
Senin (07.41), 06 April 2020
------------------------
Dua lelaki berbeda usia itu masih saling menatap dengan intens. Adrenalin sama-sama mengaliri tubuh mereka. Jantung mereka berdegup tak terkendali.
Mereka sama-sama menunggu salah satunya bertindak. Sesekali mata abu-abu Freddy melirik ke moncong revolver yang masih terarah lurus ke keningnya lalu kembali ke mata biru yang masih menatapnya tajam.
Selang beberapa detik yang terasa seperti bertahun-tahun, pandangan tajam Max melunak. Freddy menyipitkan matanya penuh curiga ketika Max menurunkan revolver ditangannya. Sebuah desahan terdengar dari sela bibir Max.
“Kesalahan terbesarku pada Papamu adalah ketidak jujuranku. Bukankah sebuah hubungan bisa terus terjalin jika dilandasi dengan kejujuran dan saling percaya?”
“Jadi, kau menyesal karena tidak mengatakan pada Papa yang sejujurnya bahwa kau adalah seorang psikopat yang suka memperkosa dan menyiksa wanita?” tanya Freddy sinis. “Lalu apa yang kau harapkan? Papa bisa menerimamu apa adanya, begitu?”
Lagi-lagi Max mendesah. Dia mengembalikan revolver kepada Freddy membuat lelaki yang lebih muda itu menatapnya makin curiga. Perlahan Freddy menerima revolver itu sekaligus bersiap jika Max menyerangnya secara mendadak.
“Kukira kau sudah tahu semuanya. Ternyata belum.”
“Kebusukanmu yang mana lagi yang belum kuketahui?”
Max menggosok sudut bibirnya yang terasa membengkak. “Jeremy pasti sudah menceritakan padamu mengenai foto-foto itu. Tapi yang tidak diketahui Jeremy adalah bahwa bukan aku pelakunya.”
“Sekarang kau mau bilang bahwa Papaku asal menuduhmu?” nada suara Freddy makin tinggi.
“Tidak.”
“Lalu apa maksudmu?” Freddy mulai tidak sabar.
Max terdiam selama beberapa saat. Sorot matanya penuh kesedihan. “Dia adalah adikku. Matthew Bennedict. Kami kembar identik.”
“Hah?” Freddy seperti tidak mempercayai pendengarannya.
“Aku memiliki seorang adik kembar. Kami terpisah cukup lama. Aku baru bertemu dengannya lagi setelah aku dan Papamu bersahabat. Bahkan di awal pertemuan kami aku sudah menyadari ada yang tidak beres dengan adikku. Ternyata dia mengalami gangguan kejiwaan. Salah satunya dia suka memperkosa dan menyakiti orang lain.”
Seperti ada belati yang ditikamkan ke dada Freddy. Pikirannya langsung melayang pada Ratna walau rasanya masih sulit untuk mempercayai Max. “Jadi maksudmu, pemilik foto-foto itu adalah adikmu?”
Max mengangguk. “Aku tidak pernah menceritakan tentang Matt pada Jeremy karena aku tahu betapa bencinya Jeremy pada pemerkosa. Aku menyayangi Matt sebesar aku menyayangi Jeremy. Aku tidak mau kehilangan satupun dari mereka.”
“Kalau kau sudah mengetahui kejiwaan adikmu yang terganggu, mengapa kau membiarkan dia berkeliaran?” Kemarahan Freddy bangkit kembali. Mungkin seandainya Max mengurung adiknya di rumah sakit jiwa atau dimanapun, Ratna tidak akan mengalami kejadian buruk di masa lalunya.
“Awalnya aku tidak tahu kalau kejiwaannya terganggu. Yang kutahu hanya Matt memiliki masa lalu yang kelam. Masa lalu yang membuatku tidak bisa memperkenalkan dirinya pada Jeremy.” Max kembali terdiam. Menceritakan semua itu seperti menyiram lukanya yang masih menganga dengan air garam. “Suatu hari dia datang ke apartemenku dengan wajah bahagia. Dia sangat antusias hendak menunjukkan sesuatu padaku. Aku nyaris kena serangan jantung ketika melihat foto-foto itu. Dengan panik aku menyembunyikan foto-foto itu entah dimana. Aku sendiri lupa. Setelah itu aku membawanya ke psikiater. Dan akhirnya aku tahu tentang kondisi kejiwaannya.”
“Setelah mengetahui semua itu, masih saja kau membiarkannya berkeliaran?”
“Aku sudah mengirimnya ke panti rehabilitasi. Dia dirawat selama tiga tahun. Aku dan para dokter berpikir dia sudah sembuh. Karena itu Matt bisa kembali bebas. Ternyata dia malah menjadi semakin sadis. Bahkan dia jadi suka menyetubuhi lelaki juga. Aku mengetahuinya setelah dia memperkosa dan membunuh seorang lelaki yang telah membuat rugi perusahaanku. Setelahnya aku membangun rumah perawatan khusus untuknya. Tapi aku baru saja mendapat kabar bahwa dia berhasil melarikan diri tiga minggu yang lalu. Semua dokter dan penjaga di rumah itu ditemukan tewas.”
