Polisi Penggoda

Polisi Penggoda
13a


__ADS_3

Selasa (07.31), 07 April 2020


-------------------------


“Kuharap kau sedang memimpikan diriku.”


Kalimat itu masih terngiang dalam benak Ratna, seperti ingin menarik kenangan lain keluar ke permukaan. Rasa sakit di kepalanya semakin mendera seiring kenangan yang mulai terkuak.


Ratna merintih ketika senyum culas sang ibu memenuhi benaknya. Wanita yang menurut kakaknya telah melahirkan dirinya ke dunia itu tampak senang melihat Ratna berteriak ketakutan. Wanita itu malah terbahak melihat lelaki yang dibawanya berusaha mencium dan menjamahi tubuh kecilnya yang baru berkembang.


Masa lalu dan masa kini berbaur menjadi satu hingga membuat Ratna mual. Lelaki yang membuat kenangannya kembali terbuka hanya menatap Ratna dengan kening bertaut.


Lelaki itu bangkit lalu berjalan mendekati Ratna. Namun Ratna sendiri tidak tahu, apa itu hanya terjadi di dalam kenangannya atau di masa sekarang. Karena dalam kenangan Ratna, lelaki itu juga sedang mendekati dirinya—yang sudah tergeletak kelelahan di atas ranjang—dengan seringai predator.


Tangan lelaki itu terulur. Ratna hanya bisa merintih ketakutan antara sadar dan tidak.


“Apa kau sedang sakit? Hidungmu berdarah.” Lelaki itu menunjukkan darah di jemarinya. Dia tampak seperti kekasih yang perhatian dan khawatir.


“Kakak, tolong aku.” Suara Ratna begitu pelan.


Lelaki itu berdecak. “Apa kau tidak bosan meminta tolong pada kakakmu? Kenyataannya dia tidak pernah bisa melindungi dirimu, sama seperti empat belas tahun yang lalu.” Lelaki itu kembali membersihkan darah yang keluar dari lubang hidung Ratna, lalu menjilat jemarinya tanpa jijik. “Berhenti memohon pada kakakmu! Memohonlah padaku, dan aku akan memenuhi semua kebutuhanmu termasuk rasa aman dan nyaman.”


Wajah lelaki itu semakin menunduk mendekati wajah Ratna yang terkulai di sandaran kursi kayu. Ratna merasa kembali menjadi dirinya yang dulu. Gadis kecil yang pasrah pada nasib buruknya.


Mendadak kenangan lain muncul. Lelaki berseragam polisi dengan senyum jahilnya karena berhasil mengerjai Ratna. Wajah lemah lelaki itu setelah akting kecelakaan. Gombalannya yang selalu membuat Ratna kesal. Terutama malam pertama mereka yang begitu panas.


Freddy.


Seperti mendapatkan tenaga entah dari mana, Ratna berhasil mendorong dada lelaki di hadapannya hingga lelaki itu mundur beberapa langkah. Segera Ratna bangkit untuk melarikan diri namun tidak melihat adanya pintu keluar.


Ruangan itu begitu luas. Sebuah ranjang di salah satu sudut, meja di sudut lain dan kursi kayu yang tadi Ratna tempati berada di tengah-tengah ruangan. Selain itu, tiap dinding tertutup lemari kayu yang tingginya mencapai langit-langit.


“Kenapa berhenti, sayang? Tidak bisa menemukan pintu keluar?” lelaki itu terkekeh menyeramkan.


Ratna segera berbalik menatap lelaki itu. Rasa takut yang menderanya membuat bulu kuduknya meremang. Tidak ada pilihan lain kecuali menghadapi lelaki itu.


“Siapa sebenarnya kau?” berbanding terbalik dengan rasa takut yang melingkupi dirinya, pertanyaan yang Ratna lontarkan terdengar begitu tegas dan mantap.


“Biasanya aku memperkenalkan diri sebagai Maxwell Bennedict. Tapi khusus kepadamu, akan kuperkenalkan nama asliku, Matthew Bennedict.”


Ratna tersentak dengan kenyataan itu. Dia mencoba memperhatikan lelaki di depannya lebih seksama. Bagaimana mungkin Ratna tidak menyadari sebelumnya. Lelaki itu mirip sekali dengan orang yang dipanggil Freddy Uncle Max. Mungkin karena aura yang berbeda dan kilasan kenangan dalam benaknya membuat Ratna kehilangan fokus.


“Apa kau saudara kembar Mr. Maxwell Bennedict?”


“Apa aku masih harus menegaskan sesuatu yang sudah tampak jelas?” Matt terlihat jengkel.


