1


Setelah jarak mereka cukup jauh dari kedua penjaga, Toni bergumam. “Anda memang benar-benar cerdas, Mr. Maxwell Bennedict.”


Max terkekeh. “Kedengarannya seperti ejekan, tapi aku akan menganggapnya sebagai pujian.”


Pintu utama rumah besar itu terbuka ketika jarak mereka semakin dekat dengan rumah. Dibaliknya terdapat lima lelaki berbadan besar berotot yang menunggu mereka. Entah berapa banyak orang yang ada di rumah itu selain Matt dan Ratna.


“Mr. Bennedict.” Sapa salah satu lelaki yang berdiri paling depan. Raut wajahnya sama seperti kedua penjaga sebelumnya, penuh kebingungan. “Bukankah tadi Anda masuk ke ruang bawah tanah? Saya tidak menyadari kapan Anda keluar.”


Kali ini Max mempersiapkan akting marahnya untuk memaki lelaki itu yang sudah lalai hingga tidak menyadari tuannya keluar rumah. Namun sebelum kalimatnya keluar, suara tembakan beruntun mengalihkan perhatian mereka.


Toni sudah hendak melesat menuju arah suara namun urung karena Freddy mencekal lengannya. Sedangkan kelima lelaki tadi langsung bergerak cepat. Max sendiri berdiri diam menunggu kedua polisi itu bergerak.


“Kita akan mengecoh anak buah Matt seperti sebelumnya. Uncle Max, buat agar anak buah Matt ragu siapa peminpin mereka sebenarnya, dirimu atau Matt.” Jelas Freddy sambil menyiapkan pistolnya.


Toni juga mulai menyiapkan pistolnya dalam kondisi siaga sedangkan Max yang memahami maksud Freddy bergegas menuju arah suara tembakan.


Puluhan lelaki tampak berkumpul di depan tangga menurun yang seperti menuju ke ruang bawah tanah. Tiap orang terlihat menggenggam senjata, mulai dari belati, pedang hingga pistol.


“Apa yang sebenarnya terjadi di sini?” suara Max menggema.


Nyaris bersamaan, puluhan lelaki itu menoleh kea rah Max. Raut wajah mereka tampak beragam, menampilkan suasana hati masing-masing ketika melihat Max. Yang paling dominan adalah raut wajah kebingungan. Bahkan beberapa terlihat gelisah hingga takut. Mereka saling pandang untuk meminta penjelasan pada rekannya.


“Bukankah Mr. Bennedict ada di dalam?”


“Kalau yang ini Mr. Bennedict, lalu yang di dalam siapa?”


“Apa Mr. Bennedict memiliki saudara kembar?”


Sudut bibir Max terangkat mendengar gumaman kebingungan mereka lalu segera ia memasang tampang marah. “Kalian mempertanyakan siapa aku?” Max maju selangkah untuk mempertegas akting marahnya. “Lihat wajahku baik-baik! Aku Maxwell Bennedict!”


***


“Lihat wajahku baik-baik! Aku Maxwell Bennedict!”


Semua mata menoleh ke arah suara yang terdengar begitu tegas, termasuk Matt. Perhatian Matt yang teralih memberi Ratna kesempatan untuk mundur menjauh sambil tetap menodongkan pistol pada lelaki itu.


Rupanya gerakan Ratna sama sekali tidak mengganggu Matt. Dia masih terus memperhatikan ambang pintu tempat anak buahnya berkumpul.


“Ada siapa di luar?” Tanya Matt dingin.


Anak buahnya yang berada paling dekat dengan Matt segera menyahut. “Ada seseorang yang mengaku sebagai Anda. Entah mengapa mereka hanya diam. Seharusnya orang itu langsung ditembak saja.”


“Bukan hanya mengaku nama. Orang itu juga sangat mirip dengan Mr. Bennedict.” Sahut rekannya yang juga melihat wajah orang yang mengaku sebagai Maxwell Bennedict.


“Kalian bodoh atau buta? Sudah jelas Mr. Bennedict ada di sini.” Orang yang tadi menjawab pertanyaan Matt masih ngoto.


“Kalau tidak percaya, lihat saja sendiri!”


“Kalian masih meragukanku? Menyingkir agar aku bisa membuktikan bahwa aku memang Maxwell Bennedict.”


Kali ini Matt terkekeh mendengar ucapan kakaknya. “Beri dia jalan. Aku ingin menyapa kakakku.”


-------------------------------

__ADS_1


♥ Aya Emily ♥


__ADS_2