“Itu artinya yang telah meneror Ratna dan nyaris membunuh Papa adalah adikmu.”
“Aku juga baru menyadari hal itu setelah menerima telepon tadi. Tapi sebenarnya apa yang terjadi pada Jeremy?”
“Aku akan menceritakannya nanti. Bagaimanapun Uncle Max, kau harus tetap ikut ke kantor polisi. Masih banyak yang harus kau jelaskan. Aku akan menghubungi Ratna. Entah mengapa perasaanku jadi tidak enak.”
Baru saja Freddy mengeluarkan smartphonenya, mendadak pintu ruangan Max terbuka. Toni tampak berdiri di ambang pintu bersama beberapa polisi. Dia tercekat melihat kondisi kedua lelaki dalam ruangan itu yang tampak kacau.
“Komandan Freddy, kau baik-baik saja?”
“Iya dan tidak.” jawab Freddy membingungkan. “Kurasa kau membutuhkan surat ijin untuk meminta keterangan Uncle Max sebagai saksi.”
__ADS_1
“Aku sudah mendapatkannya. Itu sebabnya aku datang ke sini. Tidak seperti kau yang asal pergi.”
Freddy hanya meringis karena sindiran Toni. “Baiklah Uncle Max, kau bisa pergi bersama mereka. Aku harus pergi dulu.”
“Freddy, kau mau kemana?” tanya Toni.
“Memeriksa sesuatu.” Sahut Freddy sambil berjalan keluar perusahaan M&B Group menuju mobilnya.
Dalam perjalanan Freddy berkali-kali mencoba menghubungi Ratna. Panggilannya masuk namun Ratna tidak menerimanya. Berbagai pikiran buruk mulai memenuhi benak Freddy. Karena tidak tahan lagi dengan semua yang dipikirkannya, akhirnya Freddy menepikan mobil lalu mematikan mesin. Dia bersandar sambil menarik nafas beberapa kali.
Lagi-lagi dia melakukan hal konyol. Sebelumnya Freddy tidak pernah seperti ini. Dia memang sering membuat ulah dan bertindak nekat. Namun semua yang dilakukannya penuh perhitungan hingga nyaris tidak pernah gagal. Inilah alasannya kebanyakan polisi penyidik dilarang menangani kasus yang berhubungan dengan keluarganya. Apalagi sampai menjadi kepala tim penyidik. Itu sebabnya Freddy kaget ketika dirinya mendapat tugas menjadi kepala tim penyidik kasus narkoba milik Maya, yang merupakan ibu mertuanya.
Freddy yakin pak Nugroho tidak akan asal memberi tugas pada bawahannya. Beliau memberinya tugas ini karena dia pasti yakin Freddy sanggup menyelesaikannya. Karena itu Freddy tidak boleh mengecewakan. Dia harus mengendalikan semua perasaan pribadinya dan lebih mengutamakan profesionalisme. Tapi bisakah?
Lagi-lagi Freddy menarik nafas panjang.
Tentu bisa.
Setelah yakin dirinya lebih tenang, Freddy kembali menyalakan mesin mobil. Dia mencoba mengosongkan pikirannya dari apapun yang berhubungan dengan Ratna dan lebih fokus pada fakta baru yang telah didapatkannya.
Begitu mobilnya berhenti di halaman Keegan Corp. Freddy segera menghambur masuk. Baru saja dia hendak melewati meja resepsionis, seseorang memanggilnya.
“Mr. Keegan?”
Freddy menoleh ke arah wanita cantik yang keluar dari balik meja resepsionis lalu berjalan ke arahnya. “Meisya, kan?”
“Iya, Mr. Keegan. Kenapa Anda bisa ada di sini?” tanya Meisya penuh kebingungan.
“Maaf, tapi aku harus segera menemui Ratna.” Jelas Freddy buru-buru.
“Bukankah Anda sedang dirawat di rumah sakit?”
Kali ini Freddy yang menatap Meisya bingung. “Tidak. Aku baik-baik saja. Siapa yang berkata begitu?”
“Tadi ada dua polisi yang datang mencari Ratna. Setelah Ratna berbincang sebentar dengan mereka, kemudian dengan raut khawatir Ratna pamit hendak ke rumah sakit karena kondisi Anda kritis.”
DEG.
Jantung Freddy serasa diremas. Mati-matian dia menahan perasaan panik yang mulai menjalar. “Dua polisi? Kau yakin?”
“Mereka mengenakan seragam polisi. Jadi saya pikir mereka rekan Anda. Pasti Ratna juga berpikir demikian karena dia langsung pergi bersama mereka setelah mengambil tas.” Meisya menelan ludah karena dia juga mulai merasakan sesuatu yang tidak beres. “Apa menurut Anda Ratna diculik?”