“Jadi,” Ratna menyentuh keningnya yang kembali berdenyut karena dirinya mencoba menggali kenangan empat belas tahun yang lalu. “kau adalah lelaki yang memperkosaku?” tanya Ratna nyaris berbisik dengan kerongkongan tercekat.


“Salah. Aku tidak memperkosa dirimu. Tapi ibumu yang telah menjual tubuhmu padaku.” Sebuah seringai menghiasi bibir Matt.

__ADS_1


Setetes air mata Ratna mengalir di pipinya namun wajahnya begitu datar tanpa ekspresi. Berbeda dengan kenangan yang mengalir deras dalam benaknya seperti tanggul yang jebol.


Dengan tenang Ratna mengusap air mata di pipinya lalu menatap Matt dengan menantang. “Wanita itu bukan ibuku. Jangan pernah mengatakan bahwa dia ibuku!”


Sekali lagi Matt terkekeh. “Kau sudah banyak berubah, gadis kecil. Dulu kau seperti belut liar yang selalu berusaha melepaskan diri. Sekarang kau lebih tampak seperti singa betina yang tenang.”


Ratna mengabaikan ocehan Matt. “Apa yang kau inginkan dariku sekarang?”


“Aku hanya ingin bermain. Melibatkan ****, tentu saja.”


Mata Ratna menyipit untuk menyembunyikan kemarahan yang membuncah di dadanya saat menyadari maksud Matt. Ratna sendiri tidak tahu dari mana datangnya perasaan itu. Seharusnya dia merasa takut. Namun kenyataannya sama sekali tidak. dia amat sangat marah.


“Sayang sekali aku tidak tertarik. Terutama karena kau sudah renta dan terlihat sangat menyedihkan. Sampai-sampai kau harus bersembunyi di balik nama besar saudara kandungmu.”


Bukannya marah karena hinaan Ratna, Matt malah terbahak. “Aku memang biasa bermain tukar nama dengan Max. Tapi setelah lama kami tidak bertemu, dia berubah jadi kaku. Padahal dulu dia yang paling bersemangat ketika kami sedang bermain.” Pandangan Matt berubah menerawang.


Ratna merasakan cairan pekat berbau anyir kembali meleleh dari lubang hidungnya. Segera dia mengelap dengan lengan bajunya lalu kembali fokus pada ingatan yang berangsur kembali.


Mungkin seharusnya Ratna tidak memaksakan diri untuk mengingat karena tubuhnya belum cukup kuat untuk melakukan hal itu. Namun rasa penasaran dalam dirinya lebih dominan hingga dia mengabaikan sakit yang terus menerus menyengat kepalanya hingga hidungnya tidak berhenti berdarah.


Ratna bukan lagi seorang gadis kecil yang beranjak remaja. Sekarang dia adalah wanita dewasa. Sehingga di antara semua rasa sakit itu, Ratna masih bisa melihat keganjilan dari lelaki di hadapannya.


“Jadi, kau suka bermain? Permainan macam apa yang ingin kau mainkan bersamaku?” tanya Ratna hati-hati, mencoba mengukur tiap reaksi Matt.


Senyum lebar menghiasi bibir Matt. Seperti seorang bocah yang berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya. “Kau mau bermain bersamaku?”


“Kau tahu BDSM?”


Ratna mengerutkan kening dengan bingung. “Apa itu?”


Matt menyeringai. “Sebuah permainan **** dimana salah satunya menjadi penguasa dan yang lainnya menjadi penurut, budak, semacam itulah.”


Tanpa dijelaskan lebih jauh Ratna bisa mereka-reka seperti apa permainan yang dimaksud Matt. Perasaan jijik menjalari tiap sendinya, namun Ratna berusaha menahan diri. Semakin tenang karena sebuah kepastian telah ia dapatkan.


Lelaki di hadapannya sakit jiwa.


Dalam pengamatan Ratna, kejiwaan Matt seperti sedang terjebak dalam masa mudanya. Senang bermain. Menganggap segala sesuatu merupakan mainan yang menyenangkan hingga melupakan semua akibat yang bakal timbul.


Wanita itu berpikir cepat. Dia tidak mungkin mencari pintu keluar sementara Matt ada di dekatnya. Tidak ada waktu menunggu hingga lelaki itu pergi, karena Matt pasti tidak akan pergi sebelum keinginannya terwujud.


Satu-satunya harapan Ratna adalah Freddy sudah menyadari bahwa dirinya diculik dan sekarang sedang berusaha menyelamatkannya. Kalau benar begitu, yang bisa Ratna lakukan hanyalah mengulur waktu agar Matt tidak menyentuhnya sampai Freddy datang.


Tapi, bagaimana kalau ternyata Freddy belum menyadarinya?