Freddy menatap mata hitam Meisya yang terlihat khawatir. “Tolong jangan beritahukan hal ini pada siapapun termasuk Papaku. Jangan sampai berita ini tersebar sampai Ratna ketemu. Kau mengerti?”
Cepat-cepat Meisya mengangguk.
“Bersikaplah seperti biasa. Aku harus pergi sekarang.”
Lagi-lagi wanita itu mengangguk.
Setengah berlari Freddy keluar langsung menuju mobilnya yang masih terparkir di halaman Keegan Corp. Tanpa membuang waktu lagi dia segera memacu mobilnya menuju markas besar kepolisian.
Saat ini hanya satu orang yang bisa membantunya menemukan Ratna. Dengan asumsi bahwa kali ini semua fakta yang sudah ditemukannya benar adanya. Dia harus meminta tolong pada Uncle Max.
***
“Gadis mungil, dimana kau?”
__ADS_1
Ratna bergerak gelisah ingin membuka mata. Bayangan-bayangan memenuhi benaknya.
Ruangan yang tampak kacau. Seperti kamar. Ada sebuah tempat tidur di salah satu sisi, dengan seseorang yang meringkuk di atasnya. Rambut panjang orang itu tergerai. Dia tidur dalam posisi menyamping. Selimut menutupi tubuhnya hingga leher. Wajahnya tidak terlihat karena tertutup rambut.
Sebuah isakan terdengar dari wanita itu. Namun hanya sekejap seperti orang itu berusaha menahan isak tangisnya.
Ratna mencoba mendekat namun tubuhnya tertahan di tempat, di sudut kamar itu.
Tak lama kemudian, pintu kamar itu terbuka. Seorang pemuda tampan yang tampak familiar di mata Ratna, berdiri tertegun di ambang pintu sambil menatap seluruh penjuru kamar. Ratna pikir pemuda itu kaget melihat dirinya. Ternyata bukan.
Pemuda itu masuk perlahan ke dalam kamar, lalu berhenti di samping ranjang. Dia berkacak pinggang. Ratna sempat mendengar desahan dari sela bibir pemuda itu.
“Ratna.”
DEG.
Kembali Ratna mencoba mendekat untuk mendengar lebih jelas ucapan pemuda itu. Tapi seperti ada kaca penghalang di depannya. Benarkah yang didengarnya? Nama wanita itu sama seperti namanya?
“Apa Ratna marah pada kakak karena meninggalkan Ratna di hari libur? Sungguh, kakak minta maaf.”
DEG.
Ratna menelan ludah dengan susah payah. Suara itu. Cara pemuda itu memanggil wanita itu. Lembut dan menenangkan. Benarkah pemuda itu sedang berbicara pada wanita yang masih berbaring miring di ranjang? Kenapa pemuda itu seperti berbicara pada dirinya?”
Mendadak pemuda itu melompat ke ranjang di belakang si wanita dengan senyum jahil di bibirnya. Dia menggelitiki pinggang si wanita.
“Kenapa gadis mungil ini? Apa dia marah pada kakak?”
Gadis? Pasti wanita itu lebih muda dari si pemuda. Mungkin adiknya, pikir Ratna.
“Sayang...”
Gadis itu bergeser menjauhi si pemuda. Pemuda itu mengerutkan kening. Segera dia turun dari ranjang lalu memutar ke depan gadis itu. Pemuda itu bersimpuh di sisi ranjang. Jemarinya bergerak hendak menyibak helai rambut si gadis yang menutupi wajahnya.
Mendadak gadis itu bangkit lalu duduk diam dengan kaki ditekuk di depan dada. Kedua lengannya ditumpangkan di atas lutut. Wajahnya dibenamkan di atas lengannya.
Lagi-lagi pemuda itu tertegun. Raut ketakutan terlihat jelas pada raut wajah si pemuda.
Pemuda itu bangkit perlahan, duduk di samping si gadis dengan hati-hati seperti menghadapi hewan yang terluka. Pemuda itu menelan ludah karena panik. Dengan lembut, tangan si pemuda membingkai kedua sisi kepala gadis itu lalu mendongakkannya agar menatap dirinya.
Dan wajah gadis itu membuat nafas Ratna seolah berhenti.
Aaarrghh......
Nafas Ratna memburu ketika dia akhirnya berhasil membuka mata. Kepalanya sakit luar biasa seperti akan terbelah. Kengerian menggerogoti dadanya.
Beberapa kelebat bayangan masih menari di benaknya. Namun kali ini hanya samar. Satu tangan Ratna memegang kepalanya yang makin sakit dan tangan lainnya meremas dadanya yang begitu nyeri.
“Mimpi buruk, Sayang?”
Pandangan Ratna langsung berbalik ke sumber suara, dan dia tercekat.
“Kuharap kau sedang memimpikan diriku.”
-----------------------------
♥ Aya Emily ♥
__ADS_1