“Ehm, Matt. Kau ingin bermain tanpa mengajak saudaramu, Max. Kupikir kalian dekat. Seharusnya kalian saling berbagi banyak hal termasuk mainan yang menyenangkan.” Kalimat itu begitu lancar meluncur dari bibir Ratna, padahal jantungnya berdentam tak karuan.


“Kau benar. Dulu kami biasa berbagi. Tapi sudah kubilang kalau sekarang Max menjadi sangat kaku. Dia tidak akan mungkin mau main bersamaku sekarang.”


“Kau tidak akan pernah tahu sebelum mencoba membujuknya. Dan kupikir, Max menyukaiku. Mungkin saja dia akan tertarik ikut bermain jika tahu bahwa aku juga akan ikut serta dalam permainan kalian.”

__ADS_1


Jantung Ratna bergemuruh begitu cepat. Sekeras mungkin dia berusaha menampilkan raut muka membujuk tanpa memperlihatkan tujuan sebenarnya.


Matt sedikit memiringkan kepalanya seolah menimbang saran Ratna. “Lalu setelah aku memberitahu Max, kau pasti berharap Max memberitahu polisi itu agar dia juga bisa ikut bermain, kan?”


Susah payah Ratna menelan ludah tapi berusaha tidak menampilkan kepanikannya. Walaupun kejiwaan Matt terganggu, Ratna tidak bisa menganggap enteng lelaki itu. Bahkan dengan mudah Matt bisa menebak tujuan Ratna.


Tidak ada lagi yang bisa Ratna lakukan selain mengulur waktu dan berharap semoga Freddy segera datang menolongnya.


Bisa dibilang Ratna mengalami kondisi yang sama seperti belasan tahun lalu ketika kesuciannya direnggut paksa. Bedanya kali ini Ratna tidak lagi mengharapkan kakaknya yang akan datang menolong karena ia tahu hal itu mustahil terjadi.


***


Max berjalan santai dengan langkah arogan memasuki ruang interogasi. Lelaki kekar berotot yang duduk di salah satu kursi—tepat di depan satu-satunya meja dalam ruangan itu—mendongak menatap Max.


“Mr. Maxwell Bennedict.” Sapa orang itu kaget.


Max hanya mengangkat satu jari telunjuk di depan bibir, memberi isyarat agar lelaki itu diam. Lelaki itu mengangguk mengerti lalu duduk lebih tegak.


“Bagaimana kabarmu, Rudi?” tanya Max dengan suara dingin begitu ia duduk di kursi seberang Rudi. Tidak ada simpati dalam nada suaranya.


“Saya baik-baik saja, Mr. Bennedict. Terima kasih karena telah menanyakan kondisi saya.”


“Jadi, informasi apa saja yang telah kau bocorkan pada polisi?”


Cepat-cepat Rudi menggeleng. “Tidak satupun. Anda tahu bahwa saya tidak akan pernah mengkhianati Anda.”


“Aku senang mendengarnya.” Dengan nyaman Max menyandarkan punggung di sandaran kursi. “Lalu wanita itu, apa kau sudah berhasil menangkapnya?”


Rudi mengangguk mantap. “Kalau semua berjalan sesuai rencana, harusnya wanita itu sudah di rumah Anda sekarang.”


“Kerja bagus.” Senyum miring yang angkuh muncul di sudut bibir Max. “Berarti saat ini wanita itu sudah ada di rumah putih seperti perintahku.”


Rudi menatap Max dengan bingung. “Rumah putih? Bukankah Anda memberi perintah agar wanita itu di bawa ke rumah peristirahatan Anda di pinggiran kota?”


Brakk.


Rudi terlonjak kaget. Bukan karena suara keras yang timbul secara tiba-tiba ketika Max menggebrak meja. Melainkan karena melihat wajah Max yang berubah kaku dengan rahang menegang dan mata menatap tajam.


“Kau membawa wanitaku kemana, hah? Aku sudah memberi instruksi yang jelas tapi kalian berani membuat kesalahan. Sekrang polisi sudah curiga bahwa Ratna diculik. Lalu bagaimana caraku membawa wanita itu ke rumah putih sekarang?”


Rudi hanya menunduk, tidak berani menatap mata Max yang menyala-nyala.


“Percuma aku memakimu saat ini. Hanya buang-buang waktu. Sebaiknya segera kau tulis dengan jelas alamat rumah yang kau maksud. Aku akan segera memindahkan Ratna. Setelah itu aku akan kembali untuk membantumu.”


Max mengeluarkan secarik kertas dan pena dari saku mantelnya. Lalu menyodorkan pada Rudi. Setelah Rudi selesai menulis alamat rumah peristirahatan yang ia maksud, Max segera keluar dengan janji akan berusaha membantu Rudi dibebaskan.


------------------------------


♥ Aya Emily ♥

__ADS_1


__ADS